
Mirna sangat ingin pulang kerumahnya. Sudah sangat lama Ia tak pulang ke rumahnya di tepi hutan.
Siang ini Syafiyah masih bekerja, dan Mirna memperikirakan jam kepulangan kerja Syafiyah pukul 4 sore, dan Ia akan kembali lagi sebelum Syafiyah tiba dirumah.
Mirna menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepat, lalu Ia melesat mengunjungi rumahnya yang sudah beberapa hari Ia tinggalkan.
Mirna melesat dengan cepat dan tidak ada satupun yang melihatnya berjalan dengan begitu cepatnya hingga hanya hitungan menit saja Ia menempuh perjalanan kerumahnya di tepi hutan dan sampai kerumahnya.
Mirna tiba dirumahnya dengan rasa rindu. Meskipun rumah miliknya sangatlah minimalis, nakun Ia merasa nyaman tinggal dirumah itu.
Mirna sudah sangat lama tidak mandi ditepi sungai, dan Ia berkeinginan untuk mandi disana.
Mirna membersihkan rumahnya yang berdebu, lalu setelahnya Ia ingin mandi ditangkahan sungai.
Ia berjalan menuruni undakan tanah menuju ke sungai dengan begitu bersemangat. Ia sudah sangat lama tak merasakan kesegeran air sungai yang biasa Ia rasakan.
Mirna sampai di tangkahan sungai, Ia mulai turun kedalam sungai yang hanya memiliki kedalaman satu meter lebih dan Ia sangat menyukai berendam didalamnya.
Sepasang mata memperhatikan dari kejauhan. tatapan mata penuh dendam dan ingin menghukum wanita tersebut, namun Ia tak memiliki keberanian, sebab Chakra Mahkota selalu mengikuti gadis itu kemana pergi.
Saat bersamaan, dua orang pemuda yang bernama Didi dan Dino melintasi tempat Mirna mandi. Ia melihat kedua pemuda itu sedang menenteng seekor biawak berukuran sedang dan beberapa ekor tupai untuk dijual diwarung tuak langganan mereka yang biasa menanmpung hadil buruannya.
Sesaat Dino berdecak kagum melihat pesona kecantikan Mirna.
"Di.. Cantik banget si Mbak nya ya?" ucap Dino yang melirik kearah Mirna yang sedang mandi berendam.
"Iya.. Cantik banget bahkan.. Tapi kalau tidak salah si Mbak nya sudah menikah, dan jangan coba menganggu istri orang, itu tidak baik" Didi mencoba mengingatkan.
"Eh.. Di.. Justru istri orang itu yang asyik" ucap Dino mulai kacau.
"Maksudmu?" tanya Didi dengan semakin penasaran.
Dino tersenyum nakal "Menurut para badboy, kalau pacaran ma istri orang itu banyak untungnya" Dino kembali berujar yang semakin membuat Didi semakin bingung.
"Untungnya dimana?" cecar Didi.
"Ya untunglah.. Kalaupun kita ada plus-plus sama istri orang, trus tiba-tiba hamil, kan gak ada yang curiga, sebab Dia punya suami, kita gak perlu capek-capek tanggungg jawab" Dino menjelaskan dengan sangat semangat.
Didi menatap Dino dengan datar "Kamu tahu gak? Almarhum Ayahku pernah berpesan, nikahilah gadis atau janda, tapi jangan istri orang. Sebab jika kau menikahi istri orang, maka ada banyak dosa dan kesialan yang akan Kau tanggung dikemudian hari" ucap Didi mencoba mengingatkan.
Seketika Dino menatap Didi yang baru saja berceramah kepadanya "Ih, kamu koq jadi Alim ulama dadakan sih?" protes Dino.
Didi tersenyum datar "Itu terserah kamu, yang terpenting Aku sudah mengingatkanmu" ucap Didi sembari melangkah meninggalkan Dino yang tampak ragu karena memandang antara Mirna dan juga Dino sahabatnya, namun Ia memutuskan untuk mengikuti langkah Didi.
Mirna tersenyum mendengar percakapan keduanya meskipun mereka sudah sangat berbisik dan hanya mereka yang menegetahuinya, namun Mirna dapat mendengarnya dengan jelas meskipun itu didalam hati mereka.
Didi dan juga Dino sudah berada diatas tebing didepan pintu dapur Mirna, lalu keduanya berjalan menyusuri jalanan setapak menuju jalan raya yang mana mereka melintasi warung Yanti.
