
Syafiyah memasuki kamarnya dengan kesal. Ia merasa akhir-akhir ini jika Mirna selalu mengguruinya karena hal-hal yang kecil.
Sebagai seorang tenaga kesehatan dan menempuh pendidikan yang berada di bidangnya, tentu Ia tersinggung jika Mirna menasehatinya dalam hal-hal yang berkaitan dengan itu semua, Ia merasa harga dirinya direndahkan oleh Mirna yang tidak mengenyam pendidikan apapun.
Syafiyah menghempas phonselnya dan setelah makan siang tadi Ia merasakan sangat begitu kekenyangan, sebab melahab habis masakan Mirna dan hampir lupa meninhgalkan sisanya.
Namun Ia merasa perih dibagian mata kakinya, Ia mencoba memeriksanya.
Syafiyah melihat jika ada kuka memar membiru disana, Ia mencoba mengingatnya, mungkin itu luka memar akibat benturan saat mobilnya berhenti mendadak.
Syafiyah mengambil salep didalam laci nakasnya dan mengoleskannya.
Ia melihat pukul 1 siang. Ia ingin menghubungi Satria kembali, entah mengapa Ia sekarang menjadi sedikit posesif dan juga tentunya sudah beberapa hari tidak sentuh ada sesuatu yang ingin di tuntaskan disana meskipun hanya lewat vedeo saja.
Syafiyah berniat untuk mandi dan membersihkan diri dahulu, lalu setelahnya akan menelefon Satria.
Hampir setengah jam lamanya di melakukan ritual mandi dan setelah itu mengenakan pakaian lingerenya dengan bentuk yang sangat menggoda.
Dengan rambut basahnya dan memoles bibirnya menggunakan lipstick berwarna nude, Ia merasa sudah sangat cukup untuk menggoda Satria.
Lalu Ia meraih phonselnya dan menghubungi satu nama 'My Husband' .
Panggilan memanggil, berarti phonsel Satria tidak aktif dan Syafiyah mengulanginya hingga 10 kali panggilan dan tetap sama.
Lalu Syafiyah mencoba menghubungi phonsel Satria dengan tanpa jaringan 4G, dan juga tidak tersambung.
Syafiyah sangat kesal, sebab Ia sudah bersiap-siap ingin bervedeo call, namun hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi.
Syafiyah menghempaskan phonselnya diranjang, dan sesaat Ia uring-uringan.
Ditempat yang berbeda, Mirna sedang bermandikan keringat karena sedang memacu gerakannya mencapai puncak surgawinya. Hanya terdengar suara lenguhan dan rintihan yang begitu manja dari bibirnya.
Ia tidak tahu mengapa Satria begitu membuatnya tergila-gila dan selalu ingin memadu kasih dengan pria itu.
Setelah mencapai apa yang diinginkannya, Ia mendekap sang suami dengan nafasnya yang tersengal dan menderu.
Satria mengeratkan pelukannya dipinggang sang Istri yang selalu membuatnya melayang hingga mencapai puncak surgawinya.
"Mas.. Nini Maru terus mengincar Mbak Syafiyah. Bahkan Ia kini mengerahkan dua makhluk berbulu itu untuk terus mencelakai Mbak Syafiyah, dan pagi tadi Ia mengirimkan Yanti untuk mencelakainya" ucap Mirna yang masih berada diatas tubuh suaminya, dan belum ingin beranjak pergi.
Satria terdiam dan menatap nanar "Jagakan kandungan Mbak mu, dan juga kandunganmu untuk Mas. Ada sesuatu yang tidak bisa Mas jelas kan kepada Syafiyah dan Mas meminta bantuanmu" ucap Satria sembari membelai lembut rambut Mirna.
"Ajian segoro geni ini sangat panas, dan Mas tidak dapat sembarangan untuk menggunakannya apalagi ada kalian berada disekitar Mas, sebab akan mempengaruhi kandungan kalian, maka bantu Mas untuk menjaga kandungan kalian dan setelah anak-anak ini lahir, maka Mas yang akan turun tangan menghancurkannya" ucap Satria dengan tenang.
Mirna mencoba menganggukkan kepalanya dan masih juga belum beranjak dari atas tubuh Satria.
"Mengapa Mas hampir lewat seminggu juga belum kembali kerumah?" tanya Mirna dengan manja.
