
Sesosok kuntilanak putih yang baru saja menjadi kuntilanak karena meninggal keguguran, dan yang tak lain adalah arwah Rini yang saat itu mati keguguran dan ditenggelamkan oleh ke tiga sahabatnya kedalam rawa kini bergentayangan meminta penyempurnaan pemakamannya.
Ia merintih di dahan pohon dengan rintihan yang sangat memilukan dan tidak ada yang mendengarkan rintihannya.
Ia menggendong sesosok bayi yang juga tak kalah menyeramkan dan itu adalah janinnya yang digugurkan waktu itu.
Kuntilanak itu berharap ada yang mendengarnya dan menemukan jasadnya yang tenggelam didasar rawa.
Saat bersamaan, Yanti yang sedari tadi berkeliaran dan mencari sosok kuntilanak putih mendengar rintihan Rini yang terdengar memilukan.
Dengan cepat Ia melayang dan mencoba berpura-pura ikut prihatin kepada Rini.
Yanti duduk diatas dahan dan mencoba menenangkan Rini yang terlihat sangat mengenaskan.
"Mengapa Kau sangat bersedih hati?" tanya Yanti dengan nada seramah mungkin.
Rini melirik Yanti yang duduk disisi kirinya dan melihat jika iblis tidak menggunakan sehelai benangpun, sedangkan tubuhnya tampak hangus.
"Tidak perlu menghiburku, lihat saja dirimu yang lebih mengenaskan dariku" cibir Rini, dan menghentikan rintihannya dan tak ingin dikasihani oleh makhluk tersebut.
Tentu saja Nini Maru yang bersemayam didalam tubuh Yanti merasa tersinggung dengan ucapan Rini yang nadanya terkesan sangat angkuh.
"Hei.. Anak baru..! Jangan sombong kamu, Ya.. Kamu itu tidak mengenal siapa saya.!" ucap Nini Maru dengan nada penuh penekanan.
Rini menoleh ke arah Yanti dengan sangat sinis "Ya kenallah.. Kamu kan mucikari saya saat semasa hidup, dan ternyata nasib kamu tak kalah mengenaskan dengan saya" balas Rini dan berniat hendak pergi.
Yanti membolakan matanya dan merasa jika Rini sudah sangat lancang kepadanya.. "Dasar kamu, Ya.. Sialaan..!!" maki Yanti dengan sangat kesal.
Rini yang terlihat malas meladeni mantan bos nya itu segera hendak pergi meminggalkan perdebatan yang membuang waktunya.
Namun Yanti tak ingin melepaskan Rini begitu saja "Eh.. Tunggu.! Mau kemana Kamu? Enak saja main ngeloyor saja" ucap Yanti yang tak senang karena Rini seolah tak menghargainya.
Rini melirik Yanti dengan sinis "Kepo banget..!" ucapnya dengan cepat, dan hendak melayang terbang, namun secara bersamaan Yanti menarik gaun Rini dengan cepat dan melesat pergi meninggalkan Rini yang masih belum sadar dengan keadaannya.
Setelah kepergian Yanti, Rini melihatnya kini tanpa gaun dan itu sangat memalukan serta membuatnya semakin kesal terhadap Yanti.
"Dasar, Mucikari sialaaan..!!" maki Rini dengan kesal dan Ia berniat kembali merebut gaunnya dirampas oleh Yanti.
Dengan cepat Yanti kembali ke pohon beringin dan mengenakan gaunnya. Ia tak ingin gaun itu terlalu panjang, lalu merobek hingga sebatas lutut saja.
Nini Maru kembali mengajak Yanti untuk berburu tumbal janin yang masih kurang 8 tumbal lagi.
"Ni.. Dimana kita menemukan darah segar.. Aku harus memperbaiki jaraingan kulitku yang rusak" ucap Yanti yang masih insecure dengan penampilannya.
Kalau begitu kita ikuti Rey, jika Ia mendapatkan korban organ vitAl, maka Kamu jadikan darah pria itu sebagai bahan untuk mandi darahmu, terlebih darah pria yang belum menikah, itu sangat lebih baik" ucap Nini Maru menyerankan.
Yanti teringat akan Rey yang masih mengintai Dino sedang kasmaran dengan sang janda muda. Ia melesat mencari ketempat Rey mengintai Dino.
