MIRNA

MIRNA
episode-285



Mentari berada ditengah bayangan manusia. Artinya pukul 12 siang tengah hari dan Samudera merasakan jika Ia harus beristirahat sejenak. Sebab pukul 12 siang adalah waktu dimana tempat para jin akan berkeliaran.


Samudera kehabisan bekal air minumnya. Ia harus mencari dimana sumber air untuk mengisi botol air minumnya.


Samudera menajamkan indera pendengarannya untuk mencari sumber air yang ada.


Suara gemericik air yang terdengar samar dan pastinya letaknya tidak begitu dekat. Ia harus mencarinya, namun Ia juga harus menunggu waktu hingga lewat dari tengah hari.


Samudera berteduh dibawah pohon rindang, dan duduk diatas akar pohon yang menyembul keluar dari tanah.


Pakaiannya yang basah sedari malam tadi muali tampak mengering karena terkena sinar mentari.


Hutan tersebut masih pera-wan dan belum tersentuh oleh tangan-tangan manusia, sehingga masih banyak pohon-pohon yang tumbuh besar menjulang dan tidak ada satu penebangpun yang bernani memasukinya karena setiap mereka yang berani memasukinya tidak akan pernah kembali pulang.


Karena rumor menyeramkan itulah sehingga tidak ada warga yang berani untuk memasukinya.


Samudera menyandarkan tubuhnya dibatang pohon. Menatap lurus ke depan, dan Ia sudah melangkah terlalu jauh. Tampak kanan kirinya dinding tebing yang terjal dan dalam, dan pastinya dengan kondisi jalanan yang licin karena diguyur hujan semalam, membuat Samudera harus berhati-hati.


Samudera merasakan matanya mulai mengantuk. Sebab semalam Ia belum tertidur saat dari melarikan diri.


Semilirnya angin siang ini, membuat matanya terasa begitu sangat berat dan Ia tak mampu lagi menahan rasa kantuknya, hingga perlahan Ia merasakan pandangannya mengabur dan akhirnya tertidur.


Sssssssshhhss...


Suara desis ular dari atas pohon yang menjadi tempatnya berteduh. Sedari tadi ular itu telah memperhatikannya. Aroma tubuh remaja itu membuatnya begitu sangat ingin melihat dengan jelas.


Ular itu turun merayap dari atas pohon. Lalu menjulurkan lidah dan mengendus tubuh Samudera yang baginya begitu sangat menggiurkan.


Ular jenis Sanca itu memiliki panjang 10 meter dengan bobot mencapai 200 kg.


Ular itu meraih pinggang Samudera, lalu membelitnya dan dan mengangkat tubuh remaja tersebut. Sorot mata dari sang ular tampak begitu terpesona akan ketampanan bocah laki-laki tersebut.


"Apa yang dicarinya dihutan inj? Berani sekali Ia memasuki hutan larangan seorang diri. Hanya ada satu orang yang dapat berhasil keluar dengan selamat dari hutan ini beberapa belas tahun yang lalu dan jika diperhatikan wajahnya hampir sama dengan sosok itu, hanya saja manusia ini lebih tampak muda.." Guman sosok ular tersebut.


Ular tersebut tak jemunya menatap wajah Samudera. Ia menyentuh pipi Samudera dengan ujung moncongnya dan terasa begitu lembut.


Sinar matanya tampak begitu sumringah melihat lekuk wajah yang begitu sempurnah. Hidung bangir dengan juga ketamapanan yang membuatnya ingin memiliki.


Sosok ular itu membawanya naik ke atas pohon, lalu menghilang.


Samudera mengerjapkan kedua matanya. Ia merasakan kepalanya sangat pusing, dan berusaha menajamkan penglihatannya. Ia tersentak kaget saat melihat tempat yang begitu asing baginya.


Ia berada diatas ranjang yang mewah dan seperti sebuah istana yang megah.


