MIRNA

MIRNA
episode-283



Sesampainya diparkiran sekolah. Tasya tampak lemah, wajahnya memucat.


"Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Angkasa memastikan.


Tasya menganggukkan kepalanya, namun kepalanya terasa sangat berat. Tasya berjalan terlebih dahulu menuju kelasnya, sedangkan Angkasa dan Samudera masih berada diparkiran.


"Dik.. Kamu tahu dari mana kalau Tasya sedang hamidun?" tanya Samudera penasaran.


Angkasa menatap sang kakak "Kakak mau melihat hal ghaib,Gak? Tetapi kakak harus menguatkan mental!" ucapnya menawarkan.


Samudera mengerutkan keningnya "Maksud kamu?" tanya Samudera penasaran.


"Aku bisa membantu kakak membuka mata bathin untuk dapat melihat hal ghaib, tetapi kakak harus siap mental untuk melihat semuanya!" Angkasa menjelaskan.


Samudera tampak berfikir, namun Ia juga penasaran.


"Begini saja, kakak pegang jemariku, dan lldan tutup kedua mata kakak, lalu ketika aku mengatakan buka, maka kakak buka," titah Angkasa.


Lalu Samudera mengikutinya, Ia menutup ke dua matanya, lalu saat mendengar Angkasa memintanya membuka mata, maka Samudera membukanya.


"Haah!!" Samudera tersentak kaget saat melihat parkiran yang mana tempat mereka berada kini berubah menjadi sebuah perkampungan yang aneh.


Dimana para penghuninya adalah jenis makhluk ghaib yang semuanya memiliki bentuk dan wajah yang sangat mengerikan.


"haaah!!" Samudera kembali tersentak saat melihat berbagai penanmpakan tentang para makhluk astral yang berseliweran dimana-mana dan menatapnya dengan pandangan yang tidak bersahabat dan ada juga yang merasa acuh tak acuh, dan sebagian bersikap ramah.


Saat Ia memandang ke halaman sekolah, Ia melihat Tasya yang sudah hampir memasuki kelas dan melihat ada sosok makhluk hidup yang sedang bersemayam didalam rahimnya.


Ternyata Ia mengerti jika Angkasa dapat menebak kalau Tasya sedang mengandung melalaui mata bathinnya.


Sesaat Ia menatap pada Angkasa, dan Angkasa melepaskan genggam jemarinya dan meminta Samudera menutup kembali matanya, dan saat Angkasa mengatakan 'Buka' maka Samudera membuka matanya. Dan kini Ia melihat kembali parkiran yang sebenarnya.


"Bagaimana? Kakak siap untuk melihat?" tantang Angkasa.


Samudera tampak diam. Ia merasa ambigu. Antara ingin memiliki penglihatan mata bathin dan juga resikonya. Sebab tentunya Ia akan dapat melihat segala bentuk makhluk astral kapanpun dan dimanapun.


Namun Ia juga ingin dapat melihat dunia lain agar dapat mencapai tujuannya. Ia sudah menyiapkan mentalnya dan juga resikonya.


"Kakak Mau dan siap! Apakah kamu bisa membukanya sekarang?" Ucap Samudera dengan yakin.


"Baiklah, ayo kita mulai!" ucap Angkasa. Lalu keduanya pergi kebelakang sekolah.


Keduanya menuju sebuah tempat yang tidak terlihat oleh siapapun.


Mereka duduk bersila dan saling berhadapan.


"Pejamkan mata kakak dan ikuti doa yang akan saya bacakan! Apakah kakak Faham?" ucap Angkasa.


Samudera menganggukkan kepalanya. kemudian Angkasa memulai membacakan doa yang harus dibaca oleh Kakaknya.


"Bismillahi rokhmatal ghoiba wassamawati wal ardhi, allahumma juz ‘alaikal bashor” ucap Angkasa sembari mendengarkan lafaz yang dibaca oleh Samudera apakah sudah benar atau belum.


Setelah Samudera merafalkan doa tersebut sebanyak 3 kali, maka Angkasa meminta Samudera membaca surah Al-ikhlas sebanyak 100x. ( Bagi yang membacanya apalagi mengamalkannya, author tidak bertanggung jawab jika sampai mata bathin para reader terbuka dan menangis karena melihat banyak makhluk astral yang berbagai rupa dan bentuk!).


