
Ziyah menepuk-nepuk pundak Tai yang berada disisi kananannya, sedangkan matanya masih memandang sosok Rini yang kini memandanginya dengan penuh kamarahan.
"Ada apaan sih, Zi?" tanya Tia dengan kesal.
Ziyah seolah tak dapat mengeluarkan suaranya yang tercekat ditenggorokannya.
Dalam rasa penasaran, Tia menoleh ke arah yang ditunjuk Ziyah melalui ekor matanya. Tia pun mengarahkan pandangannya kepada ukung mata Ziyah.
Dan saat itu Ia melihat jika tak jauh dari tempat Ziyah duduk, tampak sosok Rini dengan wajah pucat dan tatapan dingin menatap kepada mereka.
Tia melemparkan alat hisap sabunya dan menarik Ziyah untuk kabur dari tempat itu. Sementara Tini yang sdah dalam kondisi sakau tampak begitu sangat linglung dan tak perduli keadaan yang ada.
Ia bahkan tak menyadari jika kedua sahabatnya itu sudah kabur meninggalkannya.
Ia melihat Sosok Rini yang kini berada dihadapannya hanyalah seperti tampak mirip dengan Tia saja.
Ia mengajak Rini bercerita dan terkadang tertawa seorang diri seolah dunia begitu sangat terlihat lucu dimatanya.
Rini yang sudah sangat kesal, lalu mendorong Tini seperti mana saat Tini mendorong jasadnya kedalam rawa.
Rini mendorong tubuh Rini dari atas bangku warung dan membuat gadis itu terjerembab kebawa.
Lalu Rini menininggalkannha begitu saja, sedangkan Tini yang terjatuh terjerembab masih sempat tertawa dan itu sudah sangat mengeharankan bagi siapa yang melihatnya.
Sedangkan Sosok Rini merasa puas karena telah berhasil mengerjai wanita yang pernah menjadi sahabatnya semasa masih hidup.
Pagi menjelang, sinar mentari bersinar cukup terang dan tampak sangat indah
Mirna sudah menyiapkan makan untuk sarapan dan juga makan siang kedua putera dan juga Satria.
"Sayang.. Hari ini Mirna ijin pulang kerumah tepi hutan dan sebelum sore Mirna akan kemabali" ucap Mirna dengan sangat penuh harapan.
Lalu Satria menatap Mirna sang Istri "Baiklah, tetapi sebelum senja harus sudah berada di rumah"ucap Satria memberikan ijin yang mana harus dengan persyaratan.
Mirna menganggukkan kepalanya, dan Ia tidak ingin kedua puteranya mengikutinya, maka Ia akan mencari alasan lain yang mana jumlahnya menepati janjinya.
Setelah mendapatkan ijin dari suaminya, Ia bergegas berpamitan dan akan segera pergi.
"Mas, kalau angkasa dan juga Samudera mencariku, katakan kepada mereka jika Ibuny a sedang berbelanja ke kota" pinta Mirna dengan lirih.
Satria hanya menganggukkan kepalanya, lalu memandang Mirna yang beranjak pergi.
Mirna melesat hendak menuju rumahnya yang berada ditepi hutan.
Ditengah perjalanan, Mirna memutar arah ke sisi kirinya..Ia memasuki kebun rambutan milik pak Tono.
Sesampainya disana Ia melihat pria paruh baya itu sedang berburu tupai dan juga kera yang mencoba memakan mutik buah rambutamnya yang sebentar lagi akan menjadi bakal buah.
Mirna melesat tanpa terlihat oleh pak Tono. Ia menuju rawa yang berada didekat kebun pak Tono.
Ia mencoba mencari cara agar Pak Tono mengetahui jika dirawa itu ada terdapat sosok jasad yang meminta untuk disempurnakan.
Mirna membuat kerangka itu seolah berada dibawah permukaan air dan tersangkut oleh dahan pohon yang berasal dari dahan pohon rambutan milik pak Tono.
Pria itu akan membuang dahan pohon rambutan yang patah kedalam rawa tersebut agar tidak mengahalangi saat dia akan memanen rambutannya saat tiba waktu panen.
Pak Tono kembali menyeret sebatang dahan pohon rambutan yang patah tanpa sengaja.
