MIRNA

MIRNA
episode 233



Jasad Melly sudah dibawa ke rumahsakit bhayangkara untuk dilakukan autopsi. Sedangkan orangtua Melly meraung tak karuan melihat menghadapi kenyataan yang ada.


Bagaimana mungkin puteri mereka satu-satunya ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan.


Kini kematian Melly salah satu siswi disekolah teresebut menjadi kegemparan kembali di desa yang sudah lama aman dan kini kembali dibayangi kengerian yang sangat mencekam.


Para siswa dipulangkan lebih cepat, karena pihak kepolisian akan menyelidiki setiap ruang kelas dan setiap bangunan untuk mencari bukti lain.


Angkasa dan juga Samudera menuju ruang parkir dan bergegas menaiki motor dengan Samudera yang memboncengnya.


"Kak.. Ikut gak?" tanya Angkasa dari belakang boncengan.


"ikut apaan?"


"Berkelana ke alam ghaib, untuk melihat kilas balik kematian Melly, sepertinya ada sesuatu yang janggal.


"Kamu ini kurang kerjaan, ntar seperti waktu itu, lupa jalan pulang, untung saja Ibu datang menjemput kita, jika tidak kita akan terjebak selamanya dialam ghaib" omel Samudera.


"Tenang saja, Aku sudah tau caranya jalan pulang" jawab Angkasa meyakinkan.


Samudera hanya menghela nafasnya, lalu melajukan motornya menuju pulang.


Sesampainya dirumah, mereka melihat jika rumah tampak sepi. Tak terlihat Mirna, Ibu mereka dirumah.


"Kemana Ibu pergi? Kenapa tidak ada dirumah?" tanya Samudera kepada Angkasa sembari membuka sepatu sekolahnya.


"Mungkin menemui Ayah dikota" jawab Angkasa santai.


"Naik apa? Mobil ada dirumah"


"Naik apa saja"


"Kamu jawabannya gak yang ngenakin" ucap Samudera lesal.


Angkasa memanyunkan bibirnya dan bergegas masuk kedalam kamar dan menyalin sekolahnya.


Angkasa menggunakan kaos oblong dan celana pendek setengah lutut. Lalu Ia menggelar sebuah ambal tebal yang hanya selebar 1.5 meterĂ—1.5 meter saja. Ia duduk bersila diatasnya.


"Kak.. Buruan, dong!"


"Makan siang dulu napa" ucap Samudera.


"Gak sempat, ntar saja.. Ayo!" ajak Angkasa tak sabar.


Sanudera akhirnya tak dapat menolak ajakan Angkasa sang adik yang lahir hanya berbeda beberapa menit saja dari kelahirannya.


Kedua duduk bersila saling berhadapan, tangan keduanya saling menggenggam jemari denga erat dan memejamkan kedua mata mereka dan saling fokus untuk konsentrasi dan merafalkan dzikir yang mereka dapat dari Ayah mereka.


Lalu keduanya mulai larut dalam fafalan dzikirnya, hingga akhirnya keduanya memasuki dimensi lain dan mencoba melihat kilas balik apa yang terjadi pada Melly sebelum ditemukan dalam kondisi meregang nyawa dalam kondisi yang mengenaskan.


Siang itu, saat jam pelajaran usai, Melly ingin bergegas pulang menuju parkiran untuk mengambil motor maticnya.


Namun dua orang sisiwa yang sudah lama mengincarnya memanggilnya. Karena dua orang siswa itu adalah orang yang termasuk sedikit bergaya urakan dan sering bolos dikelas, membuat Melly berjalan malas menghampiri keduanya.


"Ada apa?"


Melly yang merasa penasaran mengikuti dua kakak kelasnya ke belakang sekolah dan menuju semak di balik pohon karet.


Ternyata disana sudah beberapa siswa brandal yang lainnya dan sedang menunggunya.


"Apaan ini?" tanya Melly dengan bingung.


"Sudahlah.. Ikutin saja perintah kami" jawab salah seorang siswa brandal tersebut, lalu mendorong tubuh Melly dari arah belakang, sehinga membuat Melly tejatuh dihadapan para siswa brandal yang kini sudah mengelilingnya.


