MIRNA

MIRNA
episode-253



Malam semakin larut. Shinta yang tengah terbaring merasakan tubuhnya sangat bergetar. Ia mengingau


Ternyata serangan Nini Maru pagi itu membuatnya sangat begitu trauma sehingga dalam tidurpun Ia mengingau.


Satria tersentak mendengar igauan Shinta yang terdengar begitu sangat mengiris hati.


Ia mencoba membangunkan Hadi, namun adik lekakinya itu baru saja tertidur, dan Ia tak tega untuk membangunkannya.


Satria beranjak dari sofa, Laku menatap pada Shinta yang masih terpejam matanya, namun terus mengigau tak jelas.


Satria mencoba melihat melalui mata bathinnya dan ternyata itu adalah Ki Kliwon yang mencoba membuatnya gelisah. Ia berniat menghabisi Shinta terlebih dahulu, agar tidak dapat melahirkan anak dari Hadi, dan kemudian menghabisi Hadi, kemudian merembet ke yang lainnya.


Satria menghampiri ranjang Shinta, dan meletakkan tasbij ditangannya dikening Shinta. Tak berselang lama Shinta kembali merasa tenang.


Dalam pandangannya, Nini Maru saat ini sedang merasakan kesakitan yang luar biasa dan itu karena ulah Angkasa, sedangkan Samudera juga terluka karena dihempaskan oleh Nini Maru.


Namun Ia mencoba memberikan kesempatan bagi kedua puteranya untuk menangani iblis tersebut sembari ke duanya melewati ujian yang sedang diberikan kepada keduanya. Satria kembali ke sofa dan beranjak tidur.


Sementara itu, Samudera dan Angkasa sudah tiba dirumah. Tampak beberapa luka dibagian siku tangan dan juga lututnya yang lebam akibat dilempar oleh Nini Maru.


Angkasa mengambil salep yang ada didalam laci nakas dan mengobati kakaknya.


"Sialan tu Nini, dah jelek pakai ngeyel lagi" umpat Samudera dengan kesal "Tapi kenapa dia bisa terkena tabrakan motor kita, dia kan demit?" Samudera melanjutkan ucapannya.


"Mungkin karena Kita membaca tasbih saat akan menabraknya" jawab Angkasa.


"Kapan Ya Ayah menurunkan ajian yang pernah dikatakannya? Udah gak sabar pengen ngehancurin tu Nenek jelek" ucap Samudera sembari beranjak dari ranjangnya dan menyalin pakaiannya.


"Mungkin ujian yang harus kita lewati belum selesai" jawab Angkasa dan juga menyalin pakaiannya.


Samudera hanya mengerucutkan bibir, dan tampak mulai menguap karena hari sudah semakin larut. Lalu kedua bocah itu memilih untuk tidur.


Hari menunjukkan pukul 8 pagi. Mirna, Mala dan Bayu sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.


Sopir yang dikirim oleh Satria sudah tiba dan mereka berkemas untuk pergi. Tak lupa Mala memasak ayam goreng kalasan kesukaan Hadi, Satria dan juga Shinta.


Mereka menaiki mobil, Bayu berada didepan bersama sopir, sedangkan Mirna dan Mala berada dijok tengah.


Mirna tersenyum sinis saat memasuki mobil dan melirik ke arah sopir yang sedang menyetir. Namun, Ia hanya menyembunyikan apa yang saat ini Ia ketahui.


Mobil melaju kencang membelah jalanan. Sopir itu melirik kaca dashbor dan menatap pada Mirna dengan tatapan yang berbeda. Kecantikan Mirma sungguh membuatnya gila, Ia semakin tak dapat mengendalikan hasrat dan keinginannya untuk melampiaskan hasrat yang terpendam.


Sopir itu membawa mereka keluar dari jalur dan menuju ke arah jalanan sunyi.


"Heeei..!! Kita ini salah jalan! Aku warga kota ini dahulunya, jadi aku masih mengingat jalan dan seluk beluk Kota" ucap Bayu mengingatkan.


Bukannya mendengarkan ucapan Bayu, sopir itu justru menambah kecepatannya dan semakin menggila.


Mala tersentak kaget dan begitu juga dengan Bayu.


