MIRNA

MIRNA
episode-273



Mirna kembali melesat mencoba mengejar ke empat Iblis tersebut.


Kegelapan malam yang begitu sangat pekat membuat keempatnya ngacir tunggang langgang menyelamatkan diri dari amukan Satria.


Mirna merasakan jika mereka menuju rumah kosong miliknya yang berada ditepi hutan dan sudah sangat lama tidak terpakai.


Ke empat iblis itu memasuki rumah kosong tersebut dan menerobos masuk. Sesaat Mirna merasakan aroma tubuh mereka sedang berada disana.


Mirna dengan cepat mendobrak pintu belakang dan melihat ke empat iblis didalam kegelapan dan sedang bersembunyi dikamarnya.


Mirna berdiri didepan pintu kamar dan menarik saklar lampu, maka seketika kamar itu menjadi terang dan membuat ke empatnya keluar karena tidak menyukai cahaya terang.


Mirna berjalan mundur beberapa langkah. Kini ke empat iblis sedang memandangnya dengan tatapan yang sangat menyeramkan dan penuh dendam.


Mirna bersiap untuk menghadapinya dan dengan cepat Ia melemparkan ujung selendangnya hang sudah robek dan menghantarkan hembusan angin yang kencang dan juga hawa panas.


Keempatnha menghindari serangan Mirna, lalu mereka berpencar dan mengelilingi Mirna dengan siap siaga untuk memberikan pelajaran kepada Mirna.


Mirna menatap ke empatnha yang kini berada diempat penjuru mata angin.


Dengan gerakan cepat Mirna menyerang mereka dengan melayangkan tendangannya sembari menhentakkan ujung selendang miliknya. Namun meraka berhasil menghindar. Kini mereka berbalik menyerang Mirna dengan bersama-sama.


Sementara itu, Satria kembali ke rumah, Ia sedang bertirakat untuk mensucikan keris tersebut dan mengisinya khadam Chakra Mahkota setelah berhasil mengusir segala makhluk hitam yang ada bersemayam didalamnya.


Satria memejamkan matanya dan memulai tirakatnya dengan memejamkan kedua matanya serta meeafalkan dzkkirnya dengan begitu khusuyuknya.


Di sisi lain. Mirna sedang mengahadapi ke empat iblis yang kini sedang kompak menyerang Mirna.


Ke empatnya melakukan serangan yang membuat Mirna sedikit kewalahan.


Hingga akhirnya..


Buuuughh..


Sebuah hantaman Gelap Ngampar mengenai punggung Mirna dan meningglkan bekas hitam legam dipunggung Mirna yang mana pelakunya adalah Ki Kliwon sang Kakek buyutnya.


Mirna merasakan pandangannya gelap, lalu ke empatnya dengan sigap mengeluarkan kekuatan kegelapan yang dimiliki oleh ke empatnya. Sebuah asap hitam bergulung dan mengikat tubuh Mirna. Lalu mereka membawa tubuh Mirna kehutan larangan yang sudah lama mereka tinggalkan.


Mirna tak sadarkan diri, dan Mereka tertawa dengan begitu sangat bahagia.


Sesampainya di hutan larangan, merkea menuju sebuah goa yang lain yang ditutupi oleh tumbuhan menjalar dan mereka memasukinya dengan Rey membopong tubuh Mirna dan tampaknya Ia adalah orang yang sangat paling bahagia dalam keberhasilan melumpuhkan Mirna.


Sesampainya didalam goa, Mereka merebahkan tubuh Mirna yang terluka dan masih berbalut cahaya kegelapan dalam sebuah dipan batuan cadas. Lalu dengan cepat Nini Maru menciptakan kerangkeng yang terbuat dari berbagai cahaya kegelapan yang tak dapat tertembus oleh mata kasar bahkan hanya orang yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dapat menembusnya.


Mirna masih tak sadarkan diri dan Nini Maru membuat kerangkeng itu untuk mengurung Mirna.


Rey menatap Mirna seolah tak sabar dan ingkn segera disandingkan untuk calon pendamping idamannya.


"Ni.. Kapan saya akan bersanding dengan Mirna" ucap Rey tak sabar.


Seketika Nini Maru menatap geram pada Rey "Bersabarlah, kita harus melakukan pertukaran jiwa Samudera dengan Mirna terlebih dahulu. Setelah kita mendapatkan Samudera, maka aku akan memberikan hak-mu untuk menjadi pendamping Mirna" jawab Nini Maru dengan nada parau.


