
Dibawah guyuran hujan yang deras dan sesekali petir menyambar dengan suara lantangnya yang seolah akan menghanguskan apa saja yang ada dimuka dibumi.
Nini Maru merentangkan ke dua tangannya dengan kuku runcingnya yang memanjang dan sorot matanya yang memancarkan cahaya kemerahan memendar kesekitarnya.
"Aaaarrrgghh..." teriaknya dengan suara lantang dan kilatan cahaya halintar memendar dengan begitu terangnya disertai suara petir yang menyambar ujung pohon akasia.
Duuuuuaaar...
Suara petir menggelegar, membuat kedua bocah itu tersentak karena kaget. Genggaman tangan mereka semakin erat dan berusaha melindungi satu sama lain.
Rambut Panjang Nini Maru berkibar terkena angin yang beritiup kencang, sedangkan Mbok Titin merasakan tubuhnya semakin lemah karena Ke dua pocong itu menyerap energinya, namun Ja ingin menyaksikan apa yang terjadi.
Nini Maru memasuki raga Ki Brewok yang sedang mengacungkan kerisnya kelangit. Lalu cahaya petir menyambar ujung kerisnya dan mengalirkan energi kepada Ki Brewok melalui Nini Maru.
Ternyata Ki Brewok mendalami ajian 'Gelap Ngampar' atau petir menyambar.
Samudera dan Angkasa seketika sedikit menciut melihat kekuatan yang ditampilkan oleh Ki Brewok.
Dengan segala doa yang mereka munajadkan dan buliran tasbih yang mereka terus gulirkan memohon perlindungan kepada sang Rabb-Nya.
Kemudian Ki brewok merentangkan tangannya dan menengadahkan kepalanya dengan keris yang memacarkan cahaya keunguan dan menyambar apa saja yang ada, termasuk Mbok Titin yang tidak sengaja terkena ajian Gelap Ngampar tersebut terpental dari kamar menembus dinding hingga ke ruang bagian tengah dengan luka hangus dibagian dadanya.
Sedangkan Samudera dan Angkasa terpental beberapa meter dan Samudera mengalami muntah darah akibat tersambar ajian Gelap Ngampar tersebut.
Sementara Angkasa cedera dibagian pundak kanannya dengan luka bakar yang cukup parah.
Keduanya beranjak bangkit meski sekujur tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Keduanya berdiri sejajar dan menatap lurus pada Ki Brewok dan sebuah energi mengalir ke tubuh Samudera yang mengalami luka dalam. Lalu
Telapak tangan kanan Angkasa menyatu dengan telapak kiri Samudera. Sebuah cahaya keperakan menyelimuti tubuh keduanya, dan Ki Brewok melancarkan serangan kepada keduanya dengan melesat sembari menghunuskan ujung kerisnya yang menyasar pada Angkasa.
Saat ujung kerisnya menyentuh tubuh Angkasa yang berbalut cahaya keperakan tersebut terdengar suara ledakan yang dahsyat dan..
Duuuuuaaaarrr...
Suara ledakan beserta sambaran petir yang beradu dengan cahaya keperakan mennggetarkan apa saja yang berada didekatnya dan membuat dinding kamar Ki Brewok hangus terbakar dan beberapa ayap sengnya terangkat dan terbang jatuh ke semak.
sedangkan Ki Brewok terlempar berberapa meter dan membentur pohkn kelapa, lalu jatuh tersengngkur.
Sementra itu, dengan bantuan Nino Maru, Ki Brewok kembali bangkit dan menggerakkan kerisnya mengacung ke langit dan kilatan cahaya halilintar kembali masuk ke ujung kerisnya. Lalu Ia mengeluarkan ajian Gelap Ngamparnya dengan melemparkan kerisnya kepada kedua bocah tersebut.
Saat bersamaan, Samudera dan Angkasa melemparkan tasbih mereka ke arah keris yang terbang melayang dengan kecepatan tinggi.
Lalu dua buah tasbih itu mengalung dikeris tersebut dan membuat keris itu berputar-putar diudara dan ledakan demi ledakan terus bersahutan.
Pohon-pohon yanga tinggi menjulang akan terkena sambarannya dan hangus terbakar.
