MIRNA

MIRNA
Episode 38



Yanti berkeringat dingin. Cuaca malam yang dingin tak menjadikan Yanti merasa sejuk.


Rasa sakit kontraksi dirahimnya terasa begitu sangat teramat menyakitkan.


Bagi dirinya yang baru pertama kalinya mengalami hal ini, Ia begitu teramat menderita.


Yanti mencengkram tepian ranjang dan menggigit ujung kain pakaiannya untuk mengurangi rasa sakit tersebut.


Niatnya yang ingin menggugurkan janin itu sudah sangat kuat dan Ia tak sudi mengandung janin dari ketiga pemuda yang dianggapnya miskin itu.


Sosok bayangan hitqm yang sedari tadi sudah standby menunggunya tersenyum menyeringai menantikan detik-detik meluncurnya janin tersebut.


Yanti menyingkap rok yang dipakaianya, lalu menanggalkan underwarenya.


Ia merenggangkan kedua kakinya untuk memudahkan jalan bagi keluarnya janin tersebut.


Namun siapa sangka jika perbuatannya itu mendorong niat si bayangan hitam untuk memudahkan Yanti segera mengakhiri rasa sakitnya.


Bayangan hitam itu menghampirinya, lalu masuk kedalam rahimnya, karena Yanti telah memberi jalan bagi makhkuk tak kasat itu untuk masuk kedalam rahimnya.


Seaampainya didalam rahim Yanti, bayangan hitam itu mencabut paksa janin tak berdosa tersebut lalu membawanya keluar dengan diiringi semburan darah yang mengalir deras dari dalam rahim Yanti.


Yanti menahan rintihannya yang teramat sakit saat sosok makhluk tak kasat mata itu menarik paksa janinnya.


Namun saat janin itu terlepas, rasa sakit itu langsung menghilang dengan sekejap saja.


Tetapi Yanti merasakan ada gelenyar aneh yang mengalir dialiran darahnya, saat Ia merasakan sesuatu menyesap organ intinya seolah sedang mebyesap darah yang keluar dari rahimnya.


Saat Yanti melihat kearah pangkal kakinya, Ia tak menemukan apapun, dan rasa aneh itu menghilang.


Yanti mencari janinnya, Ia berniat ingin mengubur janinnya di samping rumahnya. Yanti mencari-cari disekitar tempatnya tadi mengejan.


Namun yang dicarinya tak ditemukannya. Yanti merasa bingung, namun Ia mencoba mengabaikannya, yang yerpenting Ia merasa jika janinnya sudah benar-benar gugur.


Sesaat Ia melihat hewan pengerat alias tikus membawa sesuatu dan berlari menaiki ventilasi jendelanya dan segera pergi.


Yanti memandangnya, dan meyakini jika tikus itu yang mengambil janinnya.


Yanti segera mengemasi kain spreinya yang berlumuran darah.


Yanti pergi kekamar mandi, membersihkan dirinya dan merendam kain sprei mikiknya dan juga pakaiannya yang berlumuran darah dan juga membersihkan percikan darah dilantai.


Yanti menggunakan pembalut dengan tiga lapis untuk mencegah darahnya tercecer.


Yanti merasa lemah dan juga pusing, Ia beranjak ketempat tidur dan beristirahat.


Disisi lain, bayangan hitam itu telah terbang melayang membawa segumpal daging merah yang merupakan janin milik Yanti untuk diserahkan kepada sekutunya, Yaitu Nini Maru.


"Ni..aku membawa persembahan untukmu..terimalah" ucapnya dengan merundukkan kepalanya sembari menyerahkan janin ditelapak tangannya yang sedang berlumuran darah.


Sosok bergaun merah itu mengerjapkan matanya dan menatap pada sekutunya.


"Terimakasih.. Tidak sia-sia Aku membangkitkanmu.." ucap Nini Maru dengan senang.


"Sama-sama, Ni.. Berapa banyak lagi Aku harus mencari janin untukmu?" tanya sosok tegap bayangan hitam yang berbulu tipis disekujur tubuhnya, wajahnya tampak rusak akibat ajian segoro geni yang ditujukan Satria pada waktu itu.


"Kau sudah mendapatkan 4 janin untukku, aku membutuhkan 36 janin lagi untuk kembali memyempurnakan ajianku" jawab Nini Maru, sembari mengunyah janin dimulutnya.