Sementara itu, Mirna mengambil selendangnya, lalu menjerat leher sopir tersebut dan membuka pintu mobil, lalu menendang sopir itu keluar dan Mirna juga melompat ikut keluar, lalu Bayu mengambil alih setir mobil dan berusaha mengendalikan laju mobil yang sudah tampak kacau.


Setelah berhasil mengendalikan mobilnya dan berhenti ditepian jalan, nafas keduanya tersengal. Lalu mereka.menoleh ke arah belakang mencari keberadaan Mirna dan Sopir tersebut.


Bayu menganggukkan kepalanya, lalu menutup pintu mobil yang terbuka dan memutat arah mobil kembali ke rumah sakit sembari menyusuri jalanan mencari keberadan Mirna.


Namun sepanjang perjalanan tidak mereka temukan dimana keberadaan Mirna. Mala tampak gelisah memikirkan menantunya tersebut.


Ia membayangkan jika Mirna pasti terluka parah karena melompat dari mobil saat mobil melaju kencang.


"Bagaiamana nasib menantuku?" ucap Mala lirih sembari mengadarkan pandangannya mencari keberadaan Mirna saat Bayu menepikan mobil ditempat lokasi Mirna saat melompat tadi.


Mala bahkan mencari hingga kesebuah jembatan yang tak jauh dari lokasi kejadian. Namun sopir misterius dan juga Mirna tak ditemukan.


Ia berjalan dengan gontai "Mirna. Dimana, kamu?" panggil Mala dengan nada putus asa.


Bayu mencoba berfikir jernih, Ia meraih phonselnya, lalu menghubungi Satria dan panggilan tersambung.


"Hallo, Sat.. Kamu bisa gak datang ke alamat ini?" ucap Bayu menyebutkan alamat yang tertulis dipapan nama jalan.


"Ya. Ada apa, Pak?" tanya Satria.


"Mirna menghilang..!! Sopir yang kamu kirim barusan itu membawa kami ke arah jalan yang salah, lalu Mirna mendorong sopir itu dan Ia ikut melompat ke luar dari mobil, dan kami sudah mencarinya, namun tidak ketemu" Bayu mencoba menjelaskan kronologinya.


Satria memejamkan matanya, lalu mendenguskan nafasnya.


"Bawa Ibu ke rumah sakit, Pak.. Saya yang akann mencari Mirna" ucap Satria.


"Baiklah.." jawab Bayu, lalu menutup panggilan telefonnya.


Bayu beranjak keluar dari mobil, dan berjalan menghampiri Mala yang tampak masih keningungan mencari keberadaan Mirna.


"Sayang.. Satria akan datang mencari Mirna, dan Kita diminta untuk ke rumah sakit" ukar Bayu menjelaskan.


Mala menatap Bayu dengan raut sedih, Ia tidak dapat membayangkan bagaimana kondisi Mirna saat ini, namun Ia harus mendengarkan perkataan suami dan anaknya.


Mereka akhirnya menuju ke rumah sakit.


"Ada apa, Kak?" tanya Hadi penasaran.


"Tidak ada apa-apa, hanya sedikit masalah kecil saja, kamu tunggu disini sebentar, jangan tinggalkan Shinta sendirian, dan sebentar lagi Ibu dan Pak Bayu akan tiba, Kakak ada keperluan sedikit" ucap Satria, lalu berpmitan keluar dari ruangan rawat inap tersebut.


Satria menyusuri lorong rumah sakit, lalu menuju sebuah toilet.


Satria mendobrak pintunya, lalu tampak sopir itu terikat dengan mulut tersumpal dan tak sadarkan diri.


Satria membuka ikatannya dan menarik sumpal kain dimulutnya.


"Maaf, Pak.. Tadi ada seseorang yang memukul saya dan mengikat saya disini" ucap Sopir itu menjelaskan.


Satria menganggukkan kepalanya, lalu membawa sopir itu keluar dari toilet dan memberinya selembar uang seratus ribu untuk ngopi dikantin dan sarapan, sedangkan Satria menuju parkiran dan mengemudikan mobil milik Hadi.


Sopir itu masih bingung dan juga penasaran siapa yang telah memukulnya dan memasukkannya ke dalam toilet serta mengikatnya.


Namun rasa lapar dan juga kelelahan karena lama tersekap didalam toilet membuatnya hampir sesak nafas dan beranjak bangkit lalu menuju kantin untuk ngopi dan sarapan.