
"Kalau begitu mandilah.. Bersihkan dirimu, Mirna Pasti akan senang melihatmu dapat berjalan kembali" titah Satria, lalu Ia mandi untuk yang kedua kalinya, itulah resiko jika beristri dua, maka harus tahan banting dan banting ditahan.
Setelah selesai membersihkan diri, Satria keluar dari kamar terlebih dahulu, Ia menuju meja makan karena perutnya sudah sangat lapar.
Mirna sudah menunggunya sedari tadi dan melihat kehadiran sang suami senyumnya mengembang.
Satria merasa sangat kikuk, sebab Ia tahu jika Mirna dapat menembus pandangannya apa yang baru saja Ia lakukan bersama Syafiyah, namun Mirna tampak biasa saja.
"Makanlah, Mas.. Pastinya tenaga Kamu hari ini begitu banyak terkuras" ucap Mirna dengan senyum tipis, lalu mengambil piring dan menyendokkan nasi kedalamnya.
Satria tersenyum smrik lalu mengecup ujung kepala Mirna dan duduk dikursi makan.
"Terimakasih ya, Sayang" ucap Satria lembut, lalu Ia mencomot ikan bakar dan sambal terasi yang dimasak Mirna.
Tak hanya itu, Mirna ternyata juga memasak rebus pucuk daun singkong, membuat selera Satria kian bertambah.
Tak berselang lama, Syafiyah keluar dari kamar dengan rambut basah, dqn berjalan menuju meja makan untuk makan siang.
"Wah.. Selamat ya, Mbak Fiyah.. Akhirnya sudah dapat berjalan lagi" ucap Mirna basa-basi, sebab Ia sudah mengetahui sejak lama jika Syafiyah sudah sembuh.
Syafiyah membalas dengan senyum datar "Ya.. Semua ini berkat Mas Satria yang menservice saya" jawab Syafiyah mencoba memanasi Mirna.
"Uhuuuuk.."
Satria terbatuk mendengar ucapan Syafiyah yang terkesan ingin memanasi Mirna.
Mirna dengan cepat membelai lembut punggung Satria, agar tersedaknya segera berakhir dan memberikan segelas air dan memberikannya kepada Satria.
Tampak Syafiyah berjalan menuju makan dengan menggeraikan rambut basahnya agar terlihat jika Ia baru saja bercinta.
Syafiyah merasa begitu cemburu melihat akan hal tersebut, dan bergegas menuju makan, lalu duduk disisi kiri Satria, sebab Mirna berada disisi kanan suaminya.
"Iya, Mbak.. Service Mas Satria memang luar biasa, dan saya juga menyukainya" jawab Mirna membalas ucapan Syafiyah dengan tenang, dan jawaban itu tentu menambah panas telinga Syafiyah.
Mirna tampak tak begitu perduli dengan niat Syafiyah, Ia mengambil piring dan menyodorkannya kepada Syafiyah, lalu wanita itu meraihnya dengan kasar.
Mirna meletakkan lauk yang disisihkannya, karena Ia berfikir jika Syafiyah tadinya masih betah berpura-pura lumpuh, Namun akhirnya tak tahan juga.
Wajah Syafiyah terlihat masam, namun saat menyuapkan makanan uang dimasak Mirna seketika Ia terdiam.
Ia tak dapat membohongi hatinya jika masakan Mirna benar-benar enak.
Ia melirik kearah suaminya yang tampak lahab memakan masakan Mirna hingga piringnya terlihat licin.
Satria menyudahi makannya, dan Mirna baru saja memulai makan siangnya.
Satria saat ini dapat membaca jika Syafiyah sedang dalam persaingan memperebutkan kembali cintanya, bamun Ia hanya berpura-pura tak mengetahuinya, sedangkan Mirna hanya bersikap biasa saja, sebab dengan menikahinya, Mirna sudah menjadi pemenangnya.
Tak terasa Syafiyah kini sudah menghabiskan masakan Mirna dengan sangat banyak, hingga Ia terlihat tak sanggup bangkit karena kekenyangan.
Mirna tersenyum geli melihat sikap madunya yang tampak malu-malu mengakui jika masakannya memang sangat enak.
"Mas.. Aku ingin bekerja lagi, apakah Mas bisa bantu untuk mengurusnya?" tanya Syafiyah kepada Satria.
"Bukqnkah Kamu baru saja srmbuh? Mengapa harus menuntut bekerja lagi, Mas masih sanggup untuk membiayai kehidupan kalian" jawab Satria dengan tenang.
