MIRNA

MIRNA
eoisode-248



Shinta masih terbaring lemah dirumah sakit dan belum ada keluarga yang menjenguknya. Tak berselang Lama Chnadra sang Papa datang tergesah-gesah melihat puteri semata wayangnya.


Sesampainya diruangan tempat Shinta dirawat, Chandra mengecup kening puterinya.


"Sayang.. Mengapa ini sampai terjadi?" ucap Chandra penasaran, namun tampaknya Shinta masih belum dapat menjawab pertanyaan Papanya, sebab Ia sendiri masih merasakan hal yang sangat trauma atas peristiwa tersebut.


"Ibu mertuamu sudah tahu hal ini?" tanya Chandra.


Shinta menggelengkan kepalanya, lalu Chandra menghubungi Mala, dan memberitahukan perihal musibah yang menimpa menantunya.


Mala berjanji akan segera berkunjung, dan kemungkinan esok baru akan sampai.


"Hadi bagaimana?" tanya Chandra.


Shinta masih merasakan nyeri dibagian lambungnya, sehingga Ia tidak dapat menjawab segala pertanyaan Papanya.


Lalu Chandra menghubungi Hadi, menantunya, bekum juga tersambung, Ia tahu jika menantunya itu sedang mengasakan meeting, sehingga kemungkinan phonselnya dimatikan.


Shinta meringis kesakitan, namun mencoba Ia sembunyikan. Sesaat Ia teringat akan sosok bercadar yang menyelamatkannya saat terjatuh dari lantai dua tersebut.


"Siapa Dia? Dan mengapa Ia bisa tiba-tiba datang menyelamatkanku?" Shinta berguman dalam hatinya.


Tak berselang lama, Hadi menelefon papa mertuanya, tampaknya Ia baru saja selesai dengan meetingnya.


"Hallo, Pa.." ucap Hadi dari seberang telefon.


"Iya, Di.. Kamu sudah selesai belum meetingnya?" tanya Chandra.


"Sudah, Pa.. Ada apa Ya, Pa?" tanya Hadi penasaran.


Chandra melirik pada puterinya, yang masih tampak diam dan belum dapat berbicara banyak.


"Istrimu terjatuh dari lantai dua, dan sekarang baru selesai operasi" ucap Chandra.


Hadi tampak terdiam, Ia tersentak kaget" Haaah?? Bagaiamana kondisinya saat ini, Pa?" tanya Hadi dengan nada khawatir.


"Alhamdulillah baik, Di.. Ya kalau kamu bisa cepat pulang, tolong pulang ya? Karena Shinta butuh kamu saat ini" ucap Chandra memohon.


"Ya, Pa. Hadi segera pulang" ucap Hadi dengan cepat dan menutup panggilannya, Ia segera bergegas menuju ke rumah sakit yang disebutkan.


Sementara itu, Shiinta masih dalam lamunannya. Ia masih membayangkan sosok bergaun merah yang saat itu berusaha menyerangnya, dan juga sosok penyelamatnya.


Sudah belasan tahun yang lalu sosok itu tak pernah muncul, namun mengapa Ia kembali lagi? Adakah yang sedang diincarnya?" Shinta masih terus memikirkan hal tersebut.


Sementata itu, pihak kepolisian sedang mencari bukti lain tentang kasus penyerangan yang terjadi pada istri seorang pengusaha bernama Hadi tersebut.


Namun hal yang membuat aneh ialah, tidak adanya jejak kaki atau jejak sidik jari pada serpihan cermin yang pecah tersebut.


Lalu bagaimana mungkin pecahan kaca itu dapat menancap di pintu kamar, dan hal ini sangat langka terjadi.


Polisi masih mendalami kasus tersebut, sembari menunggu Shinta dapat berkomunikasi.


Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya Hadi tiba di rumah sakit dan bergegas menuju ruangan tempat dimana tempat istrinya dirawat. Saat melintasi lorong rumah sakit, Hadi merasakan aroma kembang kenanga menyeruak diindera penciumannya dan Ia merasakan jika sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.


Hadi merasakan bulu kuduknya meremang dan Ia sangat hafal dengan aroma tersebut, dan mempercepat langkahnya.


Ia membuka pintu ruangan tersebut, dan melihat istrinya terbaring lemah diranjang pasien.


Hadi menghampiri sang istri dan melihat jika istrinya tampak begitu sangat trauma.


Ia mengecup lembut kening sang istri, lalu membelai ujung kepala Shinta dengan lembut.


