MIRNA

MIRNA
episode 101



Satria mengemudikan mobilnya membelah jalanan menuju kota. Ia harus terpaksa meninggalkan kedua istrinya selama seminggu karena ada urusan pekerjaan.


Mirna memandang jalanan dimana tadi Ia melepas kepergian Satria. Ia kembali masuk kedalam rumah, membersihkan rumah dan juga melaundry serta juga menyiapkan makan siang dan juga makan malam.


Tepat menjelang senja, Syafiyah baru pulang dari bekerja, wajah lelah tampak menggelayutinya.


Ia melihat Mirna sedang melintas kedapur, Ia mengerutkan keningnya "Mengapa jam segini Ia belum juga pulang?" guman Syafiyah dengan lirih.


Syafiyah menghampiri Mirna yang tampak menata makan malam diatas meja makan.


"Eheem.." Syafiyah mendehem kepada Mirna, sang madunya.


Mirna menegadahkan kepalanya, sembari tersenyum tipis.


"Baru pulang, Mbak" sapa Mirna berusaha ramah.


Syafiyah memutar bola matanya dengan malas.


"Kamu kenapa belum pulang sudah jam segini?" ucap Syafiyah sembari menaikkan alis kirinya dan mendesedekapkan kedua tangannya dibawah dada.


Mirna teesenyum tipis dan menatap pada Syafiyah "Mas Satria tadi pesan jika saya disuruh nemani Mbak dirumah sampai Mas Satria selesai pekerjaannya" ucap Mirna mencoba menjelaskan.


Syafiyah mendenguskan nafasnya dengan kesal, lalu menyunginggkan senyum sinis.


"Saya bukan anak kecil lagi yang perlu dijagain, setelah makan malam pulanglah, Aku tidak ingin seatap denganmu" ucap Syafiyah dengan ketus, lalu beranjak ke kamarnya dan ingin membersihkan diri.


Malqm menunjukkan pukul 8 malam lewat. Syafiyah beranjak dari ranjangnya, lalu keluar dari kamarnya.


Ia melihat Mirna masih duduk di sofa, dan tampak bersandar dengan santai.


Syafiyah meliriknya dengan kesal "Kenapa dia belum pulang juga, sih? Menyebalkan" Gumannya lirih. Lalu Ia merasa sangat bosan dan ingin mencari angin si teras rumah.


Syafiyah membuka pintu depan dan menuju teras. Mirna tersentak dan memutar tubuhnya menatap Syafiyah yang sudah berada diteras rumah.


Mirna bergegas menghampirinya "Mbak.. Jangan diluar malam-malam, Mbak sedang mengandung dan ada banyak bahaya diluar sini" ucap Mirna mengingatkan.


Syafiyah menoleh kearah Mirna dengan tatapan tak suka "Kamu ini berisik banget, Ya? Jangan urusin urusan saya, kamu lagian kenapa jam segini belum pulang juga?" ucap Syafiyah yang semakin kesal.


"Saya mencoba menjaga amanah dari Mas Syafiyah untuk menjaga Mbak" ucap Mirna menjelaskan .


Syafiyah merasa sangat tersinggung dengan ucapan Mirna, dimana seolah-olah Ia adalah wanita lemah dan perlu penjagaan dari Mirna.


"Aku tidak perlu penjagaanmu..!! Pulanglah, Aku bukan wanita lemah" ucap Syafiyah dengan nada tinggi dan memasang raut wajah kesal.


Suara tinggi Syafiyah didengar oleh Bu Ratna uang merupakan tetangga mereka satu-satunya yang rumahnya berjarak dekat.


Bu Ratna mencoba menghampiri keduanya yang terlihat terlibat percekcokan.


"Ada apa, Mbak Fiyah? Kenapa malam-malam berteriak" ucap Bu Ratna dengan nada penasaran namun penuh kelembutan.


Syafiyah mendenguskan nafas kesal "Ini, Nih.. Sudah malam bukannya pulang, tapi alasan saja mau jagain saya, emangnya saya anak kecil yang harus dijagain sama dia apa?!" ucap Syafiyah yang masih terlihat sangat kesal.


Bu Ratna menatap pada Mirna "Memangnya Mas Satria kemana?" Tanya Bu Ratna penasaran.


"Mas Satria ke kekota untuk menyelesaikan pekerjaannya, Bu.. Tadi Mas Satria berpesan agar Saya menjaga Mbak Syafiyah selama Mas Satria masih dikota hingga Ia sampai kembali lagi kerumah" ucap Mirna mencoba menjelaskan.


