
Sesosok tubuh menggunakan jacket hoodie, sepatu gunung, senter yang dipasang dikeningnya, sepasang tongkat hiking atau tongkat gunung, dan sebuah tas ransel dipunggungnya yang terlihat penuh dengan beberpa barang, pakaian dan juga makanan.
Sosok tubuh itu menyusuri sebuah hutan larangan seorang diri untuk menemukan sesuatu yang Ia cari.
Tubuhnya menggigil, namun Ia tak memperdulikannya, Ia harus mencapai puncak gunung tersebut dan menemukan goa tersebut.
Wuuuuussh..
Sebuah desiran angin menerpa jaketnnya sehingga membuat penutup kepalanya terbuka dan memperlihat wajah tampannya yang masih remaja.
Ia melihat jika sesuatu sedang mengintai dan mengikutinya.
Sebuah pisau sangkur yang diambilnya secara diam-diam dari kamar ayahnya menjadi senjatanya untuk melindungi diri dan juga sebagai alat untuknya meracik makanan.
Sekelebatan bayangan melintas dari hadapannya dan tampak sosok makhluk astral berjalan berada didepan mendahuluinya.
Remaja putera itu tampak tersentak kaget saat menyadari ada banyak makhluk tak kasat mata berseliweran dihadapannya seolah sedang sibuk dengan kegiatan yang biasa dilakukan oleh suatu warga pada umumnya.
Bahkan remaja tersebut melihat sebuah pasar yang dimana terjadinya jual beli. Namun warga tersebut memiliki bentuk wajah dan tubuh yang mengerikan.
Tubuh remaja itu tampak menggigil karena udara dingin dan suasana yang masih gelap gulita ditengah hutan belantara.
"Astagfirullah..!" ucapnya saat tanpa sengaja melintasi satu desa ghaib yang dipenuhi oleh makhluk berkepala baabi dengan tubuh mirip manusia.
Sesaat para makhluk itu menatap pada sang remaja yang tak lain adalah Samudera.
Tatapan mereka penuh intimidasi dan tak suka saat mendengar ucapan dari Samudera yang membuat mereka merasakan hawa panas pada tubuh mereka.
Samudera mengatupkan ke dua tangannya meminta maaf dan segera berlalu. Ia tidak ingin mengganggu makhluk-makhluk itu sebab bukan mereka tujuannya, melainkan iblis yang telah menculik ibunya.
Samudera kembali menyusuri jalananan yang menuju puncak gunung.
Sosok yang tadi dilihatnya berada didepan mendahuluinya tak lagi terlihat. Samudera mempercepat langkahnya meski tas dipunggungnya terasa berat.
Ia pernah naik gunung saat masih berusia 6 tahun. Saat itu Ia pergi bersama dengan keluarganya. Ada ayah, Ibu dan juga Angkasa. Sepertinya pengalaman waktu kecilnya masih bisa diandalkannya dalam menjalani misinya.
Sesaat terdengar suara gemuruh dilangit. Awan menghitam dilangit kelam dan pertanda akan turun hujan dengan lebatnya.
Samudera mencoba berhenti sejenak disebuah pohon yang rindang dan juga berukuran sangat besar lalu duduk diatas akar pohon hang menyembul dan mensedakapkan kedua tangannya didada.
Perlahan rintikan hujan turun dan mengguyur bumi dengan begitu derasnya.
kilatan cahaya dan juga suara petir menggelegar seolah membelah langit, membuat Samudera tersentak kaget.
Dari balik semak, Ia melihat benda melayang dengan dua sorot mata memerah sedang menghampirinya dan tampak semakin mendekat.
Samudera membolakan matanya dengan dan beranjak berdiri untuk bersiaga melihat siapa yang sedang berada dihadapannya.
Perlahan sosok itu semakin mendekat dan terlihat jelas dalam jarak 3 meter saja dari hadapannya.
Kilatan cahaya halilintar memperlihatkan wujudnya yang berbulu tebal dan bertaring. Sorot matanya begitu sangat tajam dan memandangnya penuh dengan seringai.
Menghadapi para iblis seperti itu sudahlah biasa baginya, dan sepertinya rasa takut sudah mati dari hatinya sehinggah Ia tak begitu perduli meskipun makhluk itu menginginkan nyawanya.