Namun aksi mereka terhenti saat Samudera membaca surah Al-ikhlas yang masih berjalan 50x karena bel berbunyi dan tanda masuk untuk ujian terakhir mereka hari ini.


Namun samudera merasakan jika Ia dapat melihat bayangan samar dari makhluk-makhluk yang berseliweran dan Ia sudah menyiapkan mentalnya.


Keduanya bergegas pergi untuk menuju kelas dan setengah berlari memasuki kelas.


Tak berselang lama, para guru bidang study memasuki kelas masing-masing dan memberikan soal materi ujian tertulis dengan waktu yang telah ditentukan dan siswa harus dapat menyelesaikannya.


Pukul 12 siang, para Siswa membubarkan diri dan kini mereka telah usai melaksanakan seluruh materi ajar dan esok adalah hari senggang untuk bersantai.


Sesaat terjadi kehebohan dihalaman sekolah. Sebab Tasya tiba-tiba jatuh pingsan saat akan menuju parkiran.


Para siswa seketika berkerumun dan juga para guru untuk memberikan pertolongan kepada Tasya.


Mereka membawa Tasya ke ruangan guru dan menelefon ambulance.


Wajah Tasya tampak pucat, dan yang mengejutkan, dari area organ inti Tasya mengalir darah segar dan tampak jelasnya seperti pendarahan.


Para guru panik dan mereka menduga-duga jika Tasya mengalami keguguran, sebab mereka masih mengingat kasus Tasya yang di rudal oleh Baron yang merupakan siswa disekolah yang sama dan kini sedang mendekam ditahanan karena telah dilaporkan oleh orantua Tasya dalam kasus pelecehan.


Samudera dan Angkasa ikut membelah kerumunan siswa dan guru yang memenuhi ruangan guru dan alangkah terkejutnya kedua bocah tersebut saat melihat sosok Nini Maru adalah sosok dibalik terjadinya pendarahan pada Tasya.


Dalam pandangan Samudera yang masih samar. Ia melihat jika Nini Maru ikut didalam kerumunan. Ia berusaha ingin menerobos organ inti Tasya untuk mengambil paksa janin tersebut.


Sesaat terdengar suara sirene mobil ambulance yang mengaung dan berhenti didepan halaman sekolah.


Lalu tampak perawat membawa tandu untuk meletakkan tubuh Tasya dan membawanya ke dalam Ambulance.


Sedangkan Samudera yang menarik rambut Nini Maru keluar dari kerumunan harus mendapatkan cakaran dari kuku runcing iblis tersebut dan dengan terpaksa Ia melepaskan cengkramannya dan iblis itu berhasil melarikan diri.


Samudera mencoba mengejarnya dan diikuti oleh Angkasa. tampak Tasya sudah dimasukkan kedalam mobil ambulance, sedangkan Nini Maru naik diatas atap mobil ambulance, dan tampak mobil ambulance sudah mulai bergerak meninggalkan halaman sekolah.


Angkasa mengambil motornya diparkiran dan berusaha mengejar mobil Ambulance dan Samudera melompat diboncengan.


Meskipun banyak sisiwa yang merasa aneh dengan sikap keduanya, namun mereka mengira jika kedua bocah itu ingin pulang karena saat ini sudah jam pulang sekolah dengan berakhirnya ujian.


Samudera dapat meliihat jelas bagaimana Tasya merasakan sakit yang luar biasa saat janin itu mengalami kontraksi.


Samudera terus membacakan anian segoro geninya meskipun belum sempurnah dan tanpa diduga, Nini Maru menyelinap masuk ke dalam mobil ambulance yang melaju kencang dan tanpa hambatan sehingga membuat Angkasa dan juga Samudera kehilangan jejak ambulance.


Ternyata didalam ambulance itu sudah terdapat Ki Genderuwo dan juga Ki Kliwon yang mengendalikan mobil ambulance tersebut dengan mempengaruhi para sopir dan juga perawat.


Lalu Nink Maru menghampiri Tasya yang masih tak sadarkan diri dan menuju area organ inti miliki Tasya, lalu masuk kedalamnya, dan menendendang janin yang masih berusaha untuk bertahan hidup didalam rahim sang ibu.


Namun sosok itu membuatnya harus pasrah pada takdir yang memisahkannya dari ibunya. Janin yang mendapatkan tendengan dari Nini Maru akhinya menyerah dan Ia terlepas hingga akhirnya berpisah dari ibunya.