"Shinta sudah makan, Pa?" tanya Hadi kepada papa mertuanya.


"Makasih ya, Pa.. Sudah jagain Shinta" ucap Hadi.


Chandra menganggukkan kepalanya dan berpamitan untuk pergi.


Setelah kepulangan Chandra, Hadi mulai mengajak Shinta berbicara, namun Shinta masih enggan berbicara dan memilih diam.


Hadi tak ingin memaksa, dan mencoba memahami apa yang sedang dialami oleh istrinya.


Kemudian Hadi menghubungi sopir agar pulang kerumah untuk membawakannya pakaian ganti perlengkapan mandi serta membelikan makan malam serta beberapa buah segar.


Tak berselang lama , apa yang dipesan oleh Hadi datang, dan Ia segera bergegas menuju kamar mandi, sebab sebentar lagi akan datang waktu Maghrib.


Setelah menunaikan shalat Maghrib, Hadi berniat menyantab makan malamnya, sedangkan shinta menyantab makan malam yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Hadi memilih menyuapi Shinta terlebih dahulu dan setelah selesai, lalu memberikan obat yang yang sesuai anjuran dokter.


Hadi mengupaskan buah pir dan memberikan dua potong kepada Shinta, dan Shinta meraihnya, lalu memakannya.


Setelah Shinta meminum obat makan buah, rasa kantuk datang menyerangnya dan Ia mulai tertidur.


Melihat istrinya tertidur, Hadi membuka kotak makan malamnya, namun saat Ia akan menyuapkan makanannya, tampak sekelebatan bayangan melintasinya. Hadi tersentak kaget dan Ia merasakan kehadiran sosok tak kasat mata yang saat ini sedang berada diruangn yang sama dengannya.


Hadi menunda makan malamnya. Lalu mencoba mewaspadai sesuatu yang terjadi.


Meskipun Ia tak memiliki kemampuan untuk melihat makhluk astral seperti kakanya Satria, namun Ia memiliki insting yang kuat dan dapat merasakan kehadiran makhluk tersebut.


Tiba-tiba Hadi merasakan pisau yang digunakan oleh Hadi untuk memotong buah bergerak dan mata pisau itu tampak menuju ke arahnya.


Hadi membolakan matanya. Jantungnya berdegub kencang dan gemuruh didadanya begitu sangat kentara. Lalu pisau itu melesat dan menyerangnya dengan tiba-tiba.


Hadi menghindar ke sisi kanan, dan pisau itu membentur dinding ruang rawat inap yang mereka tempati.


Traaaaang..


Pisau itu terjatuh dilantai dan kemudian kembali lagi melayang dan menuju ke arah Hadi lalu melesat cepat. Hadi yang tak sempat menghindar menyilangkan tangannya diwajahnya. Dan..


Wuuuush...ssssttt..


praaaank..


Pisau itu terjatuh dilantai, lalu aroma kenanga itu tiba-tiba menghilang.


Hadi membuka matanya dan mencoba mengintipnsari balik sikunya memastikan apakah Ia masih selamat atau sudah pindah ke alam lain.


Ia menggigit lengannya.


"Aaaw.."


Masih merasakan sakit dan ternyata Ia masih hidup, namun Ia merasa bingung dan juga penasaran mengapa tiba-tiba pisau itu terjatuh dengan sendirinya dan aroma kenanga itu menghilang begitu saja.


Hadi menarik nafasnya dengan lega, dan berharap jika ini hanya sebuah mimpi.


Ditempat lain, Satria sedang melakukan dzikir untuk melindungi sang adik dari jarak jauh. Ia tidak ingin jika sampai iblis mencelakai sang adik yang mereka ketahui jika Ia adalah yang terlemah.


Namun Satria meyakini jika Sang Rabb masih memberikan perlindungan kepada keluarganya.


Hadi menghampiri Shinta. Lalu Ia melafaszkan ayat yang dapat melindungiinya dari pengaruh sihir ataupun gangguan iblis yang akan berbuat jahat disaat Ia dan Shinta tertidur.


5 surah yang diajarkan Rasullulah sebagai benteng dati pengaruh sihir dan gangguan Iblis, Yaitu QS. Al-fatiha, Ayat Qursi, al ikhlas, al falaq dan an nas.. Kelimah surah dibaca sebelum tidur dan disapukan dari ujung rambut hingga ujung Kaki dan Insya Allah melindungi dirindari pengaruh sihir dan juga gangguan Iblis.