
Jauh di tengah hutan, sebuah tangan terus berusaha menggapai untuk dapat keluar dari reruntuhan batu goa yang menimpanya.
Sosok itu terus berusaha untuk mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa agar terbebas dari reruntuhan yang mengutuknya.
Setelah sekian lamanya Ia berusaha dengan menunggu datangnya malam purnama, akhirnya sebuah gerakan kecil dapat membuatnya mulai terbebas dari segala kutukannya.
Jemari-jemari keriput berukuran panjang dengan kukunya yang meruncing itu mulai merangkak dan perlahan dapat menyingkirkan bebatuan yang mengubur dirinya.
Sosok itu terus berusaha dan berusaha, hingga akhirnya, Ia dapat menyembulkan kepalanya, dan melihat dunia yang tampak sedikit terang dengan sinar rembulan.
Ia menyerap cahaya purnama itu, menambah energinya hingga akhirnya Ia terbebas dan melesat melayang diudara.
Sementara itu, tubuhnya yang penuh luka dan sebagian hangus terbakar karena disebabkan oleh ajian segoro geni yang dilakukan oleh seorang pria bernama Satria.
Wajahnya yang hancur berantakan dan memerlukan pemulihan yang membutuhkan waktu cukup lama agar kembali normal seperti semula.
"Mirnaaaaa...." rintihnya dengan suara yang memilukan...
Sementara itu, Mirna yang sedang berkhayal tentang prianya, tersentak dengan panggilan suara yang begitu sangat mengerikan dan membuat bulu kuduknya merinding.
Ia beranjak dari ranjangnya, lalu duduk ditepian. "Tidak, Ni.. Tidak.. Aku menginginkan Pria itu, jangan paksa Aku" rintihnya, lalu mendekap kedua lututnya dengan tubuh gemetar.
Lalu terdengar lagi suara rintihan yang begitu memilukan "Mirnaaaaa..." suara itu bergitu sangat membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.
Mirna menarik selimutnya, lalu menutupi seluruh tubuhnya dan berusaha untuk tidak mendengarkan suara panggilan itu.
"Satria.. Datanglah.. Aku membutuhkanmu" rintih gadis itu dalam kepanikannya.
disisi lain, sosok makhluk dengan tubuh mengerikan itu berdiri tegak diatas reruntuhan batu goa, Ia memandang bulan purnama yang saat ini bersinar terang dengan cahaya yang begitu menyilaukan.
Sesaat cahaya itu seperti masuk kedalam tubuhnya, lalu Ia melayang dan menengadahkan kepalanya keatas, kedua tangannya diletakkan kebelakang, Ia berputar dan terus menyerap energi cahaya tersebut.
Setelah sekian menit, Ia mengerjapkan kedua matanya, lalu mencari sebuah pohon rindang yang sangat beringin yang tak terkena dampak dari serangan ajian segoro geni saat itu.
Ia duduk bersila, dengan sisa kekuatannya, Ia memanggil sekutunya yang ternyata sudah lebih dahulu pulih dari dirinya.
"Datanglah... Aku memanggilmu.." suara serak dan parau yang terdengar sangat begitu mengerikan.
Maka dengan sesaat sosok bayangan hitam datang muncul dihadapannya.
"Ada apa, Ni? Kau sudah terbebas akhirnya, apakah yang akan Kita lakukan sekarang?" tanya sosok bayangan hitam itu.
"Temukan Mirna.. Dan segera kawini Dia.. Balaskan dendamku kepada keturunan Ki Karso..!" perintah Sosok yang dipanggil Nini itu.
Sosok bayangan itu terdiam dan menatap penuh seringai.
"Bukannya Aku tidak Mau, Ni.. Namun bukan sekarang. Aku masih membutuhkan 40 orang pria manusia lagi sebagai tumbal kekuatanku. Karena mengawini puterimu membutuhkan kekuatan besar, jika tidak, Aku yang akan hancur sendiri.." jawab Sosok itu dengan menekankan nada bicaranya.
Sosok yang dipanggil Nini itu adalah Nini Maru, kuntilanak putih yang kini sudah menjelma menjadi sosok kuntilanak merah karena melalui pertapaan yang sempurna.
"Kalau begitu, sempurnakan tumbalmu, jangan biarkan Mirna memilih Pria sialan itu, karena jika sampai Ia menikah dengan Pria bernama Satria, maka Kita akan binasa dan dendamku belum terbalaskan.." Ucapnya dengan suara yang sangat parau.
