MIRNA

MIRNA
Episode 69



Lisa merasa bengong dengan ulah Yanti. Secara umur, tentu tidak ada perbedaan jauh dengannya. Namun Ia tahu jika Yanti pernah menjadi korban pemerko- saan oleh tiga pemuda yang akhirnya mati mengenaskan.


Namun Yanti adalah seorang gadis didalam status kartu identitasnya, dan Lisa tidak menduga jika Yanti menjadi begitu sangat liar.


Lisa menggelengkan kepalanya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya menata semua bahan dagangan dilemari kaca.


Lisa penasaran dengan jerigen putih besar tersebut, Ia mencoba membukanya, aroma asam menyengat keluar dari dalam jerigen tersebut, sebuah cairan berwarna putih susu sedikit kekuningan dan ada buih diatasnya, tampak memenuhi jerigen tersebut.


"Apa ini? Mengapa sangat bau sekali" ucap Lisa sembari menutup hidungnya dan kemudian menutup tutup jerigen itu kembali.


Lisa menuju kotak kardus berisi mie cup dan kardus berisi minuman berakohol. Lisa kemudian menata semuanya hingga habis.


Sesaat Lisa mendengar suara rintihan-rintihan dari dalam kamar Yanti, sepertinya keduanya sedsng bertempur.


Setelah selesai menata semua barang dagangan, Lisa menuju keruang belakang, didekat dapur ada sebuah kamar satu lagi yang tampak terkunci, seperti sebuah kamar rahasia, sehingga Yanti menguncinya.


Setelah hampir setengah jam lamanya, Togar keluar dari kamar Yanti sembari tersenyum dan membenahi celanaya.


"Terimakasih, Ya Mbak.. Mantab juga" ucap Togar, lalu mengambil uang 350 ribu untuk pembayaran air tuak yang dijualnya.


Tuak adalah minuman berakohol yang dibuat dari sari nira pohon Aren/enau atau pohon kelapa yang difermenatsi menggunakan beberapa ramuan sehingga menghasilkan akkohol.


Tuak merupakan minuman khas Suamtera Utara terutama suku Batak yang paling tau cara pembuatannya.


Tampak Yanti menganggukkan kepalanya dan membenahi pakaiannya, lalu menatap Lisa masih dalam kondisi bengong dan Yanti tersenyum bangga karena merasa mampu menjerat hampir semua pria.


Disisi lain, Kedua tukang yang berada dirumah Mirna sudah dua hari bekerja dan dan pekerjaan mereka akan rampung sore ini.


Bejo yang dari semalam gelisah tak menentu mencoba menahan gejolak hasrat yang menggebu, Ia tidak ingin terkena karma seperti waktu semalam.


Mirna memiliki sikap yang sulit ditebak. Ia tidak akan melukai atau menggoda pria yang tidak berniat jahat kepadanya.


Namun jika pria itu menemiliki niat jahat, maka Ia tidak segan-segan untuk mencelakainya.


Mirna menyadari jika Kedua tukang itu sudah bersusah payah untuk menahan segala hasratnya.


Maka Mirna memilih untuk tidak berada didalam rumah dan memilih untuk berbelanja ke toko yang berjarak 500 meter dari rumahnya.


Saat melintasi jalan raya dan berjalan sekitar 50 meter dari rumahnya, Ia melirik kearah warung Yanti dan ternyata Lisa juga ada disana.


Namun Mirna tetap berjalan dan memalingkan wajahnya.


"Eh.. Itukan Wanita yang ada dirumah anaknya Mbak Mala?" tanya Lisa kepada Yanti yang saat itu sedang duduk di kursi warungnya sembari meracim bumbu untuk masakan menu mereka.


"Iya.. ternyata Ia juga baru pindah dirumah sebelah " Ucap Yanti kepada Lisa.


Lisa melongo mendengarnya "Masa sih? Koq bisa ketepatan" ucap Lisa seolah tak percaya.


"Ihh.. Bahkan 3 hari yang lalu Aku ngintip mereka bercinta dikamar dari balik jendela" ucap Yanti yang semakin membuat Lisa merasa penasaran.


Lisa semakin melongo mendengar ucapan Yanti "Wah.. Gila kamu, Yan.. Pasti gede tu punya Satria" ucap Lisa semakin terus ingin tahu.


Bukannya menjawab pertanyaan Lisa, Yanti justru memperlihatkan lengannya sebagai jawaban dari pertanyaan Lisa, yang membuat Lisa lemas seketika membayangkannya.


Sementara itu, Mirna telah sampai ke warung sembako dan memilih bahan pokok untuk persediaannya.


