
Yanti merasakan perutnya sangat sakit. Ia lupa meminum jamu setelah pasca keguguran malam itu.
Wajahnya memucat, Ia mencoba mencari tukang jamu untuk melancarkan aliran darah dan juga mempercepat keringnya darah itu berhenti.
Yanti tidak menyadari jika Tia masih berada didalam kamar sebelah, sebab remaja itu sedang tak sadarkan diri karena malam tadi digarap oleh genderuwo yang menyelinap masuk kedalam warungnya.
Sementara itu, ketiga para remaja lainnya masih terkapar dalam kondisi mabuk di ruangan Karaoke.
Yanti berjalan sembari memegangi perutnya yang sakit dan juga mengganjanjal dibagian perut bawahnya, seperti sesuatu yang akan melesak keluar.
Baru saja Ia berjalan beberapa langkah dari depqn warungnya, sesuatu meluncur dari perutnya melalui jalur rahimnya, dan...
Pluuuuk..
Sebuah benda jatuh sebesar telapak tangan yang mirip sebuah hati, dan itu adalah darah kental yang membeku.
Yanti memandangnya dengan sangat bingung dan celingukan. Namun belum sempat rasa bingungnya itu hilang, tiba-tiba saja seekor kucing hitam menyambar benda itu dan membawanya berlari menjauh dari Yanti.
Yanti terperangah, lalu Ia kembali kedalam warungnya dan menuju kamarnya untuk mencari pembalut dan menambalnya diantara pangkal kakinya agar darah sisa kegugurannya itu tak merembes keluar.
Ditempat lain, Rina mengetuk pintu rumah kost Jali. Ia mengetuknya dengan sangat keras, sehingga membangunkan pemuda pemalas tersebut.
Dengan mengusap kedua matanya, Jali bangun dan beranjak menuju pintu dwpan rumahnya.
Ia membukanya dan melihat Rina sedang berdiri diambang pintu menatapnya penuh tatapan kesal.
"Eh, Mbak Rina. Masuk, Mbak." ucap Jali basa-basi.
Rina yang sedang kalut masuk dengan cepat sebelum ada yang melihatnya.
"Ada apa, Mbak?" tanya Jali sembari menguap.
"Kamu ini, Ya.. Sama saja dengan Bang Ewin, sama-sama pemalas. Jam segini masih saja tidur!" ucap Rina dengan kesal.
Jali mengacak rambutnya dengan kasar.
"Kamu sudah ada kabar belum tentang keberadaan Bang Ewin?" tanya Rina dengan tak sabar.
Jali mengerutkan keningnya. Ia juga bingung mengapa temannya itu tidak juga kembali.
"Apakah Mbak sudah menghubungi keluarganya?" tanya Jali mengingatkan.
Rina mendenguskan nafasnya dengan kesal "Saya sudah menanyakannya, namun keluarganya menjawab tidak tahu kemana Mas Ewin berada" jawab Rina kesal.
Jali menggaruk dagunya, seiingatnya terakhir mereka bersama itu diwarung Yanti saat mabuk dan bersenang-senang disana, setelah itu Ia tak lagi bertemu atau melihat Ewin.
Ia juga sudah mencari tahu keberadaan Ewin, namun tak membuahkan hasil.
"Apa mungkin bang Ewin lari bersama janda pirang, Mbak?" ucap Ewin Asal.
Rina membeliakkan matanya "Apa? Lari dengan janda pirang?!" Rina menirukan ucapan Jali dengan nada kesal.
Jali nyengir kuda "Ya, Kan cuma nebak saja, Mbak. Jangan ngegas donk" ucap Jali yang merasa terjebak dengan ucapannya.
Seketika raut wajah Rina berubah, Ia tampak gelisah dan juga bingung.
Jali melihat kegelisahan yang terpancar diwajah wanita itu.
"Ada apa, Mbak? Kenapa tampak gelisah sekali?" tanya Jali penasaran.
"Aku hamil, Jal. Ini ulahmu waktu pagi itu" ucap Rina menjelaskan.
Jali membolakan matanya "Wah.. Gila.. Bisa saja itu anaknya bang Ewin kan, Mbak?" Jali mencoba menyela.
Rina memandang pada Jali yang seoalah ingin menghindar dan lepas dari semua perbuatannya.
Jali menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin jadi pria terikat, bahkan Ia juga belum tahu dimana sekarang keberadaan Ewin sesungguhnya.
"Emangnya sudah berapa bulan, Mbak?" tanya Jali penasaran.
"Sudah 3 bulan, dan menurut tanggal dari Kamu saat menggauli saya itu perhitungannya sudah tepat" ucap Rina dengan kesal.
