MIRNA

MIRNA
episode 195



Satria tersadar dari dzikirnya saat adzan subuh berkumandang. Ia mengerjapakan kedua matanya, mengusap wajahnya dengan tangan kanannya, lalu membangunkan Mirna dan meminta untuk membangunkan kedua puteranya.


Kali ini Satria mengajak ke dua putera dan istrinya untuk shalat berjamaah dirumah saja. Satria akan melakukan pembersihan hawa negatif pada kedua puteranya agar tidak menjadi incaran para makhluk iblis tersebut. Ia ingin bertindak lebih cepat sebelum para iblis itu mengambil alih.


Mirna mengerjapkan kedua matanya dan mulai menggeliatkan tubuhnya, Ia melihat wajah Satria yang saat ini sedang menatapnya.


"Bangun, Sayang.. Sudah Adzan, dan bangunkan kedua putera kita" titah Satria kepada Mirna.


Wanita itu mengangguk lemah dan beranjak dari ranjangnya menuju kamar ke dua puteranya.


Ia membukanya dan tampak keduanya masih tertidur pulas dengan posisi yang satu menghadap barat dan yang satunya menghadap selatan.


"Sayang, bangun.." ucap Mirna sembari mengguncang tubuh keduanya.


Sesaat kedua bocah itu menggeliatkan tubuhnya dan mengerjapkan kedua matanya.


"Emmm... Masih ngatuk, Bu.." rengek Samudera yang berniat akan menarik selimutnya, namun Mirna dengan cepat menarik selimut tersebut hingga membuay sang bocah meringkuk kedinginan dan Mirna menggendongnya, lalu meletakkannya dipangkuannya.


"Samudera, bangun.." ucap Mirna sembari menepuk-nepuk pipi Samudera agar segera tersadar.


Bukannya bangun, tetapi bocah itu mendekap tubuh Mirna dan bergelung bagaikan tringgiling.


"Samudera, Ayah datang.." bisik Mirna ditelinga Bocah tersebut.


Mendengar nama Ayahnya, bocah langsung tersentak dan membuka matanya. Ia melirik ke arah pintu dan melihat tak ada sesiapapun disana"


"Emmm.. Ibu.. Rengeknya dan akan kembali tidur lagi, namun Mirna dengan cepat membawa tubuh sang bocah ke kamar mandi.


Mengetahui akan diguyur paksa, Samudera terpaksa merosot dari gendongan Mirna dan meyerah "Iya.. Iya.. Samudera mandi sendiri. .." ucapnya menyerah.


Setelah lolos dari Ibunya, Ia segera ke kamar mandi dengan sedikit sempoyongan.


Lalu kini Mirna menarik kaki Angkasa yang juga masih tidur terlelap. Ia mengangkat kepangkuannya, dan membuat bocah itu layaknya bayi berusia 3 tahun yang sedang tidur terlelap.


"Angkasa. Bangunlah.. Ayo shalat subuh" Mirna kembali menepuk pipi bocah itu dengan lembut, yang membuat sang bocah hanya berguman tak jelas.


"Heei.. Ayah sudah menunggu didepan pintu" bisik Mirna yang tepat ditelinga Angkasa, dan benar saja, Angaksa lalu membuka matanya dan melirik ke arah pintu kamar dan tidak mendapati ayahnya dan ingin kembali memejamkan matanya, namun Mirna dengan cepat membawanya ke kamar mandi,


Sementara itu Samudera sudah selesai dengan mandinya dan saat melintasi Angkasa, Ia sengaja mengusapkan tangannya yang basah ke wajah Angkasa dan membuat bocah itu memanyunkan bibirnya, lalu turun dari gendongan Mirna.


Setelah drama mandi itu selesai, Mirna kembali ke kamarnya dan membersihakan diri dengan cepat lalu menuju ruang shalat tempat Satria menunggu mereka.


Setelah semua berkumpul, Satria memulai shalat berjamaahnya dan dengan khusyuk memimpin Shalat tersebut.


Setelah selesai shalat, Satria meminta kepada Mirna dan juga kedua puteranya untuk mengikuti dzikirnya dan berharap keluarganya selalu dalam lindungan Rabb-nya yang akan menjaga mereka dari segala niat jahat setan, jin dan manusia.


****


Mirna mengantarkan kedua puteranya ke sekolah. Selama terjadi kasus yang mene-gangkan waktu itu, para guru dan staf sekolah semakin menyayangi Angkasa dan juga Samudera.


