
Lela merasa sedikit tertampar dengan pernyataan wanita paruh baya itu.
Bagaimana tidak, jika saat ini sedang bersekutu untuk mendapatkan kekayaan dengan ki Genderuwo yang senantiasa selalu menggarapnya kapanpun makhluk itu menginginkannya.
Lela kembali pulang ke warungnya setelah membeli beberapa barang sembako yang diinginkannya.
Setelah sampai diwarung, Ia mencium aroma kembang kenanga dan terkadang bercampur amis darah. Ia tidak dapat mengetahui itu berasal dari mana, sebab Ia tidak tahu itu disebabkan oleh apa, karean Ia tidak ada menanam kembang kenanga diperkarangan rumah atau depan warungnya.
"Apakah benar ada yang menutup warungku dengan cara ghaib? Tapi siapa? Mengapa Ia melakukannya apakah ada dendam dihatinya hingga melakukan hal tersebut?" guman Lela dalam hatinya. Ia tidak tahu siapa dan juga tidak ingin menuduh siapa.
Sesaat Ia mendapatkan ide untuk bertanya kepada Ki genderuwo nantinya.
Setelah menata semua barang sembako yang baru dibelinya di warung depan. Setelah selesai Ia memasuki kamar dan menemui Ki Genderuwo yang sedang berdiam disudut dinding dibalik pintu kamarnya.
"Ki.. kemarilah.. Aku ingin bertanya sesuatu" ucap Lela yang kini sudah duduk di tepian ranjang.
Ki Genderuwo menampakkan wujudnya kepada Lela "Ada apa, Lela Sayangku?" ucap Ki genderuwo dengan sangat begitu lembutnya.
Lela menatap sosok mengerikan tersebut dengan bulu tebal yang menyeramkan dan bola mata merah menyala.
"Pelanggan tidak ada yang datang ke warung seharian ini, mereka mengatakan jika warungku tutup sejak pagi tadi, padahal warung buka" ucap Lela ingin meminta penjelasan pada pacar ghaibnya itu
Ki genderuwo melongok ke arah jendela kaca kamar Lela dan menatap kedepan warung.
"Heeem.. Aku tau apa penyebabnya" ucap Ki Genderuwo yang kini tau penyebab jika warung Lela terlihat tutup oleh pembeli, ternyata itu adalah perbuatan Nini Maru dan Rey yang berdiri didepan pintu warung dan tampak memperhatikan setiap warga yang lewat ke sana ke mari karena hari masih siang dan mereka sedang bekerja.
Ki Genderuwo melesat ke depan warung dan menegur Nini Maru yang tampak berdiri menutupi jalan masuk warung.
"Heei.. Ni. Tolong jangan berdiri didepan pintu warung Lela, karena ini sudah membuat warungnya sepi tidak ada yang membeli karena para pembeli melihat warung ini seperti tutup" ujar Ki Genderuwo kepada Nini Maru.
Mendengar ucapan Ki Genderuwo, tentu saja Nini Maru merasa tersinggung karena Ia diusir secara tidak langsung.
"Kamu mengusirku, Ki?" tanya Nini Maru dengan wajah tak senang yang semakin membuat wajah itu bertambah menyeramkan.
"Bukan itu maksudku, Ni.. Tetapi bergeser sedikitlah ke depan gang sana agar tak membuat pelanggan terhalang masuk ke warung ini" Ki Genderuwo mencoba memberikan pengertian kepada Nini Maru.
Pernyataan Ki Genderuwo semakin membuat Nini Maru semakin kecewa dan kesal. Ia menatap tajam pada Ki Genderuwo "Hanya karena wanita itu Kau berani menegurku, Ki.. Sungguh terlalu..!!" ucap Nini Maru kesal dan beranjak pergi meninggalkan warung Lela penuh dengan amarah.
Ki Genderuwo menatap kepergian Nini Maru yang tampak kesal dan sangat marah, namun Ia tidak ingin kehilangan Lela, dan Ia akan menemui Nini Maru nantinya setelah iblis betina itu merasa baikan.