Jali semakin bingung, Ia tidak ingin bertanggungjawab untuk kandungan Rina, sebab Ia masih ingin melajang dan hidup bebas.
Jali masuk kedalam kamarnya, lalu mengambil uang sebanyak 5 lembar ratusan ribu dan membawanya keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.
"Mbak.. Kamu gugurkan saja kandungan kamu. Ini untuk biayanya. Minum jamu apa gitu yang bisa jatuhin janinnya" ucap Jali menyerankan sembari menyerahkan uang tersebut.
Rina ingin marah, namun Ia tidak memiliki pilihan, sebab Ia juga tidak ingin kandungannya semakin membesar, sebab akan meninmbulkan omongan dari para tetangganya, apalagi kini Ia tinggal sendiri.
"Ayolah, Mbak.. Ini semua demi kebaikan kita bersama" rayu Jali kepada Rina, memncoba meluluhkan hati wanita tersebut.
Rina meraih uang tersebut dari tangan Jali, lalu memasang raut wajah masam dan beranjak ingin pergi dari rumah Jali.
Jali bernafas lega, dan saat Rina sudah berada diambang pintu, Jali berseru kepadanya "Mbak, kalau lagi pengen datang kemari saja, ntar saya bayar deh" ucap Jali dengan senyum penuh kelicikan.
Rina memanyunkan bibirnya dan segera pergi meninggalkan rumah Jali.
Diperjalanan Ia merasa bingung, kebutuhan pokoknya sudah habis. Rina berniat membelanjakan uang pemberian Jali untuk biaya makannya.
Ia pulang kerumah kontrakannya, lalu mengeluarkan motornya dan menuju toko sembako yang berada tak jauh dari warung Yanti, sebab toko itu grosir dan bisa mendapatkan harga murah.
Rina memacu motornya menuju grosir tersebut, dan setelah 15 menit perjalanan, Ia melintasi warung Yanti, tempat dimana terakhir kali Ewin menghilang tanpa jejak.
Rina melirik warung itu, ada rasa jengkel, namun entah kepada siapa.
Rina telah sampai di toko sembako itu. Ia mengambil sekarung beras 10 kg, lalu berbagai kebutuhan lainnya.
Rina mengambil jahe, merica bulat, dan juga serta bahan lainnya yang dibutuhkannya.
Rina berniat ingin membuat jamu untuk menggugurkan janinnya. Hingga tanpa sengaja Ia bertemu dengan Yanti ditempat itu. Yanti juga memilih bahan yang hampir sama, namun ada perbedaan sedikit.
Rina menatap Yanti dengan tatapan penuh curiga. Ia tidak mengenal Yanti, namun hanya mengegahui warungnya saja dan tidak pernah bertemu langsung.
"Mau buat jamu, Mbak?" sapa Yanti sok ramah.
Rina menyunggingkan senyum tipis.
"Ya.. " jawab Rina dengan datar. Seketika Yanti mencium aroma segar dari tubuh Rina, ya.. Aroma janin yang sangat begitu menggiurkan. Yanti melirik perut wanita dihadapannya, meski masih belum begitu terlihat, namun Ia tahu jika itu adalah janin yang begitu menggiurkan.
Rina meninggalkan tempat bahan rimpang untuk membuat bumbu tersebut, lalu menuju rak-rak mie instan dan bahan lainnya.
Yanti tak ingin melepaskan sesuatu yang begitu sangat menggiurkan. Yanti menghampiri dan mengekori Rina yang menuju rak mie instan.
Melihat Yanti menguntitnya, Rina merasa sangat risih melihat wanita yang wajahnya setengah rusak tersebut.
"Mbak.. Kamu sedang hami, Ya?" bisik Yanti yang berada disisi Rina dan berpura-pura memilih barang.
Rina sedikit terkejut mendengar penuturan Yanti. Sebab selama ini tidak seorangpun yang mengetahui kebamilannya.
Rina mencoba diam, dan berusaha tidak menggubris ucapan Yanti.
"Kalau mau, Aku bisa membayar kandungan Mbak dengan harga tinggi, tapi tunggu bulan depan, dan Ini nomor WA saya" ucap Yanti yang dengan cepat menarik secarik kertas kardus bekas mie instan dan menuliskan nomor phonselnya dengan meminjam pena dri pemilik toko sembako.
Setelah mengulangi kembali angka-angka yang tertera, Yanti memberiaknnya kepada Rina.
Wanita itu menatap Yanti sembari mengerutkan keningnya.
"Hubungi saya jika Mbak merasa ingin bekerja sama, saya akan membayar 20 juta untuk nilai janin ini" ucap Yanti menjanjikan dan setelah itu Ia segera pergi kekasir untuk membayar barang yang dibelinya.