MIRNA

MIRNA
Episode 36



Satria menatap penuh amarah pada Yanti sudah membuatnya sangat kesal.


"Pergi..!! Dan jangan pernah kembali lagi kerumah ini" hardik Satria dengan nada penuh amarah dan sarkas.


Satria meletakkan rantang berisi lauk pauk makan siangnya yang di cathringkan kepada Bu Ratna diatas meja dengan kasar.


Satria masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan kasar. Ia harus menjelaskan apa yang terjadi padanya bukanlah sebuah kesalahan yang sepenuhnya dilakukannya.


Satria mengacak rambutnya dengan kasar "Apa sih salahku? Kenapa para asisten rumah tangga semuanya bersikap kurang ajar seperti itu" Satria menggerutu.


Rasa lapar yang semula dirasakannya kini menguap begitu saja.


Satria mencoba memastikan jika Yanti sudah pergi dari rumahnya. Satria mencoba ingin menjelaskan hal tersebut kepada Bu Ratna, namun Ia mengurungkan niatnya, karena Ia merasa jika Ia tidak bersalah.


"Mas..." ucap Syafiyah kepada Suaminya.


Satria menoleh "Iya, Sayang" ucap Satria, lalu beranjak menghampiri istrinya.


"Mau apa?" tanya Satria dengan lembut.


Syafiyah meringiskan wajahnya. Lalu Satria mencoba memeriksa pampers yang dikenakan istrinya, tampak sudah hampir penuh.. "Mau diganti?" tanya Satria.


Syafiyah menganggukkan kepalanya.


Sementara itu, Yanti pulang kerumahnya dengan perasaan yang sangat kacau "Siaaal.. Padahal sedikit lagi Aku mendapatkannya. Mengapa Ia tidak tertarik padaku? Apa yang membuatnya sampai tidak tergoda? Aku memiliki bentuk tubuh yang aduhai, namun Ia tidak melirikku sedikitpun, sedangkan Istrinya sudah lama terbaring tak berdaya" guman Yanti dengan penuh kesal.


Siang berganti malam. Suasana dingin mencekam karena waktu menunjukkan pukul 10 malam.


Yanti merebahkan tubuhnya diranjang. Tiba-tiba Ia mendapat notif dipesan WA-nya untuk keluar dan segera menuju kelokasi yang ditentukan oleh nomor tersebut, jika Yanti tidak memenuhinya, maka Vedeonya akan disebar luaskannya.


Yanti merasa kesal, namun Ia juga tidak ingin vedeonya tersebar, dengan terpaksa Ia menuruti perintah sipengirim pesan itu.


Yanti meraih jaketnya, dan mengenakannya dan mengambil kunci motor, lalu berpamitan kepada Ibunya untuk membeli makanan.


Yanti melajukan motornya, menuju kebun jagung tempat yang dijanjikan oleh sipengirim pesan.


Sesampainya disana, Ia melihat Jeffri, Dandy dan juga Jali sudah menunggunya. "Siaaal... Berarti mereka pelakunya" guman Yanti dengan geram.


Lalu Ia turun dari sepeda motornya dan menghampiri ketiganya.


"Mau apa kalian?" tanya Yanti ketus dengan wajah penuh amarah.


Ketiga pemuda itu tertawa mengejeknya.


"Sudah jadi wanita kotor saja masih belagu juga kamu, Ya? Gimana rasanya diperkaos rame-rame? Enak gak?" ucap Jeffri mencibir.


Yanti memasang wajah penuh amarah "Dasar brengseeek..!" maki Yanti dengan penuh emosi.


Dandy menghampirinya, lalu menjambak rambut Yanti dengan kasar hingga membuat wajah Yanti menengadah dan meringis kesakitan sebab rasa sakit pada kulit kepalanya karena tarikan tangan Dandy dirambutnya.


"Sakit, brengsek!!" maki Yanti dengan nada emosi.


"Kamu jangan banyak omong, turuti saja apa maunya kita-kita, jika kamu mencoba melawan, maka akan ada konsekuensinya, dan jika kami sudah bosan baru kami akan melepaskanmu" Dandy melepaskan cengkramannya dengan kasar.


Yanti memperbaiki ikat rambutnya yang berantakan karena jambakan Dandy barusan.


"Sudah-sudah.. Buruan, ntar kemalaman.." ucap Jali yang sudah tidak sabar menggarap sawah milik Yanti.


Lalu ketiganya tertawa dan memulai aksinya. Yanti tak dapat lagi melakukan perlawanan untuk melepaskan diri dari ketiga pemuda itu.


