MIRNA

MIRNA
episode-269



Samudera dan Angkasa masuk ke dalam rumah tersebut dengan perlahan. Suasana gelap gulita karena pencahayaan yang tidak ada. Lampu pelita yang terbuat dari kaleng bekas susu kental manis itu sudah padam terkena hembusan angin yang sangat kencang dan juga atap seng yang tercabut telah mengguyur rumah itu hingga basah.


Langkah ke duanya mencari keberadaan Mbok Titin yang saat ini sedang terkapar karena terkena sambaran ajian Gelap Ngampar Ki Brewok yang menyambar dadanya.


Namun ke dua pocong itu tak jua hendak pergi dari tubuhnya.


Angkasa tanpa sengaja menendang tubuh kurus seseorang, dan Ia merasakan jika itu adalah tubuh Mbok Titin. Tangan Mbok Titin menangkap pergelangan kakinya, dan berusaha menariknya hingga membuat Angkasa hampir terjatuh, dan Samudera dengan cepat menangkapnya.


Kedua bocah itu melihat tubuh Mbok Titin tidak dapat bergerak, namun ke dua pocong itu berusaha untuk menariknya agar berdiri.


Angkasa dan Samudera mencoba membantu mengeluarkan dua pocong itu dari raga Mbok Titin.


Ke duanya duduk bersila dan kemudian melakukan dzikir yang biasa mereka lakukan. Seketika tubuh Mbok Titin melayang diudara berjarak 50 cm dari atas lantai kayu rumah Ki Brewok.


Kemudian tubuh itu diselimuti oleh cahaya keperekan. Tubuhnya bergetar dan berputar -putar laksana gasing. seketika ruangan yang gelap menjadi terang dan dua sosok pocong itu melesat keluar memutuskan perjanjiannya dengan Mbok Titin.


Sesaat tubuh Mbok Titin berhenti berputar dan kemudian kembali seperti semula, lalu mendarat dilantai kayu dengan aman.


Lukanya yang cukup parah tampak sedikit membaik, dannm Ia terbatuk dengan memuntahkan darah kental berwarna merah kehitaman.


Samudera dan Angkasa mencoba membantunya dengan menarik tubuh Mbok Titin agar duduk.


Lalu Mbok Titin dengan susah payah berusaha untuk duduk dan muntahan darahnya semakin banyak.


"Mbok.. Baca doa, mohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah" ucap Samudera mengingatkan.


"Siapa kalian?!" tanya Mbok Titi dalam kegelapan saat tak dapat melihat wajah ke dua bocah itu karena hari yang menggelap.


"Kami Angkasa dan juga Samudera, Mbok jangan takut, kami akan membawa Mbok pulang ke rumah" ucap Angkasa menjelaskan.


"Ka-kalian?" tanya Mbok Titin tergagap.


Ia tidak menduga jika keduanya masih teringat untuk menolongnya meskipun Ia sudah melakukan kesalahan. "Mengapa Kalian menolongku?" ucapnya lirih penuh rasa penyesalan.


"Karena kami tidak ingin Mbok tersesat terlalu jauh" jawab Samudera.


"Ayo, Mbok, Kita pulang" titah Angkasa yang membanti Mbok Titin untuk bangkit. Wanita berusia 50 tahun itu berusaha untuk bangkiti dengan dibantu dan di papah oleh Samudera dan Angkasa.


Saat mereka akan meninggalkan rumah Ki Brewok, terdengar suara seirang pria dewasa yang merintih menyebut-nyebut nama seorang wanita.


"Rina.. Rina.. Dimana kamu?" ucapnya dengan kata yang begitu menyayat hati menahan kerinduan.


Angkasa menghentikan langkahnya. "Kak.. Bawa Mbok Titin ke motor, Aku mau lihat dulu siapa yang ada didalam dikamar ini" ucap Angkasa.


Samudera menjawa anggukan dan berjalan tertatih membawa Mbok Titin turun dari lantai rumah kayu Ki Brewok yang basah terkena hujan.


Angkasa mendobrak pintu kamar tersebut. dalam kegelapan Ia melihat seorangbpria dewasa sedang meringkuk disudut kamar dengan kaki dirantai.


Ternyata Ia mengalami depresi karena wanita bernama Rina telah pergi meninggalkannya sebab dahulu Nini Maru dan Yanti mengambilnya untuk meminjam raganya. Sedangkan Mirna Ibu mereka menyelamatkan Rina dan mengembalikan Rina ke rumah orangtuanya setelah terbebas dari ikatan Nini Maru dan Yanti.


Angkasa menghampirinya, lalu mencoba menyadarkannya, dan memberikan perobatan sehingga membuat pria tersadar.


