
Tia tersadar dari pingsannya. Ia mengerjapkan kedua matanya dan melihat sekelilingnya. Lalu Ia mengingat jika malam tadi Ia bertemu sosok mengerikan saat akan buang air, namun sosok itu memukulnya dan membuat Ia tak sadarkan diri.
Tia beranjak bangkit dan menuju kebalik pohon untuk melihat ketiga sahabatnya itu apakah masih ada atau sudah pergi meninggalkanya malam itu.
Tia tersentak melihat Rini bersimbah darah. Sedangkan dua sahabatnya tampak sedang tak sadarkan diri.
Tia menghampiri Ziyah dan juga Tini dan menyadarkan keduanya.
Kedua gadis remaja itu tampak terlihat sangat kacau dengan pakaian setengah terbuka.
"Heei.. Sadarlah. Kita harus membawa Rini puskesmas, ia tampak tak sadarkan diri" ucap Tia yang mengguncang pundak kedua sahabatnya dan sesekali menepuk pipi keduanya.
Dengan kesal Ia mengambil sisa bir hitam dan menyiramkan keujung kepala kedua sahabatnya.
Seketika keduanya tersentak dan tergagap. Lalu Tini dan juga ziyah mengusap wajah mereka yang basah karena siraman bir hitam dari Tia.
"Apaan, sih Tia?"omel Tini yang masih dalam pengaruh sabu tersebut.
"Bangun..Kita harus menolong Rini" ucap Tia dengan nada sedikit kesal.
Lalu Ia menghampiri Rini yang tampak diam tak bergeming.
"Rin.. Rini.. Bangun Rin.." ucap Tia sembari mengguncang tubuh sahabatnya.
Tia merasa khawatir. Sebab Rini tak merespon panggilannya. Ia memeriksa detak jantung Rini dengan meletakkan telinganya didada kiri Rini. Namun tak ada detak disana.
Kemudian memeriksa denyut nadin dipergelangan tangan sahabatnya, juga tak ada denyutnya.
Seketika Tia panik dan memandangi tubuh Rini yang sudah dingin dan mulai kaku.
Ia beringsut dari tempatnya dan kebingungan.
"Heei..!! Sadarlah. Rini sudah mati" ucap Tia dengan panik.
Tini dan juga Ziyah tersentak kaget mendengarnya.
"Gawat.. Bagaimana ini? Kita bisa dibawa-bawa polisi kalau begini" ucap Ziyah setengah sadar.
Tia menggaruk kepalanya yang tak gatal "Kita kubur saja dia, jangan beritahu siapapun" ucap Tini menyarankan.
Ketiganya saling pandang dan sepertinya menyetujui usul Tini.
"Tetapi disini tidak ada cangkul" Tia mulai kebingungan.
Ziyah menatap sahabatnya "Kita buang saja mayatnya ketepi jurang, lagian tidak akan ada yang melihatnya, sebab jurang itu ada rawanya dan tidak ada yang pernah sampai kesana" Ziyah kembali menyampaikan idenya.
Lalu ketiganya setuju dengan rencana gila itu.
Mereka mengangkat tubuh Rini, lalu menggulingkannya kejurang, dan tubuh Rini menggelinding bagaikan bola menuju jurang yang lumayan dalam dan tubuh itu masuk kedalam rawa yang banyak ditumbuhi tumbuhan enceng gondok.
Setelah itu, mereka membersihkan segala sisa barang dan nenas muda serta barang lainnya dan ikut membuangnya kedasar jurang. Lalu mereka juga melemparkan motor Rini kejurang bersama jasad sahabatnya.
Setelah merasa beres, mereka sepakat akan menutup rahasia ini rapat-rapat. Andai orangtuanya bertanya, maka mereka sepakat mengatakan jika Rini pergi bersama pria hidung belang.
Ketiganya kembali pulang kerumah dengan perasaan tanpa merasa bersalah.
Segala keindahan tubuh dan kecantikan yang dibanggakannya, tak lagi menjadi kebanggaan saat jiwa tak lagi bersama raganya.
Sementara itu, disebuah kamar yang seorang janda, Ia terbangun dengan rasa lelah setelah semalaman bertempur dengan sang pria renta.
