MIRNA

MIRNA
episode-262



Tepat pukul 12 malam pemakaman Lulu terpaksa dilakukan karena jasadnya sudah tak lagi dapat dimalamkan karena sangat membusuk.


Angin kencang mulai bertiup dan membuat para penandu jenazah merasa sangat kesulitan untuk membawa sampai ke area pemakaman. Dukun yang memperlihatkan keberadaan Lulu dan juga Fery yang berada dirumah Nek Surti merasakan aura negatif yang sangat kental dirumah kosong tersebut.


Warga membaca doa keselamatan untuk mereka yang sedan berusaha membawa tandu keranda jenazah Lulu.


Saat melintasi rumah Nek Surti, dukun itu melihat jika Rey berada diatas bubungan rumah, dan ketiga iblis lainnya ada didalam rumah tersebut dan mereka adalah pelaku dari tewasnya dua remaja tersebut.


Dengan merasa mampu mengalahkannya, Dukun itu menyelinap dari rombongan dan menuju ke rumah Nek Surti sendirian. Ia merasa jika ke empat iblis itu adalah biang dari segala masalah di desa ini.


Dengan penuh keyakinan, Dukun itu masuk kedalam rumah sendirian. Aroma busuk dari jasad Fery dan Lulu masih tercium jelas bercampur aroma kembang kenanga juga aroma kabel terbakar.


Nini Maru, Ki Genderuwo, dan Ki Kliwon menatap pada dukun tersebut yang kini menantang mereka.


Dukun itu mengeluarkan sebilah keris berkepala naga dan menantang kepada ketiganya. Rey uang menyadari ada tamu tak diundang, ikut datang meramaikannya.


Dukun itu duduk bersila, mengeluarkan beberapa alat untuk membakar dupa dan kemenyan. Ia mengolesi batang kerisnya dengan menggunakan minyak duyung yang beraroma menyengat, lalu asap dari pembakaran dupa dan juga kemenyan menyeruak dengan begitu menyengat, lalu dukun itu mengasapi kerisnya sembari membaca mantra.


Sementara para penandu jenazah sudah tiba dipemakaman dan akan memakamkan jasad Lulu yang sudah sangat bau sekali.


Sang dukun terus merafalkan mantra kegelapan dan untuk membuat rumah gubuk reot itu bergetar seakan hendak roboh karena suatu kekuatan ghaib yang sangat dahsyat.


Angin masih bertiup sangat kencang dan pemakaman sudah selesai.


Lalu hujan turun mengguyur dengan sangat deras dan sambaran petir diiringi kilatan halilintar yang meyambar membuat warga yang mengantarkan jenazah Lulu berhamburan untuk segera pulang.


Saat para warga melintasi rumah Nek Surti, tampak sebuah kilatan cahaya halilintar menerobos masuk kesalam rumah tersebut dan suara ledakan yang sangat dahsyat terdengar sangat mengerikan dan diiringi sebuah teriakan yang sangat menyakitkan.


Duuuuuuuaaaaarrr...


Suara ledakan itu kembali terdengar dan diiringi teriakan yang sangat kuat dan semakin lama semakin melemah.


Warga yang penasaran mencoba melihat ke dalam rumah Nek Surti meskipun mereka sangat menggigil kedinginan.


Berbekal Senter yang mereka pegang, mereka mencoba menerobos masuk, dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat sosok Mbah Dukun yang tadi bersama mereka telah tersangkut ditiang rumah Nek Surti yang berbahan kayu rapuh dengan tubuh tertancap pada sebuah paku berkarat yang ada ditiang tersebut.


Wajah dukun itu hangus tersambar petir, dan dari mulutnya mengeluarkan darah kental, Ia berkelejotan bagaikan ayam yang disembelih dengan luka parah dibagian perutnya yang mana sebulah keris tertancap diperut dengan usus terburai.


Seketika terperangah dan berlari ketakutan dengan teriakan yang menggema.


Dibawah hujan yang deras, mereka melarikan diri kocar-kacir menuju rumah mereka.


Sementara itu Nini Maru dan juga rekan-rekannya berpesta pora menikmati darah sang dukun yang menyembur keluar dari lukanya. Sedangkan Rey seperti biasanya, mendapatkan bagian lato-lato dari sang dukun.