Pemilik tokonyang sudah beberapa kali melihat Mirna berbelanja ditokonya seakan klepek-klepek bagaikan ikan yang kehabisan air.


Pemilik toko sembako itu menarik nafasnya dalam, Ia seperti terhipnotis dengan pesona yang dipancarkan oleh wanita didepannya.


Setelah menghitung semua total belanjanya, Mirna menyerahkan uang sesuai dengan total harganya.


"Mbak.. Kalau tidak bisa membawa barang belanjaannya, biar saya nanti yang antarkan" pemilik toko itu menawarkan bantuannya.


Namu Mirna dapat menebak isi hati dari pria pemilik toko, jika ada niat terselubung didalam otak kotornya.


Semenjak Satria menikahinya, Ia tidak akan lagi memberikan tubuhnya untuk pria manapun, jikapun Ia pernah melakukan hal terburuk sebelumnya, itu semua hanya hanya balas dendamnya kepada Satria yang tak kunjung menikahinya.


Mirna berusaha melampiaskan kekesalannya dengan melampiaskan kepada pria berotak kotor dan mencelakai mereka dengan penuh amarah.


Namun setelah Satria menjadi sah suaminya, Ia menghapus semua jejak keburukannya dan mengembalikan kemurnian dirinya.


"Terimakasih, Pak.. Suami saya yang akan membawanya" ucap Mirna, sembari memejamkan kedua matanya sejenak, dan ucapannya itu tersambung kedalam relung hati dan pendengaran Satria yang saat ini masih sedang sibuk mencuci piring.


Kepergian Mirna darinya membuatnya tersiksa. Seketika ucapan Mirna terdengar ditelinganya, dengan cepat Ia meraih kunci mobilnya dan menuju kedepan, lalu mengunci pintu rumah dan menuju garasi.


Satria mengendarai mobilnya, lalu mencium aroma tubuh khas Mirna yang kini ditemukannya di toko sembako.


Dalam sekejab saja Satria sudah tiba ditoko tersebut, dan melihat Mirna sedang menantinya.


Pemilik toko itu merasa minder dengan ketampanan Satria, lalu terlihat Satria membawa semua barang belanja milik Istri keduanya.


"Ayo, Sayang, kita pulang kerumah" ucapnya sembari menenteng karung beras seberat 20 kg.


Mirna menganggukkan kepalanya dan melangkah untuk mengikuti Satria, lalu masuk kedalam mobil.


"Maafin, Mas.. Dua malam ini tidak berkunjung kerumah kamu, ada pekerjaan yang sangat penting dan harus diselesaikan" ucap Satria dengan perasaan bersalah.


Mirna tersenyum tipis. Ia tahu jika Satria sedikit berbohong, namun Ia tidak mempermasahkannya.


Ia tahu jika Syafiyah sedang ingin mengikat Satria agar tidak menemuinya dimalam hari.


"Nanti Kita periksa kandungan Kamu, Ya" ucap Satria, saat mobilnya sudah sampai didepan rumah Mirna.


Lagi-lagi Mirna menganggukkan kepalanya, dan tersenyum datar


Sementara itu, Yanti dan juga Lisa mengintai dari balik warung mereka yang dindingnya dibuat dari kawat berlubang berukuran besar, saat melihat Satria keluar dari mobil dan membawa semua barang belanjaan Mirna mereka melongo dengan tatapan yang lapar.


"Aduuuh.. Jam segini disuguhi pemandangan seperti itu, kapan bisa bobok bareng dengan Satria, jadi ngehalu saya" ucap Lisa menelan salivanya.


Yanti melirik kearah Lisa yang tampak sudah berfikiran kotor kepada pria itu. Namun Ia tak memungkiri jika dirinya juga tergoda kepada Satria.


Sesaat Yanti merasakan desiran angin yang sangat dingin layaknya es melintasi dirinya.


Yanti membolakan matanya, Ia merasa jika kehadiran Nini Maru ada disekitarnya.


"Mbak.. Nanti malam sebenarnya malam apa, Ya?" tanya Yanti kepada Lisa yang masih menatap Satria yang bolak-balik membawa barang belanjaan Mirna.


"Malam jumat kliwon" jawab Lisa tanpa menoleh kearah Yanti, sebab Ia masih fokus kepada Satria yang berjarak 50 meter darinya.


Seketika Yanti membolakan matanya, Ia memiliki perjanjian kepada Nini Maru untuk mempersembahkan tumbal janin dan Ia hampir melupakannya.


Seketika Yanti menghubungi dukun Brewok untuk memesan ayam cemani dan burung gagak serta kembang tujuh rupa.