"Dimana Aku? Tanya pria itu kebingungan dalam gelap.


"Si-siapa, Kamu" tanyanya dengan penasaran.


"Tidak perlu tau. Saya hanya ingin mengingatkan, pergilah ke samping rumah, dan selesaikan fardhu kifayah ayah kamu, Kak" ucap Angkasa lalu melangkah pergi.


Angkasa menyusul Samudera yang sedang memapah Mbok Titin yang sedang sekarat. Sesaatbdua bayangan melesat menghadangnya. Ternyata itu adalah dua pocong yang merasa tidak suka jika mereka diputuskan ikatannya begitu saja dengan Mbok Titin.


Kedua pocong itu membuat perjanjian penggadaian jiwa dengan Mbok Titin hingga akhir hayat dan Mbok Titi sydah menyanggupinya.


Seketika duo Pocong itu menyerang Angkasa dengan tiba-tiba yang membuat Angkasa tersentak kaget.


Aroma busuk dan wajah menyeramkan yang menghitam itu terkena terpaan cahaya rembulan yang kembali bersinar setelah tadi tertutup awan hitam karena kaehadiran Nini Maru.


Pocong itu melompat dengan cepat dan meyerang Angkasa.


Dengan sigap Angkasa mundur kebelakang, lalu melompat dengan cepat dan memberikan tendangan kepada kedua pocong yang menyerangnya dan membuat pocong itu bergulingan jatuh ditanah yang basah.


Angkasa mengejar Mbok Titin dan Samudera. Saat jarak merrka sudah dekat. Angkasa meraih tas sandang Mbok Titin yang selalu dipakainya ke mana-mana.


"Mbok.. Berikan dua tali pocong yang Mbok ambil waktu itu" pinta Angkasa.


Mbok Titin tercengang. Ia masih ragu sebab jika diberukannya, maka kantinnya akan kembali sepi.


"Kantin saya akan sepi kembali jika saya berikan ini kepada Kamu" tolak Mbok Titin dengan cepat.


Angkasa membolakan matanya "Kami sudah memutuskan hubungan pegadaian Jiwa Mbok dengan dua pocong itu, maka kantin mbok sekarang tergantung kualitas dari rasanya dan rezeki dari Allah itu sudah tertakar dan tidak akan tertukar" jawb Angkasa.


Namun Mbok Titin masih keukeh dengan pendiriannya. Samudera yangvsedang memapah tubuhnya tiba"tiba merampas tas Mbok Titin yang masih bersikap keras kepala, sedang dua pocong itu masih bergulat dengan tanah kotor, lalu melompat dan kembali tegak, seketika keduanya melompat, dan safu lompatannya sudah mengahmpiri mereka bertiga.


"Mbok Titin mencoba mempertahankan tas dan tali pocong yang Iabm simpan didalam tas itu.


Seketika Samudera melepaskan papahannya dan membuat Mbok Titin terjatuh tersungkur. "Buruan Mbok, serahkan tali itu pinta Angkasa.


Dua pocong kembali menyerangnya dan Angkasa terlibat pertarungan dengan dua pocong yang meminta talinya untuk dikembalikan.


Samudera mencoba memaksa Mbok Titin yang bersikap keras kepala dengan terus mempertahankan tas-nya.


Dua pocong menyemburkan air liurnya yang sangat bau kepada Angkasa, dan dengan cepat Angkasa menghindarinya, dan akhirnya semburan air liur itu mengenai wajah Mbok Titin. Seketika aroma bau itu melekat pada wajah dan tubuh Mbok Titin.


Aroma busuk yang menjijikkan itu membuat Mbok Titin Mual, dan kesempatan itu digunakan Samudera untuk menarik tas tersebut hingga terputus talinya dan memeriksa benda yang diingikan oleh dua pocong itu. Setelah mendapatkannya, Samudera melemparkannya dengan tepat kepada Angkasa.


Angkasa melompat menangkapnya dan pocong itu kembali menyemburkan air liurnya yang sangat berbau busuk itu.


Dengan cepat Angkasa melayangkan tendengannya kepada ke dua pocong hingga bertelungkup ke tanah basah yang terguyur oleh hujan.


Dengan sigap Angkasa mengikat kembali tali kepada kedua pocong itu.


"Pergilah.. Kau sudah kembali kepada fitrahmu.." ucap Angkasa lalu meraih tasbihnya dan merafalkan dzikir untuk mengembalikan pocong yang dimanafaatkan dan dipuja tersebut kembali ke asalnya.


Lalu dua pocong itu melesat bangkit dan kembali ke tempat yang selayaknya.