
Satria mengemudikan mobilnya menuju rumah Ibunya, Mala. Wanita itu sudah berusia 60 tahun lebih. Namjn bagaikan seorang artis yang menolak tua, garis kecantikannya masih saja terlihat nyata.
Sesampainya dirumah ibunya, Satria disambut dengan penuh kehangatan dan cinta. Meskipun bersama Bayu mereka tidak diakrunia seorang anak, namun kehidupan rumah tangga ibunya dengan Bayu yang tak lain memiliki hubungan darah dengan Mirna, sebab Bayu adalah keponakan Reza yang berasal dari Ki Kliwon penganut ilmu hitam rawarontek.
"Ayo, Bu.. Kita segera bergerak" ucap Satria kepada Mala.
"Ibu akan menyusul saja, sebab Pak Bayu masih ada urusan sedikit, kalian pergilah dahulu! Lihat kondisi adikmu" titah Mala.
Lalu Satria menganggukkan kepalanya dan berpamitan untuk pergi.
Mala masih menunggu Bayu yang sedang menemui rekan bisnismya tentang rencana pembangun residence dikampung sebelah. Bisa dikatakan jika Bayu adalah pelopor pertama sebagai deplover didesa tersebut.
Satria melanjutkan perjalanannya bersama Mirna. Sedangkan Hadi masih berada dirumah sakit dan menemani Shinta. Ia masih teringat akan peristiwa malam tadi.
Lalu Ia memungut pisau pengupas buah yang terjatuh dilantai dan hampir saja membunuhnya malam tadi dan menyimpannya dilemari nakas rumah sakit.
Shinta baru saja selesai sarapan dan memakan obatnya. Setelah itu Ia menatap Hadi dengan tatapan nanar.
Hadi menghampirinya dan duduk disisi ranjang troli rumah sakit.
"Ada apa, Sayang?" tanya Hadi dengan penuh kelembutan, lalu menggenggam jemari tangan Shinta.
"Mas.. Dia datang kembali, dan yang melakukan teror semalam itu adalah iblis yang sama beberapa belas tahun yang lalu" ucap Shinta dengan nada penuh ke khawatiran.
Hadi terdiam, tentu saja yang dimaksud oleh Shinta adalah Nini Maru mantan peliharaan Kakek mereka yang masih terus saja membalas dendam.
Hadi menganggukkan kepalanya "Jangan takut dengan iblis apapun, karena kita lebih mulia daripada mereka, dan jika kita takut, maka mereka akan berani, begitu juga sebaliknya" Jawab Hadi menguatkan hati Shinta.
wanita itu menatap sendu, benar yang dikatakan oleh Hadi, namun jika sosok itu hadir dalam wujud yang mengerikan, tentunya akan membuat siapapun terkejut dan ketakutan.
Bayu baru saja pulang pulang setelah hampir pukul 12 siang. Ia bergegas masuk ke rumah dan mencari Mala. "Sayang.. Maaf telat.. Ayo kita berangkat" ucapnya, sembari meneguk air mineral dalm botol kemasan yang sedang dipegangnya.
Mala yang baru saja selesai mengemas pakaiannya keluar dari kamar "Habis shalat Dzuhur saja sekalian, Mas.. Lagian tengah hari, gak baik langkahnya" jawab Mala yang sudah menggunakan gamisnya dan menantikan adzan Dzuhur.
Bayu hanya dapat menganggukkan kepalanya, dan menuruti semua apa yang diperintahkan oleh Mala.
Setelah menunaikan ibadah shalat Dzuhurnya, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Hadi yang berada di kota.
Saat ditengah perjalanan, Mobil Bayu tiba-tiba mengalami kerusakan, dan beruntungnya tidak jauh dari bengkel, sehingga Mala dan Bayu tidak harus kebingungan. Karena mengantri, akhirnya Bayu Dan Mala terpaksa menunggu lama.
Hari semakin sore, dan akhirnya mobil selesai diperbaiki. Bayu dan Mala kembali melanjutkan perjalanan mereka, hingga tiba waktu Maghrib, mereka mencari mesjid terdekat untuk shala Maghrib.
Tak berselang lama mereka menemukan sebuah mesjid, lalu beribadah sejenak, dan melanjutkan perjalanan.
Hari semakin gelap. Mereka melewati sebuah perkebunan karet yang terbilang sepi, dan tidak ada penduduk dikanan kirinya. Sedangkan didepan mereka akan ada membentang jembatan sejauh 500 meter dengan sungai yang cukup dalam dan menghayutkan tentunya.
