
Lisa mulai merasa bisa berjalan dan kini perlahan Ia mulai memasak sendiri dan Ia tetap mendapatkan sembako dari orang yang sangat misterius.
Ia memasak ikan sarden dan nasi panas yang sudah ditanaknya menggunakan magic com.
Ia memakannya dengan sangat lahab dan Ia berniat untuk memulihakan tenaga dan kesehatannya.
Namun saat ini Ia masih belum dapat berbicara, dan merasakan tenggorokan seperti kehilangan pita suara.
Saat sedang Asyik makan, Ia mendengar suara ketukan dipintu rumahnya. Lisa seperti seorang buronan yang takut akan kedatangan orang-orang yang akan menginterogasinya, bahkan Ia takut jika orang tersebut adalah Yanti dan Ia tidak ingin terjebak lagi kedalam tahanan Yanti yang sangat membuatnya seakan dalam neraka.
Lisa menyudahi makannya dan berjalan tertatih menuju pintu depan, dan mencoba mengintip dari balik tirai jendela dan melihat siapa yang datang.
Namun Ia tak melihat siapapun diluar sana. Sesaat Ia mengerutkan keningnya dan tidak melihat siapa si pengetuk pintu, hal itu membuat Lisa semakin bergidik.
"Siapa yang mengetuk pintu barusan?" guman Lisa lirih.
Dengan rasa penasaran tinggi, namun Ia tidak ingin membuka pintu, Ia masih sangat takut jika si pengetuk pintu adalah Yanti.
Lisa kembali ke dapur, dan menyimpan makanan yang sisa saat tadi.
Lisa merasakan keram diperutnya bagian bawah saat akan meletakkan sisa makannya barusan kedalam tudung saji.
"Mengapa perutku sangat keram? Apakah Aku terlalu capek?" guman Lisa lirih.
Ia berbaring sejenak di tepian ranjangnya, lalu membelai lembut perutnya yang sudah tampak membuncit.
"Apakah sebaiknya aku gugurkan saja janin ini, sebelum diketahui oleh Mas Paijo dan menimbulkan kecurigaannya" Guman Lisa berputus asa.
"Dan aku juga tak sudi jika janin ini diambil oleh makhluk menjijikkan yang menjadi sekutu Yanti" Lisa bergidik saat membayangkan makhluk mengerikan itu memakan janin yang ditumbalkan oleh Yanti.
Bahkan Lisa tidak mengetahui janin siapa saja yang telah menjadi korbannya, sebab Ia saat itu masih terkurung dalam kamar rahasia yang sangat pengab dan penuh kengerian saat malam hari, dimana seolah-olah arwah para pria itu datang menghampirinya meminta untuk disempurnakan.
Lisa merasakan seolah dilema. Ia berniat ingin menggugurkan janinnya sebelum warga dan juga suaminya mengetahui jika Ia mengandung.
Namun Ia juga tak ingin jika janinnya dijadikan tumbal oleh Yanti.
Waktu berganti. Senja berganti malam. Lisa berperang dengan bathinnya.
Sesaat Ia mendengar suara bunyi seperti angsa yang berkeliling disekitar rumahnya.
Lisa merasakan jika itu sangat berisik dan mengganggu tidurnya.
Ingin rasanya Ia melempar hewan tersebut, namun Sosok misterius itu selalu mengintaknnya agar tidak keluar dari rumah saat malam hari dan juga untuk saat ini, sebab ada makhluk yang sedang mengincar keselamatannya.
Namun suara angsa itu begitu sangat berisik dan membuatnya tidak nyaman.
Lisa merasa gelisa dengan apa yang saat ini sedang Ia alami. Ia merasakan jika bulu kuduknya meremang dan merasa sangat takut, lalu Ia memilih membiarkan suara berisik angsa tersebut mengusiknya.
Sesaat suara angsa itu menghilang, dan Lisa merasa lega. Namun belum sempat Ia hilang rasa bergidiknya, Ia mendengar suara seperti sesuatu mencakar-cakar jendela kamarnya.
Lisa semakin begidik dan merasa ketakutan. Namun rasa penasaran membuatnya ingin mengintip dari celah lubang jendela siapa yang sudah begitu jahil terhadapnya.
