
Satria pulang ke rumah. Pakain dan juga tubuhnya penuh noda darah. Ia segera mengetuk pintu rumah dan terdengar Mirna membuka pintu.
"Tanpa banyak bicara, Ia meraih tas milik suaminya dan membawanya ke dalalm kamar. Lalu Ia menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya.
Satria membuka pakaiannya yang bernoda darah dan meletakkannya didalam keranjang kotor pakaian yang terdapat di diruang laundry.
Setelah mencuci tangannya di washtafel, Ia menuju kamar untuk membersihkan dirinya.
"Mandilah, Mas.. Mirna sudah mempersiapkan air hangat untukmu" ucap Mirna yang menyambut suaminya penuh kerinduan. Sudah hampor sebulan Satria berada dikota membantu Hadi adiknya dalam menangani perusahaan yang kini sedang berkembang pesat.
"Mas belum ingin mandi, dapatkah kamu memijat tubuhku sebentar" pinta Satria yang hanya bertelan- jang dada karena pakaiannya sudah Ia tanggalkan didapur tadi.
Mirna hanya menganggukkan kepalanya dan menghampiri suaminya yang kini sudah berbaring ditepian ranjang.
"Mengapa Yanti masih meneror warga? Bukankah Ia sudah dikuburkan secara layak?" tanya Mirna yang dapat menebak apa yang baru saja dialami oleh suaminya.
Satria menghela nafasnya dengan berat "Ia terlallu jauh tersesat, hingga lupa caranya untuk kembali ke jalan yang benar" jawab Satria dengan lirih.
"Kini mereka menambah kekuatan menjadi 5 kekuatan iblis yang siap bersatu untuk melakukan pembalasan, bagaimana dengan anak-anak kita kelak?" tanya Mirna yang penuh kecemasan, sembari memijat tubuh suaminya.
"Ada Rabb bersama kita, tidak kekuatan apapun yang dapat mengalahkan kekuatan Rabb pemilik alam semesta ini, meskipun seluruh iblis bersatu untuk menghancurkan, mereka akan musna hanya dengan satu kekuatan Sang pemilik Zat yang nyawa kita dalam genggamannya" jawab satria dengan tenang.
Mirna menghela nafasnya, mencoba mencerna dan membenarkan apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Mengapa mereka begitu menjadi pendendam? Kesalahan leluhur dimasa lalu dan diturunkan kepada penerusnya hingga berniat menghancurkan semua keturunannya, itu tidak sangat adil" ucap Mirna yang merasa jika Nini Maru yang tak lain adalah ibunya begitu sangat berlebihan dan tidak dapat di mengerti.
"Sudahlah.. Biarkan saja mereka larut dalam api dendam yang mana akan merugikan mereka sendiri. Kini Kita serahkan semuanya kepada sang Rabb sebagai pelindung kita" ucap Satria dengan berusaha memberikan pengertian kepada Mirna.
Mirna mengnggukkan kepalanya "Ya.. Semua yang terjadi juga atas kehendak-Nya.." ucap Mirna lirih.
Satria membalikkan posisinya menjadi terlentang mengahadap Sang istri "Apakah Kau tidak merindukanku? Biasanya Kamu berkunjung menemuiku jika berada diluar kota, tetapi ini tidak kamu lakukan?" tanya Satria dengan sorot mata yang penuh hasrat menggebu.
Mirna hanya tersenyum tipis "Bagaimana mungkin aku tega meninggalkan dua jagoanku dirumah tanpa pengawasanku, sedangkan bahaya selalu mengintai mereka" ucap Mirna mencoba memberikan alasan kepada sang Suami.
Satria menarik tubuh ramping yang penuh candu itu kedalam dekapannya "Kamu harus dihukum, karena sudah mengabaikanku selama sebulan ini" ucap Satria yang melingkarkan kedua tangannya dipinggang Mirna.
"Heeem.. Sepertinya ada yang sedang berhasrat malam ini" sindir Mirna dengan tatapan nakalnya.
Tanpa banyak bicara, Satria meraih bibir sabg istri yang selalu membuatnya di mabuk asmara dan menyesapnya dengan begitu dalam.
Mirna yang memahami keinginan suaminya, memberikan apapun yang diinginkan pria tersebut.
Kini keduanya mengarungi bahtera kerinduan yang sudah lama terpendam dan terus mengayuh puncak surgawi .
