
Mendengar suara sirine mobil polisi, Mirna melayang ke arah pohon yang ada dibelakangnya. Tak berselang lama mobil polisi itu berhenti dibelakang mobil para begal tersebut.
Mereka merasa curiga melihat para penumpang mobil yang tampak sangat kacau tersebut.
Para petugas polisi itu menghampiri mobil tersebut dan melihat kelima pria tersebut dalam kondisi babak belur.
Empat orang petugas polisi itu mencoba membalikkan tubuh pria yang tersungkur ditepi jalan.
Alangkah terkejutnya mereka saat melihat wajah pria itu "Pak.. Lihatlah, ini para begal yang kita cari selama ini" ucap salah satu petugas.
Lalu komandan patroli itu mendekati "Ya.. Tetapi mengapa mereka bisa babak belur seperti ini? Sekarang amankan dan bawa ke mobil patroli.!" titah komandan mereka.
Lalu ketiga Polisi memborgol tangan para pria begal itu dan membawanya ke atas mobil patroli.
"Pak. Ada hijab di dekat mobil mereka" ucap seorang petugas yang menenteng hijab berwarna peach tersebut.
Kkmandan patroli meraih hijab tersebut. Ia memperhatikannya, dan mengerutkan keningnya.
"Kemana perginya wanita ini? Mengapa menghilang begitu saja? Apakah Ia yang telwh melumpuhkan para begal sadis itu?" ucap Komandan tersebut dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
Lalu mereka membawa hijab tersebut untuk dijadikan barang bukti sebagai mengungkap siapa yang telah melakukan semua itu.
Ketiga petugas merasa kesulitan untuk menurunkan pria yang kinj berada diatap atas mobil, sebab pria itu bertubuh kekar dan pinggangnya terkilir karena dibanting oleh Mirna.
Lalu dengan segala daya upaya mereka menurunkan pria itu dan tanpa sengaja tubuh pria terjatuh dari atas atap mobil dan membuat semakin memperparah pinggang pria itu semakin sakit.
Aaaaasrgh...
Erang pria itu kesakitan.
Dengan tertatih ketiga polisi itu membawa pria itu ke mobil patroli dan memborgolnya.
Setelah memindahkan ke lima pria itu, maka petugas polisi membawa ke limanya ke kantor polisi untuk dilakukan introgasi dan mobil mereka dibawa serta sebagai barang bukti.
Sementara itu, Mirna melayang turun dari dahan pohon dan kembali berjalan menuju toko sembako Pak Joko.
Sedangkan Rey tampaknya sedang mengikuti Mirna dari arah belakang dan tentu saja Mirna mengetahui hal tersebut.
Mirna berjalan menyusuri jalanan yang semakin sepi karena warga menutup pintu rumah mereka.
Akhirnnya Mirna sampai ditoko sembako milik pak Joko. Ia tampak memilih bahan yang akan dibelinya.
"Waduh, Mbak.. Kenapa berjalan kaki kemari? Tidak takutkah dengan teror Yanti yang saat ini sedang meresahkan warga?" ucap Pak Joko yamg terus saja melirik Mirna.
Siapa yang tidak tergoda dengan kecantikannya, apalagi istri Pak Joko sudah hampir setengah abad, dan melihat Mirna yang begitu cantik penuh pesona sangatlah membuatnya merasa mencuci mata.
"Hijabnya kemana, Mbak?" tanya Pak Joko yang melihat Mirna tidak berhijab, dan membuatnya kian mendebarkan hati pria, karena leher jenjangnya terekspos dengan jelas.
"Kelupaan tadi, Pak. Karena terburu-buru" jawab Mirna.
Saat Ia memutar tubuhnya untuk mengambil beberapa butir telur, Pak Joko tersentak kaget saat melihat punggung Mirna yang penuh noda darah dan tampak terlihat seperti sebuah sabetan senjata tajam.
"Mbak.. Punggungnya kenapa berdarah? Itu darahnya banyak banget, seperti kena sabetan senjata tajam" ucap Pak Joko dengan membolakan matanya.
Mirna terdiam, Ia baru mengingat jika tadi Ia terkena sabetan senjata tajam berbentuk badik.
"Mungkin tadi gak sengaja terkena pintu pagar saat menutupnya" jawab Mirna beralibi.
Pak joko mengerutkan keningnya "Bukan karena bertengkar dengan anak Mbak Mala kan, Mbak?" ucap Pak Joko menyebut nama mertuanya.