Pak Tono menyeretnya dan menggelinikngan dahan tersebut, namun sialnya dahan itu tersangkut ditengah jalan. Lalu Pak Tono mencoba menuruni jurang yang tak terlalu curam itu. Ia berinisiatif untuk menyertnya saja hingga ke tepi rawa tersebut.
Seaampainya ditepi sawah Ia ingin menarik dahan itu, namun tanpa sengaja Ia melihat seeperti seauatu yang mencurigakan tersangkut didahan patahan dahan rambutan yang biasa Ia campakkan btersebut.
Ia mengambil sebatang ranting yang tak jauh dari sisinya, dan mencoba menyibakkan tumbuhan enceng gondok yang hampir memenuhi rawa.
Dalam rasa penasarannya, Ia melihat jika benda berwana putih kekuningan tersebut itu adalaah tengkorak manusia.
Pak Tono tersentak ketakutan dan Ia berjalan mundur, lalu mencoba menghubungi RT dan memberitahukan jika Ia menemukan sosok rangka manusia yang sudah tidak ada lagi daging tersisa.
Setelah mendapatkan informasi laporan tentang penemuan tengkirak manusia didalam rawa. Maka kepolisian turun ke lokasi kejadian dan ingin segera mengevakuasi rangka tersebut.
Warga yan mendengar informasi tersebut merasa sangat penasaran dengan penemuan rangka dirawa.
Hal ini menambah daftar panjang penemuan jasad dari tubuh Roby beberapan saat yang lalu.
Kebun pak Tono menjadi ramai dalam sekejab dan karena warga yang berdatangan ingin melihat penemuan itu.
Polisi yang sudah tiba dilokasi lalu memasang garis polisi dan meminta masyrakat menjauh lokasi yang dipasangi garis plastik berwarna kuning tersebut dan dengan menggunakan alat berat mencoba mengambil kerangka tersebut, sebab jika manusia yang mencoba mengeluarkanya itu sangat mustahil karena kondidi rawa yang sangat dalam dan banyaknya hewan bawa air yang tidak tahu kapan saja bisa membahayakan tim-nya.
Setelah berhasil dibawa ketepian, sontak salah seorang dari warga yang melihat rantai emas yang melingkar dileher rangka manusia itu adalah milik anaknya Rini.
Wanita paruh baya itu mengakui jika itu jasad Rini anaknya yang sudah lama menghilang, dan Itu terlihat dengan perhiasan kalung emas dan terukir namanya disana.
Seketika Ia menjerit histeris dan sangat memilukan hatinya. Bagaimana tidak Ia histeris, jika selama ini Ia mencari keberadaan puterinya, namun kini ditemukan sudah menjadi kerangka saja.
Pihak kepolisian meminta agar orangtua membawa sample yang dibutuhkan oleh kepolisan untk dilakukan tes DNA. Pihak kepolisian memberikan contoh semisal sikat gigi milik korban dan juga milik orang tuanya.
Lalu orangtua Rini menganggukkan kepala dan menyanggupinya.
Setelah seninggu kemudian, maka diketahui jika sample itu memiliki kesaamaan ciri-ciri dan 99% cocok.
Lalu pihak kepolisian menyerahkan kerangka itu kepada keluarganya, namun polisi menemukan jejak yang sangat begitu janggal dan terdapat beberapa Sidik jari yang akan membuat polisi mengarahkan kepada kasus ini murni bunuh diri atau ada sebab lainnya.
Melihat kerangkanya sudah diserahkan kepada pihak kelurganya, Rini tampak lega dan juga berjanji akan mengucapkan terimakasihnya kepada Mirna karena sudah memperlihatkan rangkanya kepermukaan rawa.
Sosok Rini menghampiri Mirna didekat rumahnya dan rintihannya kali ini adalah ungkapan terimakasihnya kepada Mirna.
Setelah Mirna menemuinya, Ia tampak tersenyum dan pergi menghilang.
Setelah kepergian sosok Rini, Mirna beranjak pergi dan ingin masuk kedalam rumahnya, namun Ia merasakan jika sekelebatan bayangan sosok hitam sedang mengamatinya sedari tadi.
Mirna sangat tahu, jika sosok yang berkelebat itu adalah sosok Rey yang mencoba untuk mendekatinya.