
Nini Maru kembali bertapa untuk menunggu beberapa janin lagi sebagai penyempurnaan wujud dan kesaktiannya. Semakin lama Ia merasa jika semakin banyak yang akan menjadi pengabdinya,dan itu akan semakin memepercepat dirinya sempurnah.
Sementara itu sosok Rey datang dalam wujudnya yang tampak sangat menyeramkan.
Wajah hancur akibat serangan segoro geni dari Satria waktu itu membuatnya sangat membutuhkan banyak lagi korban.
Kesenangannya dari dahulu dalam menikmati daging manusia kembali meronta. Ia merindukan hal tersebut dan sudah sangat lama tidak merasakannya.
Lato-lato yang dimakannya itu tak membuatnya cukup puas untuk memenuhi dahaganya.
"Nini.. Ijinkan Aku mamakan korban yang telah aku ambil organ vitalnya. Aku selalu tak sabar untuk menikmatinya.." ucap Rey memohon.
Nini Maru menatap kepada Rey "Terserah apa maumu, namun pastikan kandungan Yanti akan menjadi milikku" ucap Nini Maru mengingatkan.
"Tak masalah, Ni.. Namun aku mohon, jika Yanti mengandung anakku, biarkan janin itu hidup" ucap Rey dengan memohon.
"Baiklah.. anak itu masih anak manusia, dan jika bulan berikutnya pastikan itu anakmu" titah Nini Maru kepada Rey.
"Apakah janin miik Lela tidak membuatmu puas" tanya Rey dengan selidik.
"Aku masih butuh banyak lagi.. Dan Janin Mirna harus dilenyapkan dengan segera, namun sepertinya Chakra Mahkota mulai ikut campur untuk melindunginya" Nini Maru menggerutu.
"Bagaimana caranya menghindari makhluk bernama Chakra Mahkota itu?" tanya Rey penasaran.
Nini Maru menggelengkan kepalanya "Jangan coba-coba untuk melawannya jika kekuatanmu masih sangat kecil, kau akan binasa secara cepat" ucap Nini Maru mengingatkan.
Lalu Rey menganggukkan kepalanya dan mencoba mengingatbapa yang dipesankan oleh Nini Maru.
Ditempat lain, Yanti dan juga Lisa sedang menikmati hasil persekutuan mereka. Sebuah mobil baru dan juga motor matic gede sudah datang meluncur ke depan warung mereka.
Keduanya tertawa bahagia, hanya dengan bersekutu dengan iblis, Yanti dapat dengan mudah mendapatkansegala apa yang diinginkannya.
Sesaat datang seseorang kedalam warung mereka. Orang tersebut tak lain adalah Jali.
"Mbak.. Apakah melihat teman saya? Yang tadi malam datang bersama saya?" tanya Jali kepada kedua wanit itu.
"Tidak tahulah, Kang.. Tadi malam Ia sudah pulang duluan, karena akang terkapar mabuk, Ia pulang sendiri" ucap Lela yang sebenarnya Ia juga tak sadar aka peristiwa yang sebenarnya.
"Iya, Lho Kang.. Temennya sudah pulang dulu" ucap Yanti menimpali.
Jali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa jika sahabatnya itu belum pulang.
Namun karena tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Ia kembali pulang dengan tangan kosong.
"Kemana ya kang Ewin pergi? Kenapa dicari kemanapun gak ketemu juga?" guman Jali lirih "Tapi ya sudahlah.. Lagian sudah gede juga, pasti tau jalan pulang" Jali merasa masa bodoh.
Jali memacu sepeda motornya menuju rumah Rina, istri dari sahabatnya itu.
"Mbak.. Mbak Rina.." panggil Jali dari luar pintu.
Terdengar Rina membukakan pintu untuk Jali.
"Ada apa?" ucap Rina dengan wajah ketus. Lalu Jali nyelonong masuk begitu saja.
"Ya jangan cemberut gitu dong, Mbak.. Kan tadi saya Khilaf" ucap Jali tanpa merasa bersalah.
Rina memanyunkan bibirnya, mau juga percuma, toh sudah terjadi.
"Kang Ewin tidak ditemukan, Mbak.. Saya sudah mencarinya" ucap Jali memberitahu.
Rina tampak terdiam "Kemana jugalah perginya tu orang, apakah sudah tidak ingat istri atau gimana? Mana beras sudah habis! Ini semua karena kamu!" ucap Rina menyalahkan Jali.
