
Sosok bayangan hitam yang tak lain adalah Rey menggeram marah.
Ia tidak terima karena Didi menggagalkan rencananya mendapatkan lato-lato malam ini.
Namun Lela masih belum sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Melihat hal itu, Rey mengubah wujudnya menjadi sosok manusia buruk rupa yang sangat menjijikkan dan menggarap Lela yang masih termangu ditempatnya.
Sesaat aksi Rey terhenti saat sosok Kakek Nugroho menggeram padanya. Ia tidak reka jika Rey menggarap wanita yang bersekutu dengannya.
Lalu Kakek Nugroho menarik pundak Rey dengan tatapan marah dan memintanya pergi.
Tak ingin berdebat dengan ayahnya, Rey pun meninggalkan Lela yang masih merintih meminta penuntasan.
Lalu Kakek Nugroho menggantikan Rey dan menuntaskan keinginan Lela dengan cepat.
Setelah itu semua, Kakek Nugroho meninggalkan Lela begitu saja, lalu menghilang.
Wanita itu tersadar setelah beberapa menit kepergian kakek Nugroho. Ia melihat sekelilingnya, dan mendapati warungnya telah sepi. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi, lalu membenahi pakaiannya dan menutup warungnya.
Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, dan semua makhluk masih dalam lelap tidurnya.
Rey melesat menembua kegelapan malam. Ia menuju rumah seorang pemuda yang telah menggagalkan rencananya.
Rey berencana membalaskan perbuatan pemuda tersebut yang tak lain adalah Didi.
Saat Ia akan mencoba memasuki rumah tersebut melalui ventilasi udara. Tiba-tiba saja Ia merasakan hawa panas yang menerpa tubuhnya dan membuatnya terpental.
Samar-samar Ia mendengar suara seorang wanita paruh baya sedang berdzikir didalam ruang kamar disebelah kamar Didi.
Ternyata itu adalah Ibunda Didi yang sedang terbangun dan melakukan shalat lail, yaitu tahajjud.
Rey kembali menggeram dan dengan rasa penuh amarah meninggalkan rumah pemuda tersebut.
Saat Ia sedang berkelana mencari mangsa, Ia mendengar suara Nini Maru memanggilnya. Meskipun merasa kesal, Ia harus menemuinya, sebab Nini Maru yang nantinya akan menuempurnakan wujudnya setelah mendapatkan jumlah genap tumbal lato-latonya.
Rey melesat menemui Nini Maru yang sedang bertapa dibawah pohon beringin dengan mengatupkan kedua tangan didepan dadanya.
"Ada apa memanggilku, Ni?" tanya Rey dengan tunduk dan patuh.
Nini Maru membuka matanya, menatap siapa yang datang padanya.
"Mengapa Kau mengabaikan apa yang Ku perintahkan padamu? Bukankah Aku memintamu untuk mencelakai keturunan Ki karso? Buat wanita kehilangan janinnya!!" hardk Nini Maru dengan nada perintah dan penuh amarah.
"Ba-Baik, Ni.. Akan hamba laksanakan.!" jawab Rey tergugup.
"Bagus.. Dan jangan ada kegagalan, Aku tak menyukainya" ucap Nini Maru dengan seringai penuh perintah.
Rey akhirnya menganggukkan kepalanya, lalu melesat menghilang dan menuju rumah Satria untuk menyatroni Syafiyah.
Syafiyah masih terlelap dalam tidurnya. Ia sedang merajut mimpinya yang mana Ia bermimpi telah diangkat menjadi seorang kepala rumah sakit umum yang ada di kabupatennya. Ia begitu sangat tersenyum dan bahagia dalam mimpinya.
Syafiyah tersentak karena kaget saat mendengar suara dentuman yang sangat kuat diatas atap rumahnya yang membuyarkan mimpi indahnya.
Syafiyah membolakan matanya, lalu menatap pada atap rumahnya yang tadi terdengar suara benda terjatuh, namun tidak tidak ada benda yang menggelinding.
Seketika Syafiyah merasa sedikit gelisah, Ia tidak tahu benda apa yang sedang terjatuh, namun setelahnya Ia merasakan tak nyaman.
Syafiyah membenahi posisinya menjadi duduk bersandar.
Ia tak dapat tidur lagi saat mendengar suara tersebut hingga pagi menjelang.
Syafiyah menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Rasa kantuk masih menyelimuti wajahnya.
Ia memaksanya untuk tetap bekerja. Sebab ada rapat untuk penyuluhan kader posyandu tentang gizi balita dan ibu hamil untuk setiap kelurahan yang ada dibawah naungannya.
Sementara itu, Mirna sudah membuatkan sarapan untuknya, menyeduhkan susu ibu hamil untuk madunya tersebut.
Lalu tanpa mengatakan apapun, Ia pergi untuk bekerja.
Mirna melihat sesuatu bahaya telah menanti didepan Syafiyah.
Ia bergegas menghampiri wanita itu. "Mbak.. Saya ikut" ucap Mirna mencoba meminta persetujuan Syafiyah.
