
Sebuah cahaya keperakan yang berasal dari doa dua bocah itu menyamarkan sedikit balutan cahaya dan asap hitam yang kini membalut tubuh Mirna.
Cahaya itu mencoba melindungi hati Mirna dari segala pengaruh iblis yang mencoba menembus masuk dinding hati Mirna agar dapat kembali ke jalan kegelapan yang seharusnya menjadi tempatnya.
Mirna masih tak sadarkan diri dengan tubuh diam tak bergeming dan bahkan matanya saja masih tertutup dengan begitu rapat.
Cahaya kegelapan yang asap hitam yang berasal dari kekuatan iblis itu terus mencoba menerobos masuk ke dalam tubuh Mirna yang terhalang oleh lapisan cahaya keperakan.
Mereka mencari celah dari segala arah untuk dapat menyusup dan mempengaruhi Mirna agar kembali menjadi pembangkang kepada sang Rabb.
Satria baru saja selesai dengan tirakatnya. Seketika Ia tersentak menyadari jika Mirna istrinya tak lagi berada disisinya.
Ke empat iblis itu berhasil menculiknya dan menyekapnya. Ia mencoba menembusnya dan mencari dimana keberadaan sang istri, namun ada penghalang yang begitu kuat untuk menyamarkan pandangannya.
Ia hanya dapat melihat sama-samar keberadaan Mirna yang kini dalam kondisi tak berdaya dan membutuhkan pertolongan.
Sebuah lapisan cahaya keperakan yang berasal dari doa kedua bocah itu menjadi pelindung bagi Mirna agar tak dapat ditembus oleh para iblis itu untuk kembali mengajak Mirna pada jalan kesesatan.
Nini Maru, Ki Kliwon dan juga Ki Genderuwo kini duduk menghadapi Mirna yang terkurung menggunakan kerangkeng yang terbuat dari ribuan iblis yang dikerahkan oleh ketiganya sebagai benteng untuk membuat Mirna tak dapat melarikan diri.
Kini ketiganya menambah kekuatan baru untuk mengumpulkan para ribuan demit dan juga kekuatan kegelapan yang bahkan melibatkan berbagai siluman untuk membentengi Mirna agar tak dapat ditembus oleh kekuatan mata bathin manusia.
Satria menghela nafasnya dengan berat. Ia khawatir jika sampai salah satu iblis itu dapat menyusup ke aliran darahnya, dan bersemayan dihatinya maka Mirna akan mudah terpengaruh oleh Nini Maru dan kembali ke jalan ke sesatan.
Angkasa dan Samudera sudah tertidur karena kelelahan dan malam juga semakin larut.
Satria kembali bertirakat dan berkonsentrasi. Perjalanan ghaibnya menuju sebuah dimensi lain dan menembus kegelapan malam.
Ia melihat sebuah goa yang dulu pernah Ia lewati saat bertirakat mencari ajian segoro geni.
Satria mencoba menerobos masuk ke dalam pintu goa. Namun jutaan iblis dan berbagai siluman bagaiakan lebah yang berkerumumun soap menghalangi Satria.
Dengan gerakan cepat, para siluman itu mendesak Satria agar menjauhi pintu goa. Satria meraih tasbihnya dan merafalkan ajian segoro geni, dan seketika sekitar area itu menjadi panas, hawa panas tiba muncul dan membakar para demit yang mencoba menghalanginya.
Sebagian para demit itu lari menyelamatkan diri daripada hangus terbakar. Namun sebagian lagi bertahan dan memberikan perlawanan. Karena jumlah mereka yang mencapai jutaan bagaikan sebuah awan hitam yang menggumpal dan tanpa disadari, sebuah tombak tri sula meluncur dari arah belakang, dan..
Wuuush..
Jeeeeeeb..
Tombak itu menancap dipunggung Satria, dan menembus pundak kanannya.
Satria menoleh ke arah sesosok makhluk bertanduk bagaikan kerbau dengan mata merah menyalah berada tepat dibelakangnya dengan gigi taring yang meruncing dan tubuh tinggi yang tegap serta memiliki ekor sedang menatapnya penuh amarah.