"Ayolah, Ni.. Aku sudah tak sabar ingin uji coba rudalku yang sudah memakan 40 pasang lebih lato-lato. Mengapa kau terus menundanya? Membuat aku semakin gelisah saja. Bukankah jika kami memiliki keturunan dari Mirna, maka kita akan menguasai kegelapan" ucap Rey yang mencoba terus merayu Nini Maru.


Ki Kliwon menghampiri Rey yang tampak rudalnya sudah berdiri tegak tak sabar ingin merasakan kemolekan tubuh Mirna yang sudah menjadi impiannya selama ini.


Dengan sigap Ki Kliwon mencengkram kuat rudal milik Rey yang mengeras tersebut dan membuat Rey mebeliakkan bola matanya.


"Aaaaaaarrggh.. Apaan ini, Ki?" ucap Rey dengan wajah memerah menahan rasa sakit yang sangat luar biasa karena kuku runcing Ki Kliwon menusuk ke batang rudalnya.


"Berani kau menyentuhnya sebelum pertukaran jiwa Samudera dan Mirna, maka aku akan menghancurkan rudalmu hanya dengan sekali rema-san saja menggunakan tanganku!" ancam Ki Kliwon dengan nada penuh ancaman.


Rey menatap ketakutan dan Ia sangat tidak percaya jika Ki Kliwon semenakutkan itu.


"Apa Kau mendengar ucapanku?!" tanya Ki Kliwon yang semakin mencengkram kuat rudal milik Rey dengan tatapan tajamnya.


Rey yang wajahnya memerah hanya dapat mengangguk lemah.


Kemudian Ki Kliwon beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut dan melakukan semedi untuk menguatkan kekuatan mereka.


Sedangkan Rey melesat keluar dari goa untuk menenangkan diri dan juga menurunkan rudalnya.


Ki Genderuwo tak dapat membela Rey karena Ia juga tak ingin menjadi sasaran amukan dari Nini Maru dan juga Ki Kliwon.


Nini Maru melesat menuju ruang disisi Kerangkeng Mirna dan mulai Memejamkan kedua matanya untuk melakukan pertapaan dan mengumpulkan energinya serta menyembuhkan luka lebamnya akibat ajian Gelap Ngampar Ki Brewok yang saat itu berbalik menghamtam mereka.


Ditempat lain. Angkasa merasa gelisah dan melihat ibunya belum pulang juga. Ia ingin mengetuk pintu kamar ayahnya. Namun Ia tau saat ini jika Satria sang Ayah sedang melakukan tirakat dan tidak dapat diganggu.


Samudera yang melihat Adiknya gelisah mengerutkan keningnya "Kamu kenapa, Dik? Mondar-mandir dari sedari tadi?" tanya Samudera dengan gelisah.


Angkasa menghela nafasnya "Ibu dalam bahaya.. Ia butuh bantuan kita" ucap Angkasa menerangkan.


Samudera mengerutkan keningnya "Bukannya tadi Ibu dikamar?" ucap Samudera.


Angkasa menggelengkan kepalanya "Ibu sedang berada ditempat yang jauh, dan aku dapat merasakannya" ucap Angkasa semakin gelisah.


Samudera beranjak bangkit dari tidurnya "Ya sudah, ayo kita selamatkan" ucap Samudera.


Angkasa menggelengkan kepalanya "Ini tidak semudah yang kita bayangkan, kita tunggu dulu ayah dan ikuti perintahnya" ucap Angkasa menjelaskan.


"Memangnya saat ini Ibu berada dimana?" tanya Samudera penasaran.


Angkasa memejamkan kedua matanya "Aku tak dapat menembus pandanganku dimana Ibu berada. Ada kekuatan ghaib yang dipenuhi kegelapan sedang menghalangi pandangan mata bathinku" ucap Angkasa dengan nada cemas.


Samudera semakin gelisah mendengar ucapan Adiknya yang terasa semakin mengkhawatirkan keberadaan ibunya.


"Kita berdzikir saja untuk saat ini, agar membantu ibu dapat lepas dari pengaruh kegelapan itu" ucap Samudera menyarankan.


Lalu keduanya mengambil wudhu dan duduk bersilan untuk berdzikir memohon pertolongan kepada sang Rabb untuk melindungi ibu mereka dimanapun berada.


Keduanya memejamkan mata dan mulai menggulirkan bulir tasbihnya dengan bibir yang terus dirafalkan doa yang terus menerus ditujukan pada ibunya lepada sang Rabb.