MIRNA

MIRNA
episode 114



Yanti mengikuti ritual yang dilakukan oleh Nini Maru. Ia memandikan air bercampur darah bekas mandian Nini Maru dan bahkan Yanti meminum darah tersebut sebagai syarat agar Yanti tak terlihat orang awam saat Ia sedang mencari mangsanya.


Yanti melakukan ritualnya dan tak melewatkan satupun.


Yanti kini sudah berlumur darah dan aroma anyir tentu saja menyelimuti sekujur tubuhnya.


Dilain sisi, Rina tampak gelisah dengan apa yang akan dilakukannya saat ini.


Saat Ia sedang dalam kegelisahannya, Ia mendengar suara ketukan pintu diluar rumah. Rina bergegas menuju pintu depan dan mengira jika Yanti yang datang.


Namun saat Ia membuka pintu, tampak Jali sedang berada diambang pintu menatapnya dengan tatapan berbeda.


"Kamu.. Ngapain kemari?" tanya Rina penasaran. Sebab waktu itu Jali memintanya untuk mengugurkan janin dalam kandungannya yang mana itu atas perbuatannya dan Ia tak ingin bertanggungjawab.


Pemuda itu tampak diam tak menyahuti pertanyaan Rina. Sesaat Rina merasakan aroma kabel terbakar yang sangat menyengat. Ia menduga jika ada kabel dirumahnya yang sedang konslet, lalu mencoba mencari sumber baunya.


Saat melihat Rina mengenduskan hidungnya mencari sumber bau tersebut, ternyata itu berasal dari Jali yang sedang berdiri diambamg pintu menatapnya dengan tatapan liar.


"Kamu kenapa bau kabel terbakar sih, Li? Kamu nyuri kabel ya?" ucap Rina yang merasa aneh dengan sikap dingin Jali malam ini.


Tanpa menjawab pertanyaan Rina, Ia mendorong tubuh wanita itu masuk kedalam rumah, lalu mengunci pintu dengan cepat dan menggiring Rina yang masih bingung dengan sikap aneh Jali yang tak berbicara sedikitpun.


Rina berusaha memberontak dan ingin berteriak, namun suaranya tercekat sitenggorokan dan tak dapat keluar meaki hanya ingin berteriak meminta tolong.


soskk Jali menyeret Rina kedalam kamar dan mengehmpaskannya di atas ranjang. Rina meneuh perutnya sangat sakit ketika Jali dengan kasarnya menghempas dirinya dalam kondisi hamil.


Sementara itu, Jali tampak tak perduli dengan Rina yang mengeluh akan perutnya yang sakit.


Jali melucuti pakaian Rina dengan paksa hingga kini tanpa sehelai benangpun.


Seketika Rina mencoba untuk berontak, namun tenaganya kalah dengan tenaga Jali yang tampak lebih kuat.


Sosok pria itu terus berusaha menggumuli Rina yang tampak mulai mengendur pemberontakannya, sebab pria bernama Jali itu telah melumpuhkannya dengan menyerang organ intinya, sehingga membuatnya lupa akan kemarahannya.


Bersamaan dengan hal itu, Yanti menyelinap keluar melalui pintu belakang rumahnya. Hingar bingar musik yang menggema membuat suasana warung begitu sangat berisik.


Yanti berjalan ditengah kegelapan malam menuju rumah Rina untuk mengambil janin yang telah mereka sepakati.


Disisi lain, Jali terus membuat Rina melayang hingga melupakan segalanya.


Saat Rina mengalami puncak surgawinya, saat itu pula Yanti tiba dirumahnya, lalu memasuki kamarnya dengan cara menembus dinding rumah Rina, Ia memiliki kekuatan lain setelah mandi darah bekas pemandian Nini Maru.


Dengan sigap Yanti menerobos jalur rahim Rina, lalu menarik paksa janin tersebut dan yang masih tertidur nyaman didalam rahim ibunya.


Rina membeliakkan kedua matanya, rasa puncak surgawinya kini berubah bagaikan siksaan yang mendera saat kontaksi itu itu terjadi dengan tiba-tiba dan begitu cepat.


Rian meringiskan wajahnya menahan rasa sakit, namun Jali terus memberikannya cumbuan yang tak perduli jika Rina saat sedang tersiksa.


Sesaat janin itu meluncur keluar dari rahimnya, diiringi darah yang mengalir deras.


