
Malam telah tiba. Suasana mencekam dan juga hening. Sersan Jefry dan juga sersan Adhit masih penasaran dengan pengintaian mereka malam ini.
Tampak biasa saja, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Mereka meneguk kopi hitam sembari sesekali mengamati cctv yang menjadi kecurigaan mereka.
Semuanya masih terlihat lengang, tanpa tanda-tanda apapun juga.
Sementara itu, 3 orang remaja puteri menuju perkebunan yang tak lumayan jauh dari keramaian. Ketiganya sedang menanti seorang sahabat mereka yang berjanji malam ini akan berkumpul dikebun rambutan milik seorang warga.
Tak berselang lama, tampak sebuah lampu sepeda motor menuju ke arah tempat mereka aka n melakukan rencana untuk menggugurkan kandungan Sahabat mereka Rini.
Rini menghentikan sepeda motornya, sebab ketiga sahabatnya itu sudah menunggunya.
Tini tampak membawa selembar tikar dan telah mengelarnya dibawah pohon rambutan. Mereka berempat menghidupkan senter phonsel untuk dijadikan sebagai penerangan.
Rini membawa nenas muda, bubuk merica, dan juga bir hitam untuk mempermudah proses kontraksi. Mereka tidak memikirkan resiko dari apa yang akan dikonsumsi oleh Rini, bukam hanya beresiko keguguran, namun juga keselamatan sang ibu dari janin tersebut dipertaruhkan.
Rini sudah bertekad untuk menggugurkan janinnya malam ini.
Rini menyantab potongan demi potongan nenas muda yang sudah dibubuhi oleh bubuk merica dan menenggak bir hitam yang sebagai minumannya.
Menunggu reaksi dari kontraksi Rini.
Ketiga sahabatnya itu menggelar pesta sabu dengan uang hasil jual diri mereka siang tadi secara online dengan harga yang sangat murah.
Setelah menghiSap sabu, mereka seperti sakau dan mulai oleng.
Tiba-tiba Tia merasa sesak pipis dan ingin buang air.
Ia berjalan menuju kearah balik pohon rambutan. Namun tanpa Ia sadari sosok Genderuwo sudah memperhatikannya dan membekapnya hingga tak sadarkan diri.
Sementara itu, kedua sahabatnya mulai meracau tak jelas, sebab zat adiktif dari sabu tersebut sudah mulai menguasai akal mereka.
Dari balik pohon, muncul sosok Tia yang tampak berbeda.
Sosok itu mengahampiri Tini yang mulai merasakan mulas diperutnya. Rasa kontraksi mulai terasa dan sangat intens.
Tia membelai perut Rini dengan gerakan yang tak lazim. Namun karena rasa sakit kontraksi yang menyiksanya membuatnya harus menepis segala kecurigaannya.
Darah mulai merembes dari jalan lahir dan membasahi pakain daster yang digunakan oleh Rini.
Keringat dingin mulai bercucuran dan rasa sakit itu sangat begitu menyiksa.
Sementara Tini dan Ziya tidak menyadari kondisi Rini yang sangat sekarat.
Pandangan mata Rini mulai kabur, sementara Tia menyusupkan jemarinya masuk kedalam jalan lahir Rini, sehingga membuat Rini membolakan kedua matanya melihat apa yang dilakukan oleh Tia.
Dengan cepat Tia menarik janin yang masih bereaksi tersebut dengan sangat cepat, dan..
Creeeesssh..
Tia menarik paksa janin Rini, lalu menatap dengan seringai.
Sementara itu, Rini tersentak menahan sakit, bahkan tak mampu mengeluarkan suaranya yang tertahan. Dan Ia tak sadarkan diri.
Sementara itu, sosok wanita bergaun putih datang menghampiri Tia yang sudah berhasil mengambil janin berserta ari-arinya, lalu memberikannya pada sosok wanita yang tak lain adalah Yanti.
Lalu wanita itu menerimanya dengan seringai, dan memakannya dengan lahab.
Mencium aroma darah yang segar keluar dari jalan lahir milik Rini, Yanti tak sabar untuk menyesapnya, lalu Ia menghampiri Rini yang sedang tak sadarkan diri dan menyesap darah tersebut dengan rakusnya.
Sementara itu, Tia merubah wujud menjadi sosok mengerikan dan kini menjadi genderuwo yang menatap nanar pada dua remaja yang dilanda sakau tersebut.
