
"Yah..jika kita sudah sebulan gak sekolah bagaimana dengan pelajaran kita? Dan pastinya guru akan marah" ucap Samudera dengan perasaan takut
Satria menatap puteranya "Ayah sudah mendatangi pihak sekolah dan mengatakan jika kalian masih butuh waktu untuk cuti dan menghilangkan rasa trauma dari tudingan terhadap peristiwa kemarin" Satria mencoba menjelaskannya.
Samudera dan Angkasa saling pandang.
"Esok kalian sudah dapat masuk ke sekolah kembali, dan bersikaplah seperti biasanya" Satria kembali melanjutkan ucapannya.
Angkasa dan juga Samudera menganggukkan kepalanya.
"Apa yang kalian dapatkan dari perjalanan kalian menembus dimensi lain?" tanya Satria dengan tenang dan menatap kedua puternya dengan tatapan teduh
Angkasa melirik Mirna, Ia tidak mungkin mengatakan jika Ia mengetahui kalau Mirna ibunya adalah seorang keturunan iblis yang tak lain adalah Nini Maru.
"Kami mendapatkan pelajaran, jika kita diciptakan oleh sang Rabb penguasa Alam Semesta untuk senantiasa menyembah kepada-Nya dan berjalan dijalan yang lurus sesuai dengan apa yang diperintahkan didalam kitab suci Al-Quran" jawab Angkasa dengan lugas dan lancar.
Satria memandang kepada Angkasa "Bagus, jika Kamu sudah mendapatkan jawabannya, dan jangan pernah tersesat hanya demi bujuk rayu setan" ucap Satria sembari membelai lembut ujung kepala puteranya.
Lalu Satria meminta kepada ke dua puteranya untuk beristiraha dan esok akan kembali le sekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasanay, dan tentunya juga akan ada ujian yang akan mereka hadapi selanjutnya untuk dapat meneriama ajian segoro geni yang tidak sembarangan dapat diturunkan, sebab jika salah dalam menggunakannya akan dapat membahayakan pada dirinya dan juga orang lain
Ajian tersebut mengandung api, bukan hanya api yang membuat hancur lawannya, namun juga mampu menahan api emosi dalam dirinya.
Setelah kedua puteranya memasuki kamar, Mirna menghampiri Satria dan duduk disisi kirinya "Berapa banyak ujian lagi yang akan dihadapi oleh kedua putera kita untuk dapat menerima ajian tersebut?" Tanya Mirna dengan hati yang gundah. Sebab terkadang Ia tidak rela jika melihat kedua puteranya harus mengalami luka dibagian tubuhnya saat sedang menghadapi ujian kesabaran untuk dapat lolos ke tingkat berikutnya.
"Bersabarlah, semua akan indah pada waktunya" jawab Satria.
Mirna merundukkan kepalanya "Rey sudah menyempurnakan tumbalnya, dan kini Ia akan terus gencar mencari celah untuk membawaku!" ucap Mirna dengan hati sedikit gunda.
Satria meraih jemari Mirna, lalu menggenggamnya "Tidak ada yang dapat melukai seseorang jika tanpa kehendak-Nya. Maka memohonlah perlindungan pada-Nya, dan hanya pada-Nya tempat kita bergantung"Satria mencoba menenangkan hati Sang istri.
Mirna kemudian menyandarkan kepalanya dipundak Satria, Ia merasa sangat beruntung saat Satria memberikannya sebuah kalimat yang menyejukkan hatinya.
Setelah mendengarkan semua apa yang dijelaskan oleh Satria, kini Ia mengerti dan memahami jika tidak ada yang ditakuti didunia ini selain Ia Sang Pencipta Alam Semesta.
Sementara itu. Baron dinyatakan bersalah dan semua bukti yang mengarah padanya telah mmebuatnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Ia dimasukkan kedalam ruangan penahan sementara sebelum kasusnya disidangkan.
Ibu Baron meminta juga kepada polisi untuk mengusut kasus yang menimpa puteranya karena kehilangan lato-latonya yang mana Ibu Baron menganggap jika anaknya juga menjadi korban pembegalan lato-lato yang pelakunya belum tertangkap.
Diruangan yang sama, dua rekan baron yang sedang menunggu sidang kini hanya bisa meratapi perbuatan mereka dan penyesalan yang datang terlambat tak bisa lagi mereka perbaiki, karena jika sudah kehilangan rudalnya, maka akan apa bedanya mereka dengan kamu pelaaangi?