Lalu sosok itu ingin berpamitan kepada Nini Maru, Namun..
"Tunggu, carikan untukku satu janin.. Dan bawa segera" perintah Nini Maru dengan nada penuh harapan.
"Baiklah, Ni.. Apa yang tidak mungkin untuk calon mertua saya. Akan saya laksanakan dengan segera" jawab Sosok itu, lalu pergi menghilang.
Dikeheningan malam yang semakin larut. Sosok bayangan hitam itu mengitari sebuah rumah seorang gadis. Ia menatap rumah itu, lalu tersenyum menyeringai "Mirnaku.. Tunggu Aku sayang" ucapnya dengan senyum sumringah, dan tatapan tajam dikedua matanya jeleknya yang gak ada tampan-tampannya.
Sosok itu menghilang lalu melayang mencari sasaran yang ingin dijadikan korbannya.
Sementara itu, Lela terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kepalanya sangat pusing.
Akhir-akhir ini, Ia merasakan sering sakit kepala. Semenjak kematian suaminya Gugun, Ia tidak lagi mendapatkan tamu bulanan.
Ia merasa bingung. Ia mencoba mengingat, dua hari sebelum Ia bertengkar hebat dengan almarhum suaminya, Gugun sempat menggaghinya dalam kondisi mabuk. Lela takut jika hubungan suami istri terakhir itu membuahkan hasil.
Lela merasa frustasi. Ia tidak ingin memiliki janin itu. Sebab akan menghalanginya untuk berdagang warung, dan pastinya akan mengurangi pembeli laki-laki karena Ia tidak lagi tampil aduhai, dan tentunya akan repot mengurusi bayinya kelak.
"Besok Aku akan membeli alat tespack ditoko obat. Aku ingin memastikan jika Aku mengandung atau tidak. jika Aku benar-benar mengandung, maka lebih baik Aku gugurkan saja" ucap Lela ditengah kegalauannya.
Sesaat bayangan hitam itu datang menghampirinya. "Ya.. Gugurkan saja.. Agar kau dapat hidup bebas dengan pria manapun yang Kau inginkan" sosok bayangan hitam itu ikut menyarankan suara hati Lela.
Lela seolah mendapat sugesti yang kuat dari bisikan-bisikan itu, yang membuatnya semakin bersemangat untuk terus melakukan rencananya.
"Ya.. Aku harus melakukannya, Aku ingin hidup bebas tanpa beban apapun" guman Lela menanggapi bisikan yang seolah terdengar jelas ditelinganya.
Keesokan paginya. Lela sudah bersiap untuk berbelanja dan berniat mampir ke toko obat.
Setelah berbelanja cukup banyak, Lela mampir ke toko obat, lalu membeli akat tespack dengan harga murah meriah.
Setelah mendapatkannya. Lela bergegas pulang dan menuju segera menuju kamar mandi.
Sesampainya dikamar mandi, Ia buru-buru buang air seni dan menampungnya dalam wadah cup bekas minuman air mineral. Setelah selesai, Ia memasukkan alat tersebut sesuai batasnya.
Setelah itu Ia mengangkatnya, dan memperhatikan reaksi alat tersebut, dan alangkah terkejutnya Ia ketika melihat reaksi alat tersebut menunjukkan dua garis merah yang membuat Lela panik.
"Ternyata benar dugaanku. Aku mengandung. Apapun caranya, janin ini harus aku gugurkan. Aku tak sudi mengandung anak Almarhum mas Gugun" ucapnya sembari me-remas perutnya sendiri dengan kuat.
Lela dengan cepat pergi kedapur. Ia meracik bumbu dapur dari berbagai rimpang dan juga merica. Ia memblendernya hingga menjadi jamu.
Lalu Lela merebusnya, setelah mendidih, Ia menyaringnya dan menunggu hingga hangat.
Lela menatap ramuan itu dengan tak sabar. setelah cukup hangat, Lela meneguknya hingga habis dan tanpa sisa sedikitpun.
Lela berencana tidak membuka warungnya hari ini, Ia sengaja untuk menunggu kapan jamu yang diminunya itu bereaksi.
Lela yakin, dalam hitungan satu jam, maka jamu itu akan bereaksi.