
Pagi menjelma. Sinar mentari bersinar sangat terang menyinar alam.
Kedua bocah itu sudah bersiap akan mengikuti sang ayah dan ibunya untuk melakukan pendakian.
"Dik.. Ayo buruan sarapan, sudah ditungguin Ibu dan Ayah" ucap Samudera kepada angkasa.
"Bentar, Kak.." jawab Angkasa, Ia masih sibuk memasang ikat pinggangnya, tampaknya Ia sangat kesulitan.
Samudera menghampirinya"Sini, Kakak bantu" ucapnya, sembari memaasangkan ikat pinggang tersebut.
Sesaat Angkasa tersentak saat melihat sesosok bayangan melintas dari balik kaca jendela.
"Sudah selesai, Ayo, Buruan.." Ucap Samudera yang meraih pergelangan tangan Angkasa agar cepat menuju ruang makan yang terpisah dengan kamar hotel.
Sesaat Samudera tersentak, ketika menyentuh pergelangan tangan Angksa, Ia merasakan dan juga dapat melihat sosok mengerikan yang melintasi jendela kaca kamar hotel.
Keduanya saling pandang "Apakah Kau melihatnya?" tanya Samudera kepada Adiknya.
Angkasa menganggukkkan kepalanya "Pesan Ibu jangan takut, kita harus dapat melawan rasa takut" jawab Angkasa.
Kemudian Samudera menganggukkan kepalanya "Ya sudah.. Kita lebih baik temui ibu saja" ucap Samudera, sembari menarik Angkasa menuju ruang makan.
Keduanya bergegas menuju ke meja makan dan disana sudah ada Satria dan juga Mirna yang telah lama menanti keduanya.
"Ayo.. Segera dimakan sarapannya" titah Mirna kepada keduanya, lalu diajawab dengan anggukanoleh keduanya.
*****
Satria menepikan mobilnya disebuah pos 1 untuk menitipkan mobilnya.
Setelah itu mereka turun dari mobil dan melakukan pendakian, hanya sampai di pos 2 saja, sebab Ia hanya ingin mengenalkan alam kepada keduany saja, dan tidak mungkin sampai ke puncak, sebab ke duanya masih sangat dini sekali.
Satria menjadi pemandu untuk penjelajahan kali ini, sedangkan dua puternya berada ditengah dan Mirna dibagian belakang untuk mengawasi.
Mereka menyusuri jalanan hutan yang sesuai dengan rute untuk mencapai pos 2.
"Yah.. Mengapa kita masuk hutan? Apakah tidak lebih baik ke Mall saja atau arena bermain" celoteh Angkasa yang melihat kanan kiri tempat mereka lalui hanyalah sebuah hutan yang ditumbuhi oleh pepohonan.
"Nanti tak jauh dari tempat ini akan ada air terjun yang sangat indah, kalian pasti suka" ucap Satria.
"Air terjun? Apa itu, Yah?" tanya Samudera penasaran.
Satria terus berjalan dan mengikuti rute serta tanda yang diberikan sebagai penunjuk jalan.
Terdapat bebeberapa kata sandi yang digunakan untuk menunjukkan arah sampai ke pos 2.
Dari jauh terdengar suara gemericik air yang jatuh dari ketinggian "Apakah kalian mendengar suara gemricik air?" tanya Satria kepada kedua puteranya.
Dengan cepat keduanya menganggukkan kepalanya "Ya, Ayah. Kami mendengarnya" jawab kedua puteranya.
"Itu adalah suara air terjun. Jika kalian berada dihutan, maka air terjun ataupun anak sungai merupakan sumber air yang dapat dijadikan untuk air minum dan melepas lelah" ucap Satria.
Lalu Ia memutar langkahnya menuju arah ketempat air terjun tersebut.
Mirna merasakan jika perjalanan mereka sedang diawasi oleh sosok yang terus saja mengikuti kemanapun kaki mereka melangkah.
Mirna merasakan jika hawa kegelapan terus saja mengintai mereka.
Bukan hanya Nini Maru dan sekutunya, namun makhluk astral yang terlihat jahil ingin mengerjai mereka.
Suara gemicik air terjun semakin dekat, dan hawa dingin dari hembusan air tersebut sudah terasa.
"Kita hampir sampai" ucap Satria kepada kedua puteranya.
Kedua bocah itu merasa takjub dan bersemangat.