Mirna kembali memutar tubuhnya setelah mengambil 20 butir telur dan memuerahkannya kepada Pak Joko.
Pak Joko menghela nafasnya dengan berat "Syukurlah kalau begitu, saya kira karena berantem dengan Mas Satria. Kalau sampai itu terjadi, lebih baik berpisah saja, Mbak. Saya bersedia menampung Mbaknya" ucap Pak Joko bersemangat.
Mirna hanya tersenyum tipis, lalu menyelesaikan belanjanya dan meminta Pak Joko untuk menghitungnya.
"Berapa semuanya, Pak?" tanya Mirna dengan ramah dan juga bersikap sopan, meskipun Ia mengetahui jika Pak Joko saat ini sedang gelisah karena memandangnya.
Sesudah menghitung total belanjanya, Mirna membayarnya dan segera beranjak pergi dari warung Pak Joko.
Saat berada dijalan, Ia masih merasakan jika hawa kegelapan itu masih mengikutinya dan ketika sampai dijalanan sepi, sosok bayangan hitam itu menjelma menjadi sosok Rey yang kini hampir mendekati penyempurnaannya.
Tubuhnya yang berbulu itu menambah tampak seram dan sangat menjijikkan.
Sosok Rey tersenyum menyeringai menghalangi jalan Mirna yang saat ini sedang menenteng kantong kresek warna hitam berisi belanjaannya.
Mirna menghentikan langkahnya. Ia menatap pria dihadapannya dengan tatapan tajam.
"Mirna.. Aku begitu merindukanmu. Mengapa Kau tak ingin memadu kasih denganku? Kita akan melahirkan anak yang akan menguasai kegelapan nantinya. Marilah bercinta denganku" ucap Rey dengan penuh harap.
"Enyahlah Kau dari hadapanku, sebelum Aku menghancurkanmu..!" ucap Mirna penuh ancaman.
Rey tertawa terbahak dengan penuh kesinisan.
"Akulah takdirmu, Mirna. Aku yang telah dijodohkan Nini Maru kepadamu" ucap Rey dengan nada menggelagar.
Mirna menatap sarkas "Tetapi aku bukan jodohmu..! Menyingkirlah dari jalanku, atau aku akan melenyapkanmu" ancam Mirna dengan nada penuh penekanan.
Namun Rey semakin gemas melihat Mirna yang tampak begitu penuh amarah. Rasa cintanya yang sudah lama Ia pendam kini tak dapat lagi Ia tahan.
Rey menghampiri Mirna, mengikis jarak diantara keduanya, dan Ia mengelingi tubub Mirna, merasakan aroma tubuh wanita idamannya.
Andai saja polisi tidak cepat membawa kelilma begal tadi, maka kemungkinan Rey akan mendapatkan kelima lato-lato tersebut dan kesempurnaanya akan semakin dekat.
Saat Rey akan menyentuh tubuh Mirna, sebuah kikatan cahaya keperakan menghantamnya dan mengenai tubuh makhluk berbulu itu.
Aaaaarrrgggh...
Suara lengkingan Rey terdengar begitu memilukan.
Lalu sosok pria tampan membawa Mirna melesat menembus kegelapan.
Keduanya kini tiba diruangan kamar dan saling menatap.
"Terimakasih, Mas" ucap Mirna sembari menenteng plastik kreseknya.
Satria menarik pergelangan tangan Mirna, lalu menariknya dalama dekapannya "Dasar nakal..! Hampir saja buat Mas jantungan" ucap Satria dengan gemas.
"Iya, Maaf.. Tadi bahan habis untuk sarapan besok" jawab Mirna.
"Lihatlah punggungmu, lukanya sangat begitu menganga" ucap Satria, lalu mengusap lembut luka itu dan merobek pakaian Mirna "Duduklah, Mas akan mengobatinya" Ucap Satria sembari melepaskan dekapannya dan membuka laci nakas untuk mengambil obat-obatan.
Luka itu tampak sangat lebar dan harus dijahit. Saat Satria mempersiapkan alat medisnya untuk menjahit luka Istrinya, wanita itu justru menariknya ke atas ranjang dan menindih tubuh suaminya.
"Sudah ku katakan ini tidak apa-apa dan akan sembuh" ucap Mirna sembari menatap penuh hasrat.
Belum sempat Satria berkata apapun, Mirna sudah lebih dahulu menyesap bibir itu hingga tak mampu bergerak.
Bersamaan dengan hal itu, luka itu tiba-tiba saja merapat sendiri dan tidak berbekas sedikitpun.