MIRNA

MIRNA
episode-264



Bel berbunyi.. Tanda pelajaran telah berakhir. semua siswa bergegas untuk pulang, tak terkecuali Angkasa dan Samudera.


Keduanya menuju parkiran dan mereka tidak langsung pulang, tetapi menunggu suasana sepi, sepertinya keduanya sedang merencanakan sesuatu.


Setelah merasa aman, mereka menuju ke kantin sekolah. Suasana sudah sepi, tetapi mbok Titin masih dikantin dan sedang menghitung uang pendapatannya hari ini.


Angkasa dan Samudera memilih duduk dikursi kosong yang ada dikantin ke tiga dan tepatnya mereka sedikit merundukkan kepala agar tidak terlihat oleh Mbok Titin, Kemudian memperhatikan sekitarnya.


Sesaat mereka tersentak saat melihat anak Mbok Titin yang berusia 15 tahun kekuar dari ruangan rahassia yang ada dikantin itu dengan wajah pucat, tatapan nanar dan juga kulit yang menghitam.


Didalalam tubuh anak Mbok Titin bersarang pocong yang dijadikan pesugihan oleh Mbok Titin. Ternyata Mbok Titin menumbalkan anak perempuannya sebagai syarat untuk menjadi kaya.


Tubuh anak Mbok Titin yang kini masih bersekolah di SMP itu tampak layu karena diserap oleh pocong yang mendiami raganya.


Angkasa dan Sanudera merasa iba dan berharap bisa menyelamatkan anak perempuan tersebut.


Sesaat Mbok Titin menyadari jika anaknya keluar dari kamar rahasia itu dengan sendirinya.


"Heeei.. Kenapa kamu keluar tanpa perintah dari ibu, Masuk.!!" sergah Mbok Titin dengan dengan penuh amarah dan rasa jengkel.


Tampak Mbok Titin mendorong paksa anak perempuan itu dan menguncinya dari luar.


Mbok Titin sudah selesai menghitung uangnya dan bersiap untuk pulang. Tampak satu dompetnya berukuran besar penuh dengan uang hasil berdagangnya. Didalam sekolah, ada tiga kantin yang saling bersaing. Namun hanya kantin Mbok Titin yang paling ramai dan dagangannya selalu habis terjual tanpa sisa.


Kemudian Mbok Titin mengambil makan dan minum dan memasukkannya ke dalam kamar yang tampak gelap dan tidak ada pencahayaannya.


Setelah memasukkan makanan dan minuman yang diperkirakan untuk makan malam, kemudian Mbok Titin menguncinya dan menggemboknya dari luar yang mana anaknya sedang ada didalam kamar itu sendirian.


Mbok Titin celingukan dan memastikan tidak ada orang yang melihatnya, lalu bergegas pergi meninggalkan kantin dan menuju pulang ke rumahnya.


Motor yang sudah terparkir di depan kantinnya segera Ia lajukan menuju pintu pagar untuk segera pulang.


Setelah memastikan jika Mbok Titin sudah pergi. Angkasa dan juga Samudera bergegas menghampiri kantin Mbok Titin dan mencoba mencari cara membuka pintu kamar tersebut.


Angkasa menemukan batu gilingan dan akan menghantam gembok tersebut agar terlepas.


Namun Samudera mencegahnya, dan menahan Angkasa untuk tidak melakukannya.


Kita lakukan malam hari saja. Sebab jika siang hari akan banyak yang merasa curiga dan mengira kita pencuri" ucap Samudera.


Angkasa menganggukkan kepalanya dan menyetujui usulan dari sang kakak. Lalu mereka bergegas pulang.


Sementara itu, remaja puteri itu tampak begitu sangat gelisah, merintih bagaikan orang merasakan kesakitan dan tidak ada satupun yang mendengar penderitaannya sebab ruangan itu kedap suara.


Saat melintasi desa sebelah. Tampak keramaian orang sedang pulamg dari area pemakaman dan terdengar selentingan bahwa makam Fery dan Lulu yang baru beberapa hari yang lalu dibuka sudah terbongkar dan hilang tali pocongnya.


Warga berghibah jika itu adalah pelaku pesugihan yang memanfaatkan tali pocong itu untuk sebagai salah satu syaratnya.


Angkasa berbisik kepada Kakaknya "Sepertinya itu adalah perbuatan Mbok Titin. Sebab warungnya mendadak ramai dalam 2 hari ini" ucap Angkasa.


