
Mala mendengar kabar fitnahan yang ditujukan kepada anaknya.
Mala meninta Bayu untuk mengantarkannya kerumah dan akan melihat kondisi puteranya sejak Ia pindah dirumah diboyong oleh suami barunya.
Bayu dan Mala baru saja pulang dari berbulan madu dari luar daerah, sehingga belum sempat mengunjungi puteranya.
Bayu kembali bekerja setelah mengantarkan Mala kerumah anak sambungnya itu.
Mala mengucapkan salam dan melihat rumah sedikit berantakan. Mala melenguskan dadanya. Ia tak menyangka begitu sangat sulitnya kehidupan anaknya saat Ia tinggalkan.
"Satria.. " ucap Mala sembari mengucapkan salam dan masuk kedalam rumah, sebab Satria tak mengunci pintu depan.
Mala tak melihat Satria, Ia menduga jika mungkin Satria sedang berada didalam kamarnya.
Mala mengambil sapu dan menyapu rumah serta mengepelnya. Setelah selesai, Ia memasak bahan yang tampak membeku dilemari pendingin.
Ada daging ayam yang tampak sudah lama tidak diolah oleh Satria.
Mala membuat ayam kalasan kesukaan Satria, dan memasaknya dengan ikhlas.
Satria yang kelelahan karena semalaman terjaga memikirkan apa yang dikatakan oleh Widuri, akhirnya setelah shalat subuh di mushllah ketiduran hingga menjelang pukul 9 pagi.
Ia mencium aroma ayam goreng kalasan yang dibuat oleh orang paling dikenalnya.
"Ibu" ucapnya lirih.."Ya ampunn.. Aku sampai kelupaan suapin sarapan untuk Syafiyah" ucap Satria sembari mengusap wajahnya dan beranjak dari ranjangnya. "Bentar, Ya Sayang, Mas ambilin sarapan buat Kamu." ucap Satria saat melihat Syafiya yang menatapnya dengan lemah.
Satria beranjak keluar dari kamarnya, lalu menuju dapur.
"Ibu.." ucapnya, sembari memeluk Ibunya yang meletakkan ayam goreng kalasan yang baru saja dimasaknya diatas meja.
"Baru bangun?" tanya Mala, dengan lembut.
"Iya, Bu.. Baru pulang dari liburannya, Bu?" tanya Satria, lalu mencomot ayam goreng buatan ibunya.
Mala menganggukkan kepalanya "Iya, Pak Bayu mengajak keliling kota-kota yang belum pernah ibu kunjungi. Maaf Ibu baru sempat mengunjungimu" ucap Mala sembari membelai lembut wajah puteranya yang acak-acakan.
"Bu.. Satria mau beri sarapan buat Syafiyah dulu, ya.. Sudah kesiangan" ucap Satria kepada ibunya.
"Sudah.. Kamu mandi saja, dan sarapan, biar Ibu yang beri sarapan buat Syafiyah. Ibu gak bisa lama-lama, nanti ada yang mau ibu omongin sama kamu" ucap Mala, Lalu mengambil alih piring Satria yang akan dibawanya kekamar.
Satria menganggukkan kepalanya, lalu mengekori Mala dari belakang.
Mala menghampiri menantunya yang sedang terbaring lemah di tepi ranjang.
Mala memandang iba pada menantunya yang tampak bagaikan mayat hidup yang tak mampu melakukan apapun.
Mala menyuapi menantunya dengan sabar hingga selesai.
Setelah itu, Mala memberikan obat untuk Syafiyah dan Ia kembali kedapur.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Satria selesai juga, setelah sebelumnya memandikan Syafiyah terlebih dahulu.
Mala duduk di sofa menantikan kehadiran Puteranya.
"Bu.."ucap Satria, sembari duduk disisi Ibunya.
Mala menatapnya dengan penuh rasa prihatin yang sangat dalam. Namun Ia kini telah menjadi istri seorang pria, Ia todak bisa mengabaikan suaminya dan juga anaknya.
"Apa yang ingin mama bicarakan?" tanya Satria dengan memperbaiki posisi duduknya menghadap Ibunya.
"Mama mendengar berita tentang Kamu yang diftnah oleh asisten rumah tangga kamu.. Jadi Ibu datang kemari untuk mencari kebenaran informasi yang ibu dengar" ucap Mala dengan hati-hati.