Lisa beringsut dari ranjangnya dan menuju jendela kamarnya. Ia mencoba mengintip dari balik jendela, dan ingin melihat siapa yang sedang mencakar jendela kamarnya dan membuatnya merasa tak nyaman.
Saat matanya menempel dilubang celah jendela, Ia tersentak kaget saat melihat sepasang mata yang juga sedang sama mengintipnya dengan bola mata merah menyala.
Lisa menarik selimutnya dan mencoba menutupi seluruh tubuhnya yang menggigil ketakutan.
"Sialan..!! Mengapa iblis itu sampai kemari? Apakah Yanti sudah tidak lagi memberinya makan tumbal?" Lisa berguman sembari menggerutu.
Bisa-bisanya Ia bernasib sial bertatapan mata dengan makluk iblis tersebut.
Seketika Lisa merasa seperti orang yang sedang demam dan menggigil ketakutan.
Tubuhnya seketika berkeringat dingin dan panas suhunya tiba-tiba sangat tinggi.
"Mengapa Aku mendadak menjadi demam?" guman Lisa dengan tubuh yang masih menggigil.
Sementara itu, sosok wanita iblis tampak melayang menjauhi rumah Lisa lalu menuju warung Yanti.
Ia menghampiri Yanti yang saat ini sedang berbaring ditepian ranjangnya. Nini Maru melekat dilangit-langit kamarnya dan membuat Yanti tersentak kaget.
"Sialan..!! Kalau datang itu kabari dululah, jangan main kagetin gitu" maki Yanti yang terkejut dengan kedatangan Nini Maru yang tiba-tiba saja datang dengan wujud mengerikan.
Nini Maru melompat dari langit-langit kamar dan kinibtelah berada diatas ranjang bersama Yanti.
"Mengapa Kau gagal mendapatkan janin Syafiyah?" ucap Nini Maru dengan suara parau.
Yanti mendenguskan nafas kesalnya "Ia tampaknya masih beruntung, Aku sudah mengerahkan orang bayaran untuk mencelakainya, namun tampkanya keberuntungan masih berpihak padanya " jawab Yanti sekenanya.
Sekeketika Nini Maru menyusri wajah Yanti menggunakan jemarinya yang keriput dan kukunya yang runcing.
"Kau harus tau mencari cara yang lain dalam mencelakainya.." ucap Nini Maru suara paraunya.
"Tidak bisakah Kau memberiku waktu untukku beristirahat sejenak dan bersantai? Mengapa selau saja Kau mengusikku dan menyusahkanku?!" Yanti menggerutu dengan sangat kesal.
"Kau harus mendapatkan janin Syafiyah secepatnya" ucap Nini Maru dengan nada penuh penekanan.
Namun Yanti semakin merasa jika Nini Maru terus- menerus memaksaknya dengan segala keinginannya.
"Baiklah.. Aku akan mencari cara apa yang tepat, namun pergilah, karena Aku tidak dapat konsentrasi jika Kau terus di sini" ucap Yanti dengan nada kesal.
Tanpa banyak bicara, Nini Maru langsung menghilang meninggalkan Yanti yang saat ini sedang pusing dengan segala pint Nini Maru.
"Aku harus memikirkan cara apa yang tepat untuk mencelakai si Syafiyah?" ucap Yanti bingung.
"Lagian ngapain juga sih Nini Maru menginginkan janin Syafiyah, keq penting kali tu orang" Yanti menggerutu kesal.
Yanti beranjak keluar dari kamarnya. Ia merasa sangat pusing memikirkan cara untuk mencelakai Syafiyah.
Yanti berjalan menuju dapur. Ia merasa ingin makan karena memikirkan Nini Maru Ia menjadi lapar.
Namun sesaat Ia teringat akan jenazah pria didalam kamar rahasianya.
Ia membuka pintu kamar rahsianya, dan tampak bungkusan plastik yang semakin menggembung karena kedap udara dan akibat tekanan udara yang dihasilkan dari penguapan jasad tersebut.
Tampak cairan sari tubuh pria itu mulai keluar dan hal itu yang memancing perstiwa penguapan. Yanti membuka ikatannya, dan tampak kulit dan dan daging tubuh itu sedikit mengerut.
Sepertinya jasad itu lamban laun akan menjadi manusia asinan.