
"Mas.. Aku ingin pulang sebentar ke rumah tepi hutan, sudah lama tak pulang, dam ingin membersihkan sejenak, ntar sore balik lagi" ucap Mirna.
"Jangan lama-lama, dan juga jangan sore"jawab Satria.
"Iya, Mas.. Mirna berangkat, makan siang sudah Mirna siapakan" ucap Mirna sembari berpamitan.
"Mas antar" ucap Satria.
"Jangan.. Mbak Syafiyah gak ada yang jagain, ntar kalau ada apa-apa dengan Mbak Syafiyah bagaimana?" cegah Mirna kepada Suaminya.
Seketika Satria mendenguskan nafasnya "Ya sudah.. hati-hati Ya?" ucap Satria, dan dijawab dengan anggukan oleh Mirna.
Lalu dengan cepat Mirna melesat dan tak terlihat oleh siapapun.
Hanya hitungan detik saja, Mirna telah sampai didepan rumahnya, dan Ia memasuki rumahnya.
Saat memandang warung Yanti, Ia mencium aroma kegelapan disana, dan seketika Ia tersentak dengan apa yang dilihatnya.
Mirna merasakan jika bahaya kian datang dan Syafiyah dalam ancaman.
Mirna memasuki rumahnya, lalu melihat kondisi rumah yang berdebu.
Mirna menarik selendangnya dan mengibaskannya, lalu dalam sekejap rumah itu kembali bersih.
Ia membuka bungkusan kantong kresek dan memasak mie instan yang dibawanya dari rumah.
Setelah selesai memasak, Ia menyantabnya, dan membersihkan piring kotor, lalu berniat untuk mandi diteip sungai, sudah sangat lama Ia tidak mandi ditepi sungai.
Mirna menuruni undakan tanah dan menapakinya dengan sangat hati-hati karena licin. Ia memegangi perut bagian bawahnya yang membuncit dan sudah sampai ditepian sungai.
Sementara itu, Didi dan Dino terpaksa kembali lagi ke tepi hutan untuk mencari hewan buruan. Namun mereka tidak berani untuk menjualnya kepada Yanti, dan memilih menjualnya kepada warung Tuak milik Opung Saragih, sebab keduanya trauma akan kejadian waktu itu.
Disisi lain, anak Yanti yang berubah wujud sudah berusia 16 tahun itu terbangun dari tidurnya, Ia melihat pintu terkunci rapat, dan dengan mudahnya Ia merusak pintu tersebut dan berhasil keluar.
Saat ini Yanti sedang keluar untuk membeli bahan-bahan yang kurang untuk isi dagangannya.
Makhluk mengerikan itu berjalan keluar dari arah pintu belakang dan menuju hutan.
Ia sepertinya mencium aroma daging manusia yang berbeda. Ia menyusuri tepi hutan dan ini untuk pertama kalinya sejak Ia dilahirkan pagi tadi.
Didi dan Dino berjalan membawa hewan buruan mereka dan sembari terus matanya mengamati dahan pohon untuk mencari tupai yang bertengger disana.
Sementara itu, makhluk mengerikan yang terlihat hampir mirip dengan gorilla karena tubuhnya dipenuhi oleh bulu lebat berwarna hitam.
Hidung dan bibir tebal dengan manik mata berwarna merah darah. Makhluk itu berjalan tanpa alas kaki mengikuti aroma yang kini sedang mengusik indera penciumannya.
Sesaat Ia berhenti di bawah pohon rindang dan berukuran besar. Ia melihat seorang wanita cantik sedang mandi ditepi sungai dengan perut membuncit dan ada satu sosok janin bersemayam disana.
Seketika Ia tersenyum menyeringai dan menginginkannya.
Namun kecantikan sang wanita mengalihkannya. Naluri hasratnya tiba-tiba datang memuncak saat melihat kecantikan sang wanita. Ia menginginkan wanita itu.
Mirna merasakan hawa kegelapan berada dekat dengannya. Ia kembali terdiam dan fokus menajamkan mata bathinnya.
Seketika Ia menembus pandangannya menuju sebuah pohon besar tak jauh dari tempatnya mandi.
Satu sosok iblis telah mengintainya dari balik pohon.
Sang Iblis melihat kehadiran dua orang manusia yang juga merupakan mangsa lezat baginya. Matanya memandang ke arah pangkal kaki kedua pemuda itu, yang mana nantinya akan menjadi jatah untuk Rey sebagai tumbal yang harus diserahkan kepada ayah campurannya itu.