Satria menatap sendu pada Ibunya.. "Ya.. Bahkan hampir dua kali Satria diperlakukan dua orang asisten rumah tangga yang Satria pekerjakan" ucap Satria mengenang masa itu.
Mala menatap puternya dengan begitu miris.
"Tapi, Bu.." ucap Satria ingin menyela.
"Sudahlah.. Lagian pula kan kamu yang membawa gadis itu kemari" ucap Mala mencoba memperkuat ucapannya.
Satria merasa bingung dengan jawban apa yang harus diberikan kepada Ibunya.
Sebab jika Mirna yang bekerja dirumahnya, bukannya Mirna yang oleng, tapi Satria yang bisa-bisa oleng dibuat gadis itu.
Satria tampak terdiam dan tak menjawab pertanyaan Ibunya. Ia masih memikirkan hal tersebut, sebab Ia tak ingin terjerumus kedalam kesalahan.
Mala tak ingin memaksa Satria, namun Ia hanya memberikan saran untuk puteranya.
Setelah hampir pukul tiga sore, akhirnya Bayu menjemput Mala, dan Mala berpamitan kepada Satria.
Kini Satria merasakan kesepian lagi setelah kepulangan Ibunya.
Ia tak lagi memiliki teman bicara yang dapat dijadikannya tempat berbagi.
Satria menutup pintu rumahnya dan kembali kekamar untuk melanjutkan pekerjaannya.
Ia melihat Syafiyah menatapnya. Lalu Ia menghampiri Syafiyah "Ada apa, Sayang?" tanya Satria dengan lembut.
"Mas.. Panggil saja Mirna kemari, Aku merasa nyaman dengannya.. Tak perlu Ia tidur disini, sore bisa kamu antarkan pulang"ucap Syafiyah dengan nada lirih.
Ia menyukai gadis itu saat pertama kali menyuapinya makan siang, Ia menemukan ketulusan disinar matanya.
Satria terdiam dan mencoba memikirkan perkataan Syafiyah dan juga Ibunya.
"Nanti akan Mas fikirkan" jawab Satria, mencoba berdamai dengan hatinya.
Satria beranjak dari duduknya, dan menuju meja kerjanya. Ia membuka laptopnya untuk bekerja kembali setelah tadi tertunda karena menemani Ibunya.
Sementara itu, Yanti yang baru saja selesai keguguran, itu keluar dari kamarnya dengan wajah pucat dan merasakan sangat pusing dikepalanya.
Ia menuju dapur dan mencari makanan. Selama Ia tak keluar kamar, tidka ada sedikitpun Ayah atau Ibunya yang mencoba membangunkannya, Ia bingung mengapa rumah kelihatan sunyi dan sepi.
Setelah makan dan minjm, Ia merasakan kepalanya sedikit berkurang sakit dikepalanya.
Samar-samar Ia mendengar suara deru mesin motor ayahnya yang berhenti didepan rumah.
Yanti mencoba melihat keduanya dari pintu dapur.
Tampak Ibunya membawa belanjaan yang sangat banyak dan sampai kesulitan membawanya.
Sepertinya Ibunya lagi banyak uang.
"Lumayan juga, Pak.. 30 juta uang damai. Kemarin mau dilamar cuma 10 juta saja.." ucap Ibunya yang dapat menebak jika itu adalah uang hasil damai atas kasus yang menimpanya.
Yanti menghampiri Ibunya, lalu mengomel "Mana bagianku, Bu.. Enak saja ibu yang nikmati uang itu" ucapnya dengan kesal.
Mata wanita paruh baya itu menatap tajam.. "jangan belagu, Kamu.. Lagian divedeo itu kamu juga tampak senang melakukannya" jawab Juli yang tak lain adalah Ibunya.
"Aku minta bagianku, Aku mau gugurkan janin ini" ucap Yanti dengan berbohong, sebab Ia sudah menggugurkannya.
Juli mengambil 3 juta rupiah dari dompetnya dan menyerahkannya dengan kasar kepada Yanti.."Nih.. uang hasil jual dirimu" ucap Juli kesal.
Yanti membolakan matanya tak senang, karena telah dikatain oleh ibunya telah menjual diri.
Ia mengambil uang itu dengan perasaan sangat kesal. Lalu beranjak kekamarnya.
"Sialan.. Aku yang dapat musibah, Ibu yang menikmati uangnya.." Yanti menggerutu dengan sangat kesal.
Ia berniat ingin membeli jamu untuk mengeringkan darah yang masih mengalir dari rahimnya.