Ia tersentak kaget saat melihat segepok uang yang tersedia diatas ranjangnya. Ia sangat bahagia dan tersenyum sumringah. Setidaknya Ia memiliki persediaan untuk sampai suasana desa membaik dan rumor tentang Yanti menghilang.
Lela beranjak dari ranjangnya dan berencana akan berbelanja pagi ini, sebab warung tidak buka pada malam hari.
Ia membersihkan dirinya dan segera menyalin pakaiannya, lalu menaiki sepeda motor matic yang baru dibelinya.
Lela menuju toko sembako dan akan berbelanja dengan berbagai bahan pokok yang dibutuhkannya untuk stok satu bulan, sebab Ia belum tau bagaiamana kondisi desa kapan akan kembali kondusif.
Ditoko sembako itu sudah banyak ibu-ibu yang berbelanja disana melihat kehadiran Lela datang menuju toko, mereka bergunjing dan saling berbisik.
Lela bingung melihat pandangan para ibu-ibu tersebut.
Merasa digunjingkan, Lela menghampiri mereka dan mencoba bertanya apa salahnya hingga mereka memandanginya dengan sangat begitu sinis.
"Ada apa ya, Bu ibu..? Sepertinya sedang menggunjing saya" tanya Lela langsung tanpa aling-aling.
"Mbak, Lela.. Mbak itukan buka warung, dan pastinya pengunnungnya laki-laki.. Apakah Mbak Lela juga buka jasa plus-plus seperti Yanti?" tanya para ibu-ibu itu dengan nada sinis.
Lela mengambil satu papan telur dan menyisihkannya "Jangan samakan saya dengan Yanti ya, Ibu-ibu. Saya hanya menjual makanan dan minuman biasa saja" jawab Lela membela dirinya.
"Bukannya apa, Mbak.. Kebanyakan dari pria yang mati kehilangan organ vitalnya itu rata-rata yang berbuat maksiat diwarungnya Mbak Yanti" ucap Seorang diantaranya.
Lela hanya menatap kesal "Yang penting warung saya tidak menyediakan jasa plus-plus " serga Lela kesal. Lalu meninggalkan kerumuan ibu-ibu tersebut.
"Tapi almarhum si Gugun juga matinya kehilangan organ vitalnya, berarti si Gugun sebelum matinya berbuat maksiat" sindir seorang diantaranya.
Seketika telinga Lela menjadi panas, sebab masalah almarhum suaminya juga diungkit-ungkit oleh mereka. Lela mempercepat belanjanya dan segera pulang.
Ia sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan para Ibu-ibu tersebut yang membuatnya semakin emosi saja.
Setelah sampai dirumah, Ia meletakkan belanjaannya begitu saja, lalu menuju dapur.
Setelah itu Ia menuju kamarnya, membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ia mengingat ucapan para ibu-ibu tersebut yang mengatakan tentang almarhum suaminya yang mati bermaksiat dan kehilangan organ vitalnya untuk tumbal ilmu hitam.
"Jika pria yang bermkasiat mati kehilangan organ vitalnya? Lalu bagaimana denganku yang bersekutu dengan iblis demi sebuah kekayaan duniawi? tetapi aku hanya mengorbankan tubuhku saja untuk melayani iblis genderuwo itu" guman Lela lirih.
Lela tampak merenung. Namun Ia merasa semuanya sudah terlanjur dan mencari kekayaan dengan dengan jalan pintas membuatnya menjadi ketaGihan dan tak ingin melepaskan begitu saja uang yang sudah Ia dapatkan.
Jauh didalam rawa, berbagai binatang carnivora mulai berkumpul untuk mendekati jasad Rini yang tak lagi dapat dibanggakan. Aroma amis darah yang melekat dasternya mengundang hewan linta dan lainnya untuk mengendus aroma amis tersebut.
Bahkan ikan gabus toman mengahampiri jasad Rini untuk bisa mencicIpi daging Rini yang sudah kaku.
Hewan-hewan itu tampak berpesta pora mendapatkan santapan yang tak pernah terduga sebelumnya.
Hewan lintah mulai berkerumun melalui jalur rahim karena disanalah sumber amis darah tersebut.
Mereka berebut untuk menghiSap sisa darah milik Rini yang kini sudah tak lagi mencukupi untuk kerumunan itu.