
Dalam hitungan jam, polisi menyambangangi rumah Yanti dan menjemput gadis itu secara paksa untuk dimintai keterangannya.
"Salah saya apa, Pak? Mengapa Saya harus dibawa-bawa" protes Yanti yang terus memberontak saat Polisi menggiringnya kekantor polisi.
Badu yang melihat puterinya dibawa paksa oleh petugas kepolisian mencoba mencegahnya, namun pihal kepolisian tidak memperdulikannya.
"Pak..salah saya apa?" protes Yanti yang terus memberontak dan tidak rela jika harus diborgol tangannya layaknya seorang penjahat saja.
Sesampainya dikantor polisi, mereka membawa Yanti keruang interogasi untuk dimintai keterangannya.
"Salah Saya apa, Pak?" kalimat itu yang terus menerus diucapkan oleh Yanti yang saat ini merasa sangat ketakutan dan memucat.
"Saudari Yanti, apakah saat sebelum ketiga pemuda ini tewas, saudari bersama mereka?" tanya penyidik dengan tatapan intimidasi
Yanti bergetar dan wajah ketakutan tak dapat disembunyikan dari wajahnya.
"Sa..saya tidak bersama mereka" jawabvYanti dengan wajah yang memucat bagaikan kapas.
"Harap kooperatif, jika Saudari mencoba berbohong, maka akan ada konsekuensinya" ucap Penyidik wanita dengan tegas.
Yanti menatapi semua para penyidik didalam ruangan pemeriksaan yang tampak begitu menegangkan.
"Apakah Saudari bersama ketiga pemuda itu sebelum mereka ditemukan tewas?" tanya penyidik itu lagi.
Yanti diam membeku, Ia seperti merasakan lidahnya keluh.
Lalu penyidik itu memperlihatkan bukti sidik jari, cairan milik Yanti yang menempel dikulit pangkal kaki ketiga pemuda itu setelah diautopsi dan yang tercecer di lantai dipan gubuk ladang jagung.
Lalu Penyidik memperlihatkan sebuah underware berwarna hitam dalam kantong plastik berlabel kepolisian setempat, dan didalam underware itu ada sidik jari milik Yanti dan cairan miliknya juga cairan ketiga pemuda itu yang tampaknya digunakan untuk membersihkan organ vital mereka setelah bercocok tanam.
Yanti tak lagi dapat mengelak " Ya, itu milik Saya, tapi bukan saya yang membunuhnya" ucap Yanti dengan menegaskan.
Yanti merasakan dirinya sangat sial, karena sudah terjerat kasus yang Ia rencanakan, namun Ia sendiri yang terseret kedalam perangkapnya.
"Sampai pukul berapa Saudari bertemu dengan ketiga korban?" tanya penyidik dengan sangat tegas.
"E...emmm sampai sebelum maghrib saja" jawab Yanti dengan merundukkan kepalanya.
"Setelah itu, Saudari pergi kemana?" tanya Penyidik terus mencecarnya dengan pertanyaan yang menydutkannya.
"Ke..kerumah nenek saya, minta dibuatkan jamu" jawab Yanti.
"Pukul berapa Saudari kembali kerumah?" tanya penyidik itu kembali.
"Sekitar pukul 6 pagi" jawab Yanti mencoba menjawab dengan nada bergetar dan ketakutan.
"Baiklah.. Terimakasih untuk kerjasamanya, dan untuk sementara waktu, saudari menginap ditahanan polsek dahulu, sehingga kami menemukan bukti yang akurat" jawab penyidik itu dengan nada perintah, dan para petugas yang lainnya menggiring Yanti kedalam sel tahanan polsek untuk sementara waktu, sebelum kasusnya dilimpahkan kekejaksaan.
Penyidik masih mencari bukti lain untuk mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya.
Sementara itu, ketiga jenazah pemuda itu dikembalikan kerumah duka setelah selesai dilakukan autopsi.
Ketiganya di makamkan bersebelahan dengan makam Anang, pemuda yang pertama kali mengalami kehilangan organ vitalnya saat dimakamkan.
Warga yang menyaksikan pemakaman itu terus berspekulasi dengan berbagai pendapat mereka.
Isak tangis dari keluarga ketiga pemud tampak pecah dan riuh dipemakaman.
Bahkan Ibu dari Jali sampai berulangkali tak sadarkan diri menyaksikan pemakaman putera satu-satunya yang merupakan anak semata wayangnyanya.