Kamar itu tampak mengalahkan para artis yang mengatakan dirinya sultan. Berbagai ornamen batu permata nan indah dengan nilai jual tinggi menjadi hiasan disetiap sisi ranjang dan juga dinding kamar.


Samudera segera beranjak dari ranjang tersebut. Berdiri tegak menyapu pandangannya pada setiap sudut kamar.


"Aku dimana?" gumannya lirih. Sesaat Ia menyadari jika ini bukan alamnya. Tetapi alam ghaib yang tersentuh pandangan mata orang awam.


Pengalaman berjalan didunia ghaib bersama Angkasa membuatnya harus tau menemukan jalan pulang. Ia harus segera kembali dan tidak boleh terlalu lama terperangkap dialam yang bukan seharusnya.


Sanudera mencari jalan keluarnya. Namun tiba-tiba satu sosok ular raksasa dengan berkepala manusia dan berwujud sangat cantik meliuk dari pintu kamar dan menghampirinya.


Samudera tersentak kaget saat melihat kehadiran sosok tersebut.


Cantik? Ya, tentu saja. Bahkan Tasya yang terkenal cantik dan menjadi primadona disekolah pada masa itu, dan juga Melly yang sudah wafat sangat jauh kalah cantiknya dari wujud siluman ular tersebut.


Namun, meskipun ular itu sangat cantik, tetapi Mirna ibunya jauh lebih cantik dari siluman tersebut, dan kecantikan ibunya juga terpancar dari hatinya.


"Siapa, Kau?? " tanya Samudera. Namun tak ada sedikitpun rasa takut didalam hatinya untuk menghadapi sosok tersebut.


Jika mengagumi kecantikannya, ya.. Tentu saja. Sebab Ia seorang anak remaja laki-laki yang memasuki masa puber-tas.


Lekuk tubuh yang begitu indah. Menggambarkan jika Ia adalah seorang ratu. Namun Samudera tak ingin tertipu oleh pandangan matanya.


"Wahai calon pangeranku. Menikahlah denganku,, dan tinggallah menetap bersamaku. Aku akan memberikan semua kemewahan yang tak pernah kau temui didunia ini, bahkan rasa cinta dan kenik-matan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya" ucap sosok tersebut sembari meliukkan tubuhnya.


Samudera tersentak kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin Ia akan menikaho makhluk tersebut dengan wujud seperti itu, dan ini bukanlah tujuannya.


"Aku mengerti apa yang Kau maksudkan. Jika Kau menikah denganku, maka Aku akan membantumu menemukan ibumu!" Siluman itu menawarkan diri dan bantuan.


Namun bagi Samudera itu hanyalah taktik dan tipuan dari jin tersebut. Bagaimana jadinya jika Ia menerima pernikahan itu, namun akhirnya Ia akan terikat dan tidak dapat kembali, maka Samudera tak ingin terjebak didalamnya.


"Maaf, Aku meyakini jika Rabb-ku akan membantuku, dan sekali lagi maafkan Aku karena tidak dapat menerima tawaranmu" ucap Samudera mencoba bernegosiasi dengan siluman tersebut.


Namun siluman itu tidak terima, sebab Ia sudah terlanjur jatuh hati dengan ketampanan remaja tersebut.


Samudera tak ingin mengulur waktu, Ia harus segera pergi, sebab waktu yang dibutuhkanya lagi banyak.


Samudera beranjak dari kamar tersebut dan menuju sebuah lorong cahaya untuk Ia kembali ke tempat semula. Namun dengan cepat Ular siluman itu menangkap pinggangnya dan membelitnya.


"Apakah Kau mengira semudah dapat lepas dariku?" ucap sang ratu ular yang kini menatapnya penuh amarah.


Samudera tercengang mendengarnya. Ia merasakan belitan dipinggangnya semakin kuat. Dan bisa saja siluman itu meremukkan tulangnya.


"Astagfirullah halladzhim.." Samudera keceplosan dan membuat tubuh siluman itu menggeliat.