Sosok tinggi besar itu semakin mendekat dan mengayunkan tangannya yang berkuku runcing ke arah wajah remaja tersebut.
"Aku benci wajah tampanmu!!" ucapnya dengan suara geraman.
Dengan cepat Samudera mengarahkan pisau sangkurnya sembari mefafalkan ajian segoro geninya.
Tanpa diduga, tangan makhluk berbulu yang tak lain adalah Rey sekitak terluka sayatan yang sangat lebar dan terbakar hingga sampai pundak.
Sosok itu mengerang kesakitan dan mundur beberapa langkah.
Samudera merasakan nyalinya semakin kuat. Ia mendekati makhluk tersebut, lalu melompat ditengah guyuran hujan yang semakin deras dan melayangakan tendangannya tepat diwajah Rey dengan ajian segoro geninya.
Kemapuannya melihat alam ghaib ternyata memberikan keuntungan baginya untuk mendeteksi keberadaan dimana makhluk berada.
Wuuuuussh.. Buuugh..
Tendangan itu tepat diwajah Rey yang menghantarkan hawa panas dan membuat wajah itu terbakar.
"Aaaaaaaaargh.." Erang Rey kesakitan karena wajahnya terbakar terkena tendangan dari Samudera.
Sosok itu ingin melarikan diri, namun dengan cepat Samudera melesat dan kembali mengayunkan tendangannya ke dada makhluk tersebut tersebut sembari menghujamkan pisau sangkur yang sedari tadi Ia genggam.
Craaaassh..
Pisau itu merobek dada Rey dan menyemburkan cairan berwarna kehitaman.
"Aaaaarrrrgggh.."
Meskipun guyuran hujan begitu derasnya, namun tak dapat memadamka n api yang membakarnya.
Aroma hangus itu perlahan menghilang bersama hujan yang terus mengguyur dan serpihan tubuh Rey menghilang dalam bersama meredanya suara gemuruh dan juga guyuran hujan.
Tubuh Samudera basah kuyup. Ia kembali ke bawah pohon dan mengatur nafasnya yang tersengal. Ia menghidupkan senter dikeningnya yang tadi tiba-tiba mati. Ia menggetok-getokkannya dan perlahan mulai menyala kembali.
Samudera melangkahkan kembali kakinya menyusuri jalanan hutan yang penuh semak belukar.
Ia menyarungkan kembali pisau sangkurnya dibagian pinggang dan menerobos kegelapan.
Perlahan terdengar sayup-sayup suara kokok ayam hutan yang menandakan waktu subuh akan tiba. Ia harus melaksanakan shalat subuh dan mencari tempat yang dapat dijadikannya untuk ibadah.
Sebuah lempengan batu besar yang berada tak jauh dihadapannya menjadi pilihannya untuk shalat.
Iya mencoba bertayamum dengan meyakinkan debu yang menempel di batang pohon yang tidak basah dan Ia mulai beribadah
Desiran angin menyapa Samudera dengan hawa yang begitu dingin. Seekor hewan melata mendesisis menghampirinya dengan sorot mata tajam dan menggerakan kepalanya untuk mematuk pergelangan kaki Samudera.
Namun belum sempat patukan itu mendarat di pergelangan kakinya, sebuah kilatan cahaya berwarna ungu menyambar kepala ular dan membuat ular itu terlempar jauh.
Samudera menyelesaikan shalatnya dan berdoa untuk diberi kelancaran dalam menyelesaikan misinya.
Setelah berdoa, Ia kembali melanjutkan perjalanannya dan masih menggunakan tongkat hikingnya, Ia menyusuri jalanan hutan yang masih sangat semak belukar.
Mentari hampir menyembul diufuk timur. Ia memandang sinar mentari yang nantinya akan memberikan penerangan pada jalannya. Namun karena Ia berada didalam hutan, suasan masih tampak gelap.
Tiba-tiba saja Samudera mendengar suara gemericik air. Ia meyakini itu adalah sebuah aliran anak sungai. Namun Ia belum ingin ke sumber air, sebab semalaman Ia diguyur hujan dan jacketnya saja masih basah dan Ia harus mengeringkannya memanfaatkan sinar mentari.
Perlahan sinar mentari menembus hutan, dan pandangan Samudera mulai sangat jelas. Ia melihat ada beberapa makhluk kuntilanak berseliweran dan termasuk kuntilanak kuning.