Jali tersentak kaget karena Rina menyalahkannya dengan nada ketus dan wajah sangar.
"Lho.. Koq Mbak nyalahin saya?" protes Jali.
" Ya iyalah.. Coba Kamu gak ngajakin Kang Ewin terus mabuk, pasti tidak begini ceritanya" ucap Rina kesal.
Rina tidak tahu harus marah atau senang, yang pastinya Ia masa bodoh dengan Ewin. Ia menganggap Ewin mungkin sedang bersama selingkuhannya yang lain.
Hari menjelang sore, mentari mulai sembunyi dibalik awan yang tampak gelap karena hujan sepertinya akan turun.
"Mas, Mirna pulang, Ya.. Sebentar lagi Mbak Syafiyah pulang bekerja, dan Ia pasti tidak suka melihat Mirna masih disini" ucap Mirna dengan lirih.
"Kamu yang sabar ya, menghadapi Syafiyah" ucap Satria yang saat ini masih mendekap tubuh Mirna.
Keduanya baru saja selesai bergumul disiang hari. Satria sepertinya tak pernah bisa menahan hasratnya saat berhadapan dengan Mirna.
"Mas tenang saja, Mirna sabar koq.. Namun Mas jangan pernah berubah terhadap Mbak Syafiyah, bagaimanapun Ia orang yang berjasa dalam pernikahan Kita" ucap Mirna mengingatkan.
Satria meletakkan dagunya dipundak Mirna "Iya, Sayang.. Mas akan berusaha adil" jawab Satria berbohong. Sebab kini Ia merasa jika cintanya terlebih beberapa persen untuk Mirna.
"Terimakasih ya, Sayang. Sudah menyembuhkan Syafiyah" bisik Satria kepada Mirna.
Mirna menolehkan wajahnya kepada Satria "Mas sudah tahu jika Mbak Syafiyah selama ini sudah sembuh sebelumnya?" tanya Mirna penasaran.
Satria menganggukkan kepalanya.
"Lalu kenapa Mas pura-pura tidak tahu?" tanya Mirna.
"Biar Dia senang.. Mas tahu Syafiyah hanya ingin perhatian" ucap Satria dengan senyum nakalnya.
Mirna tersenyum geli mendengar ucapan Satria, ternyata mereka selama ini sama-sama mengetahui sandiwara Syafiyah.
"Biarlah, Mas.. Mungkin dengan seperti itu membuatnya bahagia" ucap Mirna, lalu melepaskan dekapan Satria.
"Sudah mau senja Mirna balik dulu, Mas" ucap Mirna, lalu membenahi ikat rambutnya.
"Mas antar, Yuk" ucap Satria beranjak dari ranjangnya.
"Gak usah, Mas.. Mirna bisa sendiri" Mirna menolak.
"Ayolah.." Satria memaksa.
Baru saja perdebatan mereka terjadi, tiba-tiba saja Syafiyah pulang dari puskesmas.
Lalu keduanya terdiam dan saling pandang. Mirna mengerjapkan kedua matanya, dan Satria terdiam sejenak.
"Hati-hati, Ya" ucapnya lirih.
Mirna tersenyum tipis. Lalu berpamitan pulang.
"Mirna balik dulu ya, Mbak" ucap Mirna berpamitan kepada Syafiyah.
"Hemm" jawab Syafiyah ketus.
Namun Ia bingung ketika Satria gak mengantarkan Mirna pulang.
"Mas Satria tak mengantarkannya, trus Dia pulang naik apa?" Syafiyah berguman dalam hatinya.
Ia memandang Mirna yang tampak berjalan kaki, ada rasa tak tega dihatinya. Bagaimanapun juga Mirna sudah menyembuhkannya dan selalu berbuat baik kepadanya.
Namun untuk meminta Satria mengantarkannya, Ia merasa sangat jaga image.
Mirna tersenyum membaca hati Syafiyah, namun dalam sekejab Mirna menghilang dari pandangannya, dan membuat Syafiyah bingung.
"Haah.. Kemana Dia pergi? Kenapa tiba-tiba menghilang?" Syafiyah bingung dan merasa penasaran.
"Sayang.. Mandi dulu sana, sudah mau sore" ucap Satria kepada Istri pertamanya.
Syafiyah menganggukkan kepalanya, dan beranjak masuk kedalam rumah.
Selintas Ia melihat kondisi rumah bersih mengkilap, Ia berfikir jika ada gunanya Mirna kerumahnya.