MIRNA

MIRNA
episode 126



Mirna kembali ke kamarnya. Ia menyadari jika saat ini Syafiyah sedang kesal padanya.


Ia memejamkan matanya dan melihat wanita itu sedang duduk ditepian ranjang dan sepertinya Ia lagi ingin makan mie instan tumis rasa soto.


Mirna bergegas ke luar dari kamarnya.. Ia membuka lemari kitchen set, dan mengingat jima ada persediaan mie instan disana, dan benar saja, masih ada 4 bungkus mie yang tersisa.


Mirna lalu memasaknya, dan memasukkan satu butir telur ceplok kedalamnya dan menyajikannya pada piring saji, lalu membawanya kepada Syafiyah.


Tok...tok..tok..


"Mbak.. Mbak Syafiyah" ucap Mirna dengan setenang mungkin. Ia mengetahui jika Syafiyah masih kesal padanya.


"Kalau Mbak mau Mie tumisnya, saya letakkan diatas meja makan, jangan kelamaan, ntar mienya kembang" ucap Mirna menjelaskan, lalu kembali membawa piring berisi satu porsi mie instan tumis itu dan meletakannya diatas meja makan didalam tudung saji.


Mirna kembali ke kamarnya, dan Ia memastikan jika Syafiyah akan keluar dari kamarnya.


Syafiyah yang mendengar ucapan Mirna merasa penasaran bagaiamana mungkin wanita itu dapat mengetahui apa yang diinginkannya sedangkan Ia tidak ada mengungkapkannya.


Setelah mendengar Mirna kembali memasuki kamarnya, Ia perlahan membuka pintu kamar dengan sangat pelan, lalu menuju dapur langkah yang sangat pelan sekali.


Setelah sampai di meja makan, suasana sangat sepi dan juga hening. Ia menduga jika Mirna telah tidur didalam kamarnya.


Ia menyingkap tudung saji, dan ternyata benar, Mirna memasakkan mie tumis yang diinginkannya.


Dengan tak sabar Syafiyah menyantabnya, dan rasa inginnya kini terpu-askan sudah.


"Enak juga, tapi kenapa Dia tau Aku lagi pengen makan mie tumis?" guman Syafiyah yang kini sudah menghabiskan satu porsi mie instan tersebut.


Setelah merasa kenyang, Ia meletakkan piring kotor sisa makannya diatas meja, dan membiarkannya begitu saja, lalu meneguk air putih dingin yang diambilnya dari dalam lemari es.


Lalu Ia kembali ke kamarnya. Saat melintasi kamar Mirna, Ia merasa penasaran mengapa Mirna terdengar senyap saja.


"Apakah Dia sudah tidur? Masih pukul 19.00 malam?" Syafiyah menduga-duga dan kembali ke kamarnya.


Sesampainya didalam kamar, Ia membuka phonselnya, dan ingin menghubungi suaminya.


Syafiyah membuka aplikasi vedeo callnya, mencoba menghubungi sang suami, dan panggilan berdering.


Seaat panggilan terhubung, lalu tampak suasana jika Satria berada disebuah restauran mewah "Assalammualaikum, Sayang" ucap Satria dengan lembut.


"Waalaikum salam.. Waah, Mas makan direstaurant mewah, pasti sangat enak sekali. Kapan ajak Fiyah makan disana?" Syafiyah merasa kesal karena Ia tidak pernah dibawa ke Restaurant tersebut.


"Jika ingin, datanglah.. pasti Mas bawa kemari" jawab Satria sembari menampilkan senyum terindahnya.


"Fiyah masih sibuk kerjaaan, belum ada waktu" jawab Syafiyah kesal karena Ia sangat ingin dibawa ke Restauran tersebut.


Tanpa sengaja Ia melihat Mirna berada disisi kiri Satria dan sedang menhantab makanan yang yang sangat enak.


"Mas.. Mas.. Itu Mirna mengapa disana makan dengan Mas?" tanya Syafiyah dengan tersentak kaget.


Seketika Satria mengalihkan cameranya ke arah pengunjung lain "Ada apa sih, Sayang? Kamu sudah makan?" tanya Satria mencoba mengalihkan pertanyaan Syafiyah.


"Sudah..! Mirna yang masakin barusan" jawab Syafiyah dengan kesal. Namun tiba-tiba Syafiyah mengingat jika Mirna baru saja memasakkan mi tumis untuknya, lalu bagaimana bisa secepat itu berada direstaurant mewah tersebut?