Sesampainya ditempat itu, Ia melihat Rey sudah tidak lagi berada ditempatnya, namun Dino dan juga sang janda masih tampak bercengkrama diteras rumahnya.
"Kemana Rey pergi menghilang? Mengapa Ia tidak menunggui mangsanya?" guman Yanti.
Yanti membolakan matanya "Si emang paling bisa, Ya.. Sejak suaminya si Ewin ketahuan mati mengenaskan di belakang warungku, Dia semakin kencang selingkuh dengan si Jali.. Ini kesempatan buat kita untuk mendapatkan janinnya" ucap Yanti dengan sumringah.
Nini Maru menggelengkan kepalanya "Usia kandungannya masih terlalu muda, masih 1 bulan, belum mencukupi untuk ditumbalkan" jawab Nini Maru.
Yanti mengerutkan keningnya."Lalu kita mencari tumbal kemana?" tanya Yanti meminta pendapat.
Nini Maru tersenyum seringai "Kita ikuti saja dulu Rey, setelah Ia mendapatkan tumbal organ Vital milik Jali, kamu mandikan darahnya agar tidak terdeteksi oleh manusia.. Ada korban yang kini sedang mengandung 4 bulan" ucap Nini Maru dengan sangat senang.
"Siapa? Wandakah?" cecar Yanti.
Nini Maru menggelengkan kepalanya, Ia melihat tiga orang gadis yang sudah tak belia lagi dan bekerja menjajakan dirinya sejak beberapa tahun yang lalu dan juga belum menikah.
"Bukan Wanda.. Dia sulit disentuh, mertua perempuanjya selalu bangun malam dan melantunkan ayat suci, sehingga rumah itu teeasa panas jika akan didekati" jawab Nini Maru.
Yanti semakin penasaran, dan ingin segera tahu siapa calon korban yang akan mereka sasar saat ini.
"Lalu siapa, Ni?" cecar Yanti tak sabar.
"Tia dan juga Tini.. Jika Ziya tidak dapat mengandung, sebab rahimnya rusak karena sewaktu bekerja denganmu Ia terlalu banyak menerima orderan plus-plus" jawab Nini Maru.
Yanti tersenyum bahagia, akhirnya mantan para pekerjanya dapat diandalkan sebagai pemasok janin untuknya.
Pekerjaan yang mereka tekuni selama ini tak juga menjadikan mereka bertaubat, tetapi mereka semakin tidak tahu untuk bekerja sebagai apa.
Istilah dalam hidup ketiganya ialah 'Tak makan jika tak menjual diri' dan itu adalah semboyan hidup mereka. Sehingga ketiganya bertahan hidup dengan hanya menjual diri.
Laku Yanti melesat menuju ke tempat Jali dan Rina yang kini sedang memadu kasih.
Ia sudah tak sabar ingin segera mendapatkan darah Jali untuk memperbaiki jaringan sel kulitnya yang rusak.
Sesampainya dirumah Rina, Ia menyelinap masuk melalui kaca jendela yang tampak terbuka, sepertinya Rina luoa menutupnya.
Keduanya memadu kasih tanpa ikatan pernikahan. Dengan tanpa merasa takut akan dosa, keduanya bermandikan keringat dalam buaian kehinaan dan kenistaan.
"Jaaali.. " lenguh Rina dalam angannya yang melayang. Ia bahkan rela dijadikan hanya sebagai pemuas hasrat belaka bagi pria yang tak juga mau menikahinya.
Bagi Rina yang penting Jali selalu membayarnya saat tiap kali Jali menginginkan pelayanannya.
Jali melihat Rina sudah berualang kali mencapai puncaknya, dan janda itu selalu merasa puAs dengan apa yang dilakukannya, hingga akhirnya, Jali mencapai pelepasnnya dan itu membuatnya menambah ritme gerakannya dan...
Craaaaasssh..
Sebuah sabetan tangan dengan kuku yang sangat runcing dan dengan cepat meraih organ vital itu dengan begitu sadis.
Pelepasan yang seharusnya begitu indah, kini berubah menjadi neraka mengerikan.
Mata Jali terbeliak menahan sakit yang tak terbayangkan olehnya, dan tubuhnya mengejang karena rasa sakit yang tak terperikan.
Sementara Rina yang kelelahan masih memjamkan matanya menik-mati sisa-sisa pelepasanna hingga Ia tak menyadari jika Jali kini sudah ambruk dilantai dengan kondisi yang mengenaskan.