
Syafiyah masih dalam tak sadarkan diri. Wanita bercadar itu membaringkannya di ranjang kamarnya dengan sangat hati-hati.
Ia menarik selimut dan menutupi setengah tubuh Syafiyah yang tampak lemah dan pucap pasi karena ketakutan. Ia menatap wajah Syafiyah, lalu keluar dari kamarnya.
Sementara itu, Satria baru saja selesai membawa puteri Bu Ratna yang akan melahirkan dan Ia kembali memejamkan matanya untuk mencoba mendeteksi keberadaan Syafiyah.
Ia mendenguskan nafasnya, lalu menghubungi ayah sambungnya "Hallo, Pak Bayu" ucap Satria pada sambungan telefonnya.
"Iya.. Sat. Ada yang bisa bapak bantu?" tanya Bayu tenang dari seberang telefon.
"Pak.. Tolong lihatkan mobi Syafiyah ada disekitar dekat lokasi proyek Bapak, dan minta tolong esok pagi suruh seseorang mengantarkannya" ucap Satria dengan nada menghiba.
"Oh.. Baiklah.. Saya akan segera mengeceknya" jawab Bayu dari seberang telefon. "Tetapi mengapa bisa sampai tertinggal ditengah jalan?" Tanya Bayu penasaran.
"Ada sedikit masalah tadi, Pak.. Dan tolong ya pak.." ucap Satria sekali lagi.
"Oke..oke.. Akan saya periksa segera" jawab Bayu dengan cepat.
"Terimakasih, Pak" ucap Satria mengakhiri panggilan telefonnya.
"Iya.. Sama-sama" dan panggilan berakhir.
Satria menarik nafasnya dengan dalam, lalu memutar arah pulang menuju rumahnyanya.
Sesampainya dirumah, Ia bergegas masuk kedalam rumah dan melihat Mirna sedang berada didapur, sepertinya memasak makan malam.
"Sayang.. Terimakasih atas segalanya" bisik Satria sembari memeluk Mirna dari arah belakang.
Mirna hanya tersenyum tipis dan meneruskan masakannya.
Satria melepaskan pelukannya, lalu menuju kamar utama dan melihat Syafiyah sedang berbaring tak sadarkan diri.
Ia melihat wajah itu sangat pucat, mungkin syok atas apa yang dilihatnya.
Aroma masakan Mirna menusuk ke indera penciuman Syafiyah, sehingga Ia mengerjapkan kedua matanya.
Ia tersentak kaget saat melihat dirinya sudah berada dikamarnya.
Ia tampak celingukan sembari memegang kepalanya yang sakit dan berdenyut, lalu memandang kepada Satria.
"Kapan Fiyah sudah berada dikamar ini, Mas?" tanya Mirna penasaran.
"Sejak tadi, dan kamu pingsan tak sadarkan diri" jawab Satria mencoba menjelaskan.
Syafiyah mencoba mengingat peristiwa yang baru saja menimpanya. Ia begitu sangat bergidik membayangkan wajah wanita yang setengah hancur tersebut.
"Mobil Fiyah dimana, Mas?" tanya Syafiyah penasaran.
"Masih dijalanan, dan sudah diambil pak Bayu" jawab Satria lagi.
Syafiyah terdiam, dan aroma masakan yang tercium olehnya begitu sangat menggodanya.
"Aku lapar, Mas" ucapnya sembari membelai perutnya.
"Kalau begitu salin pakaianmu, dan ke meja makan, Mas tunggu disana.
Syafiyah menganggukkan kepalanya, lalu beranjak bangkit dari ranjang dan menuju meja makan.
Satria bergegas keluar dari kamarnya, lalu menuju meja makan dan melihat Mirna telah menyajikan makan malam mereka. Omelet telur, dan beberapa ulam mentimun serta nasi panas dan sambal terasi sudah tersedia. Meski sederhana tetapi sudah menggugah selera makan Satria.
Tak berselang lama, tampak Syafiyah menyusul ke meja makan dengan menggunakan pakaian tidur yang sengaja menggoda.
Mirna menyendokkan nasi tersebut kedalam piring Satria dan meletakkan lauk pauknya.
Syafiyah menatap Mirna dengan perasaan bingung, sebab Ia tidak menduga jika Madunya itu sudah berada dirumah.
"Apakah Ia sedari pagi sudah berada dirumah?" guman Syafiyah lirih, dan menyendokkan nasi kepringnyanya.
Suasana makan hening, sebab mereka sedang menikmati makan malamnya.
Sesaat Syafiyah menghentikan kunyahannya "Mas.." ucap Syafiyah, lalu melanjutkan kunyahannya.
"Ya" jawab Satria singkat.
"Tadi ada sosok wanita bercadar yang menolong Fiyah. Apakah Dia yang membawa Fiyah kerumah ini?" tanya Syafiyah sembari menelan kunyahannya.
"Ya.. Dan kamu tak sadarkan diri" jawab Satria cepat.