Janin yang masih segumpal darah membeku itu akhinya meluncur juga dan Nini Maru dengan cepat meyambutnya dan menguyahnya.


Sedangkan Ki Kliwon yang membutuh darah segera menyesap darah yang mengalir dari jalan lahir Tasya hingga tak tersisa.


Sedangkan Ki Genderuwo hanya mendapatkan sisa untuk menggauli Tasya yang sudah tidak lagi sadarkan diri.


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, akhirnya ke tiga iblis itu melesat pergi tanpa ada yang menyadarinya.


Kedua orangtua Tasya yamg mendapat kabar anaknya mengalami pendarahan bergegas menuju ke puskemas. Saat kedua sampai dipuskesmas, mobil ambulance juga tiba dan membawa Tasya ke ruangan UGD.


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan. Tasya dinyatakan mengandung dari uji tespack. Namun yang membingungkan, janinnya sudah tidak lagi ditemukan dan jika melihat kondisinya, sepertinya janin Tasya sudah meluncur keluar sejak berada didalam perjalanan.


Namun saat mereka mencoba menyisir mobil ambulance, tidak ada ditemukan tanda-tanda segumpal daging merah tersebut, dan ini sangat membingungkan.


Tasya masih mendapatkan perawatan intensif dan kini Ia mulai sadar setelah jarum infusnya terpasang.


Sementara itu, Angaksa dan juga Samudera merasa lemas saat mengetahui jika ketiga iblis sudah berhasil mendapatakan janin Tasya dan mereka merasa menjadi pemenangnya.


Keduanya segera memacu kendaraannya pulang. Lalu mereka segera melakukan shalat Dzuhur dan terus membacakan ajian segoro geni untuk meyempurnakannya karena hari ini terakhir mereka melakukan ritual lelaku puasa.


Disisi lain, Samudera juga sedang meneruskan ritual membuka mata bathinnya untuk dapat membuka tabir dari sesuatu yang sedang ditujunya.


Safak menggantung dilangit senja. Waktu Maghrib hampir tiba dan mereka sebentar lagi akan berbuka puasa.


Saat terdengar suara lantunan adzan Maghrib, mereka memakan nasi putih dan meminum air putih untuk berbukanya.


Lalu kini sudah genap mereka melakukan laku puasanya dan mereka bergegas untuk shalat Maghrib dan kembali berdzikir untuk melakukan perafalan mantra tersebut agar lebih meresap dan menyatu ketubuh mereka.


Menjelang tengah malam, Angkasa meras mengantuk dan tertidur. Sedangkan Samudera sepertinya masih terus merafalkan ajian tersebut.


Samudera berhasil membuka mata bathinnya dengan sempurnah setelah usahanya membaca surah al-ikhlas hingga mencapai 1000x.


Ia mencoba mennggunakan mata bathimya melihat apa yang seharusnya Ia lihat. Ia dikejutkan oleh penampakan tersebut, dan Ia tak menduga jika itu begitu sangat mengerikan.


Subuh menjelang. Angkasa terbangun dari tidurnya. Ia tak melihat Samudera sang kakak berada dikamar. Ia menduga Samudera mungkin sudah pergi ke mushallah.


Angkasa beranjak dari ranjangnya, lalu menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah itu Ia berangkat ke Mushallah. Ada perasaan yang tidak nyaman saat Ia melangkahkan kakinya ke Mushallah.


Sesampainya di Mushalllah, Ia tak menemukan Samudera sang kakak. Perlahan Ia mulai merasakan firasatnya yang menyatakan sesuatu tentang kakaknya.


Setelah selesai shalat berjamaah, Angkasa setengah berlari menuju pulang ke rumah. seaampainya didalam rumah. Ia menggedor pintu kamar Ayahnya.


"Ayah.. Ayah.. Bukalah pintu!" teriak Angkasa dengan nafas tersengal.


Satria membuka pintu kamarnya dan tampak Ia masih menggunakan pakaian shalatnya.


"Ada Apa?" tanya Satria mencoba bersikap tenang.


"Kak Samudera.. Kak Samudera menghilang!!" ucap Angkasa menjelaskan dengan nafasnya yang tersengal.


Seketika Satria tersentak kaget dan Ia memejamkan kedua matanya "Samudera!" gumannya lirih, saat mengetahui dimana keberadaan Samudera.