MIRNA

MIRNA
Episode 37



Disaat ketegangan yang terjadi, tiba-tiba seorang warga menghampiri Pak Budi dan memperlihatkan sebuah vedeo yang beredar yang memperlihatkan Yanti bersama Jeffri dan dan Dandi pada malam hari digubuk ladang jagung dan sedang melakukan tindakan asusila.


Seaat warga memandang Yanti dan juga ketiga pemuda yang saat ini belum menyadari jika vedeo mereka telah menyebar dimedia sosial.


Budi memerintahkan warga menangkap ketiga pemuda itu, dan mengamnakan Yanti.


Yanti merasa bingung dengan apa yang dilakukan warga kepadanya, dan ketiga pemuda itu bingung melihat beberapa warga yang menghampiri mereka dan menangkap ketiganya.


"Eh.. Ada apa ini, Pak? Mengapa Kami ditangkap?" protes ketiganya dengan bingung.


"Apa yang sekarang harus dilakukan, Pak?" tanya warga kepada Budi.


"Bawa mereka ke Balai Desa untuk diadili, begitu juga dengan Yanti" titah Budi dengan nada sarkas.


Lalu Budi menghadap kepada Satria "Maafkan Kami yang sudah mengganggu Anda, dan Kami sudah menemukan pelakunya" ucap Budi dengan rasa penuh penyesalan.


Lalu warga menggiring Yanti dan ketiga pemuda itu kebalai Desa untuk diadili.


Warga memaminggil pihak kepolisian untuk ikut serta mengadili peristiwa ini.


Sepeninggalan warga, Bu Ratna menghampiri Satria "Maafkan Ibu, tidak dapat membelamu" ucap Mbak Ratna dengan rasa bersalah.


"Tak mengapa, Bu.. Sebab Ibu juga tidak mengetahui kejadian sebenarnya.


Lalu Bu Ratna tersenyum sungkan, dan berpamitan pulang. Suasana kembali sepi, lalu tampak Widuri terbang melayang menghampirinya.


"Hai.." ucapnya sembari mengatupkan sayapnya.


"Terimakasih, sudah membantuku" ucap Satria tulus.


Widuri mengangkat kedua bahunya. Sudah tugasku membantumu.." jawab Widuri dengan santai.


Lalu Satria kembali masuk kerumah yang mana widuri mengekorinya dari arah belakang.


Ternyata Widuri yang menggerakkan jemari Jali untuk mengunggah vedeo itu ke media sosial, agar Satria terbebas dri segala fitnahan tersebut.


"Maaf, ruamhku masih kotor lantainya" ucap Satria sungkan.


"Tak masalah, lagipula aku tidak menginjak lantai, Aku melayang" jawab Widuri dengan santainya.


Satria menuju sofa, dan menghempaskan bokongnya disofa " sudah Dua kali Aku mengganti asisiten rumah tangga, dan keduanya berusaha melecehkanku" ucap Satria sembari menatap nanar.


"Itu semua salahmu" jawab Widuri dengan santai.


"Apa salahku?" tanya Satria dengan penasaran.


"karena Kau terlalu tampan, dan mereka tidak mampu menahannya" jawab Widuri yang melayang dan duduk disofa.


Satria tersenyum miris mendengar jawaban Widuri, dan itu terkesan sangat mengada-ngada.


Sementara itu,Yanti dan ketiga pemuda itu digiring kebalai desa. Sesampainya dibalai Desa, mereka dicecar berbagai pertanyaan.


"Kami tidak ada melakukan apapun, Pak.. Apa salah Kami" protes Jali kepada para warga.


Lalu Budi meraih phonsel warga yang tadi memperlihatkan vedeo tersebut.


Dengan tenang Budi memperlihatkan vedeo itu kepada ketiga pemuda tersebut dan juga Yanti.


Ketiga pemuda dan juga Yanti terperangah melihat vedeo asusila tersebut.


"Apa yang ingin kalian jelaskan dari vedeo ini?" tanya Budi selaku RT didesa ini. Jeffri dan Dandy merasa kesal sebab Jali dengan ceroboh memvedeokan wajah mereka saat sedang menggarap sawah Yanti.


Jali menggelengkan kepalanya, pertanda Ia tidak mengunggah vedeo itu, dan Ia juga bingung mengapa Vedeo itu sampai terunggah di akun media sosialnya.


"Mengapa Kamu sampai tega memfitnah anak Bu Mala?" cecar Budi dengan tatapan intimidasi.