Bu Ratna memandang keduanya "Sebaiknya kalian saling menjaga, apalagi kalian juga sama-sama mengandung. Di desa ini sudah sangat rawan atas pengincaran terhadap wanita hamil. Sepertinya ada yang sedang melakukan ritual pesugihan dengan meminta tumbal janin" ucap Mbak Ratna mencoba menengahi keduanya yang sedang bersiteru.


Syafiyah mendenguskan nafasnya dengan kesal "Ini jaman modern, Bu.. Masih saja percaya dengan begituan" jawab Syafiyah ketus.


Mirna merasa sesak pipis, Ia ingin masuk kembali kedalam rumah "Mbak, Masuklah.. Sudahlah malam" ucap Mirna dengan nada selembut mungkin.


Seketika Syafiyah membolakan matanya dengan merapatkan kedua bibirnya. Mirna yang sudah tak mampu menahan sesak pipisny segera beranjak dan masuk kedalam menuju kamar mandi dapur.


Syafiyah mendengus kesal, lalu bersandar dikursi teras.


Sesaat Ia melihat sesuatu melintas kesamping rumahnya.


Karena merasa penasaran, Ia mencoba melihatnya. Tampak olehnya sosok pria berbaju higam menuju semak dibelakanng rumah, tepatnya sumur belakang yang sudah lama tidak terpakai.


"Mas.. Mas Satria" panggil Syafiyah yang merasa jika itu Satria. Ia melupakan jika Satria saat ini sedang berada dikota.


Aroma kabel terbakar menyeruak disekitarnya, dan Syafiyah mengenduskan penciumannya.


Karena sosok itu terus berjalan menuju sumur belakang, Sayfiyah mengikutinya dan terus merasa penasaran.


"Mengapa Mas Satria tidak menjawabku, dan apa yang dikerjakannnya disumur belakang?" Syafiyah berguman lirih dan terus mengikuti langkah pria itu.


Pria itu berhenti tepat didepan sumur yang tertutup bilik bambu dan sudah sangat lama tidak terpakai.


Ia masih dalam posisi membelakangi Syafiyah, dan diqm tak bergeming.


Syafiyah menghampirinya, dan mencoba memegang pundak Pria yang dianggapnya sebagai Satria.


"Mas.. Mas ngapain malam-malam disini?" tanya Syafiyah dengan nada penasaran dan rasa meremang dibulu kuduknya tiba-tiba saja hadir.


Pria itu memutar tubuhnya menghadap Syafiyah. Tampak seperti Syafiyah, namun wajahnya terlihat berbeda dan menatap penuh keanehan pada Syafiyah.


"Mas.. Ayo masuk, mengapa disini malam-malam" ucap Syafiyah sembari menarik pergelangan tangan pria tersebut.


Tanpa diduga, tangan pria yang mirip dengan Satria itu membelai perut Syafiyah. Lalu Ia memeluk Syafiyah dan mencumbu Syafiyah dengan rakusnya.


Syafiyah merasa bingung karena Ia merasa jika ini bukan Satria yang biasanya.


"Mas.. Lepas, Mas." ucap Syafiyah mencoba memberontak karena cumbuan pria itu semakin menggila.


Saat bersamaan, Sebuah sabetan selendang mengenai punggung pria misterius itu dan dengan cepat melepaskan Syafiyah lalu menoleh kepada sosok yang telah menganggu kesenangannya.


Sesaat Syafiyah terperangah saat melihat pria yang baru mencumbunya itu berubah menjadi sosok berbulu lebat dan bertubuh tinggi dengan sorot mata tajam dan bola mata yang merah.


"A-Apa.. Itu?" ucap Syafiyah ketakutan dan tubuh bergetar.


Sementara itu, sosok wanita bercadar sedang bertarung melawan sosok mengerikan yang saat tadi baru saja menyesap bibinya, dan hal itu membuay Syafiyah merasa mual ingin muntah saat membayangkan jika Ia baru saja dicumbu sosok mengerikan.


Sosok wanita bercadar itu memberikan pukulan telak diwajah sosok mengerikan yang tak lain adalah genderuwo.


Sosok itu melengking kesakitan, lalu melesat dan menghilang.


Setelah sosok genderuwo itu menghilang, sang wanita bercadar itu dengan cepat melesat membawa tubuh Syafiyah kedepan pintu rumah, lalu menghilang dalam sekejab mata.


Tak berselang lama, Mirna muncul dari balik pintu "Mbak, Masuk sudah malam" ucap Mirna yang mengagetkan Sayafiyah.


Dengan nafas memburu dan wajah memucat, Syafiyah masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun dan segera masuk menuku kamarnya lalu menutup pintu kamar dengan cepat.


kemudian Mirna menutup pintu depan dan masuk kedalam kamarnya.


Sementara itu, Syafiyah meringkuk ketakutan membayangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.