Wanita itu menoleh ke arah Mirna dan mengerutkan keningnya.
"Heeei.. Mau ngapain kamu ikut saya bekerja, mau buat malu saya kamu di sana?" ucap Syafiyah ketus.
Mirna tersenyum tipis "Saya janji tidak akan membuat malu , Mbak.. Saya ada keperluan untuk menemui seseorang" jawab Mirna berbohong.
"Apa?! Menemui seseorang? Saya disana kepala nya, dan semua staf mengenal saya? Emang siapa yang mau Kamu temui?!" Ucap Syafiyah mencibir.
Mirna terdiam, dan menyunggingkan senyum tipisnya "Ada. Namun Mirna tidak bosa mengatakannya" jawab Mirna beralibi.
"Saya tidak mau.. Mending kamu dirumah saja nyuci pakaian, ngepel dan nyetrika. Bukankah itu lebih pantas buat kamu" tolak Syafiyah sembari melenggang menuju mobilnya, dan menaikinya.
Namun alangkah terkejutnya Ia saat Ia menutup pintu mobilnya, Mirna sudah berada duduk dijok tengah dengan pandangan lurus ke depan.
"Nih anak ngenyel banget sih.. Dibilangin jangan ikut tetap juga maksa!. Turun kamu!." ucap Syafiyah kesal.
"Sudahlah, Mbak.. Daripada Mbak berdebat dan nanti ketinggalan waktu bekerja, lebih baik Mbak nyetir saja dan segera berangkat bekerja" ucap Mirna dengan tenang.
Syafiyah tercengang mendengarnya "A-apa? Kamu kira saya sopir kamu pakai perintah saya?" ucap Syafiyah dengan kesal.
Namun belum sempat Syafiyah kembali mengomel, tiba-tiba kunci on bergerak, dan mesin mobil menderu.
Syafiyah tersentak kaget dan terperangah. Ia tidak menduga jika mobil yang kini ditumpanginya tiba-tiba bergerak sendiri tanpa Ia kemudikan.
Lalu tangan Syafiyah memegang stir mobil dan memaksanya untuk terus menyetir tanpa bisa Ia hentikan, lalu mobil terus melaju, hingga akhirnya mereka sampai didepan puskesmas dan membuat Syafiyah terperangah hingga melongo.
Mirna tanpa berkata apapun keluar dari pintu mobil yang mana Syafiyah memandanginya dengan perasaan bingung dan syok.
Namun Mirna tak beranjak dari tempatnya, dan masih tetap berdiri disisi mobil seperti sedang mengamati sekitar lokasi puskesmas hingga kesegala arah.
Syafiyah merasa bingung dan segera turun dari mobilnya dan bergegas menuju ruang tempatnya bekerja, sebab sebentar lagi akan mengadakan rapat.
Syafiyah menoleh kearah belakang, mengira Mirna mengikutinya, namun dugaannya salah, Ia melihat Mirna menuju arah koridor tempat dimana ruang ibu bersalin. Syafiyah menduga jika Mirna akan menjenguk salah satu sahabatnya yang baru saja melahirkan, meskipun itu hal yang sangat mustahil, sebab Mirna tidak pernah bergaul.
"Oh.. Syukurlah, Dia tidak mengikutiku, buat malu saja.." gerutu Syafiyah dengan kesal.
Syafiyah berjalan menapaki anak tangga menuju ruagan kerjanya. Ia membuka jendela dan membiarkan angin menerobos masuk.
Melalui kaca jendela itu, Ia mencoba mengintai Mirna dari sana. Namun Ia tak menemukan sosok tersebut.
Sesaat Syafiyah melihat sosok pria berwajah buruk rupa dengan tubuh berbulu tipis menghampirinya dengan sorot mata penuh kengerian.
Ia menampakkan taringnya dan ingin menerkam syafiyah yang menyasar pada perutnya.
Syafiyah tak sempat memikirkan bagaimana pria menjijikkan itu bisa sampai diruangan kerjanya. Namun Saat ini Ia berfikir bagaimana caranya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Syafiya berjalan mundur hingga ke ujung jendela dengan kondisi tersudutkan.
Tubuh Syafiyah berada ditengah-tengah jendela tanpa jeruji tersebut. Sementara itu, Sosok tersebut semakin mendekati Syafiyah dengan sorot mata sarkasnya.
Lalu saat jarak mereka sudah cukup dekat, membuat Syafiyah merasa terpojok.
Sementara itu para staf dan pegawai kantor yang melihat punggung Syafiyah berada diujung jendela, membuat tubuhnya dipastikan akan terjatuh, namun Syafiyah tidak menyadarinya, dan seperti apa yang diprediksi oleh para orang-orang tentang Syafiyah, yang mana tubuh itu terjungkal ke bawah, dan..
Aaaaaaarrrrghh...
Suara teriakan Syafiyaj yang juga diikuti teriakan para staf dan keluarga pasien yang melihat tubub Syafiyah melayang dari lantai dua.
~Reader setia, minta dukungan vote dan rate bintang 5 nya ya🙏🙏❤❤❤~