Rina dapat merasakan sesuatu menyesap darahnya dengan sangat rakus, sosok tak terlihat, namun Ia dengan jelas dapat merasakannya.


Sesaat Rina mencoba membuka matanya yang sedari tadi terpejam saat merasakan puncak surgawi yang bersambut dengan sakitnya kontraksi yang menyiksanya.


Sesaat Rina terkejut ketika melihat sosok Jali yang berubah menjadi sosok berbulu tebal dan dengan wajah mengerikan.


Rina ingin berteriak, namun suaranya tercekat ditenggorokannya dan Ia tak sadarkan diri dalam kondisi mengenaskan.


Yanti bergegas keluar dengan membawa janin dikedua tangannya. Saat melintasi rumah warga, seekor anjing galak memperhatikannya.


Mata binatang itu menatap penuh tajam, karena Ia melihat sosok manusia yang tampak berjalan membawa segumpal daging yang masih dalam pembentukan organ tubuh.


Anjing itu melolong dengan begitu menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


Yanti merasa kesal sebab anjing itu terus mengekorinya kemanapun Ia pergi. Tiba-tiba saja Nini Maru melihat segalanya dan menghampiri Yanti yang sedang berjuang menghindari kejaran anjing galak dengan lolongan yang membuat warga sekitar merasa curiga.


Menurut kepercayaan warga, jika anjing melolong seperti itu, menandakan Ia sedang melihat makhluk tak kasat mata yang sedang berbuat jahat atau melintas.


Nini Maru menyambar janin persembahan Yanti dengan cepat dan menguyahnya lalu menelannya dengan gerakan aneh.


Setelah menelan tumbal janin tersebut, Nini Maru menghilang dan menembus kegelapan menuju tempat pertapaannya yang mana Ia ingin menyerap energi negatif yang dibutuhkannya dengan sebanyak- banyaknya.


Sementara itu, Yanti kini sedang dikejar-kejar anjing galak yang terus saja mengekoringanya.


Yanti mencoba menghalau binatang tersebut. Namun tampaknya hewan itu ingin berusaha menyerangnya dengan terus melolong keras.


Warga tampak ingin menenangkan hewan itu, namun sepertinya semakin melolong dan Yanti berlari menembus kegelapan malam yang kelam, dan hewan tersebut tanpa duduga menyerang Yanti dan menggigit bokongnya membuat Yanti terpekik tertahan.


Lalu tiba-tiba sosok Rey datang membantunya dan merobek mulut hewan tersebut hingga mati terkapar dan tak bergerak lagi.


Rey membantu membawa tubuh Yanti pulang ke warungnya dengan luka dibagian bokongnya.


Yanti tak menduga jika hewan itu dapat melihatnya dan juga menyerangnya, kini Ia dalam kesakitan yang luar biasa.


Sesampainya di kamar rahasia tersebut, Yanti membersihkan tubuhnya dan mandi dengan segera.


Setelah seluruh darah itu menghilang dari sekujur tubuhnya, kini Ia dapat terlihat lagi oleh pandangan kasat mata manusia.


Yanti memriksa bokongnya yang terluka. Ia akan pergi ke dokter esok pagi untuk mendapatkan suntikan anti rabies.


Saat Yanti mengenkan pakaiannya, Rey datang dihadapannya.


"Mana tumbal untukku?" ucap Rey menuntut tumbalnya.


Yanti menatap sosok itu dengan sorot mata tajam "Bukannkah yang membantuku mendapatkan janin itu adalah genderuwo, bukan kamu? Lalu mengapa kamu menuntut tumbal padaku?" jawab Yanti kesal, sebab Ia masih dalam kondisi menahan sakit dibokongnya.


"Lalu siapa yang mellnyelamatkanmu sari hewan buas tadi? Jika bukan karenaku, mungkin tubuhmu sudah habis tercabik-cabik" ucap Rey mengungkit kebaikannya.


Yanti mendengus kesal. Jika Ia bercinta malam ini, rahimnya masih luka karena pasca keguguran, bahkan Rasa gatal masih menyerang area organ intinya, dan kini rasa sakit dibagian bokongnya karena gigitan hewan sialan tersebut.


"Dasa!! Pengungkit" ucap Yanti yang mau tak mau harus mencarikan tumbal untuk Rey.