"Ya mau gimana lagi, kalau mereka yang jadi ayah dari anak saya ya mana saya mau.. Lagian kalau Satria kan tampan, siapa juga yang tahan lihatnya setiap hari " jawab Yanti dengan merundukkan kepalanya.


"Gak mau tapi di vedeo kamu tampak menikmatinya" cecar Budi dengan nada cibiran.


"Namanya juga dipengaruhi sama iblis, ya enak sajalah" jawab Yanti sekenanya,sehingga membuat warga menyorakinya.


Orang tua Yanti terbakar emosi mendengar pengakuan dari anak gadisnya.


"Buat malu saja, Kamu" plaaaaaak.. Sebuah tamparan mendarat dipipi putih Yanti yang kini sudah mencoreng nama baiknya.


Badu yang merupakan Ayah Yanti merasa sangat terluka atas kelakuan anaknya, sudah bersalah memfitnah orang pula.


"Ini semua salah mereka bertiga, Yah.. Mereka memperkaos saya, dan mengancam saya" Yanti berusaha membela dirinya.


Ketiga pemuda itu memucat saat Badu mengahmpiri mereka.. "Adili mereka dengan seadil-adilnya" pinta Badu, berharap ketiga pemuda itu dijebloskan kedalam penjara.


"Jangan penjarakan saya, Pak.. Saya bersedia menikahi Yanti asalkan saya jangan dipenjara" rengek Jeffri.


Yanti membolakan matanya "Haaah..? Gak sudi Saya nikah sama, Kamu, mending Saya gugurin saja bayi ini, sorry gak level saya kamu" cibir Yanti yang dalam posisi seperti itu masih sempat mencibir Jeffri.


Telinga Jeffri semakin panas mendengar ocehan Yanti yang sudah merendahkannya.


Orangtua ketiga pemuda itu datang, dan memohon agar anak mereka tidak dipenjarakan. Mereka menempuh jalan damai dan negosiasi kepada Badu ayah Yanti.


Setelah melakukan negosiasi yang sangat alot, akhirnya ditemukan jalan damai, yang mana ketiga pemuda itu dikenakan uang ganti rugi sebesar 10 juta rupiah untuk per-orangnya.


Lalu surat perjanjian yang ditanda tangani dengan manterai, perangkat desa dan juga polisi yang juga hadir menengahi kasus tersebut, serta korban dan juga pelaku, telah selesai dibuat.


Setelah menyelesaikan kasus itu, warga mulai membubarkan diri dan pulang kerumah masing-masing.


Sesampainya dirumah, Badu mencecar Yanti dengan segala pertanyaan yang membuatnya sangat frustasi.


Lalu Yanti masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamar dengan perasaan kesal.


Yanti berencana untuk menggugurkan kandungannya. Ia tidak ingin memiliki anak dari benih ketiga pria yang dianggapnya miskin itu, apalagi dengan wajah pas-pas-an.


Setelah memastikan ayahnya tak lagi mengomel, Yanti membuka pintu kamarnya, dengan mengendap-endap, Ia pergi kebelakang dapur. Ia mengingat jika Ibunya ada menanam buah nenas dan sedang berbuah.


Yanti memetik satu buah nenas muda, membawanya kedalam kamar, yang sebelumnya ia mengambil tempayan dan juga pisau dapur untuk mengupas nenas muda itu.


Yanti mengendap-endap menuju kamarnya, lalu menguncinya kembali.


Samar-samar Ia mendengar Ibu dan Ayahnya sedang membicarakan uang kompensasi dari ketiga pemuda itu sebagai uang jalan damai.


Sepertinya mereka merencanakan sesuatu untuk uang itu. Yanti mencoba tak perduli dengan apa yang dibicarakan oleh kedua orangtuanya.


Yanti mengupas nenas itu dengan terburu-buru, Ia ingin melenyapkan janin yang ada didalam rahimnya.


Awalnya Ia ingin mempertahankan janin itu jika saja Satria mau menikahinya, namun ilusinha tak sesuai ekspektasi, sehingga Ia memilih jalan untuk menggugurkannya.


Yanti mencuci nenas muda itu, lalu memotongnya menjadi bagian kecil-kecil.


Yanti memakannya hingga habis. Ia berharap jika janin itu segera keluar dan masalahnya akan beres.


Malam menjelma dengan kegelapannya. Yanti merasakan perutnya mulai memulas, dan itu Ia yakini adalah proses kontraksi.


Yanti merasakan sakit yang luar biasa saat perutnya kontraksi.


Disatu sisi, sosok bayangan hitam sedang memeperhatikannya sedari tadi, menunggu moment yang sedang dinanti-nantikannya.