Satria memandang istri pertamanya, Ia tahu jika Syafiyah adalah sosok pekerja dan juga keras kepala.
"Jika itu maumu, Mas akan uruskan nanti" ucap Satria dengan tenang.
Seketika wajah Syafiyah berubah sumringah dan mengecup lembut pipi Satria.
Mirna tak perduli dengan apapun yang dikatakan oleh Syafiyah, Ia membereskan piring kotor dan mencucinya, semua Ia lakukan dengan begitu ikhlas, sehingga tampak ringan apapun yang dikerjakannya.
"Ini kan masih siang, Mas.. Mungkin Mas bisa mengurusnya dari sekarang" desak Syafiyah tak sabar.
Satria menganggukkan kepalanya, dan menelefon seseorang, lalu membicarakan sesuatu.
Seorang PNS dapat cuti untuk penyembuhan dalam batas 1.5 tahun dan sudah diatur dalam undang-undang.
Sedangkan Syafiyah belum sampai 1.5 tahun sudah sembuh, Ia ingin kembali menjabat sebagai kepala puskesmas yang selama ini diwakilkan.
Dengan mengurus segala keperluan dan berkas-berkas yang dibutuhkan, akhirnya Syafiyah mulai dapat bekerja esok pagi.
Tampak Syafiyah begitu sangat girang dan bersemangat, Ia sudah tak sabar untuk kembali bekerja dan Syafiyah memasuki kamarnya untuk melihat pakaian dinasnya yang sudah lama tersimpan didalam lemari.
Mirna sudah menyelesaikan pekerjaannya, dan Ia juga sudah menata sisa makan siang dan menyimpannya didalam tuduh saji.
Bagi Mirna, nengerjakan pejerjaaan rumah dan juga melayani suaminya merupakan pekerjaan yang juga sama mulianya. Ia tidak begitu iri jikapun nantinya Syafiyah tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sebab menurutnya Ia dan Syafiyah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Melihat Syafiyah masuk kedalam kamar, Satria beranjak bangkit dari duduknya, dan menghampiri Mirna yang tampak akan beranjak kekamarnya.
Satria menarik pergelangan tangan Mirna, lalu mendekapnya dari arah belakang, memberikan cumbuan sekilas "Mas keluar sebentar, ada keperluan untuk mengurus masalah pekerjaan Syafiyah, Kamu jangan keluar rumah, sebab Rey bisa kapan saja datang" bisik Satria, sembari mengecup leher jenjang Mirna.
Mirna menganggukkan kepalanya dengan lembut, lalu mengecup lembut bibir suaminya.
Satria tersenyum smrik, lalu melepaskan pelukannya dan berpamitan untuk pergi.
Satria memandangi kepergian suaminya, ada doa yang terselip dihatinya, agar suaminya selalu dalam penjagaan sang penguasa alam.
Mirna kembali kekamarnya, namun Ia teringat belum menjemur pakain yang baru dicucinya, Ia kembali ke kamar mandi, dan membawa keranjang cucian bersih.
Tampak Syafiyah keluar dari kamarnya, Ia melihat Mirna sedang membawa keranjang berisi cucian bersih untuk dijemur, Ia memandang rendah terhadap madunya, sebab Ia seorang wanita karir dan berpendidikan, sedangkan Mirna hanya seorang wanita tanpa pendidikan dan kerjanya hanya tau seputar pekerjaan rumah tangga.
Mirna membaca isi hati sang madunya, namun Ia bersikap tak perduli, Mirna keluar dari pintu dapur dan mulai menjemur pakaian diteras belakang dapur.
Sesaat Ia merasakan desriran angin menyapa kulitnya, satu sosok wanita bergaun merah memandangnya dari arah semak belukar.
Mirna menatapnya "Nini?" gumannya lirih.
Dengan gerakan cepat Ia meletakkan keranjangnya, lalu bergegas masuk kedalam rumah dan mengunci pintu dapur saat melihat sosok itu melayang cepat hendak menghampirnya.
Degub jantung Mirna berpacu cepat dan twrasa seakan mau lepas.
"Apakah Nini sudah terbebas dari reruntuhan?" guman Mirna dalam hatinya dalam wajah gelisah.
Ia membelai lembut perutnya "Cepatlah tumbuh, Sayang.. Bunda membutuhkanmu" gumanya lirih dalam hati.