
Mirna mendekati kedua puteranya, Ia berusaha melindungi puteranya dari ke empat iblis yang kini sedang mengelilinya.
"Ayolah cucu buyutku, bergabunglah dengan kami, kaki akan menjadikanmu penguasa kegelapan dialam ini" ucap Ki kliwon yang merupakan kakek dari Mirna.
Iblis berbentuk jenglot dengan rambut panjang acak-acakkan, gigi taring disudut bibirnya dan tubuh ceking lankasana tulang berbalut kulit saja.
"Bu.. Mengapa mereka mengaku sebagai kekuarga kita?" tanya Angkasa penuh penasaran kepada Mirna.
"Belum waktunya ibu menjelaskannya, saat ini yang terpenting kita adalah harus selamat dari para iblis ini" ucap Mirna kepada kedua puteranya.
Kedua remaja itu menganggukkan kepalanya dan Nini Maru melayang ingin menyambar Mirna, namun dengan cepat Mirna menghentakkan selendangnya dan menghantam Nini Maru yang sedang melayang ke arahnya.
Iblis betina itu menghindar, lalu menempel dipohon beringin yang tumbuh kokoh dipemakaman itu layaknya seekor cicak.
Sedangkan ki Kliwon dan Ki genderuwo beserta Rey datang membantu untuk menyerang Mirna dan kedua puteranya.
"Mirna menghentakkan selendang hijau silky milikanya, dan Ki Kliwon dapat memegang ujungnya, lalu menariknya dan membuat Mirna tersentak.
Dengan gerakan melayang, Mirna berputar diudara, lalu melayangkan tendangannya kepada Ki Kliwon dan iblis Jenglot sempat menancapkan ujung kukunya yang rucing di betis kaki Mirna saat melayangkan tendangan kepadanya, lalu Ia menariknya dan membuat luka menganga dibetis Mirna yang putih halus.
Dan Mirna melayangkan tinjunya ke wajah jelek Ki Kliwon yang membuat Jenglot itu terpaksa melepaskan cengkramannya.
"Aaaaarghh..."
Erang Ki Kliwon kesakitan dalam wujud Jenglotnya.
Betis Mirna mengeluarkan darah yang merembes deras dari lukanya yang menganga.
Mirna hanya melirik luka tersebut, dan tak ada waktu untuk mengeluh saat ini.
Sementara itu, Ki genderuwo dan juga Rey menyerang Angkasa dan juga Samudera yang masih berdiri menatap ibunya diserang.
Saat keduanya berniat untuk membantu Mirna, Nini Maru terbang melesat menghampiri Mirna yang merupakan puterinya tersebut.
Mirna melayang menghindari kuku runcing milik Nini Maru yang menyasar pada wajahnya.
Samudera meraih tasbih dari saku bajunya, lalu Ia membacakan sebuah ayat sembari terus menerus membacanya hingga tiba-tiba membuat suasana udara menjadi panas.
Ke empat iblis itu merasakan udara begitu teramat panas dan Ia menghentakkan tasbih tersebut ke arah Nini Maru yang hendak mencengkram Mirna.
Wuuuusssh..
Taaaaaaak...
Tasbih itu melayang mengenai kepala Nini Maru..
"Aaassrrggghh...." Nini Maru terkena hantaman tasbih milik Samudera dan membuat kepala iblis betina itu benjol seketika.
Sementara itu, Ki Kliwon yang juga hendak meyerang Mirna terpental terkena radiasi tasbih tersebut dan merasakan kepanasan.
Mirna mengambil kesempatan dengan melayangkan tendangannya kepada Nini Maru yang sedang memegangi kepala benjolnya.
Wuuuusshh.. Buuugh..
"Aaaaaarrggh"
Nini Maru terpental dan menimpa Ki Kliwon yang saat ini berusaha untuk bangkit.
Sementara itu, Angkasa menarik bulu lebat milik Ki genderuwo dan mencabutnya.
"Aaaargh.. Sakit, Tau..!!" maki Ki genderuwo saat Angkasa mencabut bulunya. Kuku runcing dan sorot matanya yang memerah menambah kegerian saat Ia tampak kesal.
Sedangkan Rey yang ingin membantu ayahnya, mendapatkan tendangan dari Mirna yang datang tiba-tiba dari arah belakang, lalu keduanya terjerambab dan saling tindih.
Melihat lawannya merintih kesakitan. Mirna mengambil kesempatan dengan membawa kedua puteranya lari dari tempat tersebut dan tiba dirumah.
Darah yang keluar dari betisnya dengan luka menganga itu itu sapu dengan lembut menggunakan telapak tangannya dan seketika luka itu sembuh dan merapat seketika.