Ki Kliwon adalah yang paling rakus dalam menyesap darah tersebut.


Warga yang menggigil ketakutan disertai kedinginan meringkuk dirumah masing-masing dengan ketakutan.


Pagi harinya, warga yang penasaran kembali mendatangi rumah Nek Surti yang menjadi saksi tewasnya Lulu dan Fery serta dukun yang menemukan jasad kedua remaja itu dan kini menjadi korban juga.


Saat mereka memeriksa jasad si dukun, darah tampak mengering, namun kondisinya sangat mengenaskan. Mereka menghubungi polisi untuk mengevakuasi jasad duukun yang tersangkut ditiang itu.


Saat polisi datang, warga menyingkir dari lokasi, dan rumah itu dipasang police line dan warga tidak diijinkan untuk masuk.


Saat polisi ingin mengevakuasi jasad Mbah Dukun, lagi-lagi mereka tercengang dengan jasad yang kehilangan lato-latonya dan ini susah berpuluh kali sehingg polisi seakan sudah terbiasa dengan kasus tersebut, namun tak dapat dipecahkan siapa pelakunya.


Polisi menurunkan jasad tersebut dengan usus terburai dan sebuah keris tertancap di perut dukun tersebut. Dan jika dilihat dari tangan sang dukun yang menggenggam keris itu, tampaknya dukun itu sendiri yang merobek perutnya, namun atas tekanan siapa masih sangat misteri.


Jasad itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah dan sangat tampak wajah hangus sang dukun yang tersambar petir dengan kedua mata yang hampir lepas.


Sementara itu, Nini Maru dan rekan-rekannya menatap jasad dukun tersebut dengan tatapan puas.


Sebab mereka merasa dapat mengalahkan dukun itu dengan mudahnya karena sudah berani menantang mereka.


Mereka adalah 4 sekawan penguasa kegelapan, maka jika ada sosok kegelapan yang mencoba mengusik mereka, maka harus menerima akibatnya. Mereka tak terkalahkan jika hanya berhadapan dengan sesama mereka.


Setelah warga diinterogasi, ternyata dukun itu menemukan kedua remaja yang waktu itu dinyatakan hilang dan ditemukan tak bernyawa dirumah itu.


Namun karena kondisi jasad sudah membusuk dan keluarga tak ingin melaporkannya ke pihak berwajib, maka kasusnya dibiarkan begitu saja.


Warga akhirnya kembali dihebohkan dengan kasus yang sudah lama tidak terjadi kini terulang lagi, dan warga kembali dhantui rasa ketakutan yang kembali mengusik ketenangan mereka dengan tewasnya dukun yang terkenal dengan kesaktiannya itu.


"Siapa sebenarnya pemberi teror didesa kita ini? Mengapa mereka memberikan rasa takut yang mencekam pada warga?" ucap Didi yang ikut menyaksikan jasad dukun itu tersangkut ditiang rumah tersebut.


"Apakah ada sebuah kutukan untuk sebuah keturunan? Namun imbasnya kepada warga?" Dino menimpali ucapan Didi.


"Namun jika sebuah kutukan, mengapa hanya yang berbuat maksiat saja yang mereka incar?" Didi mencoba menganalisanya.


"Iya juga, Ya.. Aneh.!!" jawab Dino dengan memasang wajah penasaran.


Didi merasakan jika aura rumah Nek Surti sangatlah menyeramkan dan penuh kegelapan.


"Rumah ini penuh dengan aura kegelapan, apa sebaiknya kita bakar saja?" Didi mencoba menyarankan kepada warga yang masih berkumpul.


"Tetapi polisi sedang menyelidiki kasus tentang pembunuhan dukun itu" warga lain menimpali.


"Halllah.. Gak bakal terungkap juga siapa pelakunya" balas yang lainnya, sebab sudah hampir berpuluh kali terjadi kasus yang sama, namun tak juga ditemukan siapa pemakunya, bahkan polisi sudah menggunakan 2 dukun sakti, tetapi dukun itu yang tewas.


"Ya sudah, kita bakar saja rumah ini" jawab yang lainya.


Mendengar tempat tinggal mereka akan dibakar, maka Nini Maru dan ketiga rekannya ngacir menyelamatkan diri.