MIRNA

MIRNA
Episode 80



Pria yang sudah tak sadarkan diri itu tak menyadari dirinya yang diseret kedalam kamar, dan dilemparkan dilantai begitu saja oleh Rey.


Yanti yang merasa terkejut dengan kehadiran Rey yang tiba-tiba saja membuatnya sedikit terkejut.


Rey menarik Yanti, lalu kemudian menggumulinya, Yanti menyukai percintaannya dengan makhkuk buruk rupa itu, sebab makhluk itu memiliki tenaga yang sama dengan kesebelas pria langganannya.


Setelah menggumuli Yanti, Rey mencabut paksa lato-lato milik pria sedang dalam kondisi tak sadarkan diri itu.


Suara jeritan kesakitan tak lagi terdengar karena tenggelam ditelan oleh suara dentuman musik tersebut.


Yanti hanya melongo menyaksikan perbuatan makhluk itu. Lalu Rey menampung darah yang mengucur dari lato-lato pria dengan kedua tangannya, dan meminta Yanti menghampirinay. Kemudian Rey membakurkan darah itu kesekujur tubuh Yanti dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Nini Maru memerintahkanmu mencari tumbal janin malam ini. Segelah untuk menjalankan perintahnya!" ucap Rey dengan nada perintah.


Yanti menganggukkan kepalanya dan bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya Ia hanya menuruti semua perintah yang diberikan kepadanya.


Yanti berjalan tanpa busana dengan dibaluri darah pria yang menjadi korban kebiadaban Rey.


Sementara itu, jiwa kanibalisme Rey yang sudah lama terpendam kini muncul kembali, dan dengan sekejab saja Ia mencabik-cabik tubuh pria yang tak lagi bernyawa itu dengan sekejab saja.


Tubuh itu hanya menyisakan tulang belulang yang sudah tak bersisa dagingnya walaupun sedikit saja.


Setelah puas, Rey menghilang dan menunggu Yanti yang kini sedang mencari mangsanya.


Yanti berjalan dikegelapan malam. Ia mencoba mencium aroma janin yang ada didalam kandungan warga desa. Ia mencoba merasakan kehadiran makhkuk kecil tanpa dosa itu.


Saat bersamaan, Yanti kembali berpapasan dengan Didi dan Dino yang malam ini tampak berjalan kaki memasuki gang untuk menuju warung Lela. Keduanya memainkan phonsel mereka karena sedang membalas chat diakun media sosialnya.


Sesaat kedua pemuda itu merasakan aroma amis yang sangat menyengat dan buku kuduk keduanya meremang.


Didi dan Dino saling pandang, lalu tanpa aba-aba keduanya ngacir menuju warung Lela.


Yanti sudah kedua kalinya bertemu dengan pemuda itu tanpa sengaja, dan ada rasa kesal melihat keduanya.


Namun Yanti harus segera mencari tumbal janin yang diperintahkan oleh Nini Maru.


Setelah jauh berjalan menyusuri jalanan desa, akhirnya Yanti mencium aroma segar dari janin yang menuju kesebuah rumah permanen minimalis.


Yanti langsung bergegas menuju kerumah tersebut dan tak sabar untuk melihatnya.


Sementara itu, Bejo yang saat ini sedang menanti detik-detik kelahiran sang calon bayinya sedang membelai lembut perut sang istri yang tampak membuncit.


"Sayang.. Mas sudah tak sabar untuk menanti si jabang bayi lahir kedunia" ucap Bejo, yang kemudian mengecup gemas pusar isttinya yang tampak mencuat keluar.


"Kata bidan sih beberapa hari lagi, Kang" ucap sang istri yang merasa gerah dikehamilannya yang sudah tinggal menngitung hari.


Rasa gerah dan panas kerap kali membuatnya harus hanya menggunakan underware saja. Meskipun kipas angin sudah terpasang, namun tak membuatnya merasa hilang gerahnya.


"Besok akang ada proyek sedikit renovasi rumah di desa tetangga bersama Kang Botak" ucap Bejo yang terus membelai perut sang istri, dan..


Praaaaaank...


Terdengar suara gelas terjatuh.


