MIRNA

MIRNA
episode 215



Tubuh Rina melesat menembus kegelapan, Beni berteriak memanggilnya. Ia tidak rela wanita itu meninggalkannya.


Suasana masih sunyi karena pukul 3 dini hari, dan tentunya orang sedang terlelap dalam tidurnya dan dalam buaian mimpi yang indah.


Rina yang polos tanpa sehelai benangpun sedang duduk dipos ronda. Ia merasakan kehadiran sosok manusia yang akan menjadi pelampiasannya.


Dari kejauhan tampak cahaya yang berasal dari sebuah sepeda motor yang tiba-tiba lampunya dimatikan.


Dua orang pengendara sepeda motor itu mendorong motornya dan meletakkannya disebuah semak.


Keduanya berjalan mengendap dengan masing-masih orang membawa senjata tajam.


Keduanya tak luput dari perhatian Rina yang memantaunya dari pos ronda.


Tampak kedua orang tersebut berjalan mengendap ke sebuah rumah yang tak jauh dari pos ronda.


Rumah itu tampak mewah dan tentunya banyak barang mewah didalamnya.


Mereka muncungkil pintu dapur, lalu masuk kedalam rumah yang sudah menjadi target selama ini.


Kesunyian desa akibat gangguan dari jin qorin Yanti dimanfaatkan para pelaku kejahatan untuk mencuri ataupun merampok barang-barang berharga dan juga uang.


para pemilik rumah masih terlelap dalam tidurnya, dan tidak mendengar suara orang sedang masuk kedalam rumahnya.


Para pencuri itu segera memasuki kamar utama, lalu melihat pemiliknya masih tidur.


Mereka mengobrak-abrik isi lemari untuk mencari perhiasan ataupun uang.


Saat itu, seorang wanita yang sedang tertidur lelap sendirian karena sang suami sedang bekerja diluar kota, terbangun mendengar keributan dikamarnya.


Sesaat pencuri itu membekap mulut sang wanita "Diam..atau nyawamu melayang..!!" ancam salah satu pencuri sembari meletakkan sebuah celurit dileher wanita itu.


Wanita itu bergetar ketakutan, Ia tidak menduga jika Ia berada dibawah ancaman yang mengerinkan.


"Katakan, dimana kau menyimpan uang dan juga perhiasan, dan jangan coba-coba berteriak ataupun melapor polisi" ucap pria itu penuh dengan ancaman yang sangat menakutkan.


Wanita itu menunjukkan tempat Ia menyimpan perhiasannya didalam lemari pakaian. Lalu pencuri satunya membongkar tempat yang diintruksikan wanita itu.


Pencuri itu mendapatkannya.


"Ini.." ucap Pria itu kepada rekannya yang kini sedang menyandera wanita tersebut.


"Ayo..!!" ajak pria itu kepada rekannya.


Rekannya tersenyum menyeringai "Bentar, kenapa buru-buru.." ucapnya, yang tanpa diduga sang wanita Ia dalam bahaya besar.


Dua pencuri itu mengambil barang perhiasannya dan juga mencuri kenik- matan surgawi darinya.


Diabawah ancaman sebuah celurit, Ia hanya bisa pasrah saja dan tak dapat mengatakan apapun.


Setelah kepergian dua pencuri itu, Ia hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya. Lalu mencoba melaporkannya pada kepolisian esok pagi.


Dua pencuri itu mengendap dan bergegas menuju sepeda motor yang kini disembunyikannya dibalik semak.


Mereka tersenyum bahagia karena mendapatkan barang curian dan juga menggauli pemilik rumahnya.


Saat mereka berada di dalam semak, tampak seorang wanita tanpa sehelai benangpun sedang duduk di dahan kayu patah dengan menangkupkan wajahnya diatas lututnya.


Keduanya saling pandang. Bagaiamana mungkin ada wanita dipukul 4 subuh duduk sendirian didahan kayu yang patah tanpa sehelai benangpun.


Melihat kulit putih dan berkilau tersebut, membuat kedua pencuri itu hilang akal.


Mereka saling pandang dan menganggukkan kepalanya, memberi isyarat jika mereka akan menyergap wanita itu.


Lalu dengan mengendap, mereka menyergap wanita yang sedang merintih dalam kegelapan malam.


Wanita itu tak memberikan perlawanan, bahkan terkesan pasrah.