Meskipun Ia sadar jika anaknya melakukan kesalahan berzinah sebelum meninggal secara mengenaskan, namun Ia tidak rela jika anaknya meninggal dengan anggota tubuh yang tidak utuh.
Setelah proses pemakaman selesai, Ibunda dari Jali masih terus meratapi kepergian anaknya. Diatas tanah pusara itu Ia menumpahkan segala kesedihan dan tidak rela dengan kepergian putera satu-satunya.
Para pelayat sudah satu persatu meninggalkan lokasi pemakaman dan kembali kerumah masing-masing, namun Ibjnda Jali masih meratapi kepergian anaknya yang tidak wajar.
Debgan berbagai cara, akhirnya Ayah dari Jali berhasil membujuk Istrinya untuk kembali kerumah. Ayah Jali menggendong istrinya yang kembali tak sadarkan diri karena terus menerus menyebut nama anaknya dan menangis secara berlebihan.
Disisi lain, Syafiyah terus mendesak Satria untuk menikahi Mirna. Hal tersebut membuat Satria semakin merasa pusing dengan permintaan Istrinya yang sangat begitu nyeleneh.
Bukankah setiap wanita itu akan marah jika diduakan, namun mengapa Syafiyah bersikap sebaliknya, Satria merasa jika ini sungguh sangat aneh dan juga tidak masuk akal.
Mirna kembali memandikan Syafiyah sebelum Ia kembali kerumahnya.
Kini beban pekerjaan Satria berkurang setelah kehadiran Mirna dirumahnya. Ia tak merasa heran jika Mirna sanggup menggendong Syafiyah, sebab Mirna bukanlah gadis biasa yang sama seperti gadis lain pada umumnya.
Satria mencoba mempertimbangkan permintaan Syafiyah, namun Ia ingin membuat perjanjian dengan Syafiyah agar tidak menyalahkannya dikemudian hari jika Satria benar-benar menikahi Mirna.
Dan Satria juga membuat perjanjian dengan Mirna, jika pernikahan mereka hanya sekedar menikahi saja karena sebab demi untuk menyenangkan hati Syafiyah saja.
Karena Sayfiyah yang terus mendesak pernikahan itu, akhirnya Satria menghubungi Ibunya, Ia ingin meminta pendapat kepada Ibunya tentang permintaan nyeleneh dari Syafiyah.
"Bu.. Ibu bisa datang malam ini? Ada yang kngin Satria bicarakan kepada Ibu" pinta Satria kepada Mala.
Mala yang merasakan ada sesuatu hal yang sangat penting, lalu mengiyakan permintaan puteranya, dan memjnta Bayu suaminya untuk mengantarkannya malam ini juga kerumah Satria.
"Mas.. Antarkan saya kerumah Satria, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikannya dan sangat mendesak" pinta Mala kepada Bayu.
Karena rasa cinta yang terlalu berlebihan kepada Istrinya, Bayu menganggukkan kepalanya, dan segera mengantarkan Mala kerumah anak sambungnya itu.
Mala merasa khawatir dengan kondisi puteranya, karena tidak biasanya Satria menelefonnya malam-malam dan meminta untuk bertemu malam ini juga.
"Sebenarnya Satria ada masalah apa, Ya Mas? Saya jadi merasa khawatir" ucap Mala sembari menggenggam jermarinya erat.
"Tenanglah, Sayang.. Mungkin Ia memerlukan teman curhat, sehingga memanggil Kamu malam ini, bisa jadi juga karena kangen ingin bertemu Kamu" jawab Bayu yang tampak bersikap tenang.
Mala menatap lurus jalanan, Ia melirik rumah Mirna saat mereka melintasinya.
"Sedang apa gadis itu, kasihan jika seorang gadis cantik tinggal dirumah itu sendirian ditepi hutan" guman Mala dalam hatinya.
Mobil terus meluncur dan mereka hampir sampai dirumah Satria. Saat ini mereka melewati tiga rumah yang tampak ramai didatangi oleh warga yang sedang bertakziah dirumah duka ketiga pemuda itu.
"kenapa ada takziah ditiga rumah sekaligus, Ya? Apakah ada yang meninggal secara bersamaan? " guman Mala saat melihat bendera warna putih didepan rumah ketiga warga tersebut.
Dan tak berselang lama, Mobil Bayu sampai didepan halaman rumah Satria, sanga anak sambungnya.