
Sersan Adhit menghampiri sersan Jefry yang kini tampak ditebing jurang dan sedang menatap sesuatu.
Sersan Jefry yang sudah lengkap dengan sarung tangannya dan begitu juga dengan sersan Adhit, mereka berdua memandangi gundukan tanah tersebut.
"Ada jasad dikubur disini" ungkap Sersan Jefry yang memperlihatkan dua ruas jari yang sudah menjadi kerangka.
Lalu Ia mengambil camera dan membidiknya. Setelah itu, Ia mengamati lagi sekitarnya.
"Sepertinya sudah lama dikuburkan disini. Panggil Tim dan akan kita lakukan penggalian" titah Sersan Adhit dan dijawab anggukan oleh Sersan Jeffry, lalu meminta Tim membantu mengevakuasi sesuatu yang dianggap mencurigakan dibawah gundukan tanah yang masih tampak merah tersebut.
Tim menggali gundukan yang tak terlalu dalam. Karena baru saja sekitar 50 cm, mereka merasakan jika alat penggali merasakan menyentuh benda keras.
Lalu mereka dengan hati-hati menggunakan tangan untuk menggali benda yang mencurigakan tersebut.
Tampak tulang rusuk yang tertekuk, dan setelah digali lebih jauh sedalam satu meter, tampak satu kerangka manusia dalam posisi tertekuk dan sangat mengenaskan.
Mereka mengangkatnya dengan sangat hati-hati dan meletakkannya diatas kantong jenazah.
Lagi-lagi kerangka manusia yang berjenis kelamin pria.
Lalu tim membawanya keatas tebing dan memasukkan kedalam mobil untuk dilakukan identifikasi dan juga visum untuk mengetahui penyebab kematiannya.
Seluruh Tim kembali ke kantor polisi dengan membawa satu bukti lagi tindak kejahatan.
Beberapa warga yang menyaksikan penemuan jasad di tebing jurang dengan sengaja dikubur disana, membuat rumor yang semakin berkembang, jika Yanti adalah pshychopat yang sangat mengerikan. Sebab sudah 5 kerangka manusia berjenis laki-laki ditemukan dilokasi sekitar warungnya.
Badu semakin malu dan tak berani untuk bertemu warga. Bahkan penemuan alat berupa tempat pemujaan untuk bersekutu dengan makhluk iblis juga menjadi bahas gunjingan.
Warga mulai menebak-nebak siapa pelaku pembunuhan berantai pada warga laki-laki yang selalu kehilangan organ vitalnya.
"Apakah sosok yang mencuri janin dalam kandungan istriku juga perbuatan, Yanti? Jika benar.. Sungguh tidak memiliki perkemanusiaan Yanti yang sudah tega membunuh calon adiknya sendiri untuk dijadikan tumbal" guman Badu lirih dan tak mampu lagi untuk berfikir. Ia bahkan pasrah jika andainya Yanti diciduk polisi.
Sementara itu, Sersan Jefri dan juga Adhit mendapat laporan jika salah satu kerangka yang mereka temukan bertumpuk di ruangan kamar itu ada seorang pelajar SMA yang meninggal setelah bercinta, dan organ vitalnya ditarik paksa saat remaja itu masih merasakan puncak surgawinya.
Dan dati hasil visum juga ketiga kerangka yang diduga merupakan pelanggan warung itu mati dalam kondisi yang sama, dalam mencapai puncak surgawi dan organ vitalnya ditarik paksa.
Ketiga lainnya adalah pria dewasa, dan mereka juga dalam kondisi mabuk berat saat meregang nyawa dan mati dalam kemaksiatan.
Lalu pihak kepolisian mengumunkan 3 nama pria dewasa yang menjadi korban pembuhan tersebut, dan diminta pihak keluarga datang untuk membawa sample dan juga bukti yang dapat di jadikan untuk mengambil abu dari korban tersebut yang sudah dimasukkan kedalam guci.
Tia dan tiga rekannya tercengang saat mendengar ada remaja SMA yang menjadi salah satu korban dari pembunuhan misterius tersebut.
Mereka baru menyadari jika sahabat mereka yang hilang saat setelah mereka bawa malam itu ke warung Yanti yang merupakan bos mereka dan hilang tak berbekas. Keluarga sudah melaporkan ke kantor polisi, namun tidak ditemukan hingga akhirnya ada pengumuman yang mengejutkan dari pihak kepolisian.