Lalu keduanya segera menggarap wanita yang tak lain adalah Rina yang kini sudah dirasuki oleh Yanti dab Nini Maru.


Namun mereka merasakan tubuh wanita itu sangat panas dan ketika mereka mencoba memasukkan senjatanya secara bersamaan, rasanya bagai terkena air panas yang mendidih, namun mereka tak dapat menghentikannya, hingga saat senjata mereka keluar dari liang milik Rina tampak melepuh dan berkelupas.


Lalu sosok bayangan hitam datang mengerat kedua senjata milik pria pencuri itu dan berlaku pergi.


Begitu juga halnya dengan Rina, tersenyum seringai dan meninggalkan dua pria yang kini terperangah dengan wajah ketakutan dan keduanya masih dapat saling tatap dan keluar dari semak untuk mengendarai motornya dan mencari bidan terdekat untuk meminta pertolongan.


Namun ditengah perjalanan, motor yang dikendarai mereka oleng dan mereka terjerambab dijalanan dan akhirnya berteriak meminta tolong.


Suara erangan ke duanya didengar warga yanv akan berangkat shalat subuh dan mencoba melihat siapa yang sedang berteriak meminta tolong.


Tiga orang pria yang akan menuju mesjid untuk melakukan shalat subuh menemukan dua pria yang terkapar dijalanan dengan berlumuran darah dan mereka menelefon ambulance untuk membawa keduanya ke puskesmas.


Sepwda motor yang dikendarai oleh keduanya juga berlumuran darah, dan tak berselang lama, mobil ambulance datang membawa keduanya yang sudah tampak mengenaskan dengan luka cukup parah.


*****


Ke esokan paginya, wanita yang menjadi korban pencurian dan rudal paksa itu akhirnya melaporkan kejadian yang menimpanya ke kantor polisi.


Lalu Ia menceritakan kronologi kejadiannya. Secara bersamaan, warga melaporkan kejadian penemuan dua orang pria yang terkapar dijalanan dengan luka para dan kehilangan lato-latonya.


Sesaat wanita itu tercengang, dan mengatakan jika ciri-ciri dari laporan warga yang juga tetangganya itu adalah dua pencuri yang menyatroni rumah dan rudal paksa kepadanya.


Polisi akhirnya menerima laporan tersebut dan akan memperosenya.


Sedangkan dua pencuri tersebut sedang ditangani oleh pihak puskesmas dan menajalni perawatan.


Pihak kepolisian mendatangi keduanya dipuskesmas untuk dimintai keterangan.


Keduanya kini merangkap sebagai pelaku dan juga korban.


Perhiasan dan juga uang yang dicuri oleh keduanya disita dan dijadikan sebagai barang bukti dari tindak kejahatan keduanya.


Lalu kedunya dimintai keterangan tentang kronologi peristiwa yang terjadi hingga mereka kehilangan kedua lato-latonya.


Polisi sudah sangat kenyang sekali menangani kasus didesa ini yang kejadiannya ialah kehilangan lati-lato dan kasusnya hingga kini belum terungkap juga. Sebab kematian Yanti dianggap sebagai akhir dari segalanya, namun kejadian ini kembali terulang dan ini sangat membingungkan bagi pihak kepolisian dan juga warga.


Kedua pencuri itu akhirnya kini selamat, namun mereka harus hidup tanpa senjata pamungkasnya, dan sepertinya itu sangat sungguh memyedihkan.


Setelah keduanya mulai pulih, lalu pihak kepolisian membawa keduanya ke kantor polisi dan tetap akan melanjutkan perkara keduanya keranah hukum, karena wanita yang mengalami kerugian atas pencurian dan rudal paksa tidak ingin mencabut tuntutannya dan berharap kedua pencuri itu dihukum setimpal dengan perbuatannya.


Kini keduanya merasa sangat merugi, karena kehilangan barang curiannya yang disita polisi, dan juga kehilangan senjata pamungkas mereka.


Disisi lain, Rina kini berada didalam goa tempat Ki Kliwon melakukan pertapaannya.


Ia memungut gaun Yanti yang sudah compang-camping dan sangat berantakan untuk dikenakannya.


Hawa panas dalam tubuhnya sepertinya tak dapat disembuhkan, dan hal itu membuatnya semakin merasa haus.