Mirna terbatuk, lalu meraih gelas minumnya.
"Karena bercadar Mas gak kenal, dan setelah membawa kamu kemari Dia langsung pergi" jawab Satria dengan berusaha tenang.
"Oh.. Tapi sepertinya dia sangat cantik" ucap Syafiyah mencoba mengingat bola mata wanita itu.
"Oh.. Mas gak sempat lihat, karena buru-buru membawa kamu kekamar"Jawab Satria mencoba berbohong.
Syafiyah menganggukkan kepalanya, lalu menyelesaikan kunyahannya.
"Emangnya Kamu tadi kenapa bisa sampai pingsan dan meninggalkan mobil?" tanya Sattia berpura-pura tidak tahu.
Syafiyah bergidik mengenang peristiwa yang menimpanya "Fiyah melihat sosok wanita bergaun merah dengan wajah menyeramkan dan seakan menatap penuh dendam" jawab Syafiyah menjelaskan.
Satria sudah menduga jika Itu Nini Maru yang sedang mengincar anak dalam kandungan Syafiyah.
"Maka berhati-hatilah, dan jangan lupa untuk berdoa selalu meminta perlindungan kepada Allah" ucap Satria mencoba menjelaskan.
"Sepertinya itu Kuntilanak, deh Mas" ucap Syafiyah asal.
Satria melihat wajah Istri tuanya "Makanya jangan maghrib-maghrib dijalanan" ucap Satria mengingatkan.
"Ya gimana lagi, Fiyah baru selesai rapat hingga sore hari" jawab Syafiyah sedikit mulai kesal.
Satria menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya.
"Sebaiknya Kamu istirahat saja dulu, jangan bekerja" ucap Satria menyarankan, sebab Ia melihat ada banyak bahaya mengincar Syafiyah.
"Mas, Ini karir aku, gak mungkin aku meninggalkan karirku saat berada dipuncak" jawab Syafiyah dengan sedikit kesal.
Satria menatap Syafiyah yang memiliki sedikit karakter keras kepala. Namun Ia tak ingin memperpanjang perdebatan malam ini, karena pastinya Syafiyah tidak ingin melepaskan karirnya begitu saja.
Satria melirik pergelangan tangan Syafiyah dan mempertanyakan dimana gelang tasbih tersebut.
"Dimana kamu letakkan gelang tasbih itu?" tanya Satria setelah mengakhiri suapan terakhirnya.
Syafiyah melirik pergelangan tangannya "Terlepas.." jawab Syafiyah singkat.
"Terlepas atau sengaja dilepas?" cecar Satria.
Syafiyah mendenguskan nafasny "Tolong, Ya Mas.. Fiyah lagi gak enak badan dan ingin beristirahat" ucap Syafiyah dengan sedikit kesal dan meninggalkan meja makan, lalu menuju kamar.
Mirna menatap Satria dan menggenggam jemari tangan suaminya, meminta agar sedikit bersabar menghadapi karakter Syafiyah yang sedikit keras kepala.
Hati Satria yang sedikit kecewa atas sikap Syafiyah perlahan mencair saat Mirna mengulas senyum termanisnya.
Lalu Mirna membereskan semua sisa piring kotor dan sisa makan malam mereka.
Tampak Satria masih belum beranjak dari duduknya, sepertinya Ia enggan untuk kekamar menyusul Syafiyah.
Satria menarik tubuh Mirna, dan meletakkan dipangkuannya. Mendekap wanita itu membuat hatinya yang kesal perlahan mencair dan menemukan kedamaian.
"Terimakasih sudah menyelamatkannya dari bahaya" ucap Satria berbisik ditelinga Mirna.
Mirna menganggukkan kepalanya lemah, lalu menatap wajah pria pujaannya.
Tanpa diduga oleh Satria, Mirna memberikan kecupan lembut dibibir sang pria, dan membuat pria itu terbakar hasratnya.
"Mulai berani menggoda" ucap Satria dengan tatapan nanarnya.
Dan senyuman tipis nan manis menjadi jawaban bagi Mirna.
Keduanya terlibat percumbuan dan melupakan jika mereka sedang berada didapur dan masih berada dimeja makan.
Hingga tanpa sadar keduanya telah terlibat pergulatan panas yang menggairahkan.
Sesaat Syafiyah yang hendak mengambil air putih tercengang melihat adegan yang dilakukan oleh suami dan madunya itu.
Ia melirik lingere yang dipakainya, Ia merasa bingung, sebab Ia yang berpakaian dinas, mengapa Mirna yang melakukan dinas.
Ternyata sakit juga melihat penampakan asli ketika suaminya bercumbu dengan madunya, dan Syafiyah mengurungkan niatnya untuk kedapur lalu berputar arah kembali ke kamar.
"Sialan..!! Bisa-bisanya mereka melakukan itu didapur" ucap Syafiyah dengan kesal, sembari mengacak rambutnya.