Malam menjelma, kegelapan kian pekat dan kesunyian yang mencekam. Satria dan kedua puteranya masih berada di mushallah, dan Mirna memasukkan sepeda motor miliknya dan juga puteranya ke dalam garasi. Saat itu, Mirna melihat sekelebat bayangan melintas dari arah belakangnya.
Mirna berhenti sejenak, dan mencoba menunggu kelebatan bayangan itu muncul, saat Ia merasakan sebuah desingan angin yang begitu kencang hendak menghantamnya, dengan cepat Ia menghentakkan selendangnya dan membuat bayangan itu terpental dan menabrak dinding tembok pembatas.
Braaaaaak...
Tampak satu sosok makhluk berbulu yang mengerikan dengan wajah menyeramkannya berusaha untuk bangkit dan menatap tajam pada Mirna.
"Mirna.. Kau itu ditakdirkan untukku! Maka ikutlah denganku!!" ucap Makhluk yang mengerikan itu yang tak lain adalah Rey.
Mirna menyunggingkan senyum sinisnya "Mengapa Kau begitu sangat berambisi sekali? Aku tak sudi menjadi pendampingmu, maka enyahlah Kau dari hadapanku!!" jawab Mirna dengan kesal.
Rey semakin tersinggung dengan ucapan Mirna "Aku memang tidak tampaan, tetapi aku lebih perkasa dan tangguh darinya, aku bisa memu-askanmu hingga batas kemampuanmu!" ucap Rey meyakinkan Mirna.
Mirna megerutkan keningnya " Dia nuga Tangguh, bonus tampan lagi!" jawab Mirna.
Namun tiba-tiba sebuah tendangan melesat kepunggung Mirna yang masih meladeni ocehan Rey. Dan tubuh Mirna melayang, lalu terpental membentur badan mobil yang masih terparkir dihalaman rumah.
"Aaassrrgh..."
Mirna tersungkur dilantai halaman yang tersusun dari batuan alam.
"Bapak..!! Jangan ikut campur urusanku!!" sergah Rey yang melihat Ki genderuwo menendang Mirna.
Rey melesat menghampiri Mirna, dan ingin menolong wanita pujaannya, namun Mirna menyerangnya dengan melemparkan selendangnya mengengai perut Rey dan membuat Rey terpental.
Mirna berusaha berdiri dengan gerakan jumping.
"Jangan mencoba menyentuhku! Aku tak sudi disentuh makhluk menjijikkan sepertimu!!" ucap Mirna dengan nada penuh Amarah.
Rey berusaha bangkit "Sehina itukah diriku di matamu, Mirna?" tanya Rey yang berusaha bangkit dengan sempoyongan dan menatap prnuh nelangsa pada Mirna.
"Sudah ku katakan!! Jangan mencoba menyentuhku, dan pergilah dari hadapnku sekarang juga!!" hardik Mirna, yang kemudian kembali menyerang Rey dengan selendangnya.
Saat bersamaan, tiba-tiba Ki Kliwon dan juga Nini Maru datang membantu. Mereka mengeluarkan energi negatif mereka secara bersamaan dan mencoba mengikat Mirna dengan cahaya kegelapan tersebut.
Mirna merasakan tubuhnya terselubung oleh cahaya tersebut dan Ia merasakan sesak. Mirna mengingat kedua puteranya, dan juga suaminya.
Lalu satu kalimat yang diajarkan oleh Satria 'Laa hauwlah walaa quwwata illah billahil aliyul adzhim..'
Mirna melafazkan doa meminta agar dilindungi dari para iblis yang sedang berusaha menculiknya.
Lalu dengan sebuah keyakinan yang besar, satu kilatan cahaya keperakan datang dan menghantam ke empat iblis tersebut.
Chakra Mahkota datang dan menyelamatkan Mirna, yang mana dengan terpentalnya ke empat iblis itu, lalu cahaya kegelapan yang membalut tubuh Mirna terlepas dan dengan cepat Chakra Mahkota membawa tubuh Mirna masuk kedalam rumah dan memberikan perlindungan ghaib pada sekeliling rumah.
Mirna tampak lemah, dan kemudian Chakra Mahkota menyemburkan cahaya keperakan dan membalut tubuh Mirna agar pengaruh iblis hilang dari tubuhnya.
Mirna akhirnya mengerjapkan kedua matanya, dan melihat sosok naga itu berada didepannya dan Ia kembali memejamkan matanya, Ia merasakan energinya sangat lemah.