Namun Ia tak memiliki urusan dengan mereka dan terus berjalan.
Ditempat lain. Sosok mengerikan sedang duduk termangu dengan hatinya yang bercabang dan merasakan bingung untuk menentukan sikapnya.
Ia menatap nanar pada dinding goa, tampak para iblis sedang mengitarinya.
"Ia sedang menuju ke arah kemari? Apa yang harus kami lakukan?" tanya sosok bertanduk dengan wajah menyeramkan tersebut.
Sosok wanita dengan wujud yang tak dapat dikenali itupun hanya diam membisu. Lalu sebuah suara menjawab dari arah belakang.
"Hancurkan Ia sebelum sampai ke tempat ini dan bawa jiwanya" titah suara tersebut yang tak lain adalah Nini Maru
Namun sosok wanita tak memberikan respon apapun sehingga para iblis itu mengkuti titah dari Nini Maru.
Sebagian dari iblis itu melesat dengan cepat dan membawa tombak untuk menghadang Samudera.
Saat Samudera menapaki jalanan semak belukar. Ia merasakan ada sesuatu yang melesat dan dengan tiba-tiba menghadangnya.
Sekelompok makhluk menyerupai wajah tikus dan menyebarkan aroma busuk menusuk indera penciumannya saat makhluk itu muncul dihadapannya.
Sosok berwajah tikus dengan tubuh menyerupai manusia tampak mengelilinginya dengan membentuk formasi lingkaran sebanyak 7 lapis.
Mereka dengan siaga dan menunggu komando dari pimpinan mereka yang memiliki postur lebih tinggi dan besar yang berhadapan dengan Samudera.
Samudera merafalkan ajian segoro geninya dan dengan gerakan memutar mengayunkan tongkatnya hingga membuat lingkaran api yang membentengi diirinya.
Lalu Ia menyilangkan tongkatnya dan kemudian menghentakkannya dengan menengadahkan keplanya mentantang sang surya lalu merentangkannya dengan kuat sehingga tiba-tiba saja pendaran hawa panas itu menghanguskan seluruh makhluk berwajah tikus tanpa dasi tersebut.
"Aaaaaaaarrgggh.." suara erangan kesakitan saat tubuh-tubuh itu terbakar dan meraung kesakitan denngan suara yang sangat memilukan.
Pelahan aroma hangus ikut tercium bersama tubuh mereka yang hangus terbakar.
Samudera menghelakan nafasnya dengan berat.
Cahaya mentari mulai meninggi dan Samudera melanjutkan perjalanananya. Namun tiba-tiba Ia merasakan perutnya sangat lapar dan Ia harus sarapan untuk tetap menjaga stamina dan energinya. Sebab Ia mengingat perkataan ayahnya jika melakukan sesuatu itu butuh tenaga dan energi. Maka Samudera harus tetap menjaga staminanya.
Samudera menurunkan tas ranselnya, lalu membuka resletingnya dan mencari roti yang sudah dipersiapkannya sejak dua hari belakangan ini.
Ia membuka bungkus roti tersebut dan memakannya. Satu botol air mineral menjadi pelepas dahaganya. Ia beristirahat sejenak dan mengumpulkan tenaganya.
Satu bayangan wajah yang melintas dihadapannnya. Wajah yang selama ini selalu merawatnya dengan penuh cinta kasih, dan kini sosok itu dalam sebuah kesulitan untuk kembali ke jalan Rabb-Nya.
Ia tidak ingin membiarkan sosok itu tersesat di penghujung hidupnya. Ia harus membawa sosok itu kembali. Kembali kepada-Nya dan juga kembali pada mereka dalam sebuah keutuhan yang tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi kebahagiaan mereka yang kini dirampas oleh iblis laknat tersebut.
Setelah merasakan cukup dengan istirahatnya, Ia kembali mengemasi ranselnya dan melanjutkan perjalanannya menuju tempat dimana Ia harus menemukan sosok yang dicarinya.
Semak belukar, jalanan yang mendaki tak menyurutkan hatinya untuk terus melangkah dan menghadapi segala rintangan yang siap menghadangnya.
"Kembalilah.. Aku berjanji akan membawamu kembali, Bu!" gumannya lirih menatap puncak gunung tersebut.