Hingga akhirnya perbincangan keduanya terhenti. "Akang coba lihat dulu apa yang terjadi didapur. Mungkin kucing memecahkan gelas" ucap Bejo, lalu beranjak dari kamarnya dan menuju kedapur.


Saat akan menuju dapur, Bejo merasakan bulu kuduknya meremang, dan Ia mencium aroma amis darah yang sangat menyengat.


Bejo menajamkannindra penciumannya dan hampir membuatnya merasa mual.


Bejo mempercepat langkahnya menuju dapur, lalu ia melihat pecahan gelas kaca yang berserakan dilantai.


Setelah membersihkannya, Bejo kembali kekamar dan memeriksa sang istri yang terdengar senyap saja.


Tanpa sadar Bejo masih membawa sapu ijuk yang tadi dipegangnya untuk menyapu.


Sesaat terdengar suara teriakan kesakitan dari sang istri yang membuat Bejo tersentak dan berlalari menuju kamar.


Aroma amis menyeruak dikamarnya, dan Ia melihat istrinya kesakitan sembari menunjukkan area intinya seperti ada yang merogohnya.


Karena merasa curiga, Bejo mengayunkan sapu ijuknya kearah area organ inti milik sang istri.


Taaaaaaak...


Benar saja, Ia merasakan seperti sedang memukul sesuatu. Seketika Bejo merasa curiga jiak ada sesuatu yang tidak beres.


Dengan kencang Bejo berteriak meminta tolong sehingga suaranya membangunkan tetangga.


Sosok tak kasat mata yang tak lain adalah Yanti seketika merasa panik dan melarikan diri tanpa membawa tumbal yang diinginkannya.


Sesaat para tetangga berdatangan dan melihat apa yang terjadi pada Bejo dan istrinya.


Mereka berkerumun dan termasuk bang botak yang merupakan sahabatnya.


"Ada apa, Jo?" tanya Kang Botak penasaran.


"Istriku pendarahan, Kang. Tadi sepertinya ada sesuatu yang datang dan bau amis darah, namun tak terlihat" Bejo mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


Para Ibu-ibu berkerumun dan melihat kondisi istri Bejo yang sudah mengalami pendarahan.


"Telefon ambulance" perintah kang Botak kepada warga yang membawa phonsel. Lalu mereka menghubungi ambulance dan akan mengevakuasi istri Bejo.


Para ibu-ibu membantu mengenakan daster istri Bejo, dan sembari menunggu ambulance datang, mereka berjaga-jaga.


Mereka merasakan jika desa mereka sudah tidak aman lagi karena berbagai hal yang mulai tak lazim.


Dari hilangnya lato-lato beberapa pria yang meninggal secara mebgenaskan dan juga misterius, serta pengakuan Bejo yang membuat para warga harus waspada dengan ancaman yang sedang melanda mereka.


Sesaat ambulance datang. Lalu mereka mengevakuasi istri Bejo dan membawanya masuk kedalam mobil ambulance.


Bejo ikut mengantarkan sang istri dan terus berdoa memohonkan keselamatan.


Nini Maru yang melihat Yanti gagal mendapatkam tumbal janin untuknya merasa semakin jengah.


Ia akhirnya memilih untuk turun sendiri mengambil janin tersebut.


Tubuh lemah Nini Maru yang disebabkan oleh Mirna mengikut dzikir yang diucapkan oleh Satria, membuatnya dengan terpaksa turun kelapangan.


Ia melihat mobil ambulance yang melaju kecang membawa tubuh istri Bejo sedang melintas dijalanan raya.


Dengan cara mengejutkan dan tiba-tiba saja Nini Maru berdiri dihadapan mereka dan membuat sopir ambulance itu tersentak kaget, lalu membanting setir ke kiri dan membuat mobil ambulance oleng dan kehilangan keseimbangan lalu terguling ditepi jalan.


Bejo terlempar dan penuh luka-luka. Begitu juga dengan sopir ambulance yang tampak parah.


Sementara itu, Calon bayi milik Bejo tampak mendesak ingin segera lahir karena hempasan dan guncangan dari mobkl ambulance yang terguling dan terbalik.


Namun karena Istri Bejo menggunakan safety bell, Ia masih berada diatas ranjang dengan posisi terbalik.


Bejo berusaha merangkak menghampiri sang istri yang sedsng berjuang ingin melahirkan.