Ki Brewok terus merafalkan ajian Gelap Ngamparnya, sedangkan Angkasa dan juga Samudera bertahan dengan lafaz dzikir mereka. Hingga akhirnya keris itu melesat cepat dan dengan tiba-tiba menghujam dada kiri Ki brewok hingga menembus jantungnya.
"Aaaaaarrgghh.." pekik Ki Brewok yang terkena senjatanya sendiri alias senjata makan tuan.
Tubuhnya terkapar diatas tanah berumput. Darah mengalir dari luka yang berada didada kirinya dan mengalir dari mulut, hidung dan telinganya. Pembuluh darah diotaknya telah pecah karena keris yang mengandung ajian Gelap Ngamparnya telah berbalik menyerangnya.
Ki Brewok terkapar dengan nafas yang tersengal bagaikan kerakap tumbuh dibatu, hidup segan mati tak mau.
Sementara itu, Nini Maru yang bersarang diraga Ki brewok melepaskan dirinya dengan luka yang cukup parah karena ikut tertembus ajian Ki Brewok.
Ia berdiri dengan sempoyongan dan memegangi dada kirinya yang terkena ajian Ki Brewok. Gaunnya robek terbakar sebagiannya dan Ia kemudian merentang kedua tangannya sembari merafalakan mantra kegelapan. Kedua tasbih itu sudah kembali ke tangan kedua bocah tersebut.
Lalu tiba-tiba langit menggelap. Hujan masih terus membasahi bumi dan mengguyur dengan derasnya.
Lalu Angkasa dan juga Samudera membaca doa yang meminta kepada Rabb-Nya agar meredakan hujan dan petir yang sangat menakutkan tersebut.
"Allahumma haawalaina wa laa 'alaina. Allahumma 'alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari.
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan yang untuk merusak.
Seketika hujan mereda dan sambaran petir menghilang bersama dengan tak berdayanya Ki Brewok.
Sementara cahaya kegelapan itu bergulung-gulung bagaikan angin ****** beliung yang siap menelan apa saja.
Sesaat gulungan angin hitam itu menggulung kedua bocah itu dengan sangat cepat dan membawa keduanya ke udara.
Namun tiba-tiba cahaya jingga datang melesat yang membelah gulungan cahaya hitam tersebut dengan kibasan sayapnya, Ka mengembalikan cahaya hitam itu mengahantam Nini Maru dengan sangat cepat dan dahsyat membuatnya terpental jauh dan melesat dengan lengkingan yang memekkan telinga.
Chakra Mahkota menangkap kedua bocah tersebut dan membawanya diatas punggungnya dan mendaratkan kedua bocah itu dengan hati-hati.
Nafas keduanya tampak tersengal karena balutan cahaya kegelapan milik Nini Maru.
Chakra Mahkota memberikan hembusan hawa dingin kepada Angkasa dan Samudera, sehingga membuat keduanya merasakan rasa sejuk mengalir didalam tubuh mereka yang semula terpapar panas oleh ilmu hitam milik Nini Maru.
Setelah merasakan membaik, keduanya beranjak untuk bangkit dan ingin melihat kondisi Mbok Titin yang terkena ajian Gelap Ngampar Ki Brewok dan mereka menerobos masuk ke dalam rumah panggung tersebut.
Sementara Ki Brewok berusaha untuk bangkit, namun sekujur tubuhnya tak dapat digerakkan, dan hanya ke dua matanyanya saja yang dapat terbuka, semakin Ia menggerakkan tubuhnya, maka darah akan semakin deras mengalir dari mulut, hidung dan telinganya.
Perlahan ke dua matanya juga tak lagi dapat digerakkan, hingga akhirnya semuanya menggelap dan Ia tidak lagi dapat merasakan apapun.
Sementara keris yang tertancap ditubuhnya melesat menuju Pohon besar disebuah taman dan merasuk ke tubuh ceking Ki Kliwon yang kini sedang duduk bersila dengan merafalkan mantra pemanggil kerisnya.
Bagaimana mungkin seorang Ki Kliwon yang merupakan Kakek buyut dari Angkasa sanggup melukai cucunya sendiri hanya demi sebuah ambisi.