Siluman tersebut tak menyukai kalimat yang dilafazkan oleh Samudera, karena membuat tubuhnya merasa panas dan ruangan istananya terguncang.


"Lepaskanlah.. Aku tidak memiliki urusan denganmu dan juga tidak ingin menyakitimu!" pinta Samudera.


"Tidak, Aku tidak akan melepaskanmu! Aku terlanjur jatu hati padamu, dan aku ingin kita segera melaksanakan pernikahan ini!" ucap Ratu siluman ular tetap kekueh dengan pendiriannya.


Samudera akhirnya tak dapat lagi menunggu lama, Ia terpaksa membacakan ajian segero geni untuk meloloskan dirinya dari cengkraman sang ratu ular.


Perlahan sang ratu ular merasakan tubuhnya sangat panas. Ruangan kamar dan istana terasa bagaikan berada didalam oven.


Para penghuni istana merasakan hawa panas tersebut.


Terdengar suara teriakan kesakitan seolah mereka sedang terpanggang.


Ratu ular yang semula mencoba bertahan, kini tak sanggup lagi menahan rasa panas tersebut dan perlahan Ia melepaskan belitannya ditubuh Samudera hingga membuat tubuh Samudera terhempas dilantai.


Tubuh Ratu ular meliuk karena tidak tahan dengan hawa panas yang membuat kulit tubuhnya melepuh dan ujung ekornya menghantam apa saja yang ada.


Kesempatan itu digunakan oleh Samudera untuk segera melarikan diri dan keluar dari istana mengejar lorong cahaya yang hampir saja menghilang.


Dengan melompat Ia akhirnya dapat mencapai lorong cahaya yang hampir saja meredup dan menghilang.


Samudera tersentak saat menyadari dirinya suadah kembali dibawah pohon. Suasana gelap, ternyata telah malam hari. Ia melihat tas ranselnya dan juga tongkat hikingnya masih tergeletak ditempatnya.


Samudera tidak nenyadari entah berapa lama Ia berada dialam ghaib tersebut.


Sementara itu, sang Ratu ular tampak sangat kebingungan dan dan terus meliukkan tubuhnya untuk meredakan rasa panas yang menjalar ditubuhnya sehingga tak menyadari jika Samudera sudah tak lagi berada diistananya.


Terdengar suara jeritan kesakitan dari para dayang dan para hulubalangnya yang berlarian dan menghambur keluar dari istana karena karena tidak tahan akan hawa panas tersebut. Bahkan sebagian dari mereka ada yang tewas terpanggang.


Samudera memungut tas ranselnya dan juga tongkat hikingnya.


Ia melihat jika ini adalah waktu dini hari. Samudera memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya sebab Ia tidak dapat menundanya lagi, karena sudah terlalu lama.


Samudera kembali melintasi jalanan semak, dan terus menatap lurus ke depan untuk tetap waspada dengan apa yang akan terjadi. Ia memastikan jika bahaya akan selalu datang mengincarnya.


Wuuuusssh..


Buuuuuugh..


Lima buah tombak tiba-tiba melesat dan tertancap ditanah dan hampir saja mengenai tubuhnya.


Dalam kegelapan malam, Sanudera dapat merasakan kehadiran sosok makhluk yang sangat mengerikan dengan kepala banteng. Mereka mengeliligi Samudera "Menyerahlah.. Kami diutus oleh Mirna untuk membunuhmu dan mengambil jiwamu!" ucap salah seorang diantara mereka.


Samudera yang mendengar nama ibunya disebut, merasa tersentak kaget. Ia tidak dapat begitu saja percaya dengan apa yang diucapkan oleh para iblis tersebut.


"Apakah Kau mengira aku mempercayai ucapanmu?!" jawab Samudera dengan cepat.


"Hahahaha... Kau mengira aku bohong?!" ucap iblis itu sembari tertawa mengejek.