"Apakah Aku salah lihat ya? Ah, mungkin aku salah lihat" Syafiyah mencoba menepiskan dugaannya.


"Aku tidak boleh memikirkan hal-hal yang aneh, nanti bisa stres" ucap Syafiyah sembari menghela nafasnya.


Kemudian Ia kembali memperhatikan sekeliling restaurant yang tampak ramai pengunjung tersebut "Ya sudah, Mas.. Makanlah dulu, Fiyah mau mengerjakan pekerjaan yang belum selesai" ucap Sayfiyah dan mengakhiri panggilan Vedeo callnya.


Satria menganggukkan kepalanya "Pasti, Sayang.. Namun Mbak mu masih sibuk terus dengan pekerjaannya" jawab Satria dengan lembut.


"Kita pulang, Yuk.. Mas masih ada pekerjaan yang belum selesai" ucap Satria dengan selembut mungkin.


Lalu Mirna menganggukkan kepalanya, dan menyeruput juice jeruknya.


Ditengah perjalanan pulang, Mirna tampak sangat gelisah, Ia seperti tak tenang.


"Ada apa, Sayang tanya Satria yang masih fokus menyetir.


"Mas, Mirna harus segera pulang, Mbak Sayafiyah dalam bahaya" ucapnya dengan cepat.


Belum sempat Satria menjawab, Mirna telah menghilang dengan kecepatan cahaya, dan kembali ke rumah.


Syafiyah masih berada didalam kamarnya. Ia sepertinya sedang mengerjakan pekerjaannya dan menatap layar laptopnya.


Mirna telah tiba dikamarnya, Ia menyalin pakaiannya dengan pakain tidurnya.


Ia merasakan jika seseorang yang berniat jahat menuju arah rumah mereka. Seorang pria yang menggunakan topeng sedang mengendap-endap menuju kediaman mereka.


Ia pria yang sama yang saat itu pernah membuntuti Mirna dari toko sembako pak Joko.


Mirna membuka matanya, dan terus memperhatikan gerak-gerik langkah pria tersebut.


Pria itu mengambil sebuah obeng yang disimpan di saku celananya, lalu mulai mencungkil jendela kamar Syafiyah.


Mirna melesat keluar dari kamarnya, lalu berdiri tak jauh dari si pria bertopeng.


Pria itu tersentak saat melihat kehadiran sosok wanita cantik yang tiba-tiba saja berada didekatnya.


Namun rasa kagetnya berubah menjadi sebuah senyum seringai penuh hasrat saat melihat ternyata Mirna yang datang menemuinya.


Pria itu mebgurungkan niatnya mencungkil jendela kamar. Ia berjalan sembari tersenyum-senyum mengahampiri Mirna.


Mungkin Ia lupa jika Mirna pernah menonjok bibir pria itu hingga bengkak.


Setelah jarak mereka begitu dekat, Sang Pria mencoba menyentuh lengan Mirna yang saat itu menggunakan pakaia tidur yang sangat menggemaskan.


Namun sebelum jemari pria itu berhasil menyentuh lengan Mirna, wanita itu telah mengakap pergelagan tangan sang pria dan menekannya ke arah berlawanan sehingga membuat sang pria terpekik menahan sakit.


Mirna dengan cepat membekap mulut pria itu agar tak menimbulkan suara yang mencurigakan.


Lalu dengan kekuatannya, Mirna melemparkan sang pria dengan gerakan yang sangat cepat, dan ternyata lemparan itu sampai ke dalam warung Yanti dan tepat berada dihadapan Yanti.


Pria itu meringis kesakitan, namun matanya seolah samar-samar melihat Yanti adalah Mirna.


Yanti yang masih bingung dengan kehadiran sosok pria yang tiba-tiba berada didalam kamarnya, tanpa menduga mendapatkan serangan dari sang pria.


Pria itu mencoba membalas Yanti berada dihadapannya yang dianggapnya adalah Mirna.


Ia mendorong tubuh Yanti ke atas ranjang, dan dengan gelap melucuti pakaian Yanti yang masih kebingungan akan peristiwa yang sednag dialaminya.


Lalu dengan tergesah-gesah pria menyalurkan hasratnya dan membuat gerakan kasar yang membuat Yanti kewalahan.


Sementara itu, Mirna kembali ke kamarnya, lalu menuju tepian ranjangnya dan mencoba untuk tertidur.