
Yanti sudah kembali kerumahnya. Kedua orang tuanya tidak menyadari jika Ia sudah pergi begitu lama dan baru kembali.
Yanti memasuki kamarnya dengan cara mengendap-endap dan dengan terburu-buru menutup pintu kamarnya.
Sesampainya dikamar, Ia duduk ditepian ranjangnya dan menggeliatkan tubuhnya yang terasa sangat penat.
Yanti merasakan tubuhnya sedikit pekat dan lengket karena baru saja mandi darah campuran antara darah burung gagak dan juga ayam cemani.
Karena rasa kantuk yang luar biasa, Ia sudah tak mampu lagi menahan rasa berat dimatanya.
Saat akan merebahkan tangannya diatas ranjang, tanpa sengaja Ia menyentuh sesuatu disana. Yanti menoleh dan melihat sebuah kotak kayu yang tiba-tiba saja sudah berada diranjangnya.
Yanti yang merasa sangat penasaran dengan cepat membenahi posisinya, Ia beranjak duduk dan meraihbkotak misterius tersebut.
Yanti membukanya, dan alangkah terkejutnya Ia ketika mendapati kotak tersebut berisi dengan berbagai emas permata, dan intan berlian, serta uang yang dalam jumlah sangat banyak.
Yanti mengangakan mulutnya dan kedua matanya membola. Ia tak percaya mendapatkan kekayaan itu dalam sekejab saja.
"Sungguh sangat mengejutkan dan tidak ku percaya, jika bersekutu dengan iblis itu dengan cepat dapat mendatangkan kekayaan" guman Yanti tak percaya.
Sementara itu, Mirna sedang menunggu kedatangan Satria menghampirinya didalam kamar.
Saat ini Satria masih mengurus Syafiyah yang sedang waktunya untuk makan malam.
Mirna sudah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, Ia kini sedang menanti sang suami yang berjanji akan memberikannya keturunan yang suci untuknya.
Mirna telah bersiap sedari tadi, bersolek semampunya, meskipun tanpa make up Ia sudah terlihat cantik sempurna.
Disisi lain, Yanti yang tampak serakah, dengan cepat menggunakan segala perhiasan itu ditubuhnya. Ia merasa manusia paling beruntung dan juga pastinya dengan cepat Ia akan menjadi kaya raya.
Sesaat satu sosok tiba dihadapannya. Nini Maru hadir dalam wujud yang sangat mengerikan. Sebagian wajahnya yang rusak terbakar serta tampak berkelupas.
Yanti sempat tersentak kaget karena kehadiran Nini Maru yang dengan tiba-tiba saja.
Nini Maru merayap dengan jemari dan kukunya yang panjang dan tajam dengan tubuh ceking tanpa dagingbyang melekat, dan hanya kulit keriput yang membalut kulit tubuhnya.
Yanti memandang dengan mata membola, seolah ingin memberitahu jika sedang dalam ketakutan yanng besar.
"Apakah Kau membutuhkan lebih banyak emas permata dan juga uang?" ucap Nini Maru saat sudah merangkak diatas tubuh Yanti tampak menggigil ketakutan.
Yanti begitu sangat syok menatap wajah sang makhluk laknat yang kini mentapnya penuh dengan janji manis dan harapan yang sangat menggiurkan.
"A-apakah Kau akan memberikan lebih dari ini?" tanya Yanti penasaran.
"Ya.. Asalkan Kau mau memberikanku tumbal Janin" titah Nini Maru dengan seringai liciknya.
Yanti tampak terdiam, dan mencoba mempertimbangkan semuanya.
"Akan Aku coba" jawab Yanti dengan cepat.
"Bagus.. Jadilah pengikutku yang setia dan Abdiku yang paling baik" ucap Niji Maru dengan suara seraknya.
Yanti menganggukkan kepalanya, dan menyetujui perjanjian itu. Lalu Nini Maru melesak masuk kedalam tubuhnya yang ingin menjadikan Yanti budak iblis.
Sementara itu, Satria telah selasai dengan tugasnya yang menyuapi Syafiyah. Ia keluar dari kamar Syafiyah dan meletakkan pring kotor di washtafell.
Setelah mencuci tangannya, Ia menatap kamar Mirna dan juga kamar Syafiyah, Ia bingung harus masuk kekamar yang mana.
Namun dorongan itu lebih kuat untuk masuk kekamar Mirna.
Lalu Satria menutupnya kembali dengan sangat hati-hati.
Tampak ditepian ranjang, Mirna telah menunggunya sedari tadi. Melihat kehadiran sang suami, hasratnya kian menggebu. Namun satu hal yang tak pernah Ia mengerti, Satria mampu menaklukkan ke liarannya.
Melihat Satria menghampirinya, Ia membenahi posisinya. Ia beranjak dari ranjangnya, menarik sang suami dalam dekapannya.
Bagaimana Satria tak menggilainya, Mirna selalu memberikan segala apa yang tak pernah Ia dapatkan dari Syafiyah.
Dari mengurus rumah tangga, hingga permainan ranjang Mirna yang selalu membuat Satria tercukupkan.
Selama ini Syafiyah tidak pernah bermanja untuk meminta bercinta terlebih dahulu, sedangkan Mirna selalu membuatnya merasa melayang dengan segala sentuhan yang menggoda.
Mendapat perlakuan yang sangat memanjakan dari Mirna, Satria tak mampu lagi membendung gejolak hasrat yang memburu.
Pagutan lembut dibibir Mirna membuatnya begitu cepat terbakar.
Mirna begitu sangat lihai dan juga liar dalam hal bercinta, dan membuatnya semakin terus melayang.
Segala apa yang ada pada tubuh sang istri selalu ingin membuatnya tak terkendali.
Suara lenguhan dan rintihan manja Mirna semakin membuat Satria tak sabar.
Mirna menarik tubuh sang suami hingga terjatuh diranjang. Ia tampak mendominasi dalam setiap pergerakan.
Sedangkan Satria seolah menjadi korban yang ingin terpuaskan.
Kali ini Mirna mengayuh biduk cinta mereka, Satria seperti kerbau yang cocok hidungnya, begitu patuh dan juga tak mampu menolak segala apa yang disuguhkan oleh Mirna.
Saat ini, Syafiyah merasa bingung sendiri dengan sikap dan keputusan yang telah diambilnya. Ia bingung apakah harus berterus terang jika Ia sudah sembuh karena Mirna, atau terus beroura-pura lumpuh untuk selamanya.
Ia tak sanggup membayangkan jika saat Ini suaminya tengah mengayuh samudera keringat bersama madunya itu.
Rasa cemburu mulai menyeruak kedalam hatinya, ternyata Ia baru menyadari bagaimana rasanya diduakan.
Satria tak mampu membendung ledakan lahar merapinya. Mengetahui sang suami akan mencapai puncak surgawinya, Mirna mengubah posisinya menjadi dibawah, karena Ia menginginkan benih itu tertanam didalam rahimnya dan menjadi seorang makhluk kecil yang nantinya akan menjadi tempat untuk melawan kekuatan Nini Maru.
Satria menanamkan benih itu dengan penuh cinta dan ketulusan kepada sang Istri keduanya, Ia juga berharap memiliki keturunan untuk mewarisi garis keturunannya.
Setelah mencapai puncak surgawinya, Satria mengecup lembut sang istri, lalu menindih tubuh Mirna dan membiarkan senjatanya masih terbenam diliang surgawi milik Mirna yang selalu memabukkannya.
Keduanya saling menatap penuh cinta. Satria mencoba berusaha adil dengan kedua istrinya, namun perasaan berlebih terhadap Mirna tak mampu Ia pungkiri.
Setelah beberapa menit, keduanya kembali terbakar gairah, lalu melanjutkan pertempurannya hingga mencapai beberapa kali puncak surgawinya.
Setelah merasa puas, Satria mengecup lembut Mirna, lalu membersihkan dirinya dikamar mandi, dan berpamitan keluar kamar dan menuju kamar Syafiyah.
Saat Ia membuka pintu, Ia melihat Syafiyah sudah tertidur pulas.
Satria masuk dengan perlahan, lalu berbaring disisi Syafiyah.
Ia memeluk Syafiyah, dan memejamkan matanya, lalu tertidur.
Syafiyah yang merasakan dekapan sang suami terbangun, Ia melihat rambut itu basah, dan menatapnya. Rasa cemburu begitu merasuk kedalam hatinya.
Sesaat air mata mengalir dari sudut matanya, namun Ia sudah terlanjur jatuh dalam permainannya sendiri.