Sementara itu, Yanti dan Nini Maru masih bergulingan dilantaingoa dengan kondisi mengenaskan danbrasa panas yang sangat menyiksa diri mereka
"Bagaimana ini, Ki? Ini sangat menyakitkan" ucap Nini Maru dengan erangan yang sangat memilukan.
"Aku tidak tahu, itu sebabbnya aku selalu melarang kalian jangan bertindak gegabah dalam melakukan segala hal. Kita nelum dapat mengalahaknnya, kita harus mengumpulkan kekuatan dan bersatu menjadi satu kesatuan sehingga kita menjadi lawan yang tangguh" Ucap Ki Kliwon memberikan semangat yang sangat luar biasa kepada para sekutunya.
Nini Maru memegangi wajanya yang hancur berantakan dan mengepus asap dari wajahnya yang tampak hangus terbakar
"Bagaiamana dengan luka ku ini Ki?" tanya Nini Maru dengan gelisah.
Mendengar pernyataan Ki Kliwon, Nini Maru bergegas pergi melesat menemui Ki Brewok. Namun Yanti tak ingin ditinggalkan, Ia juga butuh hal yang sama" Aku ikut, Ni.. Aku juga sama terlukanya" ucap Yanti merengek.
Nini Maru tak menjawabnya, namun suatu saat Ia juga butuh Yanti dalam mewujudkan segala rencananya.
"Ayolah..!!" ajak Nini Maru untuk menemui Ki Brewok yang saat ini sedang tertidur lelap atau mungkin sedang bergumul Rina yang kini menjadi tawanannya.
Srmentara itu, Satria dan Mirna baru saja selesai dari pertempuran mereka dan kini keduanya membersihkan diri dikamar mandi dalam satu buthub.
Sebulan lamanya berpisah membuat keduanya seperti tak dapat membendung gunungan kerinduan untuk becumbu rayu.
Nini Maru melesat menembus kegelapan bersama denga Yanti dengan kondisi yang sangat menakutkan.
Punggung Yanti hangus terbakar dan tampak mengenaskan.
Entah sebutan apa yang pantas disematkan untuk Yanti dengan tubuh yang sangat berantakan tersebut. Sesampainya dirumah Mi Brewok, mereka menerobos masuk kedalam rumah Ki Brewok yang ternyata sudah terlelap tidur.
Nini Maru mengguncang tubuh pria gempal itu dengan sangat kasar.
"Ki.. Ki.. Bangunlah.." ucap Nini Maru dengan suara yang sangat parau.
Pria itu mencoba membuka kedua matanya dan melihat siapa yang sedang mengguncang tubuhnya.
Seketika Ki Kliwon tersentak saat melihat dua makhluk mengerikan sedang berada dihadapannya.
"Siaaalll..!! Ngagetin saja kamu, Ni..!!" maki Ki Brewok kepada Nink Maru dan juga Yanti yang hadir dengan wujud mengerikan.
"Gak gitu jugalah, Ki.. Biasa saja reaksinya..!" omel Nini Maru karena melihat reaksi Ki Brewok yang sangat terkejut saat melihat kehadirannya.
"Ya makanya kalau datang itu jangan jelek amat, Ni.." Gerutu Ki Brewok.
Nini Maru semakin sewot dikatain jelek oleh Ki Brewok, namun Ia saat ini butuh pertolongan Pria bertubuh gempal itu.
"Aku butuh bantuanmu, Ki" ucap Nini Maru tak jngin berbasa-basi.
Ki Brewok menarik nafasnya yang tersengal karena rasa terkejut barusan.
"Bantuan apa lagi, Ni? Kalau tumbal janin aku belum bisa berikan" ucap Ki Brewok dengan cepat.
"Aku butuh kembang tujuh rupa dan campuran darah ayam cemani serta burung gagak, serta buatkan sesaji untukku dan untuknya" pinta Nini Maru sembari menujuk ke arah Yanti.
"Ya ammmpuun, Ni.. ini tengah malam, masa iya harus malam ini juga.. Besok saja ya.." gerutu Ki Brewok yang kembali membaringkan tubuhnya dan ingin melanjutkan mimpinya.
Dengan cepat Nini Maru menarik tubuh gempal itu dan melemparkannya ke dinding..
Braaaaakh..
Aaaaarrgggh..
"Brengsek kamu, Ni.. gak main kasar juga kali" gerutu Ki Brewok sembari memegangi pinggangnya yang sakit.