Iblis itu bersembunyi dibalik pohon dan menunggu kedua pemuda itu mendekat.
Sang iblis sudah sangat tak sabar ingin mendapatkan buruannya.
Dan saat keduanya sudah mendekat, Makhluk itu tiba-tiba muncul dihadapan keduanya dan itu sangat mengejutkan keduanya, hingga membuat mereka sampai menjatuhkan hewan buruannya.
"Di.. Apa ini, Di?" ucap Dino dengan tubuh mengeletar dan memegangi lengan Didi.
"Tenanglah, Din.. Mungkin saja gorilla" jawab Didi yang sebenarnya juga takut, namun mencoba untuk tenang agar Dino tidak bertambah takut.
"Gghrrrrr..."
Iblis itu menggeram dan tampak bersiap menerkam keduanya.
Didi mengarahkan senapang anginnya, dan menembakkan peluru tersebut ke arah makhluk yang saat ini sedang menghadang mereka.
Duuuaaar...
Suara tembakan mengenai sang makhluk berbulu itu. Namun tidak bepengaruh sedikitpun. Lalu iblis itu menerkam Dino dan mencoba menggigit leher pemuda yang sudah memucat ketakutan dan berusaha melindungi lehernya dengan menahan kepala iblis agar tak sampai menggigitnya.
Sementara itu Didi, mencoba memukul makhluk yang dikiranya gorilla menggunakan senapang angin yang dipegangnya, namun makhluk itu menarik senapang angin yang dipakai Didi untuk memukulinya, hingga membuat pemuda itu terjatuh.
Lalu Iblis itu mencoba berbalik menerkam Didi dan mencekik leher pemuda itu. Dino beranjak bangkit dan mencoba menyelamatkan sahabatnya yang sedang diserang oleh makhluk itu.
Dino meraih senapang angin yang tergeletak diatas dedaunan kering dan menancapkan ujung senapang dipunggung sang Iblis.
Namun iblis itu tak bergeming dan terus berusaha mencekik Didi hingga hampir kehabisan nafas.
Seketika iblis tersebut memiliki kuku runcing yang bertumbuh dengan tiba-tiba dan bersiap merobek wajah Didi dan mencabik-cabik tubuh Didi.
Dino mencoba terus memukul punggung iblis berbulu itu, namun sepertinya Iblis tersebut tidak merasakan pukulan dari Dino.
Saat genting tersebut, sebuah hantaman selendang dari arah samping dan membuat iblis itu terhempas kesamping sejauh 5 meter tubuh Didi. Pemuda menghirup sebanyak mungkin dengan nafasnya tersengal.
Namun Didi dan Dino tersentak kaget saat melihat seorang wanita bercadar menyelematkan mereka.
Iblis itu berusaha bangkit, namun sang wanita penyelemat dengan cepat memberikan tendangan kepada iblis tersebut, hingga terpental jauh.
"Pergilah, dan jangan pernah lagi berkeliaran didekat sini" titah sang wanita kepada ke dua pemuda itu. Seketika Didi berusaha bangkit, lalu memunguti senapangnya dan juga hewan buruan mereka, lalu ingin beranjak pergi.
"Terimakasih, Mbak.. Tetapi jika kami pergi bagaimana dengan Mbaknya?" tanya Didi yang tak tega meninggal wanita tersebut dalam kondisi hamil.
"Sudah ku katakan pergilah.. Dan jangan pernah kembali ke tempat ini" ucap wanita bercadar yang tak lain adalah Mirna.
Lalu keduanya beranjak pergi meminggalkan lokasi tersebut.
Sementara itu, sang Iblis berusaha bangkit dan ingin menyerang Mirna dengan kuku-kukunya yang tajam dan siap mencabik tubuh Mirna.
Namun dengan cepat Mirna melepaskan pukulan selendangnya dan mengikat leher iblis tersebut, lalu menghempaskannya ke pohon besar tersebut, sehingga membuat iblis itu mengerang kesakitan dan terjungkal ke tanah.
Saat Mirna akan melancarkan serangan berikutnya, sekelebat bayangan menyelamatkan iblis tersebut dan membawanya pergi meninggalkan Mirna.
Mirna menatap kepergian bayangan hitam dan sosok iblis itu dengan tatapan yang sangat kesal.