MIRNA

MIRNA
episode-245



Mirna mengerjapkan kedua matanya. Ia tampak sangat lemah, namun sedikit membaik.


Satria menyudahi dzikirnya, lalu mengusap lenut wajanya dan menoleh ke arah Mirna yang sudah sadar.


Lalu Satria menghampiri Mirna yang menatapnya nanar.


"Mas"


"Ya.." Satria meraih jemari Mirna lalu mengecupnya.


"Mereka datang kembali"


"Ya.. Dan Rabb-Mu masih melindungimu dari mereka yang ingin menyesatkanmu" jawab Satria.


Mirna menganggukkan kepalanya dengan lemah, dan Ia menatap sendu pada suaminya.


"Beristirahatlah, agar kesehatanmu kembali pulih" titah Satria. Namun Mirna justru melakukan hal sebaliknya, Mirna menarik tangan Satria, sehingga membuat Satria terjatuh dalam dekapannya.


Lalu dengan cepat Mirna memagut bibir Satria dan membuat Satria tak sempat untuk menolaknya.


Sementara itu, Samudera dan juga Angkasa sudah selesai melakukan doa mereka untuk kesembuhan Mirna, dan mereka memutuskan untuk tidur, sebab mereka esok akan kembali ke sekolah. Tak berselang lama, keduanya tertidur lelap.


*******


Keheningan malam yang kelam. Angaksa berjalan didalam kegelapan. Ia melihat sebuah goa yang sangat gelap.


Angkasa menyusuri lorong goa yang terasa pengap dan terasa lembab, sebab didalam goa terdengar suara gemericik air yang merembes yang menetes dari langit- lagit goa.


Didalam goa terdapat sebuah suluh bambu yang menjadi satu-satunya penerangan didalam goa.


Angkasa meraih suluh bambu tersebut dan menyusuri lorong goa. Terdengar samar suara rintihan meminta tolong, dan Angkasa menajamkan pendengarannya.


"Aku mengenal suaranya, mengapa terdengar seperti ibu" Angkasa berguman lirih.


Bocah itu memeprcepat langkahnua mencari sumber suara yang diyakini adalah ibunya.


"Aaaaaaarrrggh.."


Angkasa berteriak saat kakinya tergelincir karena tergesah-gesah berjalan dan lantai goa yang licin.


Suluh bambunya terlempar beberapa depa dari tempatnya terjatuh. Ia kemudian merangkak dan mencoba menggapai suluh bambu tersebut dan Ia merasakan bagian lutut dan sikunya terluka karena lantai goa yang terbuat dari batuan cadas.


Angkasa meraih suluh bambu yang masih menyala tersebut. Ia juga tidak tahu siapa yang memasang suluh tersebut dan tentunya menggunakan minyak tanah, sedangkan minyak tanah saat ini sudah sangat langka dan bahkan hilang dari peredaran.


Angkasa beranjak bangkit meskipun masih sempoyongan. Lalu kembali menyusuri lorong goa.


Ia merasa suara rintihan itu semakin dekat dan Ia meyakini jika sumber suara itu berasal dari salah satu ruangan didalam goa.


Dua buah ruangan yang saling berhadapan dan suara itu terdengar dari salah satunya.


Angkasa memasuki ruangan yang disisi kanan yang diyakini sebagai sumber suara rintihan itu berasal.


Didalam ruangan yang tampak sangat temaram karena pencahayaan yang sangat minim dan sebuah pelita yang cahayanya berkelap kelip seolah terkena terpaan angin namun terus bertahan untuk tetap menerangi ruangan tersebut.


Ia melihat dalam keremangan seseorang yang diyakininya adalah sosok wanita sedang duduk membelakanginya dengan rambut tergerai panjang dan posisi merunduk.


Ia merintih dan seolah dalam kesedihan yang sangat dalam, sehingga membuat Angkasa merasa sangat penasaran untuk menghampirinya.


"Bu.." panggil Angkasa dengan langkah yang sangat hati-hati.


"Ia semakin dekat melangkah dan mencoba ingin menyentuh pundak wanita yang sedang merintih lirih tersebut.


Namun tanpa terduga, sosok itu memalingkan wajahnya dan membuat Angkasa bergerak mjndur beberapa langkah.


"Astaghfirullah halladzhim.." Angkasa seketika beristighfar dan hampir saja suluh bambu yang dipegangnya terlepas dari tangannya.


"Ka-kamu.. Kalau punya wajah jelek yang jangan ngagetin kenapa!!" gerutu Angkasa yang merasakan deguban dijantungnya kian menderu saat melihat sosok tersebut dengan wajah yang terluka parah dan kulit mengelupas.