"Din.. Ini kan warung yang baru buka itukan? Kalau tidak salah pemiliknya ini yang dulu pernah kerja diwarung Mbak Lela" ungkap Dino kepada Didi.
"Masa, Sih?" jawab Didi penasaran.
"Iya.. Bahkan disini ada menyediakan jasa plus-pkus dan pelayannya remaja yang cakep-cakep. Makanya sebagian pelanggan Mbak Lela banyak yang lari kemari" Dino kembali menimpali.
Didi hanya menganggukkan kepalanya, biar sajalah, yang penting Kita tetap diwarung Mbak Lela, mumpung masih menyediakan wifi gratis" jawab Didi dengan santai.
"Gila kamu, Din.. Mereka itu sudah dipakai banyak orang, pastinya memiliki bibit penyakit juga. Emang Kamu mau enak sesaat tetapi sengsara seumur hidup?" Didi kembali mengingatkan.
Dino mengehela nafasnya "Istri orang salah, remaja juga salah, semuanya serba salah sama Kamu, Di" ucap Dino sedikit kesal.
Didi menggelengkan kepalanya dan menatap pada sahabatnya "Remaja itu gak salah, yang salah kamu mencari yang sudah kotor. Jika ingin mencari maka carilah yang bersih, masa Iya kamu mau tertular penyakit mematikan?" ucap Didi kembali mengingatkan sahabatnya.
"Iya.. Iya.." jawab Dino sembari memanyunkan bibirnya.
Tak berselang lama, tampak Yanti muncul dari balik pintu dan melihat kedua pemuda itu menenteng hasil buruannya.
"Bang.. Sini Bang.." panggil Yanti sembari melambaikan tangannya kepada Didi dan Dino.
Kedua pemuda itu saling pandang pandang satu sama lain dan mencoba menghampiri Yanti yang memanggil mereka.
Setelah jarak mereka begitu dekat, keduanya menatap Yanti.
"Ada apa, Mbak?" tanya Didi dengan penasaran.
"Bang.. Berapa itu abang jual?" tanya Yanti, sembari menunjuk arah binatang buruan kedua pemuda itu.
"Ini sudah pesanan orang Mbak" jawab Didi menjelaskan.
"Ya separohnyanya Bang, kalau gak bisa semua. Kalau mau jual semua saha bayar mahal" ucap Yanti yang mencoba memggoyahkan pendirian keduanya.
"Emannya berani bayar berapa Mbak?" tanya Didi kepada Yanti.
"300 ribu semuanya" jawab Yanti cepat.
Didi dan Dino saling bertatapan "Bagaimana, apakah Kita berburu lagi untuk warung yang disana?" tanya Didi kepada Dino.
Dino menaikkan kedua bahunya "Ya. Terserah, lagipula ini masih siang, kita bisa berburu lagi setelah makan siang" ucap Dino menjelaskan.
"Ya, sudah, Mbak.. Ini kami jual kepada Mbak" ucap Didi sembari menyerahkan hewan tersebut kepada Yanti.
Yanti tersenyum sumringah "Ya sudah, masuk dulu Bang. Saya mau ambil uang dulu" ucap Yanti yang mengambil hewan tersebut dan masuk ke warung dan meletakkan hewan tersebut ke atas meja.
Yanti menuju kamarnya untuk mengambil uang sebagai pembayaran hewan buruan tersebut.
Didi dan Dino duduk dikursi para pelanggan warung Yanti. Seaat hidung Didi mencium aroma amis darah yang sangat amis menyeruak dari kamar Yanti yang keluar melalui bawah pintu.
Didi merasa tak nyaman, bahkan aroma amis itu juga menuju koridor dapur yang aromanya sangat tidak nyaman sekali.
Tak berselang lama, Yanti membuka pintu dan aroma itu sangat begitu menyeruak bersamaan saat pintu itu dibuka.
"Ini, Bang uangnya" ucap Yanti dengan lirikan nakal menatap Didi yang bertubuh tinggi kekar.
"Terimakasih, Mbak" ucap Didi sembari meraih uang tersebut.
"kalau butuh pijatan saya ahlinya ya Bang" ucap Yanti dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Makasih banyak, Mbak.. Kebetulan emak saya tukang pijat, jadi kalau pegal-pegal tinggal minta pijat emak saja" jawab Didi lalu beranjak pergi dan menarik pergelangan tangan Dino agar segera menjauh dari warung Yanti, sebab Ia merasakan hal yang tidak enak.