"Wah.. itu namanya air terjun, Yah?" tanya Angkasa kepada Satria.
"Ya..itu air terjun, Ia adalah air sungai yang jatuh dari ketinggian tebing batu dan dibawahnya ada anak sungai yang mengalir juga" jawab Satria.
Keduanya tampak terperangah dan takjub "Boleh mandikah?" tanya keduanya dengan bersemangat.
Satria menganggukkan kepalanya "Boleh.. Ayo kita kesana" jawab Satria, lalu membawa kedua puteranya yang tampak sudah tak sabar.
"Hati-hati, bebatuan sangat licin" Satria mencoba mengingatkan kedua puteranya.
"Iya, Ayah.." jawab mereka serentak.
Sesampainya diair terjun tersebut, Satria duduk dibebatuan dan begitu juga dengan Mirna. Keduanya duduk diatas bongkahan batu yang sama.
Sementara kedua bocah itu sudah melucuti pakaiannya dan nyebur curug yang membentuk kolam alam.
"Janga sampai ke bawah air terjunnya, mandi disekitar sini saja" ucap Satria mengingatkan.
Mirna merndamkan kakinya didalam air dan duduk bersandar pada pundak Satria, sembari mengawasi kedua puteranya yang bermain air.
Saat mereka sedang bermain air, tampak serombongan para remaja pecinta alam yang juga ternyata ingin mengunjungi air terjun tersebut.
Para rombongan itu terdiri dari remaja outera dan juga remaja puteri.
Mereka meletakkan tas ransel mereka diatas bebatuan, dan sepertinya mereka akan mandi.
Hawa dingin membuat bulu kuduk meremang. Melihat ada 4 pasang remaja yang ikut mandi bersama mereka, Sanudera dan juga Angkasa merasa senang.
Mereka menyelam dibalik bebatuan dengan air yang sangat begitu jernih.
Sepasang remaja diantaranya memperlihatkan gelagat yang mencurigakan. Sepasang sejoli itu menyelinap diantara bebatuan besar untuk menghindari teman mereka yang lainnya.
Sedangkan sebelum mereka melakukan perjalanan pendakian, salah seorang yang merupakan pimpinan mereka sudah mengingatkan agar menjaga kesopanan dan asusila untuk tidak berbuat maksiat agar perjalanan mereka tidak tertimap sial dan musibah.
Angkasa memperhatikan kedua remaja itu menyelinap ke balik batu besar, Ia masih bocah tentulah merasa sangat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh sepasang remaja itu.
Angkasa mencoba berenang dan mengikuti arah kemana sepasang tersebut.
Sesampainya dibalik batu, keduanya melakukan pemanasan saling memagut bibir dengan liar. Angkasa merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh keduanya.
Lalu tiba-tiba saja tampak sekelebatan bayangan yang menyelinap dibalik bebatuan dan memandang kepada kedua remaja yang dibalut oleh asmara menggebu.
Lalu Samudera mencari keberadaan Angkasa yang tiba-tiba menghilang. Setelah celingukan kesana kemari, akhirnya Samudera menemukan Angkasa berada dibalik bebatuan.
"Heei.. Kamu ngapain disini? Ayo pergi?" Ucap Samudera sembari meraih pergelangan tangan Angkasa.
Laku bocah kecil itu membekap mulut kakaknya, lalu menujukkan sesuatu kepadanya, Yaitu sepasang remaja yang sedang memadu kasih dan sosok bayangan hitam yang mengintai keduanya.
Keduanya saling pandang dan merasakan jika bayangan hitam itu sedang mengincar keduanya.
Entah naluri dari mana, keduanya berinisiatif untuk menghentikan para remaja yang sedang berbuat maksiat tersebut.
Samudera membenamkam dirinya kedalam air, meraih batu kerikil dua buah. Satu Ia berikan kepada Samudera dan satu untuknya.
Dengan menganggukkan kepalanya, Keduanya melemparkan masing-masing pada sasaran mereka, dimana samudera melempar sepasang remaja yang sedang berbuat maksiat, sedangkan Angkasa melempar sosok bayangan hitam tersebut, dan..
Taaaaaak....
Kedua sasaran itu sama terkejutnya. Dan celingukan siapa yang sedang melempar mereka, sedangkan kedua bocah itu bersembunyi dibalik bongkahan batu.