Disatu sisi, Satria merasa bingung harus mencari asisten rumah tangga untuknya. Ia merasa trauma jika asisten rumah tangganya berusia muda, maka akan mengalami pelecehan kembali.


Sementara ini Satria harus membagi waktunya antara mengurus Syafiyah dan juga membersihakan rumah.


Satria merasa kebingungan, dan juga kerepotan, namun semua terpaksa dilakukannya.


Ia membawa pakaian ke tukang laundry, dan makanan dengan cara memesan, hanya tinggal menyapu, mengepel dan juga mencuci piring yang kini menjadi masalahnya. Satria mencoba menerima kenyataan yang ada pada dirinya.


Dua bulan berlalu, Satria menjalani kehidupan yang sangat merepotkannya. Namun Ia mencoba bersabar.


Saat Satria sedang menyapu rumahnya, tiba-tiba saja Ia didatangi warga yang menyatakan jika Ia telah memperkaos Yanti hingga Yanti mengandung.


Warga sudah berkumpul didepan rumahnya, dan Yanti ikut didalam kerumunan dengan menangis tersedu dan merasa wanita paling teraniaya.


Yanti menyebutkan jika Ia memiliki saksi saat kejadian itu, yaitu Bu Ratna.


Maka warga memanggil Bu Ratna untuk dimintai keterangannya.


Satria berusaha untuk tetap tetang dalam menghadapi tuntutan warga.


Warga membawa Bu Ratna dan dihadapkan kepada Satria dan juga kerumunan warga.


"Bu Ratna, apakah benar Ibu melihat pria ini sedang memperkaos Yanti?" tanya Pak Budi selaku RT didesa ini. Dan ini kedua kalinya Budi menyidang kasus seperti ini, saat itu juga menyidang Mala bersama Bayu yang juga dipergoki Bu Ratna sedang berduaan didalam kamar karena fitnahan dari sosok genderuwo.


Kini Satria pula yang harus menghadapi kasus serupa.


Bu Ratna terdiam menanggapi pertanyaan dari Pak RT.


"Saya tidak begitu jelas siapa yang salah, namun saya melihat Yanti sudah setengah tidak berpakaian dan posisi berada diatas tubuh Satria" jawab Bu Ratna mengatakan apa yang sebenarnya Ia lihat.


"Bohong, Pak RT.. Awalnnya Satria yang menindih saya, lalu membalikkan tubuh saya keatas" Fitnah Yanti dengan isakan yang semakin tersedu.


Kejadian yang menimpa Satria terdengar sampai keseluruh desa dan didengar oleh ketiga pemuda itu.


"Jeff.. Kenapa si Yanti memfitnah suaminya Syafiyah?" tanya Dandy dengan lirih, yang mana mereka juga berada dibelakang kerumunan.


"Mungkin Ia menjebak suami Syafiyah, karena suami Syafiyah kan tampan juga tajir, jadi sesuai level yang Dia maksud" bisik Jeffri.


"Dia pernah dua hari bekerja dirumah Syafiyah, mungkin Dia ada main juga dengan suaminya Syafiyah" Jali menimpali.


Ketiganya menganggukan kepalanya "Biarinlah, yang penting kita tidak terlibat.." ucap Jeffri mencoba menenagkan kedua sababatnya.


Tanpa sadar, Jali teringat akan perbuatan mereka selama 2 bulan ini menggarap sawah milik Yanti hampir setiap malam. Jali membuka vedeo saat dua tiga hari yang lalu ketika menggarap Yanti dalam kondisi sadar.


Jali tersenyum-senyum sendiri menontonnya.


"Kamu kenapa, Jal? Senyum-senyum gak jelas" ucap Dandy dengan nada yang berusaha sangat dipelankannya.


Tanpa sadar Jali menekan layar phonselnya dan jemarinya memilih menu kirim keakun media sosialnya, sehingga pengiriman sukses.


Jali membisikkan jika Ia merekam kegiatan mereka 3 hari yang lalu dan Yanti tampak menikmatinya.


Vedeo yang terkirim itu terunggah dan ditonton beberapa warga desa lalu membagikannya beberapa kali sehingga memyebabkan kehebohan.


Sementara itu, Pak Budi sebagai RT meminta keterangan dari Satria, namun Satria terus menyanggah pernyataan Yanti yang memojokkannya.


"Saya tidak melakukan perbuatan itu, ini hanya fitnah dan Ia mencoba menjebak saya" jawab Satria dengan tatapan sarkas yang membuat warga desa tiba -tiba terdiam dengan tatapan Satria yang dapat membungkam semua warga yang berkumpul.