"Ya.. Sepertinya Mbok Titin ingin kaya dengan cara instan, namun menumbalkan anaknya, sungguh perbuatan keji dan mungkar" Samudera menimpali.


Lalu Samudera melajukan motornya agar segera sampai dirumah. Sebab jarak sekolah mereka dari rumah lumayan jauh, maklumlah, karena mereka tinggal didesa


Setelah sampai dirumah, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore dan mereka bergegas mandi lalu menuju meja makan sebab siang tadi tidak sempat makan karena makanan mereka yang berubah menjadi belatung dan cacing tanah.


Setelah menyantab makanannya, mereka duduk di teras sembari menunggu adzan berkumandang.


"Ibu dan Ayah kemana, Ya? Kenapa tidak ada dirumah dan rumah tampak sepi" ucap Samudera.


"Sepertinya sedang berbelanja" jawab Angkasa.


Tak berselang lama, Suara adzan Maghrib berkumandang dan keduanya bergegas untuk shalat berjamaah dan berjalan menuju Mushallah.


Mereka melaksanakan shalat Maghrib berjamaah dan menunggu sampai Isya sembari mengajari para bocil mengaji menggunakan metode Iqra.


Setelah selesai shalat Isya berjamaah, keduanya kembali pulang dan mendapati Ayah dan Ibunya juga belum kembali. Entah dimana kedua orangtuanya, namun mereka teringat akan rencana mereka malam ini dan mempersiapkan segala sesuatunya.


Keduanya membawa motor dan kembali ke sekolah, namun melalui jalan belakang.


Keduanya mengendap-endap memasuki area sekolah dengan sangat hati-hati dan menyelinap ke kantin.


Sesampainya dikantin Mbok Titin, Angkasa masih mengingat dimana Ia meletakkan batu gilingan sore tadi.


Lalu Ia mencoba menghantam gembok tersebut dengan batu gilingan yang dipegangnya dan terdengar suara nyaring terdengar dari benturan dari dua benda yang saling beradu.


Traaaaak..


Gembok terbuka. Kemudian Angkasa membuka gembok dan mendorong pintu dengan sangat perlahan.


Suasana gelap dan begitu mencekam. Aroma busuk menyeruak dari dalam ruangan tersebut. Dan didalam kegelapan itu, Angkasa dan Samudera melihat puteri Mbok Titin yang tampak seperti orang linglung itu duduk meringkuk disudut ruangan.


Angkasa dan Samudera menghampirinya, lalu dengan sigap keduanya mengikat kedua tangan remaja itu ke belakang dan menyumpal mulutnya dengan kain, lalu membawa puteri Mbok Titin pergi dari kantin dan menuju pulang ke rumah.


Keduanya membawa puteri Mbok Titin dari belakang sekolah dan melajukan motornya menembus kegelapan malam.


Tubuh gadis itu tampak menggeliat dan meronta untuk dilepaskan, sebab didalam raganya bersemayam pocong Lulu dan Fery yang sedang dipuja oleh Mbok Titin.


Sesampainya dirumah. Keduanya bergegas membawa masuk tubuh gadis itu kedalam rumah dan meletakkannya ditempat ruangan dan ambal tebal yang biasa digunakan oleh Ayah dan Ibunya untuk menyembuhkan para korban yang akan diselamatkan.


Entah bagaimana tiba-tiba Satria dan Mirna sudah berada dirumah dan kedua bocah itu meminta kepada ayah dan ibunya untuk membantu mereka menyelamatkan bocah remaja puteri itu yang kini nyawanya dalam keadaan digadaikan oleh Ibunya sendiri demi sebuah kekayaaan semata dengan cara sesat.


Satria melihat tubuh gadis itu sangat memperihatikan dan dengan cepat mereka berempat berwudhu untuk melakukan ritual penyembuhan, sedangkan ditempat lain Mbok Titin juga melakukan ritual untuk memberiakn sesaji penyerapan sari tubuh puterinya kepada dua pocong yang sedang dipujanya.


Satria bersama Mirna dan juga Angkasa serta Samudera segera duduk bersila, memejamkan mata mereka dan mulai berkonsentrasi dengan menggulirkan tasbih mereka untuk memberikan pertolongan kepada remaja puteri itu.


Sedangkan dirumah Mbok Titin sedang melakukan ritual mengelilingi sumur dibelakang rumahnya dengan tanpa sehelai benangpun sebagai syarat ritual penggadaian jiwa anaknya.