Mirna menghela nafasnya dengan berat, Ia duduk bersila dan memutar kedua tangannya lalu merapatkakan kedua telapak tangannya didepan dada dan menyalurkan tenaga dalam untuk memulihkan energinya yang terkuras.
Sementara itu, Angkasa duduk termenung disofa. Ia masih memikirkan ucapan Iblis betina yang mengatakan jika Ia dan Ibunya adalah keturunan Iblis yang sang penguasa kegelapan.
Ia ingin mempertanyakan kebenaran itu kepada ibunya. Ia harus mengetahuinya apakah benar Ia keturunan iblis.
Angkasa beranjak bangkit dari sofa, dan ingin menghampiri kamar ibunya. Namun saat bersamaan, Satria datang tiba-tiba dengan suara mesin mobil yang tidak terdengar kapan tibanya.
Angkasa berdiri terpaku dideoan pintu kamar dan menatap sang Ayah dengan berjuta pertanyaan yang menginginkan jawaban.
Satria menatap puteranya dengan sarkas, membuat Angkasa tak berkutik.
"Ayah.. Kapan ayah tiba dirumah?" tanya Angkasa dengan nada penasaran.
Samudera yang sedang berbaring disofa beranjak bangkit mendengar Angkasa menyebut ayahnya sudah pulang.
"Baru saja. Mari kita duduk disofa" titah Satria agar tidak mengetuk pintu kamar, karena saat ini Mirna sedang menyalurkan tenaga dalamnya karena terluka dan cakaran dari Ki Kliwon mengandung racun, sehingga membuat Mirna harus mengobati dirinya sendiri.
Angkasa bagaikan terhipnotis dan menuruti perintah ayahnya. Ia menghampiri ayahnya dan menyalim tangannya, lalu mengikuti ayahnya menuju sofa.
Lalu keduanya duduk berhadapan, sedangkan Samudera menyalim ayahnya dan duduk disisi Satria.
Angkasa tak berani menatap sang ayah. Segala pertanyaan yang sudah ia kumpulkan hilang begitu saja saat wajah tampan dengan dua bola mata indah yang kini duduk berhadapan dengannya menatapnya dengan teduh.
"Apakah yang ingin kamu tanyakan? Tanyakan pada ayah, jangan mengganggu ibumu" ucap Satria dengan lembut nan tenang, namun membuat Angkasa tak berkutik.
Namun Ia sangat begitu penasaran dan ingin mendapatkan jawabannya.
"Yah.. Mengapa Iblis itu mengatakan jika Aku adalah cucu keturunannya?" tanya Angkasa mencoba memberanikan dirinya meskipun kalimat itu meluncur dengan debaran didadanya yang menggebu.
Satria menatap sang putera dengan penuh keteduhan.
"Lalu.? Apakah Kau mempercayainya?" tanya Satria balik.
Seketika Angkasa gelagapan ditanya balik seperti itu.
"Emmm.. Kan Angkasa cuma bertanya dan ingin memastikannya" jawab Angkasa yang semakin berdebar kencang gemuruh jantungnya.
Satria sosok yang tidak pernah marah, namun entah mengapa Angkasa tidak memiliki keberanian apapun untuk membantah segala ucapan dari sosok sang ayah.
"Apakah Kau siap jika mendengarnya?" tanya Satria lagi?"
Angkasa merundukkan kepalanya, lalu dengan perlahan menganggukkan kepalanya.
"Kamu anak Ayah dan Ibu.. Maka kamu anak manusia" Jawab Satria dengan tenang.
"Tetapi?"
"Apakah ibumu terlihat mirip dengan Iblis itu?" sergah Satria yang membuat Angkasa tak mampu melanjutkan ucapannya.
Bocah remaja itu menggelengkan kepalanya, dan merunduk lemah.
"Ayah harap kamu tidak bertanya lagi tentang hal ini kepada Ibumu, apakah Kau tega melukai hatinya dengan pertanyaan yang tidak seharusnya kau tanyakan" ucap Satria penuh penegasan.
Angkasa menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Kalu begitu, segeralah tidur, malam jumat esok persipakan diri kalian, akan ada sesuatu yang akan ayah berikan kepada kalian!" ujar Satria kepada kedua puteranya.
Seketika keduanya saling pandang dan merasa penasaran tentang apa yang dikatakan oleh ayahnya.
Sesuatu apa yang akan diberikan kepada keduanya dan ini sangat begitu menambah penasaran mereka. Malam Jum'at satu hari lagi, dan ini membuat mereka tak sabar.