Karena dua bocah itu selain memiliki kecerdasan dibidang akademik, mereka juga memiliki kekuatan mata bathin yang sangat tajam. Bahkan mereka bisa melihat dan membaca isi hati seseorang yang memiliki niat tidak baik.


Para guru sudah menabung hampir setahun dan jumlahnya cukup untuk membuka usaha.


Sementara bendahara mengaku jika Ia kemalingan dan uang tersebut dibawa kabur oleh maling. Makapara guru yang sudah menyetorkan uang tersebut tidak terima dan memijta ganti rugi.


Namun sang bendahara tidak mau mengganti kerugian tersebut karena Ia juga mengaku dirugikan karena uang miliknya juga dibawa kabur.


"Mengapa tidak kamu setorkan di Bank?" tanya seorang guru yang merasa tabungannya sekitar 5 juta rupiah. Ia berencana ingin membeli motor secound untuk perjalanannya mengajar ke sekolah, namun kini harus menelan kekecewaan, karena sang bendahara mengaku uangnya dimaling.


"Aku menyimpannyanya di Bank, dan semalam aku menariknya karena ingin dibagikan kepada kalian semua" ucap sang bendahara dengan kalimat yang lebih tinggi.


Kepala sekolah mencoba untuk menengahi keributan yang ada, namun tak membuat amarah para guru mereda.


Mereka berniat akan membawa ke jalur hukum dan melaporkannya ke kenator polisi jika sang bendahara bersikeras tidak ingin mengganti kerugian tersebut.


Bahkan salah seorang diataranya ada yang menabung hingga 10 juta rupiah, dan Ia hanya duduk termenung di sudut ruangan. Ia sangat syok mendengar berita tersebut, sebab Ia berniat menggunakan uang itu untuk biaya wisuda anaknya yang sebentar lagi akan menyelesaikkan skripsinya.


Namun sekarang harapannya tersia-sia dan hampa.


Saat bersamaan, Angkasa melintasi ruangan kantor karena ingin pergi ke kamar mandi.


Melihat Angkasa melintas, salah seorang guru menariknya masuk ke dalam kantor dan membuat para staf lainnya bingung menhapa melibatkan bocah tersebut.


Guru tersebut membawa Angkasa duduk disebuah kursi kosong dan menatap sang boca penuh pengharapan.


"Nak.. Ibu mau tanya. Kami sedang dalam masalah, uang tabungan kami hilang, dan menurut pengakuan si pemegang uang tabungan, jika uang itu dimaling malam tadi, apakah ucapannya benar?" tanya guru matematika kelas empat sampai 6 tersebut.


Angkasa memandang sang bendahara, dan wajah bendahara itu tampak bingung dan merundukkan kepalanya ditatap seperti itu oleh Angkasa.


Angkasa kembali menatap wajah guru matematika tersebut dan menganggukkan kepalanya.


"Maksud kamu apa?" tanya guru matematika penasaran.


"Jbu bendahara benar, jika uangnya dimaling seseorang" ucap Angkasa dengan lancar.


Seketika sang bendahara bernafas lega, karne tuduhan dari para guru tentangnya telah hilang dan Ia bernafas dengan lega.


"Namun..." Angkasa menghentikan ucapannya dan kembali memandang Ibu bendahara.


Seketima semua memandang Angkasa tak sabar.


"Namun apa?" tanya seorang guru yang menabung 10 juta tersebut tak sabar.


"Pencurinya ada dirumah itu juga, dan Ia suami ibu itu sendiri, dan sebagian uangnya masih tersimpan dikolong ranjang, sebagian lagi dipakai buat ke tempat yang ada musiknya dan orang-orang bernyanyi disana" ujar Angkasa yang tidak tau menyebutkan tempat itu adalah lokalisasi prostitusi.


"Apaa..?" semua tersentak dan terperangah mendengar penjelasan dari Angkasa, termasuk sang bendahara yang merasa syok mendengar penuturan dari bocah tersebut.


Dengan cepat mereka tak lagi memeprdulikan kelas, mereka mendatangi rumah sang bendahara mencoba menggeruduknya dan mencari kebenaran apa yang dikatakan oleh Angkasa.


Sesampainya dirumah sang bendahara, mereka meminta untuk memeriksa lokasi tempat penyimpanan uang tersebut, dan benar saja mereka menemukan kantong kresek berwarna hitam yang berisi uang dan sudah terpakai sebagiannya, dan suami dari bendahara itu tertidur pulas dengan aroma alkohol.