
Lela terbangun dengan merasakan kepalanya yang begitu teramat sakit.
Lela mengamati dirinya yang tanpa busana, Ia tersadar jika Ia malam tadi baru selesai bercinta dengan kakek Nugroho dan tiba-tiba merasakan perutnya mengalami kontraksi hebat, lalu sesuatu meluncur keluar dari organ intinya dan Ia tak lagi sadar akan hal yang sesudahnya.
Lela melihat darah masih merembes dibagian pangkal kakinya dan perutnya tiba-tiba kempis. Lela mencoba mengingat peristiwa malam tadi jika Ia sudah keguguran.
Namu Ia bingung dengan janinnya yang menghilang.
"Kemana janinku? apakah dibawa oleh kakek Nugroho untuk ditananmnya? Sebab hanya Ia yang ada kamar ini malam tadi?" Lela berguman dalam hatinya.
Lela memutuskan untuk menutup warungnya beberapa hari, sebab Ia kngin memulihkan kesehatannya terlebih dahulu.
Lela berjalan dengan tertatih, namun Ia merasakan sangat pusing dan terlihat berkunang dalam memandang, sebab Ia banyak mengeluarkan darah.
Lela menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Rasa nyeri di area organ intinya masih terasa sesikit mengganggunya, sebab Ia mengetahui jika Ia mengandung 4 bulan sebelum kejadian malam tadi.
Setelah membersihkan dirinya, Lela berjalan tertatih dan mengenakan pakaian gantinya.
Ia menuju dapur yang menyatu dengan warungnya, lalu Ia membuat jamu untuk masa nifasnya.
Sesaat Ia melihat kakek Nugroho datang menghampirinya dan menuju kedapur.
Lela sedang memasak jamu asam kunyitnya, lalu melihat kehadiran kakek Nugroho Ia mematikan kompornya.
"Eh, Kek. Kebetulan saya mau nanya sama kakek, itu janin saya yang keguguran tadi malam kakek buat kemana?" tanya Yanti sembari menyaring jamu kunyit asamnya.
Pria senja itu menatap kepada Lela yang akan meminum jamuasam kunyitnya.
"Kakek tanam didekat rumah kakek" jawab Pria senja itu dengan tanpa ekspresi.
Lalu kakek Nugroho memberikan kantong kresek kepada Lela "Ini , ambillah" ucapnya dengan tatapan dingin.
Lela mengernyitkan keningnya "Apa ini Kek?" tanya Lela penasaran.
"Upah Kamu untuk pelayanan kamu dan janin kamu yang kakek tanam" jawab Pria senja itu.
Lela semakin bingung dan juga penasaran. Lela meletakkan gelas jamu asam kunyitnya di meja dapur, dan meraih kantong kresek yang diberikan kepadanya.
Lela membukanya dengan tak sabar dan saat Ia membukanya, matanya membola karena tak percaya jika kantong kresek itu berisi emas berlian.
Saat Ia menengadakan kepalanya untuk mengucapkan terimakasih kepada Kakek Nugroho, Pria senja itu sudah menghilang dan tak terlihat. Lela melihat kesekelilingnya, namun tak terlihat kakek itu ada dimana.
Lela merasa abai, Ia tampak senang dan hendak melupakan sejenak jika Ia baru saja keguguran.
Saat Lela melangkah ingin melangkah masuk kedalam rumah, Didi memanggilnya "Mbak.. Gak buka warung?" tanya Didi penasaran, karena tidak ada sarapan lontong yang ditata dilemari kaca milik Lela.
Lela menggelengkan kepalanya "Mbak libur tiga hari, Di.. Mbak lagi gak enak badan" jawab Lela dengan cepat.
"Oh.. Gitu, ya sudah. Permisi ya Mbak" ucap Didi, lalu beranjak pergi.
"Iya. Maaf, Di"jawab Lela.
Didi nyengir dan berlalu dari warhng Lela untuk mencari warung lain.
Sementara itu, Yanti dan juga Lisa tampak sangat senang dan bernyanyi ria sembari mengendarai motornya.
Mereka menuju kota yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 2 jam perjalanan dari desa tempat mereka tinggal.
Mereka akan menjual perhiasan emas dan berlian untuk dicairkan menjadi uang dan akan membeli mobil impian Yanti.
Setelah memasuki berbagai toko perhiasan, akhirnya keduanya menghasilkan uang banyak dan tampak begitu bersemangat.
Keduanya kemudian menuju showroom dan membeli mobil secara cash.