"Kau berkunjung kepadaku cucuku" ucap Sosok yang tak lain adalah Nini Maru.


Angkasa menghela nafasnya, entah mengapa Ia merasa mual jika makhluk kuntilanak merah itu memamnggilnya dengan sebutan cucu.


"Maaf, Ni.. Aku bukan cucumu, kita memiliki jalan yang berbeda, maka jangan pernah mengaku-ngaku jadi nenekku!" jawab Angkasa menukas ucapan Nini Maru.


Seketika Nini Maru beranjak bangkit dan berjalan perlahan mendekati Angkasa.


Rambutnya yang tergerai panjang Ia sibakkan bagaikan seorang artis iklan shampo merk ternama.


"Kau tidak dapat memungkiri jika didalam tubuhmu, terdapat garis keturunanku..! Mau kah kau melakukan satu hal untukku? Bawakan darah Samudera kepadaku, maka aku akan mengangkatmu menjadi panglima kegelapan yang akan menguasai alam semesta" ucap Nini Maru yang semakin dekat jarak diantara mereka.


Angkasa terus bergerak mundur dan akhirnya Ia pada batas akhir karena tertahan dinding goa.


"Mengapa Kau menginginkan darah Samudera?" tanya Angkasa penasaran.


"Karena darah Samudera adalah darah murni dari Satria yang merupakan keturunan Ki Karso. Kau harus membantuku" ucap Nini Maru dengan nada mempengaruhi.


"Jika aku tidak mau?" tanya Angkasa.


"Maka Aku akan menculik ibumu!! Maka fikirkan hal itu baik-baik!" Ucap Nini Maru yang sudah begitu dekat jaraknya dengan Angkasa.


Bocah itu terdiam, dan menatap tajam pada Iblis tersebut.


Lalu tanpa diduga, Ia memukulkan suluh bambu itu pada wajah Nini Maru, dan menendang tubuh iblis tersebut hingga terpental dilantai goa.


"Aaaaaargh.." erang Nini Maru penuh amarah.


"Enyahlah Kau!! Aku tidak akan memberikan salah satunya apalagi keduanya hanya untuk ibliis laknat sepertimu!!" ucap Angkasa sembari berlari menyusuri lorong goa untuk menyelamatkan dirinya.


Nini Maru melesat dan tanpa diduga sudah berada menempel didinding goa dan dengan tatapan penuh amarah Ia melompat untuk menerkam Angkasa dengan kuku jemarinya yang meruncing.


"Enyahlah Kau, Iblis!!" ucap Angkasa sembari mengayunkan suluh tersebut ke arah Nini Maru yang menyerangnya.


Lalu api suluh itu mengenai rambutnya dan membakar sebagian.


Nini Maru mengibaskan rambutnya dan mencoba memadamkannya.


Angkasa kemudian berusaha berlari melewatinya, namun naas kakinya kembali tergelincir dan Ia terjatuh, dan suluh bambunya terlempar. Ia mencoba merangkak dan meraih suluh bambu tersebut, namun ternyata Nini Maru mencengkram pergelangan kakinya dan menancapkan jemari kukunya yang runcing dipergelangan kaki Angkasa.


Bocah itu meringis kesakitan, tampak darah mengucur dari luka cengkraman tersebut. Lalu dengan bersusah payah Angkasa meraih suluh bambu itu dan kembali memukulkannya ke kepala Nini Maru, sehingga membuat iblis terpaksa melepaskan cengkramannya.


"Aaaaarggh.. Dasaar bocah sialaan.!! Gak punya sopan santun, Aku ini nenekmu, Tau!!" gerutu Nini Maru sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Nenek darimana? Dari Hongkong?!"jawab Angkasa yang kembali menendang Nini Maru, lalu Ia berusaha kembali bangkit dan berjalan tertatih menahan rasa sakit di pergelangan kaki kanannya dan mencoba menyusuri lorong untuk segera keluar dati goa.


Ia melihat sebauh cahaya didepannya, dan Ia tahu jika itu adalah jalan kembali.


Namun Nini Maru sudah kembali mengejarnya dan mencoba menghalangi Angkasa untuk menembus cahaya tersebut, namun Angkasa terus mempercepat langkahnya sehingga tampak seseorang yang menjulurkan tangannya dari balim cahaya tersebut dan Ia segera meraihnya, lalu tangan itu menariknya kepusaran cahaya dan membawanya pulang.