Kedua gadis antara sadar tidak sadar merasakan sesuatu yang mengagrap sawahnya. Namun mereka seperti merasa tak mampu menolKnya.
Setelah melampiaskan hasratnya, Genderuwo itu pergi begitu saja meninggalkan para remaja yang telah tersesat jauh dalam kehidupan tak bergunanya.
Ditempat lain, Sersan Jefry dan juga sersan Adhit masih terus memantau kamera cctv dari dalam mobil yang tak jauh dari lokasi tempat mereka mengintai, namun tampaknya tak ada juga tanda-tanda kehadiran daei yang mereka tunggu.
Dan akhirnya mereka memilih untuk bermain catur untuk membuang kebosanan yang sudah melanda mereka.
Saat bersamaan, sosok bergaun putih melintas memasuki ruang bekas reruntuhan bangunan yang sudah hangus terbakar.
Sosok wanita bergaun putih yang tak lain adalah Yanti sedang menemui sisa debu milik anak iblisnya yang kini sudah tak lagi terselamatkan.
Yanti mengeram marah dan semakin menaruh dendam kepada Satria.
Sesaat Sersan Adhit melihat layar phonselnya yang memperlihat sosok Yanti sedang berada di reruntuhan bangunan dan tepatnya ditempat ditemukannya 4 kerangka manusia tersebut.
Sersan Adhit mencolek lengan Sersan Jefry dan memperlihatkan apa yang kini sedang mereka lihat.
Tanpa menunggu lama, keduanya keluar dari mobil lalu mengendap-endap dan melakukan penyergapan kepada Yanti dengan dilengkapi senjata api.
"Jangan bergerak..!! Dan Diam ditempat!!" hardik kedua sersan itu sembari menodongkan senjata api kepada sosok Yanti yang dalam kermangan cahaya karena hanya diterangi cahaya rembulan dan pantulan cahaya sinar lampu bohlam dari rumah milik Mirna yang tak jauh dari lokasi tersebut.
Sosok itu tertunduk dengan rambut yang tergerai ke depan menutupi wajahnya.
Kedua sersan itu bergerak cepat dan menyergap Yanti yang tampak diam tak bergeming dengan wajah tertunduk.
Sersan Adhit mengambil borgol dari saku celananya dan dengan cepat menarik kedua tangan Yanti kebelakang dan memborgolnya dengan segera.
"Jalan" hardik Sersan Jefry, sembari menodongkan senjata apinya kepunggung Yanti dan memaksa wanita itu untuk menuruti perintab keduanya.
Tanpa memberontak, Yanti berjalan menuruti perintah dua perwira polisi tersebut.
Mereka menggiring Yanti masuk kedalam mobil "Masuk..!!" perintah Sersan Adhit dengan nada intimidasi.
Yanti terus menuruti apa yang diperintahkan keduanya, dan memasuki mobil dengan sangat patuh.
Lalu sersan Jefry mengapit Yanti di jok tengah, sedangkan Sersan Adhit menegmudikan mobil menuju kantor polisi untuk melakukan pemeriksaan kepada Yanti.
"Akhirnya Kau tertangkap juga, mau lari kemana Kau, Ha?" ucap Sersan Jefry dengan geram.
Sementara itu sersan Adhit mengemudikan mobil dinas tersebut dengan kecepatan tak biasa.
Sersan Adhit merasakan hal yang aneh pada Yanti, sebab wanita merundukkan kepalanya sedari tadi dan tak menjawab apapun bahkan tidak memberontak sama sekali saat penangkapannya.
Sersan Adhit mencium aroma kembang kenanga yang membuatnya merasa sangat meremang dibagian tengkuknya.
Entah mengapa Ia merasa kepo dan ingin melihat sosok Yanti melalui kaca dashbor yang kini sedang duduk terdiam dijok tengah dan diapit oleh sersan Jefry.
Saat Ia melirik kaca dashbor, saat bersamaan Yanti menengadahkan wajahnya dan memperlihatkan wajahnya yang hancur dengan kulit dan daging yang mengelupas.
Sersan Adhit tersentak dan terkejut karena apa yang dilihatnya sangatlah membuatnya syok.
Seketika Ia tak dapat mengendalikan laju mobilnya, dan...
Buuuuuuuummmm.....
Mobil menabrak pembatas jalan dan berguling dijalan raya, lalu terbalik.