"Bagaimana jika itu Dimas? Kita pasti diseret polisi, karena Kita yang membawanya ke tempat itu" ucap Tia kepada ketiga temannya.
"Ya lebih baik kita tutup mulut, jangan sampai ada yang tahu" jawab Rini menyarankan.
"Berarti Mbak Yanti itu diam-diam psychopat ya" ujar Rini bergidik saat membayangkannya.
"Iya.. Eh.. Ingat gak, saat Mbak Yanti meminta kita untuk hamil dan janin kita akan dibayar mahal jika sampai memberikan janin tersebut" ungkap Tia saat mengingat apa yang diucapkan oleh Yanti waktu itu.
"Iya.. Iya.. Aku baru ingat.. Emang janin kita itu buat apaan ya?" Rini merasa bingung.
keempat remaja itu saling pandang "Apa mungkin untuk dimakan Mbak Yanti atau juga untuk tumbal pesugihan" ujar Tina.
Seketika mereka tercengang atas ucapan Tina yang membuat mereka bergidik ketakutan. Mereka baru menyadari jika mereka telah dijadikan sebagai alat untuk menghasilkan tumbal.
Huuuuuueeek..
Tiba-tiba Rini mual dan terus kembali mual. Mereka saling tatap satu sama lainnya.
"Jangan-jangan, Kamu hamil, Rin" ujar Tia.
"Iya. Emang Kamu selama ini gak pakai pengaman apa? Sembarangan banget" cecar Tina.
Rini menganggukkan kepalanya "Iya.. Aku suka lupa kalau lagi mabuk, dan belum suntik KB bulanan" jawab Rini sembari memegangi perutnya yang terasa mual.
"Gila, Kamu Rin.. Makanya yang hati-hati dong" Tia meninmpali yang mana Ia sendiri juga baru habis keguguran saat ditahan oleh Yanti untuk menginap diwarung beberapa waktu yang lalu.
Lalu Rini menatap ketiga sahabatnya "Jadi bagaimana donk? Aku sudah 3 bulan telat datang bulan" ucapnya menghiba.
"Gugurkan saja" jawab ketiganya serentak. Lalu Rini hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, mungkin Rini akan mengambil jalan pintas yang dikatakan oleh ketiga sahabatnya untuk menggugurkan janinnya saja.
Namun Kini mereka dalam kekalutan besar. Sebab setelah warung Yanti terbakar, mereka tidak ada lagi pemasukan, sedangkan pemenuhan untuk kebutuhan shabu mereka harus ada setiap hari.
Jika sehari tak mengkonsumsi sabu, maka mereka seakan seperti gelisah dan uring-uringan.
Terkadang mereka harus menjajakan diri di media sosial dan menawarkan harga yang murah untuk sekali kencan demi mendapatkan uang dan untuk membeli Sabu. Bisa juga mereka barter untuk jasa bercinta dengan bayaran sabu
Hidup mereka kini penuh dengan kesuraman dan tak lagi memiliki cahaya.
Namun tanpa mereka sadari, jauh diseberang hutan. Satu sosok wanita yang tengah dirasuki iblis telah mencium aroma janin yang manis dan akan menajdi targetnya malam ini untuk Ia dapatkan dengan segera.
Seringai tergambar dibibirnya yang tak sabar untuk menanti malam akan tiba.
Semakin cepat Ia memenuhi target untuk tumbal janinnya, maka semakin cepat Ia mencapai penyempurnaanya.
"Lalu malam ini dimana tempat yang aman untuk menggugurkan janinmu?" tanya Tia memecahkan kesunyian.
"Sebaiknya aku cari nenas muda dan juga bubuk merica untuk menggugurkan janin ini. Kalian bertiga temani aku nanti malam di bawah pohon rambutan dikebun Pak Tono yang ada diujung desa, agar tidak ada warga yang melihat" ucap Rini kepada sahabatnya.
"Baiklah.. Ayo kita berpencar dulu, dan malam nanti kita bertemu untuk melanjutkan rencana ini" Tia menimpali dan dijawab anggukan setuju dari dua sahabat lainnya.