"Wah.. Gila kamu, Yan. gimana caranya kamu bisa membeli mobil dan mendapatkan uang sebanyak itu dalam sekejab saja?" tanya Lisa penasaran.
"Mbak Lisa mau seperti saya?" Yanti dengan penuh kelicikan.
Lisa yang sudah bosan hidup susah ditambahmlagi suaminya yang tidak juga mengirimkan uang bulanan karena sakit diperantauan merasa terjebak dan tergiur akan apa yang ditawarkan oleh Yanti.
Lisa menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Mbak mau, gimana caranya?" tanya Lisa tak sabar.
Yanti tersenyum sumringah, lalu akal liciknya bekerja. "Mbak tinggal layani saja pria yang ingin bercinta dengan, Mbak. Lalu usahakan Mbak hamil dan jika sudah berusia 3 sampai 4 bulan, kandungan Mbak Lisa gugurkan, nanti saya akan menjual janin Mbak Lisa dengan harga tinggi dan akan ada yang membelinya" ucap Yanti setengah berbohong dengan apa yang dikatakannya.
"Lho.. Koq janin yang dijual? Biasanyakan bayi untuk diadopsi?" tanya Mbal Lisa dengan penasaran.
"Ya.. Sebab janin yang masih berusia seperti itu yang akan sangat laku dan nilainya puluhan juta" ucap Yanti mengiming-imingkan.
Seketika Lisa yang selama ini tidak pernah mendapatkan uang sebanyak itu tentu sangat tergiur. Baginya hal itu sangat mudah, hanya menjual janin yang digugurkannya Ia dapat uang yang begitu sangat banyak.
"Bolehlah, Yan.. Mbak mau dengan saran kamu. Kapan lagi coba untuk kaya mendadak dengan cepat?" ucap Lisa yang mulai terpengaruh dengan iming-iming dari Yanti.
Seketika Yanti tersenyum sumringah. "Nah.. Gitu donk, Mbak.. Hidup ini perlu dinikmati, bawa happy saja, Mbak" ucap Yanti semakin memanasi.
Seketika Yanti dan Lisa tertawa berbarengan.
Ditempat lain, pemuda yang baru saja terbangun setelah seharian tertidur karena mabuk berat merasakan sesak buang air kecil dan berjalan sempoyongan kekamar mandi.
Saat Ia baru saja keluar dari kamar mandi, terdengar seseorang sedang memanggilnya dan menggedor pintu rumahnya.
"Li..Jali.. Buka pintunya" teriak seorang wanita mudah dari luar rumahnya.
Dengan perasaan yang masih sempoyongan, Pemuda itu menuju pintu utama dan membukanya.
Tampak seorang wanita muda berdiri diambang pintu dengan raut wajah masam dan menatapnya tajam.
"Dimana kang Ewin?" tanya wanita itu dengan nada tinggi penuh emosi.
Pemuda yang dipanggil Jali itu menggaruk kepalanya. Ia bahkan baru teringat jika Ewin pergi bersamanya malam tadi.
"Bukannya kang Ewin sudah pulang dari tadi malam?" tanya Jali dengan nada bingung. Sebab Ia sewaktu akan pulang pagi tadi tak melihat Ewin diwarung yang baru saja buka itu.
"Pulang dri mana?! Dari siang dia pergi dri rumah, sampai siang ini juga belum kembali" jawab wanita itu dengan sengit.
Jali mengerutkan keningnya, jika Ewin belum pulang, lalu dimana Ia kini berada? Jaki kini yang menjadi bingung dengan semuanya.
Merasa tak percaya dengan Jali, wanita muda bernama Rina itu nyelonong masuk kedalam rumah Jali. Ia yakin jika Ewin suaminya sedang bersembunyi dirumah Jali.
Dengan kondisi emosi, Rina memeriksa setiap sudut ruangan dan mencari keberadaan Ewin, suaminya.
Hingga Ia akhirnya memeriksa kamar Jali, yang mana Ia menduga jika Ewin sedsng tertidur dikamar itu.
Namun setelah membuka pintu kamar itu, Ewin tak juga Ia temukan.
Sesaat Jali dihinghapi rasukan iblis. Melihat wanita muda masuk kedalam kamarnya, dan sisa alkohol yang diminumnya malam tadi menambah rasukan iblis berkembang.
Jali menutup pintu rumahnya, lalu mendorong Rina masuk kedalam kamar, dan menggagahi wanita itu.