"Mas ingin memberikan pelajaran buat Mbak mu agar intropeksi diri dengan sikap keras kepalanya. Semoga Ia dapat merenungi atas segala apa yang dilakukannya selama ini" ucap Satria lirih.
Satria melihat gelang tasbih yang diberikannya kepada Syafihah kini berpindah ketangan Mirna.
Sesaat mata Satria terpejam, menembus kembali penglihatannya, Ia melihat Syafiyah yang tampak uring-uringan karena meminta hasratnya tersalurkan dan berusaha menghubunginya.
Satria merasa iba, namun Ia harus sedikit memberikan pelajaran kecil kepada sang istri nakalnya itu.
"Mas.. Kasihan Mbak Fiyah, mengapa Mas tidak mengangkat panggilan telefonnya?" tanya Mirna yang merasakan apa yang ada didalam hati dan fikiran Suaminya.
"Biarkan saja, semoga Mbakmu sedikit menyadari kesalahannya" ucap Satria dengan santai.
"Tapi kasihan loh, Mas. Jika itu tak tersalurkan bisa gelisah Mbak Fiyah" ucap Mirna yang kemudian merubah posisinya menjadi duduk diatas tubuh sang suami.
Satria tersenyum tipis "Baiklah, tapi sekali lagi, Ya" ucap Satria nakal, dan disambut senyuman nakal Mirna.
Sementara itu, Syafiyah masih dalam kondisi kesal, sebab Satria tak kunjung juga mengaktifkan phonselnya.
"Kemana sih, Mas Satria? Bisa-bisanya jam segini phonselnya mati? Apakah Ia sedang meeting dan ada pekerjaan yang sangat urgent?" Syafiyah berguman kesal. Ia sudah berdandan sebaik mungkin, namun suaminya tak juga mengaktifkan phonselnya.
Setengah jam berlalu, tampak suara panggilan masuk kedalam phonselnya, dan Ia melihat itu dari Satria. Dengan cepat Syafiyah menggeser tombol hijau itu dan mengangkat panggilannya.
"Mas kenapa phonselnya dimatikan sih?" omel Syafiyah yang melihat suaminya berada didalm kamar dan menggunakan selimut saja.
"Ada apa, Sayang? Baru juga ditelfon udah marah-marah sambutannya" ucap Satria mencoba setenang mungkin.
"Mas itu kalau Fiyah lagi nelfon pasti dikamar mulu? Emangnya Mas kerja atau apa sih?" cecar Syafiyah yang selalu merasakan hal aneh saat melihat kondisi suaminya seperti orang yang sedang habis bercinta.
Sesaat Syafiyah melihat rambut panjang milik Mirna tergerai disisi Satria dan tanpa sengaja tertangkap camera.
"Mas.. Itu Mirna?" pekik Syafiyah yang sekilas melihat Mirna disisi Suaminya.
Satria tersenyum tipis menanggapi ucapan Stafiyah, namun tidak menjawabnya.
"Kamu cantik hari ini, Sayang?" ucap Satria mengalihkan pembicaraannya, dan saat Syafiyah belum sempat menanyakan kembali keberadaan Mirna, Satria sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Kamu gak kangen sama, Mas? Kenapa marah-marah terus sih?" ucap Satria yang tak ingin Syafiyah terus mempertanyakan keberadaan Mirna.
Syafiyah tersipu-sipu mendengar bualan suaminya "Kangenlah, Mas.. Kapan pulang kerumah? Fiyah sudah kangen" ucapnya yang mulai melupakan keberadaan Mirna.
"Kalau kangen kecup donk" ucap Satria mulai membual, padahal Ia sudah kenyang dengan Mirna.
Syafiyah mendekatkan bibirnya ke phonsel dan melakukan kecupan dilayar phonesel yang ditujukan untuk suaminya.
Merasa iba, akhirnya Satria melepaskan sukmanya menembus alam yang tak kasat mata dan menemui Istrinya. Syafiyah melihat Satria masih berada dilayar phonsel, namun Ia merasakan sebuah sentuhan tak terlihat yang membuatnya begitu berhasrat.
Syafiyah tak mampu mengendalikan dirinya dan phonselnya terlepas. Ia hanya dapat merasakan sentuhan itu namun tidak melihat siapa pelakunya.
Hingga Ia merasakan sentuhan itu terus menghujamnya dan memberikannya puncak surgawinya.
Syafiyah melenguh panjang dan menik-mati sisa-sisa puncak surgawinya dan hingga tanpa sadar Ia tertidur pulas.