Nini Maru melayang menuju goa yang ditempati oleh Ki Kliwon. Ia sedang sangat kesal dengan Ki Genderuwo yang mencoba mengusirnya dari rumah Lela. Ia duduk diatas batu tempat Ia bertapa pada masa itu, dan Ia berniat untuk meningkatkan kesaktiannya setelah dikalahkan oleh Mirna anaknya sendiri.
Nini duduk bersila dan menghadap pada arah selatan. Ia memejamkan kedua matanya, Ia mencoba menetralkan rasa panas ditubuhnya yang masih datang bagaikan bara api yang membakar tubuhnya.
Rasa panas itu membuatnya harus menderita bagaikan seperti di panggang diatas bara api.
Saat Nini Maru baru saja mulai berkonsentrasi, tiba-tiba jin qorin Yanti menbaraknya dengan sangat keras.
Nini Maru terpental ke lantai goa yang licin dan juga sangat tajam yang terbuat dari batuan cadas.
Nini Maru memegangi pinggangnya yang sangat sakit, lalu mengibaskan belatung yang berjatuhan ditubuhnya yang berasal dari tubuh Yanti.
"Apaan sih, Kamu.. Kenapa main tabrak saja!!" omel Nini Maru saat menyadari tubuhnya ditimpa makhluk yang tak alin adalah jin qorin Yanti.
"Maaf, Ni.. Aku tidak lihat jika kamu berada ditempat itu" ujar Yanti yang berusaha bangkit karena beberapa belatung bersaburan dilantai goa dan menempel dibeberapa bagian tubub Nini Maru.
Makhluk mengerikan itu mencoba berdiri dan ingin kembali ditempat pertapaannya. "Mengapa Kamu bisa mengenaskan seperti ini?" tanya Nini Maru dengan penasaran.
Ustaz itu mencoba mengembalikanku ke tempat yang layak namun Aku tidak mau, sehingga doa-doa yang dibacakannya membuat aku terpental" jawab Yanti yang juga meringis kesakitan.
Ia tidak ingin kembali ke jalan yang sebenarnya, Ia masih menginginkan kesesatan, meskipun jalan kebenaran itu begitu indah.
Nini Maru menyeringai karena merasa jika Yanti benar-benar menjadi pengabdi yang sesuangguhnya dan memilih untuk sesat bersamanya.
Sementara itu, Badu sudah pindah ke kampung halamannya, Ia tidak sanggup lagi mendengar cibiran warga tentang puterinya yang meninggal dengan cara mengenaskan. Bahkan sesudah kematiannya pun meninggalkan kesan menyeramkan yang mana jin qorinnya masih menghantui warga.
Badu merasakan jika Ia benar-benar gagal menjadi Ayah dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya mengapa puterinya dapat tersesat begitu jauh.
Oleh sebab itu, Ia meminta seorang ustaz untuk mebuat jin qorin Yanti kembali tenang dan tidak menganggu warga, namun usahanya sia-sia, sebab Yanti memilih sesat untuk selamanya.
Didalam goa itu, Nini Maru sudah kembali duduk untuk bertapa, sedangkan Yanti dengan tubuh hancurnya masih kembali bergentayangan untuk meneror warga.
Setelah kematiannya yang begitu tragis, Ia tak merasa menjadi jera.
Kini warga desa kembali tidak tenang dengan teror jin qorin Yanti, dan membuat desa kembali sepi dan sunyi dimalam hari.
Saat ini, Wanda sudah tiba saat akan melahirkan, perutnya sudah sangat memulas dan Ia sudah tidak tahan lagi untuk menahan detik-detik melahirkan.
Sementara itu, Didi mencoba menghubungi ambulance untuk membawa Wanda ke puskesmas. Suasana saat itu begitu sangat mene- gangkan bagi Didi yang akan menyambut kelahiran bayinya. Sementara saat ini warga juga merasa serba salah unruk ikut membantunya, mereka masih dihantui rasa takut dengan teror jin qorin Yanti.
Setelah ambulance datang, Wanda dibawa menuju puskesmas, sedangkan Didi terus menerus melantunkan doa agar perjalanan mereka baik-baik saja dan Wanda melahirkan dengan selamat begitupun dengan bayinya.
Hingga saatnya sekelebat bayangan berhenti tepat dihadapan ambulance yang menampilkan sosok mengerikan dengan tubuh hancur penuh belatung.