Perasaan Mala mulai tidak nyaman saat Ia merasakan bulu kuduknya meremang dan aroma kenanga menyeruak ke dalam mobil.
Ingin rasanya Ia memberitahu Bayu, namun Ia urungkan sebab Ia takut akan membuat Bayu tidak fokus menyetir.
Dan tanpa terduga, Bayu merasakan hal yang sama, namun juga masih bungkam. Dan saat ketika Ia melihat kaca Dashboar mobil, tampak Nini Maru sudah duduk dijok tengah dengan kedua matanya yang memerah dan tersenyum menyeringai.
Karena tersenyak kaget, Bayu menginjak gas dan kehilangan kendali sehingga membanting stir ke kiri dan mobil menabarak tiang jembatan.
Mobil terbalik dan ujung kepala mobil mengarah kesungai yang siap menyambut mereka.
Suasana jalanan yang sepi membuat tak sesiapapun yang melintas dan menolong mereka.
Jika Mala membuka pintu mobil bagian kiri, maka Ia akan terjebur kedalam sungai dan hanyut entah kemana, bahkan mungkin juga disambut oleh buaya yang siap memangsa mereka.
Kepala Bayu yang terbentur setir mobil, tampaknya masih tak sadarkan diri. Mala berusaha melepaskan safetybell yang mengikatnya. Ia mencoba menjangkau dan menepuk-nepuk Bayu agar sadar. Namun tampaknya usahanya belum berhasil.
Tiba-tiba saja mobil bergerak sendiri dan mengarah ke sungai, hingga hampir setengah badan mobil bergantungan dijembatan.
Dengan bersusah payah Mala melepaskan safetybell dan akhirnya terlepas, dan tubuhnya terjatuh dengan posisi terbalik. Namun ternyata gerakan yang ditimbulkannya membuat badan mobil semakin bergerak ke sungai.
Nafas Mala tersengal, dan degub dijantungnya semakin menderu.
Diatas langit jembatan, tampak Nini bergelantungan menyaksikannya yang sedang kesusahan dengan suara tawanya yang sangat menyeramkan.
"Hihihihihihihihi..."
Ia tampak begitu bahagia melihat penderitaan Mala. "Mas... Mas Bayu.. Bangun, Mas!!" ucap Mala ditengah kekalutannya.
Tak berselang lama, Bayu akhirnya sadar, dan Ia mengerjapkan kedua matanya, lalu melihat suasana mobil yang sebagian sudah bergelantungan di atas jembatan.
"Haaah.. Ia melihat istrinya Mala sudah berada diatao mobil yang terbalik, sedangkan Ia masih bergantungan dengan tubuh terikat safetybell.
Mala mencoba merangkak perlahan mendekati pintu mobil sisi kanan dan membuka pintunya.
Sedangkan Bayu membuka safetybellnya. Dan tubuhnya terhempas menimpa Mala.
"Aaaarrrggh.. Sakit, Mas" omel Mala yang mana tubuh kekar itu menindihnya.
"Maaf, Sayang" ucap Bayu dan berusaha menyingkir dari tubuh Mala.
Sementara itu, setiap gerakan yang dibuat keduanya akan membuat badan mobil semakin bergerak menuju ke sungai. Dan tiba-tiba saja mesin mobil menyala dan suara desingannya begitu sangat membisingkan.
Sesaat seperti ada seseorang yang menginjak gas dan mobil meluncur kesungai, namun nasib masih berpihak kepada mereka, ban mobil sisi kiri tersangkut ditiang jembatan yang berdiri kokoh.
Kini tubuh Mala dan Bayu merosot kebawah tepat dibagian nakas mobil dan mereka berpegan tali safetybell.
Lalu Nini Maru membuka pintu mobil dan membuat Mala bergelantungan dan hanya berpegangan tali safetybell.
"Aaaaaaargghh.. Toloooooong..!!" teriak Mala saat memandang kebawah dimana sungai selebar 500 meter dengan airnya yang sangat dalam siap menyambutnya.
Bayu mencoba meraih tangan Mala dan agar tidak terjatuh, namun posisinya saat ini juga sangat sulit, sehingga membuatnya harus pasrah andai mereka harus mati bersama didalam sungai .
Nini Maru mulai menggerakkan mobil yang bannya masih tersangkut ditiang jembatan, dan..
Kreeeeeeek...
Wuuuush...
Mobil melayang diudara menuju sungai...