Satria meringis kesakitan, ujung Tri Sula itu menggores paru-paru bagian kanannya dan Ia masih mencoba bertahan. Seketika melihat Satria terluka, maka para siluman itu berkerumun untuk menghajar Satria.
Dengan segala kekuatannya, Ia mengeluarkan tenaga dalamnya dan membuat Tri Sula yang menembus pundak kanan hingga hampir ke punggungnya melesat keluar dan meninggalkan luka menganga yang sangat menyakitkannya.
Sukma Satria sedang terkuka parah, sedangkan raganya tampak mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Tri Sula itu melesat dengan cepat dan siluman bertanduk kerbau dengan cepat menangkapnya kembali dan bersiap untuk menghujamkan kembali senjatanya. Kali ini bukan hanya siluman bertanduk kerbau, namun ada siluman ular, banaspati dan berbagai siluman lainnya ikut untuk menghujamkan berbagai senjata yang akan melumpuhkan Satria.
Namun seseuatu melesat dengan cahaya berwarna jingga dan membawa Satria pergi dari tempat tersebut.
Sosok itu mengembalikan sukma Satria ke raganya, dan Satria tersadar dengan kondisi tubuh penuh luka.
Suara Satria terbatuk dan darah keluar dari mulutnya.
Sesaat sosok Peri yang tak lain adalah Widuri datang menempelkan kedua tangannya dipunggung kanan Satria yang terluka serangan ghaib dan mengeluarkan cahaya jingga yang kemudian membalut luka tersebut dan perlahan mulai sembuh.
Satria tersengal dan melirik pada peri tersebut.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah mulai membaik?" tanya Widuri dengan cepat.
Satria hanya menarik nafasnya yang berat dan terasa masih sangat sakit, namun luka itu telah hilang.
"Mirna" ucapnya lirih.
"Mereka meminta pertukaran jiwa" jawab Widuri yang terbang melayang didalam kamar itu.
Satria terdiam. Ia mengetahui siapa yang dimakasud dengan pertukaran jiwa tersebut.
"Samudera?"
"Ya" jawab Widuri yang kini sudah duduk di tepian ranjang.
Satria menghela nafasnya dengan berat.
"Namun tidak ada pertukaran apapun, dan tidak satupun yang akan menjadi korbannya" jawab Satria dengan geram.
Satria menatap tajam pada dinding kamarnya. Terbayang dua wajah Mirna dan Samudera yang kini harus menjadi taruhan dalam menghadapi ke empat iblis itu.
"Jangan sampai terlambat.. Jangan sampai Mirna dapat mereka kendalikan karena akan berakibat fatal!" Widuri mencoba mengingitakan.
Satria melirik kepada peri tersebut, lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku pergi dulu, jika memerlukan sesuatu, maka panggil saja namaku, aku akan datang membantumu" Widuri berpesan dan melesat lalu menghilang.
Satria melihat jam didinding menujukkan waktu hampir subuh dan Ia menahan matanya untuk tidak tertidur.
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang dan membangunkan dua bocah yang sedang tertidur lelap tersebut.
Keduanya bergegas beranjak dari ranjang dan kemudian bersuci, lalu memakai pakaian shalat dan mengetuk pintu kamar ayahnya.
Baru saja mereka akan mengetuknya, tampak Satria sudah membuka pintu kamar dengan pakaian shalatnya.
Samudera melongokkan kepalanya ke dalam kamar dan menginta Ibunya apakah sudah pulang atau belum.
Namun belum sempat Ia bertanya kepada ayahnya sebab Ia tak melihat ibunya berada dikamamr, Satri sudah menutup pintu kamar kembali dan mengajak ke duanya ke mushallah, sebab adzan subuh hampir selesai.
Lalu mereka bergegas menuju mushallah dengan hati dan fikiran yang masih terfirkirkan kondisi Mirna.
Sesampainya di Mushallah, mereka melakukan shalat qobla Subuh lalu shalat berjamaah. Setelah selasi shalat, mereka kembali pulang.
didalam perjalanan pulang, Samudera sudah tak tahan ingin menanyakan keberadaan ibunya "Ayah.. Dimana ibh? Mengapa sampai subuh ini belum juga kembali" ucap Samudera dengan rasa penasaran.
Satria menghela nafasnya dengan berat. Ia harus mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Samudera.