Salah satu diantara mereka meraih kedua tangan Melly dan mengikatnya ke atas, lalu mereka menyumpal mulut Melky dengan kaos kaki mereka yang sudah beraroma tidak sedap karena sudah dua minggu tidak dicuci, sehingga membuat Melly tak dapat berteriak.


Setelah Melly tak dapat berteriak, mereka menyeret tubuh Melly kedalam semak agar tidak terlihat oleh orang lain.


Suasana sunyi karena seluruh siswa dan juga para guru sudah pulang, maka mereka dapat berbuat seenaknya.


Melly meronta meminta dilepaskan. Namun para siswa brandal yang sudah terpengaruh oleh minuman berakohol hanya tertawa melihat Melly yang mencoba menendangkan kakinya kepada salah seorang siswa yang ingin mendekatinya.


"Heei, diamlah! Bukankah Kau sendiri yang memancing dengan berpakaian seperti ini. Siswi yang lain menggunakan rok panjang dan sebagian berhijab, sedangkan kau memilih menggunakan rok paling pendek. Apa namanya jika bukan karena ingin menggoda para kaum kami!" oceh seorang siswa yang sudah terlebih dahulu merobek paksa pakain Melly dan siswa berandal lainnya ikut melakukan hal yang sama dengan menarik paksa rok yang dikenakan Melly.


Mereka tertawa melihat Melly yang meronta meminta untuk dilepaskan.


Lalu mereka melucuti underware milik Melly dan menyisakan dasi yang melilit dileher gadis remaja itu.


"Sudah, ayo.. Apalagi. Jangan buang waktu lama-lama!" titah salah seorang diantara mereka yang sudah tidak sabar untuk menggarap Melly.


Lalu mereka mengantri untuk menggarapnya.


"Kita kena praank, wei..!! Si Melly sudah tidak pera-wan lagi! Dengan siapa kamu melakukannya ha?!" tanya sisiwa yang pertama kali menggarapnya sembari menjambak rambut Melly.


Gadis itu meringis kesakitan, namun suaranya tertahan. Saat mendengar Melly tidak suci lagi, lalu mereka berinisiatif menggarap Melly bersamaan dengan sangat brutal dan tanpa sadar ternyata saat ini Melly sedang mengandung sekitar 3 bulan, namun tidak ada yang menyadarinya.


Perlakuan brutal para siswa itu brandal itu membuat Melly merasakan jalan lahirnya sangat sakit dan perih. Apalagi mereka melakukannya dengan sangat liar.


Hingga sore hari, akhirnya mereka merasa terpu-askan dan meninggalkan Melly dalam semak dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


Seorang guru lelaki yang masih berada diruang kantor tidak menyadari hari sudah sore. Ia terlau sibuk dengan pekerjaannya, dan setelah melihat jam didinding menunjukkan pukul 6 sore, Ia beranjak dari ruang kerjanya dan bergegas pulang.


Sesampainya diparkiran, Ia melihat motor sisiwinya masih ada berada diparkiran.


Ia merasa jika salah satu siswinya masih berada dilingkungan sekolah. Sayup-sayup Ia mendengar suara tangisan tertahan dengan tidak begitu jelas ditelinganya. Ia mencoba mengikuti sumber suara tersebut yang terdengar dari arah belakang sekolah.


Sesaat sukma Angkasa dan Samudera terbeliak melihat siapa sosok pria tersebut.


Sosok itu berjalan mengikuti suara rintihan Melly yang kini sudah sangat mengenaskan.


Sesampainya disemak tersebut, sosok itu tampak menatap penuh kengerian melihat kondisi Melly yang sudah penuh penderitaan.


Sosok itu menghampiri Melly, lalu Ia ikut menggarap Melly, dan dengan sengaja membuat Melly kontraksi. Tak sampai disitu saja, Sosok itu mencoba mencekik leher Melly dan karena merasa tidak puas, Ia menjerat leher Melly dengan menggunakan dasi yang terlilit dileher siswi paling cantik tersebut.


Setelah memastikan siswi tersebut tak bernyawa, Ia meninggalkan gadis remaja itu begitu saja. Hal tersebut membuat sukma Angkasa dan juga Samudera merasa geram.


Namun mereka tak dapat menolong gadis itu, sebab ini hanya sebuah kilas balik dari kejadian tersebut.


Setelah hari mulai tampak menggelap, sosok itu pergi meninggalkan Melly yang sudah meregang nyawa.