Sosok bayangan hitam itu menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


Sebelas benda kenyal yang didapatnya sudah menyembuhkan sebagian luka diwajahnya, Ia merasa sedikit lega. Sosok itu juga sudah merasakan energi ditubuhnya kian membaik.


Sementara itu, Mirna tampak dengan kegelisahannya. Ia merasakan sesuatu akan terjadi pada dirinya, dan Ia merasakan jika Nini Maru telah bangkit kembali.


Mirna uring-uringan. Ia tidak ingin jika Makhluk itu sampai menemukannya dan memaksanya untuk kembali menjadi budaknya.


Mirna merasakan dirinya dalam sebuah ancaman dan Ia harus waspada.


Sementara itu, bayangan hitam itu kembali terbang melayang menuju sebuah tempat yang menjadi tempat ternyamannya.


Ia mengkhayalkan jika sebentar lagi Ia akan mendapatkan Mirna seutuhnya.


Jika Ia memiliki keturunan dari Mirna, maka Ia akan memiliki keuatan dan juga garis keturunann yang akan menjadi sangat kuat dan menguasai dunia hitam.


Disisi lain, Nini Maru menyerap energi daei janin yang baru didapatnya. Ia memejamkan matanya dan mencoba kembali bersemesi dan akan menyempurnakan kembali ilmunya.


Saat ini Ia masih bergantung bergantung kepada sosok bayangan hitam yang telah Ia bangkitkan saat sebelum Ia dapat keluar dari reruntuhan yang goa.


Nini Maru menyerap energi bulan purnama dan juga energi janin yang baru saja diberikan oleh bayangan hitam itu.


selama ini selalu mengandalkan Mirna, namun anak itu menjadi pembelot setelah bertemu dengan cucu keturunan Ki Karso.


Nini Maru tidak bisa membiarkan Mirna bersatu dengan Satria, Ia harus segera mendapatkam 36 janin lagi agar dapat menghancurkan keluarga Ki Karso.


Namun yang menjadi hal yang menakutkan bagi Nini Maru Ialah jika sampai Mirna nekad bersatu dengan Satria dan memiliki garis keturunan,maka kelak anak itu akan menjadi sesuatu yang melemahkan kekuatannya.


Maka Ia harus segera menyempurnakan ke 36 tumbal janinnya.


Nini Maru berharap sosok bayangan hitam itu akan tetap setia padanya dan mencarikan tumbal janin untuknya.


Mirna harus bersatu dengan sosok bayangan hitam itu, agar kekuatan kegelapan terus berkuasa dan merajai dunia.


Nini Maru akan menciptakan para sekutunya dari bangsa dunia yang menjanjikan kemewahan dan juga kekayaan serta kejayaan bagi siapa yang ingin bersekutu dengannya. Maka Ia harus menjadi sempurnah.


Nini Maru mengerjapkan matanya,Ia sudah tak sabar menjadi sosok terkuat yang akan menyesatkan siapa saja yang ingin bersekutu dengannya.


Untuk mewujudkan itu semua, Ia harus menyingkarkan Satria sebagai batu sandungan yang akan menghalangi jalannya.


Disisi lain, Satria masih sibuk dengan mengurusi Syafiyah sedang mengalami kelumpuhan. Ia tidak tega jika harus sampai mengkhianati wanitanya yang sedang dalam kondisi memprihatinkan seperti itu.


Satria masih tetap menjaga hati dan cintanya agar tidak tergoda dengan wanita manapun selagi Syafiyah masih memiliki nyawa.


Satria baru saja menggantikan pampers Syafiyah, karena Syafiyah bisa sampai 3 kali sehari ganti pampers, dan hal ini tidak mungkin dilakukan oleh orang lain meskipun seseorang yang digajinya.


Satria melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, Ia beranjak ingin tidur, dan naik keranjang.


Saat itu Ia dikejutkan oleh sosok Widuri yang tiba-tiba saja sudah berada disisi kirinya.


Melihat Syafiyah sudah tertidur, Satria kembali turun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya yang diikuti oleh Widuri.


"Ada apa?" tanya Satria berusaha tenang.


"Nini Maru sudah mendapatkan 4 janin sebagai tumbal, maka Ia membutuhkan 36 janin lagi sebagai tumbal.. Apakah Kau akan menunggunya menjadi genap 40 baru mengerti apa yang akan Aku katakan?" tanya Widuri dengan nada penuh penekanan.


Satria tercenung mendengar ucapan dari Widuri. Perlahan peri itu mengepakkan sayapnya dan terbang menghilang.