MIRNA

MIRNA
episode 112



Malam sepi dengan kegelapan yang mencekam. Sesosok wanita bergaun merah dengan wajah penuh luka sedang duduk bersila dengan kedua tangan dikatupkan didepan dadanya.


Ia memanggil para sekutunya dan dan meminta mereka menghadap kepadanya.


"Datanglah, aku memanggil kalian" titahnya dengan suara parau.


Sesaat dua sosok makhluk berbulu tebal dan satu sosok bayangan hitam yang merupakan anak dari sosok genderuwo yang melakukan percintaan dengan pengabdinya masa itu telah hadir ke hadapan sang wanita bergaun merah.


"Ada apa, Nini? Mengapa memanggil kami dengan tampak begitu terburu-buru" ucap Genderuwo yang kini merubah wujudnya menjadi pria senja dengan tubuh semakin kuat.


"Aku menginginkan anak dari wanita bernama Syafiyah yang merupakan titisan dari Mbah Karso. Janin itu akan membuatku kuat jika sampai aku dapat mendapatkannya" ucap Nini Maru yang saat ini membayangkan janjn didalam rahim Syafiyah yang terus saja menggodanya.


Kedua sekutunya tampak saling pandang satu sama lain dan mencoba mengeluarkan keluhan mereka.


"Tapi Nini sangat tahu, Jika Mirna selalu ikut campur dengan urusan Kita, dan sepertinya Mirna juga sedang mengandung, mengapa tidak kandungan Mirna saja, Ni?" ucap Kakek Nugroho menyarankan.


Nini Maru menatap kepada Kakek Nugroho "Apakah Kau tak melihat jika Chakra Mahlota selalu mengikutinya kemanapun, Ia sangat sulit ditaklukakan, sedangkan Syafiyah sangat lemah, dan pasti ada masanya Ia lengah dan terlepas dari pengawasan Mirna, maka masih ada kesempatan untuk mengambil janinnya" Nini Maru menjelaskan kepada kedua sekutunya.


Keduanya menganggukkan kepalanya dan mencoba menjalankan perintah Nini Maru sebaik mungkin. Lalu menghilang dikegelapan malam.


Sementara itu, Yanti berada didalam kamarnya, Ia membuka paket pesanan onlinenya yang berisi salep penghilang luka.


Ia mencoba mengoleskannya dan berharap bekas lukanya segera menghilang.


Sembari mengoleskan salep, tangan kirinya tak henti menggaruk area organ intinya yang terus semakin gatal dan perih karena lecet akibat garukannya yang intens.


Dan tiba-tiba saja Ia dikejutkan dengan kehadiran Nini Maru yang saat ini sedang menempel di dinding dan menatapnya dengan tajam.


Yanti tersentak dan memutar tubuhnya,.lalu menatap pada sosok Nini Maru yang tampak menginginkan seauatu darinya.


"Ada apa, Ni? Mengapa mengagetkanku?" ucap Yanti dengan tatapan terkejutnya.


Nini Maru melompat dan merangkak menghampirinya, lalu mendekatkan wajahnya di wajah Yanti dengan aroma kembang kenanga yang menyeruak keseluruh ruangan.


"Ingatlah.. Malam esok kau harus memberikanku tumbal janin, aku memerlukannya, dan sediakan untukku wadah besar untukku mandi darah dari campuran darah ayam cemani dan juga burung gagak, serta darah wanita yang kau ambil janinnya, dan tampung menjadi satu"Nini Maru menegaskan ucapannya.


Yanti bergetar ketakutan "Bukankah aku sudah mempersembahkan janinku beberapa hari yang lalu? Dan luka di rahimku juga belum sembuh, mengapa Kau yerus memuntutku meminta tumbal janin?


"Kau harus melakukannya dan Aku tidak mau perduli, sebab Kau telah mengikat perjanjian denganku" ucap Nini Maru tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh Yanti, baginya Yanti haruslah mengikuti semua apa yang diperintahkannya.


Seketika Yanti terdiam dan tak dapat membantah apapun yang diinginkan oleh makhluk iblis tersebut.


Setelah mengintimidasi Yanti, Nini Maru langsung menghilang dan meninggalkan aroma kembang kenanga.


Wanita yang kini bersekutu dengan iblis itu merasa bingung bagaimana Ia mendapatkan tumbal dengan segera dalam tempo satu hari saja.


******


Pagi menjelang, Yanti masih tampak gelisah. Ia semalaman tak dapat tidur karena memikirkan permintaan Nini Maru yang menjadi sekutunya, akankah Ia mengorbankan Tia? Namun kandungan Tia masih sangat kecil, dan Ia harus mencari yang lebih besar lagi.


Yanti melihat para pelanggan warungnya telah berpulangan dan para remaja itu juga sudah bersiap hendak pulang.


"Tia.. Kamu jangan pulang dulu, ya.. Mbak lagi butuh kamu, dan nanti akan Mbak tambahi gaji dan uang tips kamu" ucap Yanti mencegah gadis remaja itu untuk pulang hari ini, Ia ingin menjadikan Tia sebagai cadangan yang mana nantinya akan dijadikan tumbal andai Ia tak menemukan korban baru.


"Tapi, Mbak.. Saya sudah janji dengan orangtua saya untuk pulang hari ini" ucap Yanti menolak permintaan Yanti majikannya.


Yanti tampak memutar otaknya untuk berfikir agar dapat menahan Tia tetap berada diwarungnya malam ini saja.


"Besok pagi Kamu boleh pulang, Mbak minta malam ini saja kamu menginap semalam disini" pinta Yanti memohon.


Tia tampak ragu, Namun sebenarnya Ia ada janji dengan ketiga temannya itu untuk berjalan-jalan siang ini ke lokasi wisata.


"Kalau kamu tidak bisa menginap malam ini, ya Sudah, jangan bekerja dengan Mbak lagi, cari saja tempat yang lain" ancam Yanti yang sebenarnya juga merasa takut jika Tia benar-benar pergi dari warungnya.


Seketika ke empat remaja itu saling pandang satu sama lain.


"Ya, sudah.. Jalan-jalannya besok saja Kita lakukan, hari ini kamu disini saja dulu, mungkin Mbak Yanti lagi butuh Kamu" ucap Yani yang tak ingin jika Tia sampai dipecat atau pindah kerja tempat lain, sebab warung Yanti yang banyak menghasilkan uang dibanding warung remang-remang lainnya.


Dengan terpaksa Tia menganggukkan kepalanya dan memnatalkan misi jalan-jalan mereka dan menunggu esok hari.


Ketiga sahabatnya itu berpamitan pulang dan kini Tia yang berada diwarung Yanti.


"Kalau begitu kamu jaga warung atau tutup saja dan istirahat, sebab Mbak ada keperluan diluar yang sangat penting" ucap Yanti, lalu beranjak ke kamarnya dan membersihkan dirinya.


Yanti ingin pergi menemui Ki Brewok untuk memesan ayam cemani dan juga burung gagak dalam jumlah banyak dan dan juga kembang tujuh rupa, sebab Nini Maru ingin mandi dengan menggunakan darah ayam cemani dan juga darah burung gagak tersebut.


Setelah membersihkan dirinya, Yanti berpamitan kepada Tia dan berpesan agar mengunci warung saja.


Tia menganggukkan kepalanya dan mengunci warung lalu memilih untuk tidur dan beristirahat didalam kamar.


Yanti mengendarai mobilnya menuju rumah Ki Brewok yang memakan waktu hingga satu jam lamanya.


Ia sebenarnya sangat malas ke rumah Ki Brewok, sebab jalan menuju akses kesana sangat sulit, karena jalanan yang masih belum tersentuh pembangunan.


Namun semua karena permintaan Nini Maru yang sangat mendesak mengharuskannya segera menemui pria paruh baya itu.


saat melintasi simpang empat, Yanti di kejutkan dengan melihat seorang wanita yang pernah Ia temui di toko sembako waktu itu, wanita itu tak lain adalah Rina yang tampak ingin pergi ke suatu tempat.


Yanti tersenyum sumringah, entah apa yang dibenaknya